Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
9 : Persiapan


__ADS_3

Esok harinya


Ashera yang sedang tertidur itu tiba-tiba saja di bangunkan oleh salah seorang pelayan.


"Ashera, bangun." Suara yang begitu lembut itu berhasil memancing Ashera untuk membuka matanya, sebab dari tadi tubuhnya terus di guncang-guncang.


"Hm...apa?" Tanya Ashera masih separuh sadar. 'Kenapa aku tiba-tiba di ba-'


"Kamu ha-"


"Oh iya! Aku harus sekolah!" Pekik Ashera, dia dengan buru-buru bangun dari tempat tidurnya.


Tapi sesuatu yang cukup menyakitkan, langsung menghentikannya.


"Ahhw..." Rintih Ashera, tidak bisa untuk tidak membuka suaranya dengan rintihan itu. 'Rasa sakit ini-'


Ashera mengernyitkan matanya, ia kembali di perlihatkan momen yang belum lama ini terjadi kepadanya.


'Benar-benar membuatku kembali teringat dengan apa yang terjadi kemarin. Aku juga tidak menemui Nyonya besar. Tapi ini, sungguh sakit. Sebenarnya bagaimana bisa, benda sebesar itu bisa masuk kedalam perutku?' Meskipun Ashera kembali di ingatkan dalam kejadian yang membuat kesuciannya di renggut secara paksa, ia sama seli tidak bisa tersipu, karena itu adalah sesuatu yang cukup menyakitkan, baik hati, maupun tubuhnya.


"Kau kenapa Ashera? Apa perutmu keram karena sedang Haid?" Tanya wanita ini dengan ekspresi khawatir.


Tidak ada di antara mereka yang saling bermusuhan. Ya, mungkin itu memang terlihat dari luarnya saja, tapi Ashera hanya berusaha untuk mengabaikan kebaikan yang bagi Ashera sendiri pasti adalah sesuatu yang palsu.


"T-tidak, aku hanya tiba-tiba saja ingin buang air besar." Jawab Ashera dengan alasan lain yang mungkin- cukup masuk akal?


"Kalau begitu cepat, Nyonya besar sudah menunggumu."


"Hm? Memangnya ada apa?" Ashera pun ragu untuk berbohong kalau ada sesuatu yang pasti harus di selesaikan, tapi ia harus berpura-pura seolah dirinya tidak tahu sama sekali dengan alasan kenapa Nyonya besar menunggunya.


"Aku tidak tahu, dari pada bertanya padaku, lebih baik kau cepat bersiap." Ucapnya, dan Ashera pun memberikan anggukan. "Beliau ada di ruang tamu."


"Iya, terima kasih sudah memberitahuku." Kata Ashera dengan polosnya.


Sedangkan pelayan ini, hanya diam memperhatikannya saja sebelum akhirnya keluar tanpa sepatah kata lagi.


'Semalam, karena aku ketiduran, aku jadi tidak menemui Nyonya, ada apa ya?' Namun, saat Ashera memang ingin berjalan cepat menuju kamar mandi, dia lagi-lagi di halangi dengan rasa sakitnya. 'Aduhh....kenapa merepotkan seperti ini sih? Mau jalan saja susah, dan tubuhku juga masih pegal-pegal.'


Dengan air mata yang kembali memenuhi matanya, air mata yang sudah tidak mampu terbendung itu pun kembali tumpah, membasahi pipinya, dan dengan langkah berat ia pun masuk kedalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


Kamarnya sederhana, namun karena ada kamar mandi pribadi, jadi ia pun tidak susah untuk menyendiri dan kembali merenung.

__ADS_1


KLEK....


Masuk kedalam kamar mandi, perlahan ia melepas semua pakaiannya, dan masih terlihat, ada banyak tanda yang tertinggal di setiap inci tubuhnya, tanpa ada yang tertinggal. Baik itu leher, bahu, maupun dadanya, tidak ada yang tertinggal.


