
Dengan melaju dalam kecepatan tinggi, Arvin yang biasanya sampai di rumah dengan waktu tempuh tujuh menit saja, kini belum sampai lima menit saja dia sudah sampai di area apartemen.
"Tuan?" Salah satu penjaga gerbang dari kawasan tiga tower Garden yang menjadi pusat apartemen termewah dan termahal di kota A, langsung membukakan pintu gerbang, dan mempersilahkan Arvin untuk segera masuk.
BRRMM...BRRMM........
Dengan pacuan gas motor yang dia buat, Arvin akhirnya berhenti di depan gedung persis, dan langsung turun dari motornya, serta dia pun segera pergi berlari menuju lobi.
"Tuan muda, apa yang membawa anda kembali ke sini?" Tanya salah satu resepsionis yang langsung berjalan menghampiri Arvin yang nampak terlihat begitu tergesa-gesa dalam berjalan.
Tidak ada yang tahu Arvin dari Tuan muda keluarga mana, karena Arvin memang datang kesana tanpa identitas asli, selain dia adalah orang kaya yang langsung membeli salah dua lantai dari gedung itu sekaligus tanpa pandang bulu, makannya di salah satu lantai itu ada lantai dengan banyak apartemen yang kosong, karena sudah terbeli oleh anak ini, sebagai privasi, itulah yang di alaskan oleh Arvin.
Dan mereka tahunya hanya untuk melayani Arvin lebih baik dari siapapun, karena ia adalah penanam modal terbesar di tower A dari gadung apartemen Garden tersebut.
"Periksa semua cctv yang ada di lantai 20. Sekalipun memang ada yang bermasalah, tugasmu segera selesaikan masalah itu tanpa tanya aku lagi. Dan bawa dua orang bersamaku." Perintah Arvin tanpa memandang lawan bicaranya tersebut.
"Baik, saya akan melakukannya." Wanita ini pun langsung berbalik dan memberikan perintah pada dua orang yang harus pergi ke lantai dua puluh. "Nomor satu, dan lima, apa kalian berdua ada di posisi kalian?" Tanya wanita ini lewat alat komunikasi yang terpasang di telinganya.
-"Iya, kami berdua sedang ada di posisi kami. Ada apa?"-
"Pergi ke lantai dua puluh, ini perintah dari Tuan muda Arvin." Perintah respsionis ini.
-"Ok."-
Setelah selesai memberikan arahan pada dua orang yang sudah dia tugaskan itu, wanita ini pun pergi ke ruang CCTV, dan memberikan arahan pada semua orang yang ada di sana untuk melaksanakan perintah yang di perintahkan sang Tuan muda Arvin.
____________
TING....
Dentingan lift itu menandakan satu tujuan yang di harapkan oleh laki-laki ini sampai juga.
Dia dengan seraya mencoba menghubungi Daseon, dia terus berjalan menyusuri koridor yang di bilang cukup sepi itu.
__ADS_1
"Kenapa makhluk ini malah susah di hubungi?" Ucapannya itu tertuju pada Daseon yang masih saja tidak bisa di hubungi, padahal sedang dalam keadaan darurat.
Karena sudah jelas, tidak ada yang bisa di harapkan oleh orang itu, maka Arvin pun memutuskan untuk turun tangan sendiri.
'Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Jangan-jangan sekarang rumahku jadi kembali seperti kapal pecah lagi.' Kutuk Arvin. Dan begitu ia sudah ada di depan pintu rumahnya, Arvin pun menekan nomor sandi dan akhirnya ia membukanya.
KLEK....
Baru juga Arvin membuka pintunya lebar-lebar, vas bunga langsung melayang di udara.
PRANG....
Dan hampir saja mengenai wajah berharganya Arvin, jika dia tidak segera memiringkan kepalanya ke samping kanan.
Pecahan kaca itu pun berhamburan di lantai.
"Hmph..! Nggak kena." Ledek Marlina, dia sedang mengejek Ashera yang tidak berhasil melukai Marlina, karena Marlina berhasil menghindar lebih dulu juga.
TAK...
"Aku akan membereskanmu sekarang." dengan wajah seriusnya, Ashera berlari ke arah Marlina, lalu tanpa basa-basi lagi, dia pun mengayunkan tongkat alat pel itu dari kanan ke kiri, Marlina mampu menghindarinya dengan segera membungkukkan tubuh nya ke depan, lalu Marlina pun berlari ke depan untuk menerjang Ashera.
Tapi, Ashera yang segera tahu dengan serangannya Marlina, sebelum Marlina berhasil menyeruduk nya, Ashera segera menggunakan tongkat itu sebagai tumpuan tubuhnya menggantikan kaki kanannya yang sedang dia ayunkan dengan cepat ke arah Marlina.
