
BUKH!
Satu pukulan telak berhasil membuat bola voli melambung tinggi.
Ketika permainan berhasil di lanjutkan sampai akhirnya salah satu dari mereka memenangkan juara, Ashera, dia kini berdiri di depan posko pintu gerbang.
Dia sudah memakai pakaian jeans lagi, lalu di padukan dengan kaos dan jaket hoodie yang dia pakai, Ashera lantas memakai penutup kepalanya.
"Nona yakin mau pulang sendiri?" Tanya salah satu satpam yang berjaga di gerbang villa tersebut.
"Aku sedang menunggu seseorang, jika dia memang tahu aku menunggunya sih." jawab Ashera.
"Apa maksudnya Non?" Tanya pria ini, dia sedikit bingung dengan maksud dari apa yang di ucapkan oleh Ashera ini.
"Aku menunggu seseorang. Akan tetapi, ini seperti taruhan, apakah orang yang aku tunggu akan menemuiku membawaku pergi bersama atau justru aku akan di abaikan."
"Kalau begitu memangnya orang yang Nona tunggu ini teman Nona atau bukan?"
"Entahlah paman, aku juga tidak tahu apakah dia menganggapku sebagai seseorang, teman, ataukah pelayan, aku selalu mendapatkan kesan seperti itu di matanya, jadi aku sendiri juga tidak tahu." Jawab Ashera.
Lantas paman ini pun terdiam. "Begitu ya, ini seperti teka-teki saja, taruhan yang cukup mendebarkan."
"Heheh, ya kan, mendebarkan sekali." Ashera pun tertawa dengan respon dari paman satpam ini.
Tapi, pembicaraan dari mereka berdua tiba-tiba saja langsung terganggu dengan kehadiran dari deru suara knalpot motor yang cukup banyak?
BRRMM........BRRMMM.......
BRRRRMM.....!
Suara knalpot itu dengan sengaja di pacu dengan keras, seakan sedang memanggil.
Kedua satpam yang ada di posko dan termasuk yang sempat bicara dengan Ashera tadi pun langsung pergi keluar.
BRRMMM......BRRMMM........
"Apa dengan sengaja kalian membuat berisik seperti ini?!" Tegas salah satu dari ketiga satpam itu.
"Tentu lah, panggil si breng*ek Ezo itu! Jika tidak datang kedepanku, akan aku obrak abrik semua isi Villa ini!" Seru seorang laki-laki dari pemilik motor berwarna putih. Dengan suaranya yang begitu keras, tentunya, dia segera berbicara lagi, "Kalian, cepat panggil Enzo itu!"
"Sudahlah, lebih baik buka gerbang itu!" Salah satu teman dari laki-laki yang di duga pemimpin itu, segera menyuruh anak buahnya untuk turun dari motor dan memaksa gerbang utama di buka.
"EH! Tidak, kalian tidak boleh membuat kekacauan di Villa tuan kami."
"Alah, tidak kalian lelet, cepat paksa buka gerbangnya, kalau bisa hajar ketiga satpam itu!" Pinta orang pengendara motor berwarna merah.
'Kenapa jadi seperti ini? Setiap kali ada aku, perasaan akan ada banyak masalah mengikutiku juga.' Pikir Ashera.
Dia akhirnya di suguhi dengan keributan yang terjadi di depan matanya persis.
"Nona! Tolong panggilan Tuan Enzo segera, jika tidak mereka akan mengobrak-abrik tempat Tuan kita." pinta salah satu dari satpam itu.
Karena sudah begitu, Ashera akhirnya memutuskan menurutinya saja dan segera berlari selagi ketiga satpam itu mencoba untuk terus mencegah pada geng motor itu masuk kedalam wilayah villa miliknya Alfian.
