
"Hahh~ Akhirnya aku bisa menyelesaikannya juga. Dan aku bisa pulang melanjutkan pekerjaanku." Gerutu Ashera.
KLEK....
Hanya saja, tidak seperti yang di harapkan apa yang sudah dia kerjakan, ketika dia melihat ke atas, tepatnya ke atas lemari, barang itu sudah tidak ada lagi.
"Ah, kelihatannya aku tidak perlu bertanya lagi, karena satu-satunya orang yang bisa melakukannya hanya dia saja." Ucap Ashera. Karena dia tahu pelakunya adalah siapa, dia pun tidak akan bertanya lebih lanjut. 'Padahal untuk menyelesaikan quilling untuk satu frame saja butuh waktu ber jam-jam. Dari pada aku ngajak ribut dia, aku terpaksa buat lagi. Tapi Arvin, kau tidak akan dapat jatah makanan hari ini.' Pikir Ashera.
Seafood yang sempat dia beli pun akan dia masak untuk dirinya sendiri.
________________
Di dalam bar-
"Arvin, kau lihat idak si Marlina itu? AKu hampir 3 hari ini sama sekali tidak melihat batang hidung wanita itu. Bahkan aku mencoba menghubunginya pun, tidak tersambung juga. Apa ada sesuatu diantara kalian berdua?" Tanya laki-laki ini, dia teman sepermainan nya Arvin.
"Sesuatu? Hmm, ya. Memang, sempat terjadi sesuatu karena Marlina menyelinap masuk kedalam rumahku. Tapi semenjak dia menyelinap masuk dan bertemu dengan pelayanku, dia menghilang entah kemana." Jawab Arvin dengan santai, bahkan cerita yang terdengar di buat-buat itu juga di rasakan oleh temannya itu.
Sampai, begitu melihat senyumannya Arvin yang nampak tengah tersenyum lemah, itu seperti sudah mengisyaratkan kalau apa yang barusan di katakan oleh Arvin, ada sedikit kebenaran juga di bumbui kebohongan.
Namun, karena ia tahu sifat Arvin ini seperti apa, jika sudah merasa terganggu, dia pun tidak berani bertanya lebih lanjut, sebab ia juga tahu kalau hubungan Arvin dan Marlina hanya sekedar hubungan bisnis.
'Dia, kalau tersenyum seperti itu, justru aku yang merinding sendiri. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang pasti ada sesuatu yang tidak seharusnya aku ketahui.
Jika aku bertanya dan mencoba mengorek informasinya, yang ada, akulah yang jadi korban selanjutnya.
Arvin, dia ini walaupun dia bertugas sebagai kepala keamanan di sekolahnya, tapi jika sudah turun ke jalan, dia juga punya aura mengintimidasi yang tidak tanggung-tanggung.
Bisa-bisanya aku berteman dengan anak macam dia. Tapi jika bukan karena dia, waktu itu aku pasti sudah babak belur di tindas oleh seniorku sendiri.' Karena tidak tahu apa yang akan terjadi jika mengusik Arvin lebih lanjut, dia pun memilih untuk terdiam.
"Oh ya, apa kau punya informasi soal balapan liar lagi?"
"Apa kau butuh uang?"
"Tidak sih, tapi yang namanya senang-senang kan tidak di hitung dari uang juga." Jawab Arvin dengan cepat, lalu dia pun mengangkat gelas beling berisi cairan berwarna ke emasan.
"Hm, aku rasa ada sih. Tapi bukan motor, melainkan mobil. Tapi karena pesertanya sedikit banyak, balapan ini akhirnya memilih trek resmi di lapangan.
Lagi pula yang mengadakan ini yang punya trek arena balap, jadi ya dia tidak rugi apapun. Kau mau? Memangnya kau bisa nyetir mobil?" Tanyanya.
"Helikopter saja aku bisa, kenapa mobil juga tidak bisa?"
Berkerut-kerut dahi dari teman nya Arvin ini. "Helikopter? Memangnya kau sekaya apa sampai punya helikopteer?"
Mendengar temannya kembali bertanya, lantas Arvin menjawab. "Apa kau berpikir helikopternya asli?" Ledek Arvin. "Aku bilang aku bisa menerbangkan helikopter, tapi helikopter mainan yang bisa membawa seekor anj*ing." jawabnya lagi.
"Yah, aku pikir helikopter betulan."
__ADS_1
"Memangnya aku punya duit untuk kelas penerbangan?"
