
Suara indah yang berakhir dengan rasa puas, menciptakan pengalaman yang membuat hatinya menginginkan lagi, lagi dan lagi.
Seharusnya itu yang di lakukan oleh orang yang sudah dewasa. Tapi yang namanya kenakalan remaja, ada juga yang kenakalannya tidak tanggung-tanggung, dan salah satunya apa yang di lakukan oleh empat orang laki-laki dan satu orang perempuan yang bermain di dalam kamar.
'A-apa? Kenapa ini terjadi? Ini tidak mungkin! Masa itu aku? Padahal jelas-jelas waktu itu kan aku di dalam kamar sendirian?' Dini terus menyangkal dirinya sendiri, dia merasa tidak mungkin melakukan hal tersebut di luar sana.
"Dini, meskipun apa yang kau katakan benar, kalau permainan orang dewasa seperti ini cukup menyenangkan, tapi bisa-bisanya dari awal kita beranggapan kalau yang sedang melakukannya adalah Ashera?
Kau bahkan juga menuduh Ashera yang sedang bermain? Tapi apa ini DIni? Bukannya ini wajahmu yang sedang merasa senang menikmati surga dunia yang kau ciptakan sendiri?" hina Alfian dengan terus terang, membuat sebagian besar teman-temannya pun terkekeh.
Tidak, bukan hanya mereka saja, tapi semua bisikan yang tidak mengenakkan pun kembali mewarnai satu satu angkatan mereka yang masih ada di luar kelas.
"Ha?~ Apa ini? Bukannya ini wajahnya Dini?"
"Ya ampun, bisa-bisanya kita langsung menuduh Ashera yang melakukannya? Dini ini, ternyata dia memang benar-benar toxic sekali,"
"Untung saja, setelah ini dia pasti dikeluarkan, jadi kalau mau menggosipi mereka terus, tidak akan jadi masalah, toh orangnya tidak akan di sekolah ini lagi kan?"
"Hahaha, benar. Tapi Dini ini berani juga ya? Melakukan ini di luar ana."
"Memperburuk citra sekolah saja. Semoga saja dia kena karma,"
"Pfft, aku harap begitu, lagian aku juga benci dia yang sok berkuasa, padahal dia sendiri sepertinya bukan anak dari orang kaya,"
"Eh aku dengar, dia adalah anak dari pelayannya Arliana."
"Kakaknya pasti malu dapat adik seperti itu,"
"Hihihi, bagaimanapun ternyata orang yang menuduh ini adalah orang juga sendiri, Dini..., Dini,"
"Dia sangat kelewatan juga."
"Tidak bisa menjaga diri sendiri. Masih umur segitu sudah mulai jadi seorang ja*lang, hebat juga dia. Pasti punya mental baja,"
__ADS_1
"Tapi ini menyenangkan loh, ekspresinya itu, benar-benar membuat para laki-laki jadi dilema sendiri,"
Ucapan demi ucapan, mulai mengerubungi soal Dini dan Dini lagi.
Dan orang yang menjadi tersangka itu sendiri, langsung syok berat dengan ekspresi wajah yang kini sudah jadi pucat pasi.
'Bagaimana bisa ini jadi wajahku? Pasti ada yang berhasil memanipulasi wajahku!' Dini bersikeras menyangkal apa yang dia lihat itu.
Tapi faktanya, sebenarnya Dini sendiri pinggangnya merasa sakit, dan semua tubuhnya dari atas sampai bawah, dia serasa baru saja menghadapi cobaan berat yang menyita tenaga dan tubuh fisiknya.
Dia tidak tahu apapun soal Video tersebut.
"Pasti ada yang mengeditnya, apa kalian pikir hanya dengan video ini saja jadi bukti kalau wanita yang ada di sini adalah aku?" kata Dini, dia terus saja membela dirinya sendiri demi tidak terjebak dalam jebakannya sendiri itu.
Hanya saja di tengah-tengah perdebatan itu, pintu dari ruang tersebut langsung terbuka.
"Fajar, kau kembali? Lalu bagaimana dengan Ashera?" Alfian langsung bertanya kepada Fajar yang tidak lama sudah kembali ke sekolah.
Dengan menghela nafas kasar, Fajar menjawab, "Arvin yang mengurusnya,"
Mereka berpikir Arvin bukanlah orang yang akan bersimpati pada orang lain, sampai mengurus perawatan rumah sakit, mereka sedikit curiga dengan hal itu.
'Arvin, sepertinya dia memang ada suatu hubungan dengan Ashera yang tidak aku ketahui.
