
"Ah ya ampun, lelah, Fajar! Aku numpang tidur di kamarmu dulu, nanti aku pulang ke kamarku, rasanya aku sudah tidak kuat pergi ke kamar di ujung," keluh Yuli, dia tidak bisa pergi ke tempat yang lebih jauh lagi dari ini, karena kamarnya ada di ujung lorong sendiri.
"Hmm, terserahmu," jawab Fajar.
Dia membuka kopernya dan meletakkan semua barang bawaannya di dalam lemari yang sudah tersedia. Setelah bisa beres-beres sebentar, dia pun pergi menuju jendela full glass, begitu dia menyeret korden, pemandangan dari kota Seoul pun benar-benar terlihat dengan begitu jelas dari ketinggian lantai 40.
Dia pun menatap pemandangan itu dari tempat dia berdiri. Terbesit sebuah perasaan ingin mengundang Ashera di dalam benak hatinya.
'Kalau saja bisa mengundang Ashera. Tapi, dia bahkan tidak bisa pergi ke pesta. Apa dia ragu karena kebanyakan dari semua orang adalah orang kaya, dan akan direndahkan di pesta?' meskipun sebenarnya Fajar sudah mendapatkan hadiah yang bagus dari Ashera, tapi karena Ashera sendiri tidak bisa datang, tentu saja ada yang kurang.
"Oh ya Fajar, aku lihat malam itu kau menerima hadiah dari seseorang yang pakai motor, dia siapa? Apa dia kurir paket?" tanya Yuli, dianya sudah berbaring di atas kasur yang begitu empuk, dan karena saking lelahnya, dia pun tidak bisa bergerak dari atas tempat tidur itu. "Hadiahnya cukup bagus juga, aku bahkan baru pertama kali melihatnya," imbuhnya.
"Yang datang dengan motor itu Kak Luna. Sebenarnya aku mengundangnya, tapi dia tidak bisa datang, dan barang yang dia bawa itu, adalah hadiah dari Ashera yang tidak bisa datang juga, apa kau bahkan suka dengan hadiah yang aku dapatkan itu?"
"Huh? Kau yakin? Barang yang estetik itu adalah dari Ashera?!" tiba-tiba saja Yuli bertanya dengan wajah semangat.
"Ya, itulah yang Kak Luna katakan padaku,"
"Gila, aku suka bego, aku sangat suka dengan hadiah itu. Kalu lihat saja, di dalamnya ada namamu, itu dari gulungan kertas, nama tekniknya itu Quilling, membuatnya saja cukup lama. Tapi yang baru pertama kali ku lihat, dia justru memadukannya dengan resin, mau di pajang di manapun itu cukup cantik.
Diam-diam dia punya ide yang keren juga, aku jadi mau buat untuk diriku sendiri ha, tap hahh..., nantik, aku mau tidur dulu. Perbedaan jam disini sangat menyiksaku," setelah membebel sendiri dengan pujian, Yuli pun kembali loyo dan tidur di dalam selimut.
'Padahal kelihatannya Yuli ini memang bukan temannya Ashera, tapi dia suka dengan apa yang di lakukan Ashera.
Pfft, bahkan Yuli pun ingin berteman dengannya, tapi tidak tahu cara memulainya, makannya dia terus saja seperti ini.' pikir Fajar, dia menertawai sikap Yuli yang dari luar kelihatan seperti perempuan yang sombong, tapi sebenarnya bahkan Yuli sendiri ingin berteman dengan Ashera.
Namun karena kendala dia tidak tahu bagaimana cara memulai untuk berteman dengan orang biasa, Yuli pun selalu diam-diam menyukai apapun yang di lakukan oleh Ashera.
'Oh ya, karena waktu itu dia sempat menghubungiku, aku jadi bisa punya nomornya. Sebaiknya aku cari hadiah untuknya sebagai ucapan terima kasihku padanya karena sudah memberikanku hadiah ulang tahun yang paling berbeda.' begitu Fajar sudah menemukan ide untuk rasa terima kasihnya kepada Ashera, Fajar pun memberikan teks pesan singkat kepada Ashera.
