
"Ashera! Makanannya mana?!" Teriak Arvin. Di pagi itu, Arvin yang kebetulan bangun cukup pagi, sudah mandi, wangi, bahkan sudah tampan pakaian bersih sudah melekat di tubuh atletisnya, sudah minta jatah untuk sarapan pagi.
Jam, mungkin memang masih menunjukkan pukul lima pagi, tapi karena sudah punya pembantu, ia pun sadar kalau dirinya harus memanfaatkan itu sebaik mungkin.
Dan karena perutnya lapar, tentu saja dia harus segera mengisi perutnya yang kosong itu.
“Kemana nih anak?” Arvin yang baru saja turun, mulai celingukan untuk mencari keberadaan dari Ashera. Tapi mau bagaimana pun dirinya pergi mencari, sampai pergi ke kamar yang ada di bawah, ia tidak melihat satupun batang hidung Ashera. “Ashera?! Kau tidak tuli kan? Kau ada di mana?!” Panggil Arvin lagi, sampai akhirnya Arvin dengan sengaja, membuka pintu kamar mandi dan melihat Ashera yang sedang duduk di kloset dengan tubuh bersandar ke belakang dan mata tertutup.
Melihat pemandangan itu, Arvin tiba-tiba saja mengernyitkan matanya saat dia melihat kedua paha yang sedang terekspose banyak, sebab Ashera memang sedang buang air besar. Tapi karena Ashera masih mengantuk, maka dari itu Ashera pun tertidur.
“........” Wajah Arvin sepintas jadi langsung suram. ‘Apa dia sengaja membuatku masuk kedalam kamar mandi? Jika iya, menggunakan kamar mandi seharusnya dia menutup pintunya. Tapi apa-apaan ini?’ Pikir Arvin.
__ADS_1
Namun, sayangnya, ketika kembali melihat kedua paha yang terlihat begitu jelas, dan mengekspos sudut terdalam dari paha itu begitu putih dan bersih, entah kenapa, Arvin kembali masuk dalam dunia yang namanya ingatan.
Arvin segera menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak mau lagi terhanyut dalam kilatan memori yang cukup menguras jiwa dan raga di waktu itu.
‘Jangan pikirkan itu, dia hanyalah seorang pelayan, yang hanya tahu caranya menggoda majikannya. Ya, tidak lebih dari seorang perempuan ja*ang.’ Tatap Arvin, melihat wajah Ashera yang tertidur itu, begitu polos. Sampai semua keterdiaman Arvin melihat pemandangan itu, berakhir dengan sebuah teriakan. “Apa kau mau membuatku menunggu sarapan?!”
“Ha?! Apa? Apa? Sarapan apa?” Arshera langsung terkejut dengan kedua bahu terangkat dan langsung celingukan dengan wajah bingungnya, membuat Ashera benar-benar seperti orang linglung.
Dan sekarang jantungnya semakin bertambah berdebar saat melihat sosok paling ditakuti seantero rumah.
Siapa yang tidak terkejut, jika di dalam kamar mandi, ada orang yang secara terang-terangan, menonton orang yang sedang BAB, sehingga mulutnya pun refleks berteriak : “Kyaa! K-kenapa anda masuk kedalam kamar mandi?!”
__ADS_1
Ashera yang kelabakan dengan Arvin yang begitu tenang, menghadapi Ashera yang sedang malu setengah mati, buru-buru menarik handuk di sebelahnya untuk menutupi kedua pahanya.
“Apa kau mau menyalahkanku kenapa aku bisa masuk kedalam kamar mandiku sendiri?”
“B-bukan itu.” Ashera yang begitu malu dengan tatapan sengit milik Arvin, segera menunduk. Jari jemarinya bermain dengan begitu gelisah di atas pangkuan, karena ia tidak tahu harus apa atau bagaimana menghadapi Arvin yang dengan percaya diri terus berdiri di hadapannya persis. “I-ini kan sedang saya pakai, kenapa anda tidak keluar dulu.”
“Lalu, kalau aku keluar, aku harus menunggumu tidur sampai bangun?” Cetus Arvin, wajahnya jadi semakin suram, karena dirinya tidak begitu menyukai lawan bicaranya menunduk seperti itu. "Aku sudah berteriak memanggilmu, tapi kau bahkan tidak dengar sama sekali. Dan satu hal lagi, apa kau sengaja tidak mengunci pintu agar aku bisa masuk dan menontonmu?"
DEG...
"S-saya lalai! M-maafkan saya, tapi bi-bisakah anda keluar dulu? Saya sangat malu~" Ungkap Ashera dengan telinga sudah merah padam.
__ADS_1