Karena di berikan pertanyaan oleh Arvin, laki-laki ini pun memperhatikan Arvin dari atas sampai bawah. "Antara iya juga tidak."
'Dia ragu, heh... Aku memang tidak punya uang untuk melakukan kelas penerbangan, tapi karena nenekku, aku jadi bisa punya kelas itu.' Pikir Arvin, lalu menenggak minuman alkohol itu sampai tandas. "Kalau begitu daft-"
Namun, begitu sudah habis dan ingin bicara soal dirinya yang ingin mengikuti pertandingan itu untuk melepaskan kegabutan nya, ucapannya langsung terpotong saat ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
Dan siulan dari temannya pun langsung membuat Arvin menoleh ke samping kanan.
"Hai sayang, kenapa kau malah meninggalkanku sendirian di rumah?"
'Ashera, apa dia mencoba untuk mengancamku? Kenapa dia bisa ada di sini? Atau jangan-jangan dia memasang alat pelacak kepadaku?' Pikir Arvin.
"Wuuuh, Arvin, aku tidak tahu rupanya kau tidak bersama dengan Marlina, ternyata karena ada wanita lain. Hmm...hmmm, kau ini memang ya, punya selera yang bagus." Pujinya kepada Arvin yang baru saja mendapatkan keuntungan besar dengan mendapatkan wanita lain yang tidak terduga itu.
"Aku tadi sempat mendengar pembicaraan kalian, apa dia ini-" Ashera mengelus ujung kepala Arvin dengan sedikit kasar, dan bertanya kepada temannya. "Mau ikutan balapan liar itu?" senyum Ashera.
"Ya, dia memang mau ikut. Tapi aku tidak tahu cara pendaftarannya sih, jika mau kalian bisa menghubungi nomor itu." mengirimkan nomor kepada Arvin untuk berbicara lebih lanjut soal pendaftaran.
"Kenapa kau ada disini?"
"Kenapa? Apakah aku mengganggu urusanmu? Kau hanya duduk di tempat penuh maksiat ini, dan aku hanya diam di rumah, begitu? Ingat ya, aku akan terus mengawasimu." Bisik Ashera tepat di samping telinganya Arvin.
Sebenarnya Ashera bisa tahu lokasi Arvin berada karena dia bertanya kepada Daseon. Dan jika memang tidak ketemu, Ashera sejujurnya bisa melacak keberadaan dari Arvin lewat sistem cctv kota, jadi tidak ada yang nama nya yang memasang pelacak pada kendaraan ataupun handphone nya Arvin.
Tentu, demi keamanan, Ashera begitu masuk, dia langsung meng klaim dengan pelukan nya Arvin, bahwa pria itu adalah miliknya, jadi tidak akan ada orang yang mengganggunya lagi.
"..." Arvin terdiam, ternyata dia terus saja di mata-mati, seakan Arvin adalah seorang buronan dari penjahat kelas kakap yang harus di awasi dan di tangkap jika melakukan sesuatu yang merugikan.
"Oh, tapi ngomong-ngomong, aku ingin ikutan juga dong."
"Tapi kau bahkan tidak punya mobil."
"Ulululu, tapi sayangku ini kan punya satu mobil di garasi." Dengan sengaja, suara manja itu di barengi dengan kelakukan Ashera yang dengan dengan sengaja menggaruk bawah dagunya Arvin bagaikan kucing yang ingin di elus manjalita.
"Pfft, dia lebih seru ketimbang si Marlina itu."
"Ohh? Marlina? Jadi wanita yang aku labrak itu Marlina?" Tanya Ashera seolah-olah tidak tahu.
"L-labrak?"
"Kau diamlah, jangan membuat panjang daftar pertanyaan dia." Arvin sengaja menutup mulutnya Ashera dengan telapak tangannya, namun, begitu sudah membuat Ashera diam, dengan kilatan mata jahil milik Ashera, karena berani menggunakan tangan kotor itu untuk membekal mulutnya Ashera, Ashera tiba-tiba saja langsung menjulurkan lidahnya dan-
SLURP....
Arvin sontak buru-buru menjauhkan tangannya dari mulutnya Ashera yang baru saja menjilati telapak tangannya Arvin tadi.
__ADS_1
"Ya, karena dia merebut pacarku, ya aku labrak dong. Jadi dengan begitu, siapa yang kuat, maka dialah yang kalah. Dan siapa yang kalah, dia akan pergi dari kehidupan kami berdua selamanya. Benar kan, Arvinku?" Jelas Ashera.
