
"Shera~"
"Sehra~"
Sayup-sayup namanya terus di panggil dengan suara yang begitu lirih.
'Siapa? Kenapa dari tadi namaku terus di panggil sih?' pikir Ashera.
Tapi sentuhan lembut yang mendarat di atas keningnya itu, justru memancing Ashera untuk membuka matanya.
"Ashera~ Apa kau masih belum bisa bangun juga?"
'Bangun juga? Kenapa terdengar seakan kalau aku tidur lama?' Ashera yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi itu, perlahan membuka matanya.
"Hmm? Kau sedang apa?" tanya Ashera dengan suara yang cukup serak. Bahkan untuk menatap satu orang yang tampak bereskpresi khawatir kepadanya, pandangannya sedikit buram. Tapi tidak membuat Ashera tidak tau siapa pria yang ada di hadapannya itu.
Arvin yang tidak tahu ternyata Ashera membuka matanya, sepersekian detik itu juga, dia mematung dan menatap ekspresi wajah Ashera yang tampak bingung.
"Menyentuh dahimu." namun kata hatinya berkata lain, 'Kenapa aku malah menjawab itu? Seperti tidak ada jawaban lain saja.'
"Iya, tapi kenapa kau menyentuh dahiku?" Ashera yang merasa terusik dengan sentuhan tangannya Arvin, langsung menepis tangan itu.
Tapi, bahkan sebelum tangannya Ashera mengusir tangannya Arvin, Arvin lebih dulu mencengkram tangan kanannya Ashera.
"Demammu kembali tinggi,"
"..." Ashera pun terdiam sejenak, lalu melirik ke arah kanan dan kiri.
Tidak ada siapapun selain mereka berdua di sebuah kamar pasien.
"Akan aku panggilkan dokter," Arvin yang hendak pergi itu, justru tiba-tiba saja langsung di cegat oleh Ashera dengan satu pertanyaan yang cukup meyakinkan.
"Apa- kau bisa memberitahuku, kenapa perutku sakit dan di bawah sana juga, ini nyeri, nye uhukk...uhuk...,"
Mendapati Ashera terbatuk, Arvin langsung memberikan Ashera air minum.
"Seharusnya itu yang akan jadi awal pembicaraanku denganmu. Tapi akan aku jawab nanti," timpal Arvin, lalu dia pun pergi sejenak dengan perasaan gelisah yang mengisi seluruh dadanya.
'Apa perasaanku saja? Dia kelihatan agak berbeda. Tapi apa?' pikir Ashera begitu melihat tampang Arvin yang terlihat beda dari biasanya.
Tepatnya, ekspresi wajah Arvin yang tampak kalem dari pada biasanya, itulah yang membuat Ashera penasaran, apa alasan dari laki-laki itu bisa punya ekspresi yang bagi Ashera sendiri cukup aneh.
'Apa dia salah minum obat?' tatap Ashera terhadap punggung Arvin yang akhirnya menghilang setelah berhasil keluar dari kamarnya.
____________
"Untunglah, anda akhirnya bisa siuman." kata sang dokter dengan senyuman ramahnya.
Tapi, Ashera yang tidak tertarik untuk mendengar jawaban ataupun ekspresi wajah orang lain, hanya berharap kalau dua orang tersebut keluar dan memberikannya waktu untuk mencerna situasi bersama dengan anak di depan sana, yaitu Arvin.
"Lalu kenapa dia malah demam lagi?" tanya Arvin dengan tatapan yang begitu menusuk.
Dokter tersebut pun menjawab, "Biasanya ada efek samping dari hasil kuret, tapi demamnya tidak akan lama kok, jadi anda tidak perlu khawatir. Kalau ada gejala lain yang anda rasakan Nona, silahkan hubungi kami. Kami berdua permisi dulu,"
__ADS_1
Setelah menjelaskan secara singkat alasan kenapa Ashera kembali demam, mereka berdua pun pergi keluar dari kamar pasien tersebut.
'Sebentar, kuret, ini benar-benar kuret? Metode itu?' Ashera yang tidak bodoh soal kuret, langsung tersenyum miris. Meskipun dia tidak tahu alasan secara keseluruhan dengan cerita dongeng, Ashera pun tetap tahu apa yang sudah terjadi kepadanya.
"Ashera," panggil Arvin.