Dan hasilnya Marlina yang berhasil menyadari gerakan itu, langsung menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya sekaligus tubuhnya untuk menjadi tameng.
DHUAKK...
Alhasil Marlina kena tendang dan terdorong ke belakang sampai ia harus mendarat di atas sofa.
Sedangkan Ashera yang tidak mau memberikan celah pada serangan berikutnya, Ashera langsung mengayunkan tongkatnya dari atas ke bawah, menargetkan kepalanya Marlina, hasilnya Marlina yang berniat menghindar itu, salah satu kakinya lah yang terkena pukulan telak Ashera.
BUKH...
__ADS_1
"Akhh." Rintih Marlina dengan kaki yang teramat sangat sakit setelah di pukul oleh Ashera.
"Kalau mau ganjen di depan Arvin, silahkan saja, tapi aku akan pastikan satu kakimu lagi itu patah." Ucap Ashera sambil menodongkan ujung tongkatnya ke arah wajah Marlina, lalu menggunakan tongkat itu untuk menepuk-nepuk wajah cantik milik dari Marlina.
Memang, kalah cantik, dan Ashera pun sebenarnya iri, sebab selama ini ia memang tidak begitu memperdulikan penampilannya selain menjalankan tugasnya sebagai pelayan yang harus siap kapan pun, dimana pun, dan dalam situasi apapun.
Jadi, dari pada membuang waktu untuk mempercantik diri, ia memang menghabiskan waktu untuk bekerja, karena dia berpikir uang adalah segalanya, segalanya butuh uang, dan merawat diri dengan produk mahal-mahal, maka ia akan condong untuk menghabiskan uang.
Makannya, ia selalu memakai produk seadanya, dan tentu saja Ashera tahu, selera dari pria tampan seperti Arvin itu, adalah wajah cantik seperti Marlina ini.
'Semakin aku melihat wajahnya, aku jadi semakin jengkel. Dia menggoda Arvin, pasti anak itu juga selalu memberikan banyak barang kepada perempuan ini. Menyebalkan, dia terlalu membuang-buang uang.' Karena kesal dengan sosok dari Marlina yang sangat mengganggu kehidupan matanya yang membuat nalurinya untuk merusak wajahnya Marlina jadi muncul, Ashera pun mengangkat tongkatnya lagi untuk memukul, setidaknya kakinya lagi.
Tapi, sebelum itu terjadi, tongkatnya itu berhasil di tahan oleh seseorang.
"Sudah cukup, kau mau kau yang masuk penjara karena menganiayanya?" Peringat Arvin dengan merebut tongkat pel itu dari tangannya Ashera.
"Salah dia, kenapa melihat wajahnya saja terus membuatku jengkel?" jawab Ashera, masih tidak puas hati karena ucapannya Arvin, justru terdengar seperti sedang memihak Marlina untuk tidak di pukul lagi.
Sebab apa?
Dia kan pacarnya Arvin yang cantik jelita.
'Dia-' Arvin melirik ke arah Ashera yang memilih untuk pergi ke rak sepatu dan memakai sepatu roda, mengangkat tas dan langsung pergi setelah kekacauan yang sudah di buatnya. 'Iri karena Marlina lebih cantik ya? Makannya dia terlihat marah seperti itu.' Arvin pun dalam diam jadi tertawa geli.
"Tuan? Kami sudah datang."
"Oh, bereskan mereka." Arvin melirik ke arah Marlina yang sedang mengaduh kesakitan itu.
"A-ar-"
"Entah bagaimana kau bisa masuk kedalam rumahku, aku tidak akan mau tahu lagi, kita tidak akan ada hubungan apa-apa lagi." Ucap Arvin sebelum ia akhirnya pergi ke lantai atas untuk mengambil buku yang sempat tertinggal.
Dan di sana, ia melihat ada satu orang laki-laki yang sudah tergeletak di lantai, selain itu juga ia pun melihat adanya beberapa tetes noda darah yang mendarat di permukaan lantai marmer.
__ADS_1
Awalnya Arvin terus menatapnya, dan berpikir kalau itu ada hubungannya dengan suara tembakan tadi. Suara tembakan senyap, karena menggunakan peredam suara.
'Mereka berdua memang sudah niat ingin masuk ke penjara. Hah, Marlina, sayang sekali aku harus melepaskan dia, karena dia sudah berbuat ulah di wilayahku, apalagi di rumahku.' Pikir Arvin, lalu ia pun mengambil buku yang tergeletak di atas meja belajar, membawanya pergi, dan ia pun langsung keluar dari rumah.