________________
__ADS_1
BYURR...!
"Akhh..!" deburan ombak hasil dari Arvin yang tiba-tiba saja menceburkan diri ke kolam, sukses membasahi tubuh Ashera yang sedang berjongkok di pinggir kolam.
PHUAHH....
"Kalau mau masuk, masuk saja," ucap Arvin, sudah muncul dari dalam air kolam, setelah menceburkan diri dengan gaya batu.
Tapi, respon Ashera, dia justru segera langsung menggeleng-geleng kan kepalanya dengan cepat, tidak mau ikutan berenang, karena dirinya lebih asik untuk tiduran dari pada berenang.
"Tidak mau, dingin," kata Ashera.
Cuacanya memang terik, tapi baginya, berenang di pinggir pantai seperti itu, justru membuat tubuhnya jadi langsung kedinginan, jadi dia pun benar-benar menolak tawarannya Arvin, dan segera pergi dari sana dengan tujuan untuk membuat minuman segar.
Namun, Arvin yang tidak mau berenang sendirian itu, dengan cepat langsung menyelam, dan berenang dalam diam menghampiri Ashera, sebelum gadis itu pergi dari pinggir kolam.
'Aku terpaksa meluangkan waktu untuk bisa bersenang-senang di sini denganmu, tapi jika kau menolak, akulah yang akan memaksamu saat ini juga.' pikir Arvin, dia pun mulai berenang sampai ke pinggir kolam, di saat langkah kaki pertama Ashera akan Ashera ambil, Arvin seketika muncul dan menarik salah satu tangannya Ashera dengan cepat, sampai Ashera yang terkejut itu, matanya sudah membulat sempurna.
"A-arvi-"
"Hahaha, jangan membuatku berenang sendirian, mengerti?" ucap Arvin dengan tawanya.
'Dia itu kenapa nakal sekali sih?' bisik Ashera dalam hatinya. Karena kolam renangnya kebetulan cukup dalam, Ashera yang sudah terlanjur di tarik masuk kedalam air itu, seketika itu juga, Ashera pun mulai mengerjai Arvin dengan berpura-pura tidak bisa berenang. "Angh..blupp...blubup,"
Ashera mulai kesusahan untuk bernafas, kedua kakinya yang seolah-olah tidak bisa di ajak kerja sama agar bisa berenang, membuatnya nampak seperti orang yang akan tenggelam.
"A-arvinmph..." setiap kali Ashera ingin memanggil namanya, tubuhnya langsung tenggelam ke bawah, dan membuat kepalanya pun benar-benar masuk kedalam air, sedangkan kedua tangannya terangkat ke atas, untuk memberikan kode kepada Arvin untuk melakukan pertolongan.
"...!" Arvin yang tidak tahu kalau dirinya sedang di kerjai oleh Ashera, jadi langsung panik sendiri dengan keadaan Ashera yang tidak kunjung naik, dan bahkan terlihat kesusahan untuk memunculkan kepalanya lagi. 'Dia- dia masa tidak bisa berenang?!' teriak Arvin, dengan buru-buru, Arvin yang sempat sudah naik ke pinggir kolam, jadi langsung masuk kedalam air kolam lagi.
BYURR....
__ADS_1
"Tolongmph!" Ashera benar-benar mampu memainkan perannya dengan baik, sehingga Arvin yang kembali teringat dengan momen dimana dirinya hampir menenggelamkan Ashera di kolam renang di sekolah, sontak membuat Arvin sendiri langsung di buat panik.
Ashera sebenarnya tidak ingat apapun apa yang terjadi saat kepribadian satunya lagi menguasai tubuhnya.
