Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
174 : Prasangka Buruk


__ADS_3

"T-ternyata seperti itu-"


"Apa yang di katakan nya memnag masuk akal juga"


"Jadi kira-kira siapa yang masih foto denganku? Tapi sayangnya hanya punya satu kali kesempatan untuk foto ya?" tanya Arvin, dengan senyuman ramahnya, dia pun memberikan kesempatan kepada mereka semua yang kiranya berminat dengan ajakannya tersebut.


Mereka semua awalnya berpikir panjang, tapi karena mereka tidak ingin melewatkan momen ini, maka dari itu, tetap saja ada yang mau ikut foto bersama, tapi tidak menutup kemungkinan untuk mundur dari ajakan tersebut juga.


"Sini kembalikan-" sedangkan perempuan berambut pirang ini, benar-benar mencoba untuk meminta handphone nya balik dari Ashera.


"Nih-" kata Ashera sambil memberikan handphone milik dari gadis berambut pirang itu. 


Dengan perasaan kesal, karena baru saja dipermalukan secara tidak langsung, gadis ini pun tidak jadi ikutan foto bersama dengan Arvin, dan memilih untuk segera pergi dari sana, tentu saja dengan raut muka yang tidak menyenangkan juga. 


“Jadi, kalian mau aku foto pakai handphone nya siapa?” tanya Ashera, dia yang masih berdiri di atas salah satu tangga, bertanya dengan cukup lugas, bahkan cukup dengan ekspresi wajahnya yang cukup polos maka dari itu, banyak dari mereka yang tiba-tiba saja sungkan untuk menjawab. 


“Pakai punyaku saja-” begitu Arvin memberikan handphone nya kepada Ashera, saat itu juga Ashera diberikan bisikan kecil oleh Arvin. ‘Foto yang benar, kalau bisa dan kalau bisa gunakan cakupan agar semua orang disini bisa diambil dalam satu kali foto.”


Mendengar hal tersebut, Ashera pun melirik ke arah Arvin yang ternyata juga membalas tatapan matanya. ‘Sebenarnya tujuan dia datang kesini itu untuk apa?’ 


Ashera masih belum mengerti dengan tujuannya Arvin yang sebenarnya. Tapi satu hal yang pasti, karena dirinya sama sekali tidak tahu apapun maka yang bisa Ashera lakukan adalah dengan menuruti perintah yang diberikan oleh Arvin kepadanya. 


‘Sangat kebetulan sekali, ternyata hanya dengan seperti ini saja, aku bisa memancing banyak orang untuk bisa aku dapatkan foto dari wajah mereka semua.’ pikir Arvin, lalu dia pun berjalan pergi dari sana. 


“Huh, anak itu benar-benar norak sekali. Baru juga datang, tapi lihat saja mereka, kenapa semuanya berkerumun di sana? Memangnya sebenarnya siapa dua orang itu?” gerutu perempuan ini, dia adalah teman dari gadis berambut pirang yang sempat di permalukan oleh Ashera sesaat tadi. 


“Entahlah, aku tidak tahu,” jawabnya dengan cukup ketus. Namun karena melihat temannya itu hendak minum wine, perempuan ini pun langsung merebut gelas tersebut dan segera meminum separuh dari isi wine di gelas tersebut. 


GLUK…


Meminumnya lagi sampai habis, pada akhirnya gelas itu pun jadi kosong. 


“Eh, kau kenapa sih?” langsung tidak suka, karena wine yang dia ambil tu, malah di minum habis oleh temannya. 


“Sebal saja,” jawabnya dengan singkat seraya menatap dua satu-satunya orang yang membuatnya jadi kesal sendiri. 


“Satu, dua, tiga!” setelah Ashera memberikan aba-aba, Ashera pun berhasil memotret mereka semua dalam satu kali jepret, dimana di dalam gambar tersebut, terdapat banyak orang yang berhasil dibawa masuk dalam foto yang Ashera ambil.

