
"Di dalam kontrak apa? Dalam kontrak itu kan sebagai pihak pertama aku bisa mel-"
"Tapi kau itu sudah menandatangani surat kontrak itu di atas matermphh!" belum sempat bicara sepenuhnya, mulutnya itu kembali di bekap oleh mulutnya Arvin.
Dan tangan yang menggerayang di dalam pakaiannya, sukses menyentak tubuh Ashera untuk merasakan sensasi geli yang cukup menggelitik.
PRANG....
Kini dia sedang menahan kedua tangannya Ashera agar tidak banyak bergerak.
Tapi, begitu sekalinya kedua tangannya itu tidak bisa bergerak, salah satu kakinya Ashera justru berulah sehingga menyenggol vas bunga sampai pecah.
'Kau pikir tubuhmu bisa aktif bergerak terus?' kernyit Arvin. Mulutnya kemudian bermain di atas mulutnya Ashera, menyusupkan lidahnya kedalam rongga mulutnya Ashera dan mengabsen deretan gigi yang Ashera miliki.
'A-apa yang anak ini lakukan? Apa dia mau menekanku agar aku kembali trauma dengan tingkahnya yang seperti ini?' Pikir Ashera di dalam tekanan dia harus menahan semua gejolak yang ingin keluar dari dalam tubuhnya.
Apa itu, Ashera tidak peduli selain bersikeras ingin membuat Arvin merasakan serangan dari mulutnya itu.
Ya, sekalipun mulutnya saat ini sedang di bungkam oleh mulutnya Arvin, dan kedua tangan di atas yang tidak mampu untuk bergerak bebas, serta lutut yang menahan kedua kakinya untuk menutup itu, dia tetap mampu membuat serangan dengan menggigit mulutnya.
GRETT..
"Akhh..." Arvin sontak langsung melepaskan tautan itu begitu mendapatkan serangan dadakan persis di bagian mulutnya, dan akhirnya hal itu membuat bibirnya berdarah, sampai darah itu sendiri juga tertinggal di sudut bibirnya Ashera juga.
"Hahaha, rasakan! Kalau kau menc*iumku lagi, aku akan menggigitmu lagi." Ancam Ashera.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu itu?" tanya Arvin dengan salah satu alisnya yang terangkat. "Jika kau berharap kau menggigitku lagi, silahkan saja kalau bisa. Lakukan jika kau mampu, apalagi dari pada mec*ummu itu, sepertinya lebih baik aku membelai ini."
GREPPP....
__ADS_1
"Heh." Arvin tiba-tiba saja menyeringai dalam kebahagiaan karena dia mampu menggapai apa yang perlu dia tangkap itu.
"...!'' Dan Ashera, seketika semburat merah itu berhasil mewarnai seluruh wajahnya dengan sensasi dalam tubuh yang kian memanas, dan menggelitik gara-gara Arvin berhasil menangkap buah nya.
"Walaupun tidak seberapa besar, tapi ini cukup pas di tanganku, dan bisa aku belai."
"Hah, terserahmu ak..akahahahah.!" Bukannya mende*ah atau apa, karena tindakan Arvin kepadanya itu cukuplah menggelitik, Ashera justru menggeliat dengan tawanya yang lepas. "Ahahahaha, gelii..ah..ahaah, berhenti!" ekspresi wajah yang cukup memikat serta tawa yang tidak bisa di tolong itu, sukses membuat Arvin justru bingung.
Padahal di saat-saat seperti ini seharusnya Ashera bisa mengeluarkan de*san nya, tapi apa yang terjadi saat ini? Itu adalah sebuah tawa yang cukup menggelegar.
"Hahaha, cukup." pinta Ashera dengan air mata sudah keluar dari matanya, membahasi sudut matanya.
"Cukup? Mimpi saja sana, kau akan mati tertawa."
"Hahaha, kalau aku mati, aku akan bersumpahhahaha, menghantuimu seumur hidupmu ahahaha!" Jawab Ashera tanpa ragu.
"..." Padahal yang di harapkan bukanlah tawa, tapi derita ingin itu. Seharusnya begitu, tapi apa daya, yang ada di depannya ini bukanlah Ashera yang itu, melainkan Ashera sisi yang satunya lagi.
"Tidak, ini cukup menyenangkan untuk menghukummu karena kau lalai dari tugasmu, sampai mau memberikan hadiah pada pria lain."
"Kau pasti cemburu tuh, ngaku sajahahahah!" Tawanya yang cukup lebar itu pun jadi kembali datang.
