Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
59 : Balas dendam Arvin


__ADS_3

"Heheh, aku hebat kan?" tanya Nenek Tina.


"Ya, Nyonya sungguh hebat." Luna memberikan tepuk tangan kepada Nenek Tina sebagai penghargaan, karena ia berhasil membantu Ashera yang sedang berebut mainan. "Tapi Nyonya, memangnya anda membayar mainan itu dengan harga berapa?" Tanya Luna penasaran.


Nenek Tina tersenyum simpul, tanpa menjawab apapun, dia pun menyodorkan layar handphone nya itu ke arah Luna, dan memperlihatkan sejumlah uang dua puluh juta.


Seketika Luna tersenyum tawar. "Padahal harganya hanya lima juta saja, kenapa anda sampai membayar semahal itu?"


"Yang penting Ashera kan sudah punya hak memilikinya, jadi apa masalahnya? Dia yang sudah berani mau mengantri, berdesakkan dengan banyak orang, gara-gara ulah Arvin, aku tentu harus membantunya." Lalu Nenek Tina pun memberikan tips kepada pegawai toko yang rela membuat pengumuman paling menarik perhatian, karena mau membela Ashera.


____________


"Berikan, ini sudah jadi punyaku." Tatap tajam Ashera terhadap laki-laki itu.


Karena sekarang sedang di perhatikan banyak orang, laki-laki ini pun menyerah dari pada harus membuat keributan lebih panjang lagi.


"Sekedar info, kalau penjualan boneka Figur edisi terbatas dari Gilgamesh akan ada di sesi kedua malam ini jam delapan, waktu terbatas karena hanya dibuka setengah jam saja. Sekian terima kasih." Ucap pegawai toko itu lagi, sebelum ia memberikan pengumuman terakhirnya kepada semua orang yang tidak kebagian mainan.


Ashera yang sudah kebagian satu mainan, mencari mainan lagi yang di pesan oleh Arvin, lalu membayar sisanya itu kepada kasir.


____________


"Jangan dorong aku bodoh!"


"Siapa juga yang mendorongmu? Orang aku sendiri saja kedorong dari belakang, jadi jangan salahkan aku dong."

__ADS_1


Dua mulut adu protes karena tubuh mereka saling terdorong ke depan, membat tambah daftar rasa sesak yang mereka rasakan gara-gara kerumunan itu sendiri.


Di kala banyak orang yang masih berusaha untuk masuk, karena masih ada barang mainan yang harus mereka beli, tapi terkendala toko penuh total, Arvin yang masih berdiri sambil bersandar ke tiang, justru tengah tersenyum-senyum karena sedang membalas chat dari Marlina.


"Permisi, ugh!"


Suara milik Ashera yang baru saja mengatakan permisi itu, membuat Arvin segera mematikan handphone nya dan mencari keberadaan dari Ashera.


'Bagus juga dia mau membelinya untukku. Walaupun sebenarnya tidak usah serepot harus mengantri seperti itu, setidaknya aku bisa membalas dendamku yang kemarin, gara-gara dia menghancurkan dua boneka figur milikku.' Pikir Arvin, merasa bangga bisa mengerjai Ashera yang kemarin bersikap angkuh itu.


"Ah!" Rintih Ashera setelah di tabrak oleh seorang perempuan.


"M-maaf." ucap perempuan ini, meminta maaf tidak sengaja menabrak Ashera, lalu segera pergi dari sana.


'Sibuk sekali hari ini. Aku sangat tidak suka kerumunan, kepalaku benar-benar jadi merasa pusing. Sebenarnya apa-apaan dengan minyak wangi yang mereka semua pakai? Kenapa tidak ada satu pun yang sesuai dengan seleraku?' Pikir Ashera.


Sesaat Ashera memberikan tatapan menyelidik, 'Dia pasti baru saja berhubungan dengan perempuan itu lagi.' Detik hati Ashera.


"Kau berhasil membelinya kan? Dua barang yang aku mau?" Tanya Arvin, tangannya sudah terulur ke arah Ashera, meminta agar paper bag itu di serahkan kepadanya.


"Tentu saja, walaupun aku harus berurusan dengan orang lain yang mau berebut denganku, aku tetap berhasil mendapatkannya." Jawab Ashera dengan bangga.


Arvin yang hampir menggapai paper bag itu, tiba-tiba saja Ashera tarik lagi.


