Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
58 : Berebut


__ADS_3

'S-sesak sekali. Kenapa mereka membeli barang yang tidak berguna itu sih? Merepotkan.' Pikir Ashera, dia pun berjalan berhimpitan diantara ratusan orang untuk sekedar membeli mainan yang bagi Ashera sendiri tidak lah berguna, karena ujung-ujungnya hanya di pajang sampai berdebu.


"Ih! Kau apaan sih? Jangan meghimpitku." Tukas seorang perempuan ini saat Ashera terus berusaha untuk berada di barisan terdepan.


"Aku terdorong, bukan mendorong." Balas Ashera, dia pun sungguh merasa tidak puas hati untuk berjalan berhimpitan dengan mereka semua.


Dengan tatapan mata sengit, perempuan ini pun benar-benar menghalangi pergerakan dari Ashera. "Jangan kau pikir bisa melewatiku." Ucap perempuan ini


Dengan raut wajah datar, Ashera pun mencoba celingukan untuk mencari apakah Arvin masih berdiri di belakang sana dan menunggunya, sekaligus tengah mencari cara untuk keluar dari situasi yang tidak menguntungkan itu.


'Dia masih ada di sana. Tapi- dia sedang menelepon siapa?' raut mukanya pun jadi suram saat ia tahu kalau Arvin rupanya tengah bicara lewat telepon dengan pacarnya. 'Enak sekali dia malah berdiri bercanda ria dengan pacarmu sedangkan aku malah berhimpitan dengan banyak orang seperti ini. Aku akan meleponnya.'


Dengan niat di bawah tekanan himpitan banyak orang, Ashera pun dengan diam langsung menelepon Arvin yang sedang berdiri bersandar ke tiang.


-"Apa kau sudah mendapatkannya?"- Tanya Arvin detik itu juga.


"Buka saja juga belum. Jika kau menelepon pacarmu itu, aku tidak akan membelinya." Ancam Ashera.


Arvin sesaat terkejut, karena Ashera tiba-tiba meneleponnya untuk mengancamnya?


'Bagaimana dia bisa tahu kalau aku sedang bicara dengan Marlina?' Dan ketika Arvin yang kebetulan itu punya tubuh yang tinggi, dalam sekejap ia langsung mengetahui lokasi dari Ashera yang sedang menatapnya dengan tatapan yang cukup tajam. 'Masih sempat-sempatnya dia mengawasiku.' Pikir Arvin, merasa tidak nyaman, karena Ashera terlihat serba tahu.


-"Apa kau sedang mengancamku?"- Dengan berani, Arvin pun membalas tatapan mata Ashera yang cukup tajam itu dengan tatapan yang sama.


"Entah apapun yang sedan aku lakukan, aku pasti akan terus mengawasimu." Ucap Ashera.


-"Ha, jadi saat ini kau benar-benar sedang membatasi kebebasanku? Coba saja, asal kau bisa mendapatkan apa yang aku mau, aku tidak akan menelepon Marlina."- Tepatnya janji yang sedang Arvin buat itu hanya untuk hari ini saja, jadi ia pun membuat kalimat yang memiliki makna yang tidak akurat.


Dan Ashera yang hendak bicara itu, tiba-tiba saja langsung terdorong ke depan, karena pintu dari toko mainan sudah di buka, dan membuat sebagian besar orang berlomba-lomba untuk masuk kedalam toko.

__ADS_1


"Cepat! Sebelum kehabisan!"


'Sesak sekali. Ternyata dia benar-benar sedang menyiksaku.' Batin Ashera, menyadari posisinya yang tidak nyaman itu karena Arvin tengah menyiksanya secara tidak langsung. 'Benar, betapa bodohnya aku, kenapa aku sampai mau menuruti kemauannya itu?'


Tapi karena Ashera terlanjur sudah ada di tengah kerumunan yang tidak bisa Ashera lawan dengan berbalik, ia pun akhirnya masuk kedalam toko, dan lebih baik merebut apa yang harus ia beli.


"Kyaaa....!"


"Aku duluan!"


"Hei, tapi aku dulu yang mengambilnya! Lepas!"


"Ahkh, jangan ambil itu! Itu sudah jadi punyaku!"


"Bweehh,..." menjulurkan lidah kepada salah satu orang yang tidak sengaja terjatuh dan menjatuhkan kotak boneka figur, "Salah sendiri jatuh. Selagi belum bayar, ini bukan milikmu." Ucapnya lagi, berhasil mencuri barang milik orang tersebut dan buru-buru ia bawa pergi ke kasir.


Dan Ashera pula, "Apa yang kau lakukan?! Mau merebut barang yang sudah ada di tanganku ha?!" Marah Ashera kepada seorang laki-laki yang sama-sama memegang kotak mainan itu, dan kini mereka tengah berebutan.


"Antara menyentuh dan yang mengambil, kan aku dulu yang mengambilnya! Kau jangan berbuat curang, hanya karena kau laki-laki jangan pikir aku akan mengalah padamu." Tegas Ashera, menarik kotak nya ke arahnya.


Tapi sebagai balasan, laki-laki itu pun menarik kotaknya ke arahnya.


"Sebaiknya kau mengalah saja, sebelum aku berbuat kasar."