Ngomong-ngomong, aku dari dulu belum pernah menemukan latar belakang anak itu dengan benar.
Sebaiknya mulai sekarang aku selidiki anak itu, tentu saja, Ashera yang juga punya hubungan, harus aku cari juga.' pikir Fian. Namun, perhatiannya kembali tertuju kepada Dini, "Kau mau bukti vidio itu asli atau bukan kan? Kalau penasaran, aku akan memanggil kakakku untuk mengetahui isi video itu asli atau palsu di depan kalian semua."
"Ada apa ini? Kayanya ada sesuatu yang belum aku ketahui selain soal tadi," Fajar mendelik ke arah Dini, orang yang menjadi biang kerok kerusuhan di sekolahnya.
"Kau pasti sibuk memikirkan Ashera, sampai kau belum tahu soal Video baru tadi," tukas salah satu temanya Fajar.
Mencari tahu apa yang di maksud oleh teman-temannya itu, Fajar pun membuka handphone nya, dan segera melihat adegan yang langsung membuat Fajar menggertakkan giginya sendiri.
__ADS_1
"Dini, kau keterlaluan sekali, kau menuduh Ashera seperti itu, padahal kau sendiri yang melakukannya, sebenarnya hati nuranimu itu ad adi mana? Pantas saja, kau sama sekali tidak ada teman, kau bahkan memanfaatkan orang-orang di sekitarmu untuk tujuanmu sendiri,"
"Fajar, itu buk-"
Fajar langsung menyela dengan cepat, "Jangan panggil namaku dengan mulutmu! Aku merasa jijik, jijik dengan orang sepertimu! Mau melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan orang lain!"
Dini yang mendengar bentakan itu, tubuhnya langsung gemetar. Baru kali ini, dia menerima ucapan dari Fajar yang begitu sarkas, padahal selama ini Fajar sangat di kenal sangat baik kepada semua orang.
Tapi sekarang, wajah asli Fajar saat marah pun akhirnya Dini lihat.
"Fajar, aku itu di jebak! Itu tidak mungkin aku~" berusaha sekuat tenaga untuk bicara, Dini benar-benar cukup ketakutan untuk menghadapi orang yang tadinya kelihatan kalem, seorang justru seperti seorang pembunuh.
"Aku tidak mau mendengar omong kosongmu!" teriak Fajar, "Dari awal kau masuk, aku sudah berpikir kau aan menjadi pembuat onar, tapi sekarang aku tidak akan memberikan toleransi kepadamu," tegas Fajar.
Begitu sudah bicara dengan Dini, Fajar langsung memberikan arahan kepada teman-temannya.
"Sedangkan kalian semua, bawa kedua orang tuanya langsung kesini sekarang juga, kau Alfian, panggil kakakmu ke sini untuk menganalisis video itu, setelah itu antarkan kepala sekolah untuk pergi ke ruang rapat juga.
Walaupun menjijikan, aku hanya ingin mengungkapkan kebenaran ini dengan sejelas-jelasnya! Kalian mengerti?!"
"Baik, Ketua!" jawab mereka.
"Masa jabatanku harus di nodai dengan kasus seperti ini, benar-benar deh, aku kecewa denganmu, bahkan kakakmu sendiri pasti lebih kecewa dan sudah tidak ingin menganggapmu adik lagi," ungkap Fajar dengan terus terang. Namun, suarnaya seketika berubah menjadi begitu rendah, ketik dia akhirnya bergumam dengan wajahnya yang dingin, "Dasar, ja*ang. Bahkan masih sekolah saja, sudah seperti itu, apalagi nanti kalau sudah lulus? Noda pada akhirnya harus di singkirkan, menyebalkan."
DEG...!
Semua orang di sana langsung terpegun dengan kata-kata hinaan yang baru pertama kali merkea dengar, dan hanya di tunjukkan untuk Dini khusus kali ini.
'Di-dia, gawat juga kalau membuat orang yang kalem marah.' pikir Alfian dengan senyuman tawarnya, melihat kepergian Fajar dari ruang BK.
'Wakil ketua Osis benar-benar marah!'
'Hahh! Wakil ketua Osis yang biasanya berkata lembut dan bicara manis seperti madu, tiba-tiba seperti serbuk arang hitam yang kotor. Untung saja aku tidak pernah membuat Wakil ketua marah, tapi melihatnya marah, aku jadi enggan untuk mencari perkara.'
__ADS_1
Pikir mereka semua, atas sikap dari sisi lain milik Fajar yang tidak mereka ketahui.