
TAP....TAP.....TAP.....
Langkah demi satu langkah Arvin ambil. Dan setiap langkah itu membawanya pergi ke satu tempat yang sepi, dimana satu gedung bangunan yang mengarah ke ruang UKS dengan melewati jalan pintas.
KLEK....
Begitu Arvin membuka ruangan UKS itu, nampak ruangan itu tidak ada siapapun, karena itulah Arvin pun berjalan masuk ke dalam dan segera meletakkan tubuh Ashera di salah satu tempat tidur pasien yang letaknya persis di tepi jendela.
"Ashera?" panggil Arvin, nadanya begitu lirih, begitu dia sudah meletakkan tubuh yang begitu ringan itu di atas tempat tidur dengan penuh kehati-hatian. 'Walaupun botol tadi kelihatan mencurigakan, tapi tidak mungkin si Dini itu akan bertindak lebih dari yang seharusnya, jika dia memang masih memiliki akal sehatnya.' pikir Arvin.
Entah kenapa, dia tiba-tiba saja merasa ada keanehan.
Keanehan yang dia rasakan saat ini adalah dimana Ashera yang biasanya begitu aktif dan cerewet, begitu melihat sosoknya yang terdiam dengan wajah kalemnya itu, membuat Arvin jadi merasa kalau sepertinya memang ada sesuatu yang kurang.
"Ashera, kau dengar aku kan?" tanya Arvin lagi terhadap satu orang perempuan yang saat ini sedang terbaring begitu lelap?
Namun, perempuan yang namanya tetap dia panggil itu sama sekali tidak menyahutnya.
Apakah perempuan yang tidak lain Istrinya itu baik-baik saja?
"..." Arvin, dia terus memperhatikannya dengan begitu serius. Memperhatikan sang Istri, istri yang awalnya keberadaannya dia tolak, namun sepertinya perlahan-lahan, Arvin mulai menerimanya.
Begitu Arvin melihat salah satu jari dari tangan kirinya Ashera benar-benar di gips, satu ingatan tentang bagaimana Ashera terjatuh di saat bertengkar dengan Dini, kembali muncul. Selain itu, dia juga memiliki ingatan dari alasan kenapa Ashera akhirnya mendapatkan luka yang tidak terlihat itu, adalah karena kecerobohannya Arvin.
'Kenapa aku jadi merasa bersalah seperti ini?' pikir Arvin, dia sempat menyentuh gips yang terpasang pada jari manisnya Ashera.
__ADS_1
Sungguh, itu sebenarnya jadi terlihat cukup keterlaluan, karena jari yang seharusnya tersimpan cincin dari pernikahannya, sekarang justru di gantikan dengan perban.
'Tapi masa sih, dia tidak mau bangun juga?' detik hati Arvin, entahnya hanya melihat wajah kalem Ashera yang terlihat cocok dengannya, ketimbang menjadi sisi Ashera yang satunya lagi, benar-benar membuat Arvin merasa aneh sendiri.
Arvin pun menyentuh jari jemari Ashera yang begitu kurus itu. Ketika banyak perempuan yang menjaga bentuk tubuhnya, dengan berharap bisa berisi, menarik dan terlihat ideal, justru perempuan ini ada dalam posisi yang sebaliknya.
Arvin sudah pernah menyentuh semuanya, dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan dari situ pula, Arvin pun adalah orang yang paling paham dengan postur tubuh Ashera, yang mana berat tubuhnya itu benar-benar cukup ringan, seakan dirinya membawa satu set tulang saja.
"Kau itu seharusnya makan yang banyak, agar tubuhmu itu berisi, enak di sentuh, bukan terlihat seperti tulang yang seperti ini," kata Arvin dengan gumaman.
Tapi, karena di dalam UKS itu hanya ada keheningan saja, dan tidak mungkin Ashera di biarkan seperti itu saja, karena takutnya benar-benar terjadi sesuatu padanya, Arvin pun akhirnya mencoba memeriksanya.
Ya, kali ini dengan begitu polosnya, Arvin mendekatkan wajahnya ke depan wajah Ashera, untuk memeriksa nafasnya, tentu saja dia harus mendekatkan telinganya di depan mulutnya Ashera.
