
"Ashera, apa yang kau lakukan itu salah, apa kau mau bahumu cedera?"
Ashera menurunkan senjatanya, dan meletakkannya di sarung pistol yang ada di pahanya itu.
Sebenarnya apa yang di lakukan nya itu memang cukup salah, sebab dia menembak hanya dengan menggunakan satu tangan saja, dan jika tidak terbiasa, maka akan menimbulkan cidera.
"Aku hanya ingin melatih kekuatan bahuku. Lagi pula sudah mulai terbiasa juga,"
"Tetap saja itu salah. Tapi- apa karena kau ada masalah dengan tangan kirimu itu?" Tanya pria muda awal 30 tahunan ini kepada Ashera, ketika ia melirik ke arah tangan kirinya yang sama sekali tidak bergerak.
"Apa paman bisa untuk jangan mengatakan nya pada siapapun," Jawab Ashera seraya memejamkan matanya, sebab dia masih merasakan sensasi sakit yang ada salah satu dari kelima jari nya itu.
Mendengar dirinya di panggil paman, pria ini sedikit tersinggung. 'Padahal aku masih termasuk masih muda, kenapa malah di panggil paman?' detik hatinya. "Kalau iya, memang sakit. Lantas kenapa kau malah latihan menembak?" Pria ini sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran dari gadis ini. 'Padahal terakhir kali dia datang kesini, dia terlihat seperti perempuan yang penakut, tapi yang ada di depanku ini justru punya rasa percaya diri yang tinggi.' pikirnya lagi.
Ashera melirik ke arah arena pacuan kuda, yang mana terlihat Arvin sedang balapan berkuda dengan Luna, sedangkan sang Nenek Tina, menjadi seorang penonton. "Aku hanya ingin pamer, kalau aku ini bukan orang yang mudah di injak-injak oleh dia." Jawabnya.
Mereka berdua pun akhirnya menonton pertandingan pacuan kuda yang di lakukan oleh dua orang di depan sana.
"Apa aku bisa bertanya?"
"Tanya saja, selama aku bisa menjawabnya." Tukas Ashera, melepaskan sarung tangan kanannya dengan menggunakan giginya.
"Apa yang membuatmu berubah?"
__ADS_1
"Apa paman tanya so-"
Pria ini langsung mengernyitkan matanya, karena kurang suka di panggil dengan paman. "Bisakah kau jangan memanggilku paman?"
"Perbedaan usia kita sudah cukup untuk membuatku memanggilmu paman, apa ada yang salah dengan pendapatku?" Tanya Ashera, mata polosnya itu benar-benar berhasil membuat pelatihnya itu menutup mulutnya rapat-rapat. "Lalu jika paman tanya soal aku yang berubah, itu karena ini kepribadikanku yang kedua."
"Alter Ego?" tanyanya dengan salah satu alisnya yang terangkat.
"Ya. Seperti itulah. Jadi jangan heran jika aku yang sebelumnya seperti itu, tapi sekarang aku seperti ni, karena aku memang punya sisi seperti ini." Jelasnya.
Laki-laki ini lantas terus menatap Ashera terus. Padahal sampai beberapa munggu yang lalu, gadis ini adalah gadis yang berani tapi masih ada sisi malu-malu kucing. Tapi sayangnya, tidak dengan kali ini, sebab Ashera justru nampak seperti orang lain, atau lebih tepatnya, sosok dari kepribadian Ashera yang satu ini muncul untuk melindungi sisi yang satunya lagi. Itulah kesan yang di milikinya terhadap gadis ini.
"Oh ya, pam-"
Dengan terpaksa, Ashera yang tidak memiliki izin dalam penggunaan senjata secara pribadi itu, akhirnya mengembalikannya.
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Aku sebenarnya ingin membuat hadiah untuk temanku, tapi apakah aku bisa membuat suatu yang baru yang tidak bisa di rusak? Aku sudah buat Quilling, tapi itu bisa rusak sewaktu-waktu dan warna kertasnya juga bisa pudar, jadi aku ingin solusi."
