
"Kau baru pulang?"
"Iya." Ashera menjawab dengan singkat seraya melepaskan sepatunya. Begitu dia berbalik, dia malah di hadang oleh Arvin. "Apa ada yang ingin kau katakan?"
"Apa kau menggunakan kecantikanmu ini untuk menggoda pria lain?" Arvin tiba-tiba saja berjalan mendekat, dan tangannya langsung meraih rahang Ashera, sehingga dalam sekali cengkraman itu, Arvin langsung membuat Ashera tidak bisa bergerak kemanapun.
"Tidak, padahal kau sendiri yang memberikanku pilihan, tapi kenapa kau malah bersikap seperti ini?" Ashera sebenarnya jantungnya benar-bear sudah berdegup dengan sangat cepat. Saking cepatnya, dia cemas kalau suaranya akan terdengar oleh Arvin. "Kalau kau menganggap laki-laki lain melirikku, kan karena kau sendiri menyuruhku untuk ini kan? Agar aku terlihat cantik dan bahkan bersih?" sambil menunjuk wajahnya sendiri di depan Arvin.
"Tapi kau- aku melihatmu berbicara berdua dengan Fajar, kau menganggap Fajar itu orang baik? Dan aku jahat? Begitu kan saat kau bicara dengannya?"
'Hah? Jangan-jangan waktu itu dia mendengar semua pembicaraanku? Tapi kenapa aku tidak menyadari keberadaannya?' Ashera mulai panik. Padahal meskipun yang di ucapkan Arvin memang benar, kalau Arvin kasar lah, dalam kalimat yang lebih lembutnya. Tapi Ashera sendiri juga bukan berarti kalau Arvin jahat.
Dia melakukan banyak hal dengan caranya sendiri. Kebaikan yang terlihat seperti kejahatan, hanyalah cara Arvin agar tidak terlihat di remehkan.
Dan tentu saja berbeda dengan Fajar. Dari luar dan dalam dia baik, dan karena ingin di pandang baik dalam sekali lihat.
"Dari ekspresimu pasti kau terkejut kalau aku tahu kau bicara berdua dengan Fajar, ya kan?" Arvin jadinya semakin mencengkram rahangnya Ashera dengan sedikit lebih kuat lagi.
"Apa kau bersikap seperti ini karena kau cemburu aku bicara berdua dengan Fajar?"
"...!" Arvin langsung merasa tersinggung dengan perkataannya. Maka dari itu, Arvin pun segera melepaskan cengkraman tangannya. "Itu membuatku sakit mata. Walaupun aku menyuruhmu agar kau tidak memberitahukan hubungan kita pada orang lain, tapi tetap saja, jauhi orang-orang seperti mereka. Kau sering kena Bully, dan kau pikir aku suka melihat orang di bully seperti itu?
__ADS_1
Aku malas membereskan orang-orang seperti mereka, jadi setidaknya kurangi pekerjaanku satu saja, dan itu dari dirimu sendiri." jelas Arvin.
'Bukannya itu sama saja? Walaupun konsepnya memang terdengar kalau dia sedang membicarakan tugasnya di sekolah, dan menyuruhku untuk menghindari pertikaian yang tidak perlu dan tidak ada gunanya itu, tapi aku pikir dia terlihat seperti mengkhawatirkanku.
Dia hanya bicara berputar-putar. Tapi pada akhirnya hanya ada satu alasan, kalau dia memang cemburu.
Tapi karena sikap gengsi nya, dia membuat alasan lain.' kesan milik Ashera setelah mendengar alasan yang di buat oleh Arvin barusan.
Baru juga selesai berdebat, Arvin yang punya mata jeli itu, langsung menemukan adanya benda aneh yang tersimpan didalam saku seragam sekolahnya Ashera.
"Karena pembicaraan kita berdua selesai, aku sudah boleh masuk, kan?" sambil mencoba mengambil satu langkah ke depan.
Tapi bahkan sebelum itu terjadi, Arvin tiba-tiba saja menghadangnya lagi, dan tangan kanannya itu tiba-tiba menyerobot masuk kedalam saku kiri bagian dadanya Ashera.