'Jadi seberapa kotorkah tubuhku ini?' Pikir Ashera, dan diam-diam tangan yang awalnya menyapu tubuh bagian atasnya untuk di sentuh, kini secara perlahan ujung jarinya turun dan menyentuh daerah kewanitaannya. "Akhh...!"


Matanya mengernyit, rasa sakit itu benar-benar sungguhan, yang artinya semua yang terjadi kemarin, benar adanya.


Dan bukti paling nyatanya adalah, ketika Ashera mengambil cermin kecil dan jongkok, Ashera yang begitu penasaran itu pun meletakkan cermin kecil itu di bawah daerah kewanitaannya, dan akhirnya terlihat dengan jelas, sesuatu yang cukup menyakitkan matanya.


'I-ini, kenapa jadi seperti ini?! Itu, selaput dara ku benar-benar robek? Dan tembam, ah!' Ashera pun dengan sengaja menyentuh pelan permukaan daerah kewanitaannya, sungguh itu terlalu sakit untuk sekedar dilihat, apalagi di sentuh?


Bertambah terlukanya hati Ashera melihat dirinya sendiri yang benar-benar sudah kotor.


'Pantas saja, rasanya sakit sekali.' Batin Ashera. Merasa sakit mata dengan melihat daerah pribadinya sudah seperti hancur, Ashera melempar cermin itu ke dalam tong sampah dengan sangat tepat, dan akhirnya duduk sambil memeluk kedua lututnya sendiri. 'Walaupun aku ada di tempat yang banyak orangnya, aku tetap saja merasa sendirian.' Pikir Ashera, lagi-lagi ia merenung diri.


______________


"Tunggu! Kenapa kalian masuk kedalam rumahku sembarangan?!" Pekik Arvin, tepat setelah dirinya keluar dari kamar mandi, ia malah di perlihatkan hal yang menyesakkan, sebab ada banyak anak buah neneknya yang tiba-tiba saja masuk dengan membawa barang-barang, entah isi kotak dari yang mereka semua bawa itu apa.


"Kami datang ke rumah anda karena perintah dari Nyonya besar." Jawab salah satu dari mereka.


'Hahh~ Perintah dari Nenek? Memangnya apa yang akan di lakukan oleh mereka di rumahku?' Arvin pun merotasikan arah pandangannya ke segala penjuru, beberapa perabotan rumah di singkirkan, lebih tepatnya di letakkan di tempat lain, lalu ada karpet mewah berwarna merah langsung di bentangkan ke dari arah pintu masuk ke ruang tengah, ada bunga, meja serta kursi berwarna putih, juga..


Arvin yang melihat hal tersebut, mengangkat salah satu alisnya. "Kenapa aku harus ikut kau? Memangnya kau siapa mau menyuruhku mengikutimu?"


"Maaf, kami bukan menyuruh tapi meminta anda untuk mengikuti kami." Jawab wanita ini dengan ekspresi tenang.


"..........." Arvin pun memindai dua orang di depannya itu. 'Hanya karena pelayan itu, apakah nenek benar-benar membuat persiapan di rumahku ini?' Kernyit Arvin.


Melihat kedatangan semua anak buah neneknya, dan kedua orang desainer ini, Arvin sudah mulai paham benar, kalau di apartemen nya ini akan di jadikan tempat sebuah acara kecil.


"Tuan, sudah tidak banyak waktu lagi, beliau akan datang kesini." beritahu wanita ini kepada Arvin.


Arvin pun menghela nafas kasar, membuang muka seraya berkacak pinggang.


Belum apa-apa, hanya dengan melihat keributan di rumahnya itu, Arvin sudah merasa lelah lebih dulu.


"Sudahlah, katakan saja apa yang harus aku lakukan, aku malas membuang waktuku." Cetus Arvin kepada mereka berdua. "Dan aku tidak mau di sentuh oleh kalian, jadi berikan saja koper itu kepadaku." Tuntut Arvin, mengulurkan tangannya kepada mereka berdua.


"Berikan." Perintah wanita ini kepada asistennya.

__ADS_1


Setelah koper berwarna hitam itu ada ditangannya, Arvin pun membawanya masuk ke dalam kamar.


