
"Ah, Arvin, kenapa kau punya tenaga sebanyak ini?"
Suara Marlina turun, dan dia tidak bisa membuang muka.
Sensasi keringat di punggungnya membuatnya semakin senang dalam banyak hantaman yang di lakukan oleh pria yang ia tawari untuk membuat kesepakatan sebagai misi penghilang stres.
"Bukannya kau suka dengan yang seperti ini?" Tanya balik Arvin.
Satu permainan yang dikerjakan oleh dua orang, itulah yang sedang mereka kerjakan di salah satu kamar VIP, yang Arvin sewa.
'Padahal belum lama ini aku memang melakukannya dengan Ashera. Tapi- jelas ini sangat berbeda dengannya.' Arvin berpikir, bahwa ia akhirnya menemukan perbedaan antara Marlina dengan Ashera.
Bukan dari segi penampilan fisik, tapi dari segi untuk memuaskan, itu saja yang masih terpatri jelas di dalam pikirannya.
'Sudahlah, lebih baik aku selesaikan yang ini dulu.' Dengan usaha yang ia kerahkan demi meraih alam indah yang hanya bisa di bawakan oleh dua orang secara bersama-sama, Arvin pun menyelesaikan pekerjaannya saat ini.
_______
Esok harinya.
Daseon bersama dengan Vani, wajah lelah terpampang dengan begitu jelas.
Semua itu di karenakan mereka berdua harus begadang semalaman. Bukan begadang seperti yang di lakukan oleh Arvin bersama dengan pacar simpanannya itu, melainkan karena harus menjaga Ashera yang sedang sakit karena demam ini.
"Deseon, apa kau pernah mengalami ini sebelumnya?" Vani duduk bersandar sandaran sofa yang ada di belakangnya, dan Daseon pun melakukan hal yang sama juga.
Mereka berdua yang begitu lelah, hanya bisa duduk lemas sambil menatap langit-langit dari plafon ruang istirahat itu sendiri.
"Tidak, sama sekali belum pernah." Daseon yang lelah, memejamkan matanya.
Betapa lelahnya ia harus menjaga satu pasien yang sedang demam itu, karena tanpa di sangka, ada banyak kejutan di balik pilu menyedihkan yang sempat di perlihatkan oleh Ashera malam tadi setelah mandi.
"Apa anda lapar?"
"Hmm, aku memang lapar, apa kau bisa membawakanku sarapan di rumahku, pembantuku pasti sudah selesai memasak."
"Tentu saja, lagi pula anda sudah rela mau merawat Ashera semalaman."
"Ngomong-ngomong, apa hubungan Ashera antara kau dan Arvin?" Vani penasaran, karena di saat kedatangan dari mereka bertiga saja sudah menjadi buah bibir banyak orang di tempat kerjanya.
"Kami berdua hanya seorang pelayan, dan tentu saja Tuan adalah majikan kami."
__ADS_1
"Tapi- Arvin kelihatannya sangat memperlakukan Ashera antara perhatian, juga semena-mena. Aku kasihan dengannya."
"Tapi memang seperti itu lah Tuan." Jawab singkat Daseon.
Daseon sendiri tidak pernah berpikir kalau dirinya akhirnya akan mengungkapkan identitasnya. Toh karena Vani sendiri sudah tahu siapa sebenarnya Arvin, jadi Daseon pun tidak begitu mempermasalahkannya.
"'Kalau begitu saya pergi untuk ambil sarapan untuk anda ya." Lirik Daseon, merapikan pakaiannya dan dasinya juga, lalu dia menunggu jawaban yang akan di berikan oleh Vani ini.
"Ya, silahkan. Jangan lama-lama." Vani merasa senang, karena ada orang yang cukup perhatian dan tahu apa yang sedang dibutuhkannya. 'Daseon, dia cakap juga sebagai seorang pelayan. Pantas saja Arvin betah dengan dia.' Batin Vani.
KLEK....
Tidak sampai satu menit setelah Daseon pergi, datanglah Arvin sudah memakai seragam sekolahnya.
"Ternyata kau ada di sini." Sapa Arvin. Dengan penampilannya yang cukup rapi, Arvin pun jadi semakin tampan, gagah, serta terlihat keren, karena memakai seragam yang cukup pas dengan tubuh atletisnya.
Siapapun akan langsung terpesona, karena Vani sendiri juga sempat berhasil tersihir. Maka dari itu, sebelum terjadi Vani lebih dulu menarik akal sehatnya lagi, bahwa mereka sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi.
"Bukannya sekolah, kenapa malah datang kesini?" Lirik Vani.
"Memangnya apa urusannya denganmu? Aku datang kesini juga ingin makan. Jika bukan karena Daseon ada di sini, aku mana mungkin datang kesini." Sebuah alasan terlontar untuk menyangkal rasa penasaran Arvin sebenarnya, bahwa dirinya ingin tahu kondisi dari Ashera saat ini.
Tapi, bahkan sebelum Arvin membuat alasan seperti itu, Vani tentu saja sudah tahu lebih dulu tujuan dari anak ini.
Arvin menoleh ke samping dan merekahkan senyumannya. "Kau selalu saja berhasil menebak tujuanku."
"Tentu saja. Walaupun aku hanya mengenalmu selama satu tahun lebih, tapi aku lebih tahu dari dirimu sendiri yang suka menyangkal ucapan orang." Balas Vani.
Tapi, Vani heran, kenapa Arvin sampai mau membuang waktu paginya untuk datang ke tempat yang berlawanan arah dengan sekolahnya Arvin.
Apakah sebegitu menariknya dengan pelayannya sendiri sampai mau menjenguk sebelum berangkat sekolah?
Banyak pertanyaan yang terlintas di benak hati Vani, tapi tidak bisa Vani ungkapkan kepada orangnya langsung, sebab dia tidak ingin membuat kesalapahaman yang hanya bisa di lakukan oleh Arvin secara sepihak, sampai membuat candaan juga.
"Aku akan menemuinya setelah aku sarapan di sini. Kemana orang itu? Biasanya jika ada aku, dia pasti tidak akan jauh dariku." Arvin mulai menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari keberadaan dari Daseon tentunya.
"Aku menyuruhnya pergi membawakanku sarapan."
"'Ternyata aku datang di waktu yang tepat." Senyum Arvin, merasa bangga kalau dirinya selau berada di waktu yang tepat untuk sesuatu yang selalu mendesak.
Dan sesuai dengan permintaan dari Vani, Daseon pun membawakan sarapan untuk di makan mereka. Sampai karena Arvin sendiri ikut maka mau tidak mau Daseon mengalah, memberikan jatah makanannya lebih dulu untuk majikannya itu.
__ADS_1
Dan selesainya sarapan, barulah Arvin menemui rasa penasarannya itu. Meskipun, sayangnya Vani dan Daseon sendiri menolak untuk menemaninya pergi, tapi Arvin tetap bisa pergi sendiri.
'Ngomong-ngomong, mereka berdua terlihat begitu mencurigakan. Apa yang sudah mereka berdua sembunyikan dariku?' Selagi berpikir, tangan kanannya memutar knop pintu dari kamar yang di gunakan oleh Ashera sebagai tempat tidur sementara waktu. Dan begitu di buka ...
KLEK...
Arvin tidak menemukan keberadaan dari Ashera ini, kemanakah Istrinya itu pergi?
BRUKK....
"Apa kau sedang mencariku?" Tanya Ashera.
"....?" Satu tanda tanya langsung terlintas di kepalanya. Matanya membulat sempurna melihat seorang gadis seumuran dengannya, saat ini sudah memakai seragam sekolah, dan parahnya tiba-tiba saja Ashera memeluk lengannya. 'Kelihatannya aku melewatkan hal menarik di saat aku pergi ke bar. Tapi- bagaimana bisa perempuan yang biasanya juga berpenampilan biasa saja, sekarang dia-'
Arvin menyipitkan matanya saat melihat wajah Ashera yang sudah di poles dengan make up tipis, di tambah dengan bibir yang poles dengan lip gloss.
"Apa kepalamu baru saja terbentur?" Arvin yang merasa aneh dengan tingkah dari Ashera ini, mencoba memeriksa dahinya Ashera. "Kau itu masih demam, jangan pergi atau nenek akan tahu."
"Tapi aku mau sekolah."
"Ashera, kau itu di skors, tidak ada kata masuk." Tekan Arvin.
Sebenarnya Arvin lumayan tertarik dengan penampilan baru milik Ashera, tapi karena ia sadar diri kalau Ashera saat ini sedang di skors, maka ia tidak akan memperbolehkan anak di hadapannya ini pergi.
"Sebentar lagi kan ulangan."
"Kau bisa ulangan susulan."
"Ketinggalan pelajaran?" Tanya Ashera lagi.
"Aku bisa meminjamkanmu buku catatan."
"Aku mau memberi Lidia pelajaran."
"Dia sudah di jatuhi hukuman, walaupun ringan, dia tidak akan membuat ulah di wilayahku sendiri."
"Tapi aku ingin berangkat bersamamu."
"Itulah masalahnya, kau itu pelayanku, aku tidak mau kau ikut sekolah denganku."
"Arvin, tapi aku kan is-mphh..!"
__ADS_1
Arvin langsung membekap mulut Ashera yang begitu cerewet sampai mau membeberkan rahasia besar milik mereka berdua.
'Sebenarnya ada apa dengannya? Aku pikir mereka berdua harus menjelaskan kepadaku.' Pikirnya.