"Solusi~" Pria ini berpikir keras sambil mengusap dagunya yang mulus, sampai senyuman cerah itu mewarnai bibirnya tersebut. "Kau bertemu dengan orang yang tepat Ashera. Kenapa kau tidak mengatakannya langsung jika kau butuh bantuanku untuk menggunakan resin? Ternyata walaupun kau bicara banyak dengan percaya diri yang tinggi, kau tidak bisa mengatakan untuk minta bantuanku secara langsung ya." Ledek pria ini kepada Ashera.
"...." Ashera terdiam, karena apa yang di katakan oleh pelatihnya itu ada benarnya.
__ADS_1
Arvin yang berada di kejauhan, hanya bisa melihat dua orang di depan sana terlihat begitu bicara dengan cukup mesra.
'Kenapa dia terlihat cepat akrab sekali dengan orang itu? Lihat dia, senyumannya yang lebar, kenapa aku jadi ingin sekali merobek mulutnya yang sedang bicara banyak dengan Ashera?' Tatap Arvin tehadap pria di depan sana yang cukup kompak untuk bicara berdua dengan Ashera.
"Apa anda cemburu, Tuan?" tanya Lena secara tiba-tiba.
"Apa yang sedang kau tanyakan Lena? Cemburu? Untuk apa aku cemburu pada seorang pelayan seperti dia?" Tanya balik Arvin, dia masih duduk di atas kuda miliknya, dan Luna, di atas kuda berwarna coklat, dia berjalan mengitari Tuan muda nya tersebut.
"Hmph..., walaupun anda mengatakan itu, tapi dari mata anda itu, saya melihat sebuah tatapan rasa cemburu." Seringai Luna, mulai memprovokasi Arvin yang mana detik itu juga langsung tersinggung dengan ucapannya Luna.
"Jadi, jika memang benar aku cemburu, lalu apa yang seharusnya aku lakukan sebagai pihak cemburu itu?" Tanya Arvin, dia sudah mengikuti arah kemana Luna terus bergerak mengelilinginya.
Dan begitu sudah mendapatkan pertanyaan kembali dari Tuan muda, Luna menghentikan langkah kaki kuda itu tepat di depan nya dan menjawab : "Biasanya pihak cemburu akan langsung memotong pembicaraan diantara mereka berdua." Jawab Luna. "Tapi dengan tipe kepribadian milik Tuan muda, anda tidak mungkin akan melakukannya secara terang-terangan."
"Sebenarnya apa maksud dari tujuanmu mengatakan itu padaku? Apa kau mencoba agar aku bisa bisa mem-"
"Tuan-" Sela Luna detik itu juga. Tidak seperti tadi, Luna yang memperlihatkan wajahnya yang seolah Luna adalah orang yang tangguh dan tidak bisa di ganggu, justru melihat ekspresi wajahnya yang tiba-tiba sedih, dan memperlihatkannya kepada Arvin, sontak membuat Arvin langsung menyipitkan matanya. "Sebaiknya anda sudah mulai bersiap untuk tugas anda sebagai pewaris berikutnya.
Jangan buat Nyonya besar terus di bebankan dengan pikiran mengenai anda.
Ashera, dia punya perannya sendiri, tapi karena anda terus saja membuat ulah, alhasil semakin hari kesehatan Nyonya semakin memburuk."
"Kalau saja Ashera tidak mengadu, kesehatan nenekku juga tidak akan memburuk. Jadi apa kau bermaksud untuk menyalahkanku?" Tanya Arvin, dia adalah pihak yang terus saja mulai di rugikan karena salama hampir sepuluh hari ini, dirinya terus di sudutkan dengan permasalahan hubungan pernikahan yang masih terlalu muda, dan Arvin sendiri memang masih belum terbiasa dengan keberadaan dari orang seperti Ashera.
__ADS_1
Apalagi satu masalahnya adalah Ashera saat ini sedang menggunakan kepribadian yang satunya lagi, maka Arvin pun jadi terus saja memiliki segudang alasan untuk terus memusuhinya, meskipun tidak terlalu banyak seperti di awal hari mereka melakukan kesalahan.