"Tidak, biarkan aku sendirian. Aku mau tidur lagi, dan tidak mau di ajak bicara banyak dulu. Jawabnya nanti saja," kata Ashera, segera menolak apapun yang akan di tanyakan oleh Arvin kepadanya ataupun sebaliknya.
'Apa dia langsung tahu saat dengar kata kuret? Hah~ Kenapa jadi seperti ini sih? Jika bukan karena gara-gara Dini itu, hal seperti ini tidak mungkin terjadi. Aku harus menemukan rubah sialan itu.'
__________
Flashback On.
Di sekolah, hari yang sama setelah insiden kejadian Dini dengan Ashera.
"Lepaskan! Jangan pegang tanganku kuat-kuat, sakit tahu!" bentak Dini kepada dua orang yang membawanya pergi ke ruang BK.
Alfian yang kebetulan sudah selesai untuk mengamankan server sekolah, langsung menyela dengan ekspresi wajah mengejek, "Ho~ Jadi manusia tapi tidak tahu diri sekali ya~ Mana yang lebih sakit, apakah jari yang teriris pisau, atau jatuh dari tangga?"
"Tidak di percaya, kau sampai melakukan itu kepada teman sekelasmu ya, Din?" kata Yuli, dia yang merupakan kekasihnya Alfian, sedang duduk di tepi meja, tapi pandangannya jelas sedang menatap Dini yang terlihat begitu kasihan.
'Aku kelewatan. Gara-gara terprovokasi ucapannya, aku jadi harus kena imbasnya seperti ini. Huh, Ashera, kalau aku memang di penjara, lebih baik kau mati saja sana. Itu lebih baik, apalagi di tambah dengan citramu yang hancur karena video itu, kau tetap akan di kenal sebagai pembawa sial, dan jadi orang yang sangat menyedihkan.' pikir Dini.
"Padahal sudah di tangkap basah, tapi kenapa kau terlihat seperti orang yang tidak merasa bersalah ya?" tanya Yuli.
Dini yang begitu cuek itu, hanya diam saja, dan merasa kalau perbuatannya setidaknya membuat hatinya ada sedikit rasa lega, karena bisa membalas Ashera.
"Apa kau puas dengan memutuskan masalahmu antaramu dengan Ashera?" sambung Alfian.
Tentu saja, mendengar hal tersebut, Dini sempat tersenyum sinis, "Setidaknya aku bisa membalas apa yang dia lakukan kepadaku saat di gudang."
Dini memalingkan wajahnya, dan menjawab, "Walaupun aku di penjara, bisa melihat nama baiknya Ashera buruk seumur hidup, sudah termasuk lumayan sih.
Aku tidak mempermasalahkan diriku yang akan di penjara, lagi pula kalian semua juga pasti menontonnya kan? Ashera, dengan suara de*s*ahan yang cukup vulgar. Jika kalian menontonnya sendirian, pasti kalian juga terpancing juga,"
JLEB...
'Dini ini memang sudah tidak waras.' pikir Alfian. Tapi karena Alfian ketahuan oleh Yuli, Yuli diam-diam langsung menginjak salah satu kakinya Alfian. 'Ahww..., kenapa dia tiba-tiba menginjak kakiku sih.' melotot ke arah Yuli.
"Apa?" tanya Yuli dengan membalas tatapan matanya Alfian yang tidak kalah melototnya.
Bukan Fian saja, tapi mereka-mereka yang masih punya pikiran normal pun sedikit terpanggil, makannya banyak dari mereka yang langsung menepuk jidat, sebab rupanya Dini benar-benar tidak bercanda soal kegilaannya yang tidak tanggung-tanggung dalam membenci Ashera.
'Jadi ini benar-benar videonya Ashera?' pikir salah satu dari mereka.
Ada yang masih menyimpan video itu di dalam handphone nya, tapi ada juga yang sudah terhapus, karena Alfian melakukan peretasan untuk menghapus semua video itu dari handphone semua orang yang baru saja membuka website milik sekolah.
"Berarti, jika kau mengatakan itu, apakah itu artinya kau yang menjebak Ashera?"
Salah satu dari temannya Alfian pun punya pendapatnya sendiri yang membuat Dini kembali diam.
"Kenapa kau bertanya seperti itu kepadaku?" lirik Dini. Karena sudah terlanjur dirinya menjadi tersangka kasus Ashera yang terjatuh dari tangga, sekarang Dini pun sama sekali tidak begitu memperdulikan apa yang terjadi ke depannya, sebab dia sudah cukup merasa puas. "Bisa saja orang lain kan? Dia itu sekarang bukannya wajahnya dan penampilannya jadi cantik, bisa saja dia memang menggoda laki-laki di sana untuk mendapatkan bayaran lebih.