Dengan sengaja membeberkan hubungan milik mereka berdua dengan dalih pacar, walaupun jadinya sedikit rentan untuk di anggap sebagai pacar asli atau bukan, itu tdiak akan dipermasalahkan sebab Arvin ini memang sudah terkenal dengan gaya nya yang gonta ganti pacar.
"Sejak kapan kau pandai bersandiwara seperti itu?"
"Sandiwara apanya?" Akting merungut dengan ekspresi wajah marah juga sedih bersatu menjadi satu.
'Jika kau pandai akting seperti ini, mending kau tidak usah sekolah, kerja saja di dunia akting.' pikir Arvin melihat cara akting dari istrinya itu cukuplah membuat orang lain jadi langsung berpikir dua kali untuk mendekatinya.
Antara imut karena menarik perhatian banyak orang, juga takut karena orang yang harus mereka hadapi justru Arvin.
Begitu Arvin, Ashera dan temannya Arvin ada di depan meja bartender tengah berbincang dengan begitu asyik, di sisi lain, tepatnya di lantai dua, justru ada satu orang laki-laki yang terus memperhatikan, dan dia adalah orang yang malam itu berbuat onar di vila miliknya Alfian, pemimpin dari geng motor snake.
"Kau terus saja melihatnya, jangan-jangan kau memang sudah tertarik padanya ya?" Tanya teman dari orang tersebut.
"Entahlah, kadang hati dan pikiran juga tidak bisa ketebak. Waktu itu, aku pikir dia hanyalah perempuan biasa-biasa saja. Tapi melihat Omah Tina sepertinya begitu kenal dan memperhatikan anak itu sampai dialah orang yang direkomendasikan Omah Tina untuk memasak makanan untuk kakak ku, kelihatannya sejak saat itu aku cukup tertarik."
"O-omah Tina?" Tidak tahu siapa Omah Tina.
"Teman Ibuku. Seandainya malam itu aku belum makan, aku pasti sudah ikutan makan."
"Jadi yang sebenarnya berhasil menarik perhatianmu itu perempuan itu apa makanan yang di masak oleh perempuan itu?" tanyanya lagi.
"Dua-duanya." Jawabnya, "Tapi sayangnya aku terlambat nih. Dia kelihatannya adalah kekasih dari orang itu." Masih belum tahu kalau Arvin adalah cucu dari Omah Tina.
"Arvin itu? Dia itu menganggap wanita itu seperti pakaian, dia sering gonta-ganti pacar, kalau tidak salah penghitungan, itu sudah yang ke tujuh. Sebenarnya lebih ke hubungan kerja sama saja, untuk saling mengisi posisi mereka, dari pada kelihatan jomblo terus. Jadi, kau termasuk masih punya kesempatan untuk mengambilnya dari dia."
"Hmph-" pria ini tersenyum miring. Sambil memejamkan matanya, dia memakai earphone di telinganya dan berkata : "Ucapanmu itu benar-benar menghasutku."
"Aku kan hanya memberitahumu, itu terserah pada dirimu juga."
"Aku tahu, nanti akan aku pikirkan. Aku pergi dulu ya." tuturnya. Setelah memakai earphone, dia segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari sana sambil menghubungi seseorang. "Apa kau bisa siapkan mobilmu, aku ingin pinjam darimu. Tidak..., aku pinjam juga bukan sekedar pinjam, lakukan saja, nanti akan aku bayar."
TAP...TAP.....TAP......
Begitu pria ini turun dan beranjak pergi dari bar tersebut, sudut mata Ashera pun sempat melihat kepergiannya.
'Semua laki-laki sama saja.' Detik hati Ashera. "Arvin, dari pada disini terus, tidak ada faedahnya sama sekali, mending belanja denganku saja yuk."
"Ternyata kau juga suka belanja." ucap teman nya Arvin dengan senyuman remeh.
"Kau pikir aku belanja apa? Aku ingin belanja makanan, makanan itu lebih penting dari pada fashion. Karena tanpa makanan, kau bisa mati." Culas Ashera lalu menarik lengannya Arvin untuk pergi dari sana. "Ayo, nanti aku trakti ice ceream."
"Kau sedang menghinaku." tatap Arvin.
"Tidak tuh, kan sebagai imbalan biasanya memberikan ice cream." balas Ashera.
__ADS_1