'Enzo, dia pasti ada hubungannya dengan Arliana juga. Tapi apa yang sebenarnya sudah di lakukan oleh anak itu sih sampai ada puluhan geng motor?' Ashera pun terus berusaha untuk berlari kencang, memasuki rumah besar tersebut dan langsung pergi ke halaman belakang.
Sesampainya di sana, mereka semua justru masih asik dengan permainan mereka.
Dan untuk memecah suasana yang terlihat cukup menyenangkan itu, Ashera segera pergi ke halaman tengah dan berteriak dari sana. "Enzo! Ada yang mencarimu!"
Sontak saja teriakan itu berhasil menarik perhatian semua orang, karena tidak tahu siapa orang yang baru saja berteriak, sebab Ashera saat ini sedang memakai penutup kepalanya.
Karena pakaian Hoodie itu memang cukup besar, jadinya kepalanya alias wajahnya pun sama sekali tidak bisa terlihat dengan jelas.
__ADS_1
"Siapa kau? Bagaimana kau tahu namaku?"
'Ashera? Apalagi yang mau dia lakukan?lagi pula, Enzo, dia sedang di cari?' Batin Arvin. Dia diam sambil memperhatikan suasana di sekitarnya.
Tapi, karena sepertinya tidak banyak orang yang menyadari adanya keanehan yang di bawakan oleh Istrinya itu, Arvin pun tiba-tiba saja melempar bola Voli yang di pegangnya itu ke arah Arin.
"Hei Arvin, apa kau mau menyudahi permainan ini begitu saja? Jika seperti itu, artinya kau kalah." Ucap Enzo, mengalihkan topik pertanyaan itu kepada Arvin.
"Seharusnya itulah yang menjadi pertanyaanku, kau harus menyudahi permainanmu karena kau punya urusan serius dengan orang-orang yang ada di luar gerbang. Mereka- mencarimu, seperti, bu.ro.nan. Apa aku salah menebak?" Ucap Arvin dengan adanya kalimat penuh penekanan.
"Enzo, di depan ada banyak orang yang mencarimu, cepat pergi ke sana, jangan sampai buat keributan di tempat ini! Ketiga satpam sedang menahan mereka, kau harus keluar sekarang." Ucap Ashera, mendukung ucapannya Arvin, yang entah bagaimana Ashera tidak tahu kalau Arvin juga menyadari adanya keributan di luar, padahal jelas dari tadi anak itu terus ada di dalam kolam untuk bermain voli air.
PRIITT.....
"Permainan dengan taruhan uang, akan di tunda. Antara sampai urusan Enzo selesai atau akan di lanjutkan di hari berikutnya, jadi aku nyatakan permainan malam ini di hentikan lebih dulu." Kata Arin, berhasil membuat suasana jadi semakin mencekam, karena kesenangan milik mereka semua harus di rebut gara-gara Enzo yang rupanya punya urusan yang cukup serius dengan tamu tak di undang yang sudah ada di luar gerbang.
"Yah, padahal lagi seru-serunya, belum juga ada yang menang, tapi sudah selesai seperti ini."
"Ya sudahlah, pesta seperti ini juga bisa di adakan kapanpun selama ada kesepakatan pada hadir, aku tidak masalah."
"Kita pesta lagi dengan cara kita sendiri saja yuk."
"Enzo! Cepat kau keluar! Di depan rumahku berisik!" Teriak Alfian, dia pun tidak tahan dengan suara knalpot yang akhirnya langsung mengisi suasana menjadi lebih berisik sampai ke halaman belakang rumah.
BRRMM......
BRRMMM......
BRRMM....
Tidak lama setelah itu, suara kaca yang pecah tiba-tiba membuat suasana jadi semakin tegang.
PRANG....
"Kyaaa!" All, para perempuan yang punya rasa ketakutan mereka sendiri, langsung berteriak histeris kana pecahan kaca tadi.
Enzo, dengan raut wajahnya yang cukup serius, dia pun segera keluar dari kolam.