Dan rupanya Daseon sudah menunggu di dalam kamar nya.


Arvin yang tidak begitu perduli dengan keberadaan dari Daseon, Arvin pun tetap masuk dan menutup pintu kamarnya.


"Mari, saya bantu memakaikannya untuk anda."


"Padahal aku bukan anak kecil lagi." Gerutu Arvin melihat Daseon benar-benar mengulurkan tangannya untuk meminta koper tersebut, karena Daseon lah yang akan mendandani Tuan muda nya.


Bagi Arvin yang merupakan seorang Tuan muda Ravarden, sebenarnya di mandikan dan di pakaikan pakaian oleh pelayan, terutama butler ini adalah hal yang sudah biasa. Namun disebabkan dirinya sudah sadar sepenuhnya kalau dirinya sudah menginjak dewasa, ia pun memberhentikan Daseon untuk melakukan hal semacam itu, dan kali ini adalah kali pertama untuk Daseon lagi menerima kehormatan untuk memakaikan pakaian kepada majikannya tersebut.


Satu per satu pakaian dari calana sampai atasan pun di pakaikan oleh Daseon dan akhirnya menyelimuti tubuh Arvin yang tinggi semampai, apalagi karena porsi tubuhnya cukup sempurna dan pas dengan jas putih tersebut, maka penampilan dari Arvin pun jadi kian bertambah menarik, seolah Arvin bukanlah anak sekolahan.


"Jangan-jangan umur anda sudah 20 tahunan ya?" Mengikatkan dasi kupu-kupu ke kerah baju Tuan muda.


"Apa maksudmu kau menganggap kalau aku ini sudah tua?" Tanya Arvin tanpa sungkan.


Daseon yang masih mencoba merapikan bagian kerah baju milik sang Tuan muda, lantas sedikit mendongak ke atas dan melihat wajah dari Tuan muda yang begitu angkuh dan menatapnya dengan sorotan mata merendahkan begitu terlihat sangat jelas.


"Anda tiba-tiba jadi terlihat seperti orang dewasa." Jawab Daseon dengan senyuman cerah.


Arvin tidak begitu tertarik dengan senyuman cerah itu, karena senyuman itu seolah-olah hanyalah hiasan belaka.


"Kau pasti sedang menertawaiku, kan?"


"Memangnya apa yang harus saya tertawakan? Saya hanya merasa senang, karena anda-" Setelah selesai menyempurnakan posisi dari dasi kupu-kupu nya, Daseon pun berdiri dan menghadap ke arah Tuan muda yang sedang duduk di kursi single nya, membuat kesan dari sosok Tuan muda Arvin yang berkuasa, terasa begitu sangat melekat.


"Karena aku apa? Jangan mengatakan setengah-setengah, aku benci itu." Sela Arvin saat itu juga.


"Karena sebentar lagi akan ada teman di sisi anda. Bukankah anda memerlukan seseorang yang bisa anda gunakan untuk menggantikan posisi seperti saya? Setidaknya untuk hal sepele, calon Istri anda pasti mampu mengerjakannya dengan mudah."


"Apa itu ejekan?" Salah satu alisnya terangkat. Dia separuh membenci perkataan dari Daseon yang terdengar seperti menyindirnya.


"Anda selalu saja berburuk sangka, mana mungkin saya mengejek majika saya sendiri." Balas Daseon sambil memejamkan matanya. "Saya hanya berharap-" Daseon tiba-tiba saja membungkukkan tubuhnya ke depan, lalu kembali berlutut, setelah itu Daseon tiba-tiba saja meraih tangan Arvin samil berkata : "Anda akan bahagia dengan mempelai perempuan anda, walaupun berbeda status, tapi anda suatu saat pasti akan merasakan kehadiran dari orang yang awalnya tidak anda inginkan."


Setelah mengatakan hal itu, Daseon mengecup punggung tangan Arvin.


CUP.


Dan Arvin yang merasa itu adalah suatu hal yang tidak masuk akal baginya, tanpa sungkan Arvin langsung menampar wajah Daseon.

__ADS_1


PLAKK....


__ADS_2