Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
26 : Misi pencegahan, gagal.


__ADS_3

Sesuai dengan perjanjiannya dengan Daseon, Ashera akhirnya bisa mendapatkan nomor sandi untuk pintu apartemen milik Arvin.


KLEK...


'Akhirnya aku bisa masuk juga.' Tepat di saat Ashera membuka pintu dan melangkah dua langkah masuk ke dalam, Ashera tiba-tiba menabrak seseorang.


"Ah..." Ashera sedikit mundur ke belakang. "T-tuan muda?"


"Apa yang baru saja kau lakukan dengan pelayan baj*ingan itu?"


'Kenapa dia menghina Kak Daseon dengan menyebutnya baj*ngan seperti itu?' Tapi karena Ashera tidak mau terlalu berlama-lama berpikir, Ashera langsung menjawabnya. "Beliau hanya mengembalikan jaket saya yang Tuan muda bang kemarin."


'Sampai repot-repot mengurus jaket yang sudah bernoda banyak sampai bersih seperti itu, apa yang sebenarnya orang itu pikirkan, padahal selama ini dia bukanlah pelayan yang begitu peduli dengan orang lain selain aku.' Pikir Arvin, merasa aneh dengan keputusan Daseon yang mau mengambil langkah repot untuk memberikan perhatian kepada Ashera. 'Apa dia akhirnya punya simpati kepadanya?'


Dengan tampang wajah yang cukup serius, Arvin terus menatap Ashera dengan aura yang cukup mengintimidasinya.


"A-apa a-"


"Apa aku menyuruhmu bicara? Masuk dan masakan untukku, gara-gara kau, aku jadi kelaparan." Cetus Arvin, benar-benar menganggap Ashera seperti pelayannya.


Karena tidak boleh di suruh bicara, Ashera dengan menurut, langsung diam dan mengiyakan perintah dari Arvin untuk masak.


'Sebenarnya kenapa jadi gara-gara aku sih? Siapa suruh dia menangani kasusku secara langsung. Atau jangan-jangan dia akhirnya punya perhatian kepadaku?' Hanya dengan memikirkan itu, tanpa sadar bibirnya jadi tersenyum. 'Eh? Kenapa aku tersenyum karena dia?'


Dengan cepat Ashera menggeleng-gelengkan kepalanya, untuk menyingkirkan semua pikiran itu.


"Apa? Kau tidak mau masak?" Tanya Arvin dengan tatapan sengit, gara-gara melihat Ashera tiba-tiba saja menggelengkan kepalanya.


'Waduh, bukannya dia tadi sudah pergi, kenapa dia malah ada di sana dan menatapku?' Melihat Arvin salah paham, Ashera langsung menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"........." Benci menatap Istri alias pelayannya yang begitu udik, Arvin langsung melengos dan berjalan pergi menuju kamarnya yang sebenarnya ada di lantai dua, tentunya.


Sedangkan kamar yang ada di bawah, adalah kamar tamu yang jarang di gunakan, tapi masih ia tempati jika tidak ada mood untuk naik ke atas.


'Sebenarnya kenapa wajahnya terus saja datar seperti itu? Jika terlalu lama berada di dekatnya, suasananya seperti orang yang ingin ngajak berkelahi. Ah~ Hush..hush...sebaiknya aku cepat masak, biar ku cepat tidur, karena aku belum bisa tidur dengan benar gara-gara beberapa hari ini aku punya masalah besar yang harus aku hadapi.' Demi menghilangkan waktu yang harus ia lewati dengan cepat dengan memasak untuk Arvin, Ashera pun segera bersiap di depan dapur.


__________


"Apa? Kau mau ke tempatku? Katakan saja kau ingin aku bertemu di mana, aku akan datang menemuimu sekarang." Ucap Arvin pada seseorang di ujung telepon.


Tok...tok...tok.....


Mendengar pintu kamarnya Arvin di ketuk oleh Ashera, sebelum Ashera bicara, Arvin lebih dulu mengakhiri panggilan itu.


"Beritahu aku lewat pesan, aku akan pergi menemuimu sekarang." Kata terakhir Arvin sebelum akhirnya Arvin memutuskan panggilan itu secara sepihak.