"Biasa saja kali, dan kau harus terbiasa, tanganku ini tidak bisa diam." jawabnya dengan nada yang cukup datar. "Apa ini? Apa ini dari anak itu juga?" terka Arvin.
Arvin bisa mengetahuinya, karena meskipun dia tidak tahu itu dari siapa, tapi di sebabkan jepit rambut kupu-kupu itu masih menyisakan aroma parfum milik Fajar, maka dari itu, Arvin pun tahu siapa pemilik pertama barang tersebut.
"Iya, dia memberikannya kepadaku sebagai hadiah, karena dia ternyata pergi ke Korea juga, kemarin."
DEG...
__ADS_1
'Untung saja aku dan dia tidak saling bertemu.' padahal salah besar, karena sebenarnya keberadaan Arvin di korea sudah di ketahui oleh beberapa orang, yaitu Yuli, Alfian, Fajar, dan terutama Dini.
"Lalu kenapa kau menerima barang seperti ini?"
"Dia bilang dia juga memberikannya kepada Yuli, aku pikir ya, dia memberikannya pada orang lain juga selain aku." jawaban Ashera benar-benar polos.
"Padahal kau bisa masuk ke peringkat dua puluh besar, tapi kenapa kau tidak mengerti dengan barang sederhana seperti ini?" Arvin yang muak melihat barang milik Fajar berada di tangannya Ashera, Arvin pun menyitanya, dan akan membuangnya ke tempat lain. "Dengar ya? Jepit rambut seperti ini, harganya itu tidak semurah yang kau lihat. Ini bisa sampai lima juta, apa iya, anak itu membelikanmu jepit rambut semahal ini untuk oleh-oleh dari liburannya itu?"
"Hahh?!" Ashera langsung memasang wajah melamun. Dia memang tidak tahu soal perhiasan, maka dari itu, Ashera yang berpikir kalau jepit rambut itu harganya tidak sampai ratusan ribu, ternyata sampai jutaan, membuatnya jadi bingung sendiri. "Aku memang benar-benar tidak tahu,"
Ashera pun jadi takut kalau Arvin akan melakukan sesuatu kepadanya karena dirinya berani menerima pemberian barang orang lain yang bahkan harganya mahal, dan setara dengan gaji bulanannya saat menjadi pelayan.
"Aku akan membu- eh jangan...nanti di kira kalau kau benar-benar menerimanya, dan di dalam hatinya jadi bahagia. Mending kau kembalikan ini kepada orangnya. Buat alasan apapun, yang penting jangan sampai membuat dia memberikanmu hadi-"
Baru juga ingin menjelaskan kepada Ashera untuk mengembalikan barang tersebut kepada Fajar, tapi melihat ekspresi wajah Ashera yang terlihat ingin menangis, Arvin pun jadi bingung sendiri.
"Kenapa kau malah ingin menangis? Apa aku semenakutkan itu?! Memangnya aku salah bicara ya?" Arvin yang jengkel sendiri jadinya malah menaikkan nada bicaranya seperti orang yang sedang membentak Ashera. Padahal dia hanya bertanya, tapi suaranya saja yang memang terdengar tegas.
"A-aku pikir kau- kau akan melakukan sesuatu kepadaku, karena aku menerima barang dari laki-laki lain. Mungkin saja kau mau menyeretku lagi ke tempat tidur, gara-gara barang kecil harga mahal itu." jawab Ashera tanpa jeda.
Arvin jadi mengernyitkan matanya. "Kenapa kau punya pikiran sedung-"
__ADS_1
"Huwahh...maaf-maaf, aku bodoh, aku tidak tahu kalau itu barang mahal, tapi aku juga takut kalau aku bicara padanya untuk mengembalikannya kepada Fajar lagi. Aku tidak tahu apa yang bisa aku katakan kepadanya." luapan hati dan pikiran milik Ashera pun akhirnya di keluarkan juga dengan tangisannya.
'Kenapa aku jadi orang yang sepertinya jadi serba alah ya?' gumam Arvin sambil mengacak rambutnya karena frustasi.