__ADS_1


Entah mau di gunakan untuk apa, Ashera tidak begitu memperdulikannya, selagi Arvin masih bisa membatasi dirinya dalam membaur dengan mereka semua. 


 _____________


“Mana handphone nya?” tanya Arvin, meminta handphone nya kembali setelah selesai digunakan. 


Setelah mereka berdua menemui masalah untuk melayani banyaknya penggemar Arvin, kini mereka berdua pun ada di dalam lift. 


“Nih, sekarang kita mau apa? Bisa tidak, jangan membuatku seperti orang bodoh, karena aku tidak tahu apapun tujuanmu membuatku iku datang kesini.” ungkap Ashera, meminta penjelasan kepada arvin. 


Arvin yang baru saja mendapatkan handphone nya, lantas menjawab : “Mendapatkan uang. Aku kan sudah memberitahumu kalau aku mau cari uang di sini, apa kau masih saja belum mengerti apa yang sudah aku katakan sebelum ini ha?


Jangan hanya terpaku melihat kemewahan kapal ini saja, tapi simak apa yang aku katakan dong, jadinya aku kan tidak perlu mengulang ucapanku sendiri.” bebel Arvin 


Karena dia sendiri bukan orang yang memiliki kesabaran setebal dinding beton, ia refleks saja nada suaranya jadi kembali tinggi, dan seakan kalau dirinya memarahi Ashera. 


“Aku lupa- iya, iya, terserahmu saja, yang peting cari uang itu yang halal,” jawab Ashera, memperingatkan Arvin. 


Tapi apa yang dijawab oleh Ashera tadi, sontak membuat Arvin jadi terkekeh sendiri. “Hahaha, padahal yang penting kan bisa dapat uang,”


Ashera yang merasa lelah dengan sepatu boots heels yang dia pakai, dia pun bersandar ke dinding lift dan menjawab : “Tapi kan -”


“Tunggu sebentar, anda tidak diizinkan masuk jika tidak punya undangannya.” sampai di ujung koridor, Arvin dan Ashera harus berhadapan dengan dua orang penjaga pintu berwarna putih tulang itu. 


Melihat ukurannya yang begitu tinggi dan juga besar serta lebar, Ashera yakin kalau di balik pintu itu bukanlah ruangan yang biasa. 


“Jika kalian tidak ada undangan, silahkan kembali,” ucap penjaga pintu ini dengan wajah seriusnya. 


Bahkan karena tinggi dari Arvin hampir sama dengan bodyguard tersebut, Ashera jadi beranggapan kalau Arvin seperti sedang menantangnya. 


“Arvin, kita sebaiknya pergi dari sini, jangan memaksakan diri jika memang tidak bisa masuk ke dalam sana,” bisik Ashera, dia ragu dengan kedatangannya itu akan benar-benar diterima dengan baik, begitu melihat kedua penjaga tersebut, terus memperhatikan mereka berdua dengan begitu seriusnya. 


“Hera, aku datang kesini itu dengan persiapan, lebih baik kau diam dan tenang saja, aku akan segera membereskan mereka berdua,” jawab Arvin dengan bisikan juga.


Namun ucapannya itu pun membuat Ashera benar-benar jadi semakin khawatir, apalagi saat dia mendengar kalimat ‘membereskan’, dalam benak hatinya, dia merasa ada kejadian besar yang akan terjadi kepada mereka berdua, jika ekspektasi yang dipikirkan Ashera benar. 


“Arvin, jangan-” Ashera mencoba mencegat Arvin untuk membereskan dua orang dewasa itu, karena ‘membereskan’ artinya tidak lain adalah menantangnya dengan kekerasan, maka dari itu Ashera pun sangat tidak setuju dengan keputusannya Arvin ini. 