"Tapi ngomong-ngomong. Harga yang kau sebutkan soal lima juta itu, jadi naik dua puluh juta. Jadi kau harus membayarku balik, Ok?" Kata Ashera, mengancam balik Arvin.

__ADS_1


"Apa?" Arvin tersenyum tawar. "Kenapa bisa begitu, jelas-jelas kedua harga barangnya lima juta semua, kenapa jadi dua puluh juta?" Arvin yang ingin sekali merebut paper bag itu, langsung Ashera peluk, karena Ashera terlihat tidak begitu mempercayai Arvin yang ingin membayar seadanya saja sesuai harga produk yang asli.


"Lihat saja ini." Ashera menyerahkan struk belanja kepada Arvin, dan benar saja, saat Arvin membacanya, nominal semua barang yang Ashera beli itu seharga dua puluh juta.


"Ha? Bagaimana mungkin?! Kau pasti punya rencana licik ingin memerasku ya kan? Dengan memanipulasi struk belanja ini dengan cara bekerja sama dengan kasir toko?" Tuding Arvin, sebab ia tahu kalau Ashera ini juga cukup terkenal di beberapa bagian toko yang ada di Mall tersebut, jadi ada kemungkinan terjadi untuk memanipulasi harga mainannya itu.


"Untuk apa aku memerasmu? Tidak ada berkahnya sama sekali untukku." Balas Ashera, tidak percaya kalau dirinya di tuding dengan cara yang kelewat batas, dengan bekerja sama dengan kasir toko? 'Aku bahkan baru pertama kali masuk kedalam toko itu, bisa-bisanya dia punya cara berpikir seperti itu kepadaku. Jahat sekali anak ini.' pikir Ashera.


Ia sangat tidak suka dengan cara berpikir dari Arvin yang seenaknya menyimpulkan masalahnya sendiri dengan membawa nama Ashera, seolah ia baru saja melakukan kejahatan sebuah korupsi.


Arvin lantas mengernyitkan matanya. Ia masih tidak percaya dengan Ashera, karena membuat harga barang bisa jadi tinggi empat kali lipat dari harga seharusnya.


"Aku akan percaya jika aku dengar sendiri dari kasirnya." Ucap Arvin, lalu dia pun menelepon kasir toko tadi.


Begitu melihat Arvin rupanya punya nomor kontak dari salah satu pegawai toko mainan, Ashera seketika langsung marah. "Arvin! Kau- jadi kau mempermainkanku? Jika kau punya nomor kontak mereka, kau sudah seharusnya sudah memesan sendiri tanpa membuatku mengantri!"


Tapi dengan begitu santainya, Arvin pun tersenyum penuh kemenangan sambil berkata : "Itulah koneksi. Jika aku tidak melakukan itu, aku tidak akan bisa membalas dendamku kepadamu karena kemarin." Jelasnya, dengan senyuman miringnya.


Dan Ashera, begitu ia mendengar bahwa itu adalah sebagai pembalasan dendamnya kepadanya, Ashera pun jadi jengkel.


"Jadi begitu ya? Sampai membuatku harus terkontaminasi banyak parfum menjijikan, berhimpitan seperti itu, karena kau ingin balas dendam karena yang kemarin?" ucap Ashera, suaranya begitu lirih, seperti sebuah gumaman kecil.


'Ya iya lah, siapapun yang melawanku, akan aku lawan balik. Jadi meskipun kau sekalipun, aku tetap akan melakukannya.' kata hati Arvin.


"Kalau gitu, aku tidak akan memberikan ini." ucap Ashera, sambil memeluk erat tas belanja itu.

__ADS_1


Arvin tertawa, karena mengira kalau barang belanja yang ia pesan benar-benar titipan, padahal ia sendiri sekarang sudah tidak begitu peduli lagi, karena tujuan Arvin untuk memberikan pelajaran kepada Ashera setidaknya sudah terwujud.


"Hahaha,...kan, aku sudah bilang padamu, kalau kau memang ingin ada di sisiku, maka kau harus setara denganku. Kalau kau mengira aku benar-benar menitip barang padamu, sekarang aku sudah tidak begitu peduli. Jadi, kalau kau memang tidak ingin memberikannya kepadaku, maka aku tidak begitu mempermasalahkannya. Apa kau paham? Ashera?" Papar Arvin dengan ekspresi wajah meremehkan.


__ADS_2