Ada salah satu orang yang memberikannya handuk, dan ia pun pergi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena keributan yang baru saja mereka dengar itu?
"Enzo! Kau mau jadi pengecut ya! Keluar! Atau aku akan membuat semua isi rumah ini jadi sampah!" Ancam orang ini, dia adalah pemilik motor berwarna putih. Dan karena gerbang berhasil di tembus, mereka pun langsung masuk dengan motornya, sampai ada salah satu anak buah orang tersebut hampir saja menendang motor hitam miliknya Arvin, Enzo sudah keluar dari rumah dan akhirnya menghadapi mereka.
"Aku sudah ada di sini, jadi ada urusan apa kalian repot-repot datang kesini hanya untuk mencariku?" tanya Enzo pada dua belas orang dari kelompok geng motor tersebut.
"Uang hasil taruhanmu kemarin itu, adalah uang palsu. Gara-gara kau, aku kehilangan kepercayaan klienku. Dan satu lagi, salah satu anak buah mu itu barusan membuat perkara, dia menghajar anak buahku. Kau harus diberi pelajaran sekarang juga." ucap pria ini, dia masih menggunakan helm nya. "Tuh! Jika kau tidak percaya, aku kembalikan uang palsu punyamu, tapi jangan harap kau bisa lepas dariku." Imbuhnya.
'Uang palsu?' Ketika Enzo berhasil menangkap uang itu, dia pun mencoba memperhatikannya lagi. "Tapi bisa saja kau saat ini sedang memfitnahku dengan menukar uangku yang kemarin, dan kau menggunakan uang palsu untuk menuduhku."
"Apa?! Kau ternyata sedang menantang? Kalian bertiga, tangkap dan hajar dia sekarang." Perintah orang ini pada ketiga temannya yang ada di belakang.
"Baik." Mereka bertiga pun mengangguk setuju, dan begitu mereka bertiga turun dari motor, dengan masih menggunakan helm, mereka langsung berlari menuju ke arah Enzo.
Dan perkelahian pun di mulai, menyediakan tontonan yang membuat Ashera jadi merasa pusing karena lag-lagi urusan soal geng.
"Hah..., apa kau bahkan punya anak buah seperti mereka?" Tanya Ashera, dia ada di lantai dua, tepatnya di dalam kamar dan tengah menemani Arvin yang sedang berganti baju.
"Apa kau bahkan penasaran aku punya pasukanku atau tidak?" Tanya balik Arvin, seraya memakai kaos panjang pemberian dari Alfian tadi.
"Aku tanya karena aku penasaran, jawab kenapa sih?" kata Ashera, dia membuka penutup kepalanya, dan menonton perkelahian yang terjadi di bawah.
Begitu sudah selesai, Arvin pun menyempatkan dirinya untuk melirik ke bawah.
Melihat nomor plat motor mereka semua, Arvin pun segera tahu. "Aku tahu mereka."
__ADS_1
"Kau mengalihkan topiknya." delik Ashera.
"Yang penting kan aku memberitahumu."
"Tapi aku tidak butuh informasi mereka, toh mereka tidak ada hubungannya dengan pertanyaanku." Tatap Ashera kepada Arvin dengan jelas.
"Tapi-" Arvin tiba-tiba saja menggantungkan kalimatnya, kemudian ia berkata lagi sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang begitu tipis, "Ini cukup menarik, tanpa turun tangan, mereka akhirnya bisa membalas dendamku."
"Kau punya dendam?" tanya Ashera, menoleh ke arah Arvin.
Arvin yang tadinya berada di jarak lima meter dari posisinya Ashera, dia kemudian berjalan mendekat, dan begitu sampai di depan Ashera persis, sentilan jari di kening Ashera langsung mendarat dengan keras.
CTAK....
Tanpa membuat rintihan rasa sakit, Ashera menatap Arvin tajam, "Kau barusan menyentilku? Sini, akan aku balas kau!" Ucap Ashera, langsung menarik salah satu tangan nya Arvin untuk membuat laki-laki ini menunduk.