__ADS_1


“Kau kenapa sih? Jangan takut seperti itu, aku disini, aku bisa mengurus mereka.” Arvin mencoba untuk menepis tangannya Ashera yang terus saja mencegat Arvin untuk mengeluarkan benda yang hendak Arvin keluarkan dari saku jaketnya. 


Ashera sendiri, dia sejujurnya sedang dilanda kepanikan, karena dia takut kalau Arvin datang untuk membuat kehebohan, apalagi Arvin ini tipe orang yang suka menggunakan kekerasan. 


“Jangan Arvin, kita pergi dari sini, jangan buat keributan dengan mereka, jika tidak bisa masuk,” bujuk Ashera, dia sudah mencoba sekuat tenaga untuk menyeret Arvin untuk segera pergi dari sana, akan tetapi Arvin sendiri tetap pada posisinya, bahkan bisa dibilang kalau Arvin sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. 


‘Kenapa dia susah sekali di tarik sih? Apa di sepatunya ada lem kuat? Anak ini, kenapa terus saja membuat kehebohan ya?’ batin Ashera, dia bahkan sampai hampir berjongkok, karena berusaha keras untuk membuat Arvin pergi dari sana. 


“Hera- hera…dengar, aku ingin masuk kesana, karena itulah tujuanku datang kesini. Dan alasanku membawamu kesini itu bukan membuatmu mencegahku masuk kesana,” Arvin yang tidak puas hati dengan Ashera yang benar-benar sangat keras kepala, langsung melingkarkan tangannya di belakang pinggangnya Ashera, dan menjepitnya di dalam pelukannya. 


“Kyaa..!” Ashera pun jadinya cukup panik dengan tindakan Arvin ini. 


“Kalian berdua, bisakah tidak membuat keributan di sini, atau kami usir dengan paksa,” tutur salah satu penjaga pintu ini kepada Arvin dan Ashera. 


“Tunggu sebentar, tunanganku ini berisik sekali, padahal sudah aku baik hati membawanya kesini,” oceh Arvin, dia pun segera merogoh kembali sakunya, dan kemudian dia akhirnya memperlihatkan benda kecil berbentuk bulat dengan simbol di dalamnya.


“Heh? Itu apa?” tanya Ashera kepada Arvin. 


“Undangannya. Memangnya kau pikir aku mau mengeluarkan apa?”


“A-aku kira kau akan mengeluarkan senjata,” jawab Ashera dengan sangat lugas. 


“Kau memang perlu dididik ya, selalu saja berprasangka buruk kepadaku.” tegas Arvin dengan ekspresi wajahnya yang begitu serius itu. “Memangnya aku mau melakukan apa, sampai membuatmu berikir aku mengeluarkan senjata?”


Didalamnya ada simbol burung merak sedang memegang uang dollar, sehingga kedua penjaga itu pun langsung mengamati kepingan tersebut dengan sangat teliti. 


“Entahlah. Tapi ini, lepaskan aku. ini s-sesak, jangan peluk aku erat-erat,” pinta Ashera. 


“Kalau aku tidak memelukmu erat-erat, kau pasti akan menyeretku pergi dari sini, sudah diam saja, biar aku merasakan aromamu,” cetus Arvin, mencoba memberikan peringatan kepada Ashera. 


BLUSSHH…


“...” Ashera seketika terdiam dengan rona merah di kedua telinganya. 


Bahkan dua orang dewasa yang bertugas untuk menjaga pintu tersebut pun langsung diam, karena merasa cemburu dengan dua sepasang kekasih yang begitu romantis itu. 


“Ini, kalian berdua bisa masuk-” pada akhirnya mereka berdua pun memperbolehkan Arvin dan Ashera untuk segera masuk kedalam ruangan yang mereka berdua jaga itu. 

__ADS_1


KLEK…..


Suara pintu yang terbuka itu, lantas menyadarkan Ashera untuk membuka matanya lebar-lebar dengan segala isi yang ada di dalam ruangan tersebut. 


__ADS_2