'Karena ke depannya dia akan tinggal di sini, aku jadi merasa malas tinggal di rumah. Di sekolah sudah pasti bertemu dengan dia, apalagi di rumah. Sudah jelas aku akan bosan setengah mati.


Betapa gilanya aku menikahi pelayanku sendiri. Bagaimana jika ada orang lain yang tahu? Aku benar-benar malas memikirkannya, tapi tetap saja aku harus memikirkannya. Ahh! Kenapa hidupku jadi berantakan seperti ini hanya karena menidurinya? Nenek juga, kenapa waktu itu Nenekku pergi kerumahku tanpa memberitahuku.


Ashera ini, dia pasti memang memanfaatkan filosofi dari keluargaku, makannya dia datang ke tempatku dan menarikku dalam situasi rumit ini, hingga akhirnya aku menikahinya.


Dia memang perempuan yang tidak bisa aku percaya, di sekolah saja dia sudah mencoreng wajahnya sendiri dengan mencuri, apa jadinya nanti?'


Benar-benar lelah memikirkan dan menghadapi situasinya yang baru itu, Arvin pun memutuskan untuk pergi.


KLEK...


"Tuan, sa-"

__ADS_1


Belum juga bicara, Arvin langsung menyela ucapannya dengan cepat, "Bukannya aku menyuruhmu untuk tida bicara? Aku akan pergi, kau bereskan saja makanannya, atau makan saja semuanya."


Kata-kata yang begitu mudah untuk di ucapkan keluar dari mulutnya Arvin.


Padahal sudah susah payah untuk memasaknya, tapi tidak di makan oleh orang yang menyuruhnya?


'Dia pikir aku ini apa? Aku punya mulut ya gunanya untuk bicara, tapi dia ini? Seenaknya sekali menyuruhku untuk diam.' Begitu melihat Arvin akan keluar melewati pintu kamar, Ashera langsung menghalanginya.


Dia sudah tidak tahan, jika yang ia urus adalah majikan yang begitu tidak menghormati Istrinya, ah.., setidaknya sekarang ia memerankan sebagai pelayannya, tapi bagaimanapun, karena Ashera selama bekerja di kediaman Ravander, memiliki majikan yang begitu memperhatikan pelayannya sendiri dan bahkan menghormatinya, Ashera yang tidak puas dengan majikan nya kali ini, dengan terpaksa angkat bicara.


"Minggir." Perintah Arvin kepada Ashera yang menghalangi jalannya.


"Tidak." Tegas Ashera.


Sebenarnya sebelum dirinya menikah, tepat di perjalanan, di dalam mobil Ashera pergi menggunakan mobil yang di naiki oleh Neneknya Arvin, di situlah Ashera mendapatkan pesan bahwa ia harus bertindak tegas kepada Arvin.


Apapun kesalahan ataupun kemarahan yang di lakukan oleh Arvin kepadanya, disini yang masih memiliki kuasa untuk memberikan wewenang itu sendiri adalah Nyonya besar, yaitu Nenek Tina itu sendiri.


Makannya, Ashera pun jadi mencoba memberanikan diri, dengan salah satu misi yang ia dapatkan adalah untuk membuat Arvin meninggalkan kebiasaan buruk yang mungkin akan tetap di lakukan, meskipun mereka berdua sudah dalam ikatan pernikahan.


"T-Tidak." Ashera mencoba mencari nyalinya yang sempat terbawa arus suasana tegang yang di ciptakan oleh mereka berdua.


"Kau tidak dengar aku bilang apa? Minggir dari jalanku!" Arvin dengan sengaja menepis bahu Ashera agar menyingkir dari jalan nya.


GREP...


Ashera dengan begitu cepat segera mencengkram tangan Arvin. "Aku sudah masak sesuai dengan perintahmu, kenapa kau malah mau pergi?! Mentang-mentang orang kaya, apa kau mau menjadi orang yang memubazirkan makanan? Kalau suatu hari kau tidak bisa makan karena tiba-tiba miskin, apa kau akhirnya baru mau menyadarinya?!"


Langkah kaki Arvin yang langsung terhenti membuat Ashera seketika terkejut sendiri, karena mulutnya lebih banyak bicara dari pada yang ia rencanakan.

__ADS_1


__ADS_2