"Huh! Jika saja ini bukan titipan, aku tidak mungkin akan berdebat dengan orang tidak berguna sepertimu!" Ucap Ashera, tanpa sengaja mulutnya jadi keceplosan berkata kasar, mengatai tidak berguna pada lawan bicaranya itu.


"Apa? Kau mengatakan aku tidak berguna?"


Ashera yang tersadar dengan ucapannya barusan, jadi terdiam.

__ADS_1


Ashera mengerutkan keningnya, dan bicara lagi : "Ya, lagian, kenapa kau beli barang seperti ini? Padahal tidak berguna, selain jadi pajangan sampai digerogoti waktu."


Begitu mendengar Ashera bicara demikian, laki-laki ini pun menyeringai : "Dan kau sendiri, kenapa jika tidak mau beli, kenapa harus mengiyakan orang yang ingin menitip mainan tidak berguna seperti ini kepadamu? Bukannya kau terlalu bodoh, jadi kau lah orang yang tidak berguna itu."


"Sudahlah, jangan halangi aku! Pergi, jangan rebut ini dariku, karena sudah aku bayar!" teriak Ashera yang tidak tahan dengan kerumunan yang cukup menyita oksigen sekitarnya.


Ya, Ashera sangat tidak suka dengan kerumunan, karena semua aroma yang tidak menyenangkan itu berada di satu tempat yang sama dengannya, dan membuat Ashera jadi menghirup oksigen yang sudah tercemar itu.


'Ha? Tidak mungkin, padahal kau dari tadi kan disini rebutan denganku." kata laki-laki ini dengan senyuman tawarnya.


"Hei laki-laki yang ada di sana! Kotak itu sudah menjadi milik Nona itu, karena dia sudah membelinya dengan harga di atas yang akan anda tawarkan." sebuah pengumuman yang di beritakan oleh salah satu pegawai toko, seketika membuat laki-laki yang sedang berebut kotak mainan dengan Ashera, langsung melongo.


Bahkan termasuk dengan para pengunjung yang sudah mengantri untuk membayar barang yang sudah mereka pegang.


"Apa? Aku akan beli seharga delapan juta! Ini jadi milikku!" Tarik kotak yang ia pegang itu ke arahnya, sehingga Ashera yang sama-sama masih memegang kotak mainan itu, langsung terkejut dan langsung bersikap waspada agar cengkraman nya tidak lepas dari kotak itu.


"Sekalipun anda membayar 10 juta, barang itu sudah jadi miliknya. Jangan berebut barang yang sudah pelanggan kami bayar!" Marah wanita tersebut, sampai-sampai pegawai toko itu sendiri harus naik ke meja agar mereka semua melihat ke arahnya, sekaligus menjadi saksi.


"Heo bocah, jika dia sudah membayarnya, kau tidak memiliki hak untuk berebut lagi dengannya." Ucap salah satu orang yang tengah mengantri di barisan paling belakang.


"Kan, sudah aku katakan, ini sudah aku bayar, jadi lepaskan tangan kotormu dari barang milikku!" Lagi-lagi kalimat yang begitu menyakitkan hati si pendengar, keluar dari mulutnya itu.


"Kalau begitu Tiga belas juta!"


'Orang ini gila ya? Padahal harga aslinya hanya lima juta, tapi kenapa dia malah menawar harga yang lebih mahal?' pikir Ashera, sama sekali tidak mengerti cara berpikir dari seorang otaku yang sudah kelewat batas, mau menghamburkan uang hanya karena satu mainan saja.


"Itu anak, padahal sudah diberitahu kalau sudah di beli, tidak bisa di ganggu gugat lagi, rasanya ingin aku pukul kepalanya deh." Ucap pemuda berseragam sekolah SMA ini.


Sebagai sesama seorang otaku yang menyukai boneka figur dari semua anime yang di sukainya, tentu saja ia tahu rasanya barang yang paling berharga sudah ada di tangannya, masih saja ingin di rebut oleh orang lain, makannya sekalinya ia mendengar masih saja ada yang mau menawar harga yang tinggi, ia sama sekali tidak menyukainya.

__ADS_1


"Tidak bisa, ini sudah jadi peraturan dari Toko kami, yang sudah bayar, sudah jadi miliknya. Dan tidak boleh ada unsur paksaan apapun, karena-" Senyuman yang sempat terukir di bibir cantik dari wanita ini, seketika saja menghilang dan di gantikan dengan ekspresi wajah yang begitu datar. "Jika anda masih saja menawar harga tinggi dan memaksa Nona di sana menyerahkan barangnya kepada anda dengan harga tinggi itu, maka anda akan dikeluarkan dari toko kami, dan tidak memiliki kesempatan untuk datang kesini lagi. Apa anda paham?"


"Sini, ini sudah jadi punyaku, jadi kau tidak ada kesempatan untuk berebut barang denganku lagi." Ucap Ashera sekali lagi. Benar-benar menolak untuk menyerahkan mainannya kepada anak laki-laki ini. 'Padahal aku hanya berniat menipunya, tapi kenapa ada pengumuman aku sudah bayar? Sepuluh juta pun tidak mempan, memangnya siapa yang melakukan ini? Aku kan bahkan belum ke kasir untuk membayar?! Jadi siapa?!'


__ADS_2