Hanya saja, begitu sudah menunduk, dan ketika wajah mereka berdua saling berhadapan, sentilan sebagai buah balasan dari Arvin tadi, tiba-tiba saja, Arvin langsung mendorong tubuh Ashera ke belakang yang membuat mereka berdua akhirnya terjatuh.
BRIUKK...
"Ka-"
PRANG.....
Satu kaca jendela transparan itu pun berhasil pecah setelah di lempari batu oleh seseorang yang ada di bawah.
"Kau kelihatannya mengira kalau aku mau menciummu ya? Kau jangan berekspektasi terlalu tinggi." Ucap Arvin dengan seringaian mautnya itu, seraya menatap wajah Ashera yang terlihat terkejut.
"Ha? Pede sekali kau bicara ya? Aku tadi hanya berpikir kalau kau mau memelukku tuh." Sahut Ashera dengan percaya dirinya juga yang cukup tinggi.
"Tetap saja, itu artinya sama saja dengan kau mengharapkan sesuatu dariku." Balas Arvin saat itu juga.
Karena posisi dari mereka berdua yang saling tumpang tindih, wajah mereka berdua pun benar-benar saling berhadapan dan cukup dekat, sampai setiap hembusan nafas yang mereka berdua lakukan, berhasil menyapu wajah mereka dengan roma panas yang cukup menggoda.
Benar, kian menjadi sebuah keheningan, Arvin tiba-tiba saja perlahan memejamkan matanya.
Dan Ashera sendiri, dia hanya diam sambil memperhatikan apa yang akan di lakukan oleh pria ini, sampai akhirnya salah satu tangannya Ashera tiba-tiba terangkat dan melingkar di pinggangnya Arvin.
BRUK....
Berhasil menarik tubuh Arvin untuk mendarat di atas tubuhnya, Arvin akhirnya berhasil membuat mereka saling berpelukan dalam baringan mereka berdua.
"Apa kau sedang menggodaku?"
"Tidak, tapi aku hanya ingin mengikuti alur suasana hatimu yang kelihatannya justru ingin sesuatu dari mulutku." Sahut Ashera.
Ashera tersenyum, dan Arvin yang tidak menampilkan senyuman dari bibirnya yang seksi itu, tiba-tiba saja mulut mereka berdua saling bertautan.
CUP.
Tepat ketika tangan kiri Ashera menekan belakang leher nya Arvin untuk mendaratkan setidaknya wajah serta bibirnya untuk dia lu*at itu.
'Ashera yang ini, dia bisa agresif. Bagaimanapun kelihatannya aku perlahan akhirnya mampu menyesuaikan diri dengan keberadaan dari perempuan ini di sisiku.
Walaupun, aku kelihatannya seperti menginginkan nya, tapi Ashera ini, dia sama sekali tidak ada di hatiku.
Apa yang aku lakukan ini sebatas karena aku memang pria normal. Dia yang menawariku dan menarikku seperti ini, aku mana mungkin menolaknya. Toh, karena dia sudah jadi milikku, setidaknya dia jadi berguna untukku juga.' Pikir Arvin panjang lebar.
Dan akses masuk dari lidah milik Arvin pun berhasil di konfirmasi oleh mulutnya Ashera, sehingga permainan lidah itu sukses besar untuk membawa mereka dalam kesenangan mereka berdua.
Setidaknya sampai-
PRANG......
__ADS_1
Batu itu berhasil masuk lewat pintu dari jendela kamar tersebut, dan membuat aksi mereka berdua jadi langsung terganggu.
Arvin akhirnya memutuskan untuk menghentikannya, dia bangun dari atas tubuhnya Ashera dan berkata : "Jika kau benar-benar belum puas, kita lanjutkan di rumah. Tapi sebelum itu aku harus urus mereka dulu." ucap Arvin.