Maka dari itu, saat Ashera secara kebetulan berpura-pura tenggelam, sampai akhirnya dirinya berbuat seolah tidak bisa bernafas lagi, hal tersebut berhasil memancing Arvin yang punya pengalaman sama dengan Ashera waktu saat olahraga di sekolah, itu membuatnya buru-buru segera memberikan oksigennya dari mulut ke mulut.
'K-kenapa dia memberikanku oksigennya? Bukannya seharusnya dia langsung saja bawa aku naik ke atas dari pada memberikanku oksigen?' pikir Ashera, tidak tahu kalau perbuatannya itu memicu pengalaman Arvin belum lama ini.
Dengan begitu semangatnya, Arvin malah benar-benar mencium Ashera, memberikan sebagian nafasnya dengan mulutnya itu.
'Ashera, apa kau bahkan benar-benar tidak bisa berenang seperti kepribadianmu yang satunya itu? Ini merepotkan, aku hanya ingin menjahilinya. Tapi jika tahu akan seperti ini, aku juga tidak akan melakukannya. Kenapa aku malah bisa khawatir seperti ini?' kata hati Arvin, dia pun langsung menutup kelopak matanya, dan segera membawa Ashera keluar dari kolam. "Phuahh..! Hah..., hah..., hah...."
Arvin berhasil keluar dari kolam sambil merangkul Ashera dengan cara melingkarkan tangan kirinya di belakang pinggangnya. Lalu setelah menyibak rambutnya yang menutupi wajahnya, Arvin segera membawanya ke tepi kolam.
"Ashera...!" panggil Arvin, langsung naik ke tepi kolam dan menyeret tubuh Ashera menjauh dari pinggir kolam.
'Kenapa dia memanggil namaku?' akting nya yang terlalu bagus itu, tidak bisa membuat Arvin untuk berhenti khawatir.
"Ashera! Hei, bangun, jangan pura-pura pingsan," ucapnya.
Tapi Ashera yang tidak mau menuruti ucapannya Arvin, memilih untuk tetap diam seperti orang sekarat.
'Apa dia jangan-jangan betulan pingsan? Masa sih? Tidak, pikirkan dulu, Ashera yang ini itu terlihat lemah ketimbang kepribadiannya yang satunya lagi.
Tidak, aku tidak bisa membuatnya lebih gawat dari ini. Kalau Nenekku sampai tahu, di situ pula, aku akan kena marah juga. Jangan karena hal sepele seperti ini, membuatku harus kena ruginya.' pikir Arvin, sangat tidak menguntungkan bagi dirinya membuat perkara dengan Ashera lagi, setelah berbagai macam masalah yang harus dia lalui berkat gadis di depannya itu.
Maka dari itu, Arvin yang sama sekali tidak puas jika kejadian ini akan berimbas pada kehidupannya ke depannya, karena terus di pantau oleh Neneknya, Arvin pun memutuskan kembali untuk memberikan nafas buatan kepada Ashera.
"Umph..."
'Arvin?!' Ashera yang sebenarnya tidak terkena apapun itu, langsung membelalakkan matanya, melihat betapa dekatnya wajah Arvin ketika harus memberikannya nafas buatan yang tidak lain adalah ciuman juga. 'Kenapa dia sampai sebegitunya? Apa yang sebenarnya sudah terjadi selama kepribadianku yang satu itu menggunakan tubuhku? Arvin bisa sampai cekatan seperti ini, dia kelihatannya benar-benar sudah berubah.' pikir Ashera, benar-benar sangat terkejut dengan apa yang sedang di lakukan oleh Arvin terhadapnya.
__ADS_1
Itu di luar pikirannya, bahkan untuk sekedar berharap agar mulutnya Arvin untuk bisa bicara hal yang baik-baik saja, tidak pernah terpikirkan.
Tapi sekarang? Justru melihat Arvin menggunakan mulutnya untuk menyelamatkannya, Ashera pun jadi merasa tersentuh dengan tindakan kecil yang menurut Ashera sendiri sangat berarti, tapi tidak tahu apakah untuk Arvin akan jadi begitu berarti juga atau tidak.