Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
168 : Arvin Turun Tangan


__ADS_3

“Hah…hah…hah, jangan, aku ti-..tidak mau- tidak!” 


Mendengar Ashera tiba