Tapi- begitu wajah Arvin benar-benar sudah berada di depannya Ashera, tiba-tiba saja satu pelukan langsung terjadi.
"Apa kau akhirnya mengkhawatirkanku?" tanya Ashera, dengan senyuman lemah di dampingi dengan rangkulan dari kedua tangannya yang melingkar di belakang lehernya Arvin, Ashera kembali berbisik : "Arvin, apa ka-mphh!"
Tapi, Arvin yang tadinya sempat terkejut itu, tiba-tiba saja langsung membungkam mulutnya Ashera dengan telapak tangannya.
"Shht," desis Arvin dengan mata waspada.
Ashera yang tahu dengan perubahan dari ekspresi wajah Arvin yang langsung menjadi sangat serius, memutuskan untuk diam.
Awalnya dia terus memandangi wajah tampan dari pria ini, tapi tidak lama setelah itu, terdengar suara dari luar yang kemungkinan besar akan mendekat masuk kedalam ruang UKS.
__ADS_1
KLEK...
"Haduh, kenapa perempuan itu lemah?" gerutu seorang laki-laki, di kedua tangannya itu sedang menggendong seorang siswi yang pingsan, kemungkinan besar adalah karena tidak kuat dengan teriknya matahari pagi.
"Dasar, mentang-mentang laki-laki itu kuat, kalian pasti terus saja meremehkan para perempuan," sahut teman dari perempuan yang pingsan itu. "Jika bukan karena perempuan, laki-laki sepertimu itu tidak mungkin lahir,"
"A-apa? Mulutmu itu cukup kasar, ya?" protes laki-laki ini, lalu meletakkan seorang perempuan di atas tempat tidur pasien.
"Lah, kan dirimu dulu yang menggerutu kami itu lemah, jadi apa salahnya jika aku bicara kasar seperti itu padamu?" ocehnya.
Sampai kedua orang itu secara tidak sengaja melihat ada bayangan hitam dari balik tirai yang ada di bilik sebelah mereka.
"Oh, ternyata tidak hanya temanku saja yang masuk ke UKS," ucap perempuan ini seraya melirik ke arah kanannya, yang mana dibalik tirai yang menggantung, sebagai pusat untuk membatasi tempat mereka, sebenarnya ada Ashera dan Arvin. "Apa kau sedang men-"
"Lia, apa kau tidak bisa diam?" tegur laki-laki ini terhadap perempuan yang tadi dia panggil Lia itu. "Mulutmu itu terlalu berisik untuk bicara, karena tidak mau berhenti bicara." imbuhnya.
"Heh, ya suka-suka aku dong, kalau kau merasa berisik, kau kan bisa pergi dari sini, agar kau tidak begitu terganggu dengan suaraku yang super merdu ini," oceh Lia. "Oh ya, ngomong-ngomong orang yang kau tunggu itu, apakah sama-sama pingsan seperti temanku yang lemah ini?" pertanyaannya itu langsung dia alihkan pada salah satu orang yang ada di balik tirai di sebelahnya itu.
Arvin dan Ashera yang ada di balik tirai itu, saling bertukar pandang, untuk memberikan akses saling bertukar komunikasi, yang hanya di mengerti oleh mereka berdua.
"Kau mau bagaimana mengurus mereka?" tanya Ashera, dengan matanya yang menyipit.
"Bagaimana apanya? Aku hanya tinggal mengusir mereka dari sini jika perlu," jawab Arvin, sama sekali tidak mau kalah debat dengan Ashera yang kelihatannya memang sudah memiliki sebuah rencana tersendiri.
Seperti saling bertelepati, mereka berdua benar-benar sedang bertukar pikiran.
__ADS_1
"Yang ada, justru mereka akan curiga," sahut Ashera, memberi peringatan kepada Arvin yang terus saja menggunakan kekuasaannya, ketimbang dengan mengelabuhi pikiran mereka.
"Ei, apa kau tuli, sebenarnya siapa sih? Aku jadi penasaran, atau kau sedang ketiduran?" Lia yang mulai jengkel dengan Arvin yang tidak segera menjawab pertanyaan darinya, Lia pun akhirnya berjalan menghampiri tirai tersebut, mengangkat salah satu tangannya untuk menepis tirai, sebuah ancaman pun terjadi untuk mereka Arvin dan Ashera.