Tidak ada yang tahu sifat manusia sebenarnya, apalagi Ashera, ya kan?"
__ADS_1
Tidak ada cukup bukti untuk menuduh Dini yang merupakan seorang tersangka. Maka dari itu, mereka tidak bisa seenaknya menuduh Dini selain apa yang di lakukan Dini tadi kepada Ashera.
"Lagian dia itu pelayan, gaji juga tidak seberapa, apapun bisa terjadi. Jangan melihat kepolosan orang dari penampilan dan sifat luarnya saja," imbuh Dini.
"Aku jadi muak melihatnya," lirih Yuli, dia mengusap ujung hidungnya yang gatal dan langsung berpaling dari pada menatap wajah Dini.
"Kalau muak, mending keluar saja." balas Dini dengan ekspresi menantang Yuli.
"Kau- memang tidak tahu di untung, hanya pelayannya Arliana saja tapi sombong, dasar. Alfian, nanti kita pergi ke mall, aku jadi ingin beli parfum, malas melihat satu orang tapi punya aroma busuk seperti dia," beber Yuli, beranjak dari tempat dia duduk, Yuli pun menepuk pelan wajah Alfian dan pergi dari sana.
"Hmm," dehem Fian.
"Lalu apa yang akan kita lakukan pada nya?"
"Dua orang ini, merusak citra sekolah saja,, hah, bagaimana cara kita mengurusnya untuk ke depannya?"
"Entahlah, tapi lebih baik kalau Dini ini di hukum seberat-beratnya. Merusak citra sekolah, dan melakukan pembunuhan berencana. Umurnya juga sudah menginjak 17 tahun, dia akan dikeluarkan dari sekolah juga." sahut yang lainnya. "Mungkin ada baiknya dia di masukkan ke tempat rehabilitasi sekalian,"
"Heh~" di saat mereka semua banyak yang sedang menertawai Dini dalam diam, Dini justru dia-diam tersenyum.
"Kenapa kau ketawa?"
"Yah, hanya ada yang lucu saja. Dizi, Alfen, Jio, Kardel, kalian pikir aku tidak tahu rahasia kalian ya?"
DEG....
Orang-orang yang di sebut namanya, langsung tersinggung.
"Kau pasti hanya membual saja," kata Jio.
"Tidak kok, aku hanya berpikir, kayanya menyenangkan juga jika rahasia yang kalian sembunyikan itu terbongkar di sini," ancam Dini dengan ekspresi wajah yang tampak begitu senang.
'Apalagi yang akan di mainkan oleh Dini setelah semua ini?' pikir Jio.
"Jio, kau diam-diam membenci Dizi juga Alfen dari belakang, kan?"
"Sudah sewajarnya setiap orang pasti punya cerita di balik layar, memangnya kenapa?" kata Alfen dengan cepat. 'Apa dia mau memprovokasi pertemanan kami dengan semua yang dia ketahui?'
"Yah, hanya saja-"
TING~
Baru juga mau memprovokasi mereka semua, tiba-tiba saja ada satu notifikasi pesan masuk yang masuk ke dalam handphone mereka.
Begitu mereka membukanya, termasuk Dini itu sendiri, mereka semua tiba-tiba saja sama-sama memberikan reaksi yang sama kepada.
"Wah, apa ini video lengkapnya ya?" tanya Jio, dia tdiak peduli apa yang akan di katakan oleh Dini tadi, karena ada hal yang lebih menarik ketimbang mereka.
Tidak hanya Jio, tapi Alfen pun sama, dia terkekeh dan bertanya, "Pfft~ Memang sih, cukup menggairahkan. Tapi siapa yang akan menyangka kalau orang yang baru saja mengatai kami akan terpancing juga, adalah orang itu sendiri?"
DEG....
Dini sekilas langsung membuka video itu, dan betapa mengejutkannya saat melihat vidio itu dengan mata kepalanya sendiri.
-"Ahh~ Ini menakjubkan, lagi~"-
__ADS_1
-"Wah, dia minta lagi, gantian kau sini,"-
Dan satu orang lagi mulai menggantikan posisi temannya utnuk memberikan kepuasan kepada seorang perempuan yang sedang sangat menikmati posisinya itu.