"Terserah kau menganggapnya apa, tidak boleh tetap saja tid-"
Begitu mau bicara sampai habis, ucapannya langsung terpotong saat Ashera yang sudah tidak tahan lagi di perlakukan seperti itu, tiba-tiba kaki kirinya merangkul belakang pinggangnya Arvin, lalu ketika kaki kirinya berhasil melingkar di belakang pinggang dari pria ini, kaki kanannya justru jadi melingkarkan ke pahanya kanannya Arvin, sampai satu sentuhan pada lututnya dengan pusaka nya Arvin, berhasil membuat anak tersebut langsung tersentak.
Dengan posisinya tersebut, Ashera yang sukses melekatkan kakinya pada tubuh bagian bawah Arvin, membuat dia saat ini jadi seperti koala.
"Yakin? Tidak mau melepaskanku? Kalau kau tidak mau melepaskan tanganmu dari sana, akan aku permainkan juga milikmu itu dengan lututku." Ujar Ashera dengan nada penuh penekanan, sebab dia memang tetap saja harus menahan pikirannya tetap waras jika ingin menang dari anak ini.
__ADS_1
TUING...
"...!" Arvin segera tersenyum mencibir. "Kau mau adu ketahanan? Kalau kau menang, aku akan melepaskanmu."
"Hanya melepaskanku? Itu tidaklah cukup, kau harus mengerti membuat Quilling itu butuh berjam-jam untuk membuatnya, dan kau membuangnya." Geram Ashera. Sambil berbicara, dia pun sempat menggertakkan giginya sendiri. "Kau harus menggantinya, sekarang juga. Tanggung jawab, mana prinsip dari keluargamu itu hmm? Apa kau adalah deretan dari orang-orang biasa yang biasanya kau anggap sebagai lalat itu?" imbuhnya lagi, membuat Arvin jadi terprovokasi dengan ucapannya tersebut. "Jika iya, ka-mphh..!"
Sepasang matanya langsung membulat lebar begitu bibirnya kembali di raup, dan lebih dari pada itu, tangan kanan Arvin yang tadinya di gunakan untuk menekan kedua tangannya Ashera di atas kepala, berpindah tempat ke belakang punggungnya Ashera, membawanya masuk dalam pelukan dari dua orang yang nampak sedang berc*nta, sebab posisi dari Ashera yang masih meletakkan kedua kakinya di pinggang serta paha yang menyapa pangkal pahanya Arvin.
"Mulutmu itu terlalu cerewet, apa kau tahu itu?" Bisik Arvin didepan wajah Ashera persis.
"Tidak tahu, aku tetap tidak mau tahu, kau harus melepaskanku."
"Ya, silahkan saja, jika kau bisa keluar dari pelukanku ini." Senyum Arvin, seakan sepasang mata itu masuk dalam kegelapan, sebuah niat besar yang cukup kuat pula, sesuai dengan kata-katanya itu, dua tangan tersebut pun langsung bekerja sama dengan memeluk Ashera dengan cukup kuat.
Dengan tubuh kokohnya, Arvin yang tadinya membungkuk di atas meja, sudah berhasil berdiri dan membawa tubuh mungil Ashera itu ke area pintu jendela.
BRUKKK...
"Akh..." Rintih Ashera. Dia bukan merasa sakit, tapi rasa geli yang ada di belakang punggungnya saat kedua tangannya Arvin menyusup masuk, itulah yang dia dapatkannya saat ini.
Bukan pelukan biasa, itu pelukan yang membuat Arvin mendapatkan keuntungan lebih, sampai kedua tali yang menyatu untuk mengikat bra miliknya, sudah terlepas.
"Begitu, kau mau bermain kasar?" Dan Ashera, tanpa sungkan lagi, dia pun memberikan gigitan maut di bahunya Arvin.
Rasa sakit di padukan rasa geli yang saling berlawanan, Arvin dan Ashera pun berpacu pada suasana yang sedang di lakukan oleh mereka berdua.
"Kau akan kalah, mau menggigitku? Maka aku akan menusukmu." Kata Arvin detik itu juga, lalu sesuai dengan perkataannya itu, jari jemari Arvin pun perlahan turun dari punggung lalu ke bawah, sampai di titik dimana tangan itu melepaskan pengait roknya dan memasukkan tangannya ke dalam belakang celananya.
'Tidak boleh seperti ini.' Ashera yang tidak mau kalah, langsung mengarahkan salah satu tangannya itu dan langsung meraih benda pusakanya Arvin yang terletak di depan pangkal pahanya Ashera, lalu memegangnya dengan cukup keras sampai Arvin akhirnya.
__ADS_1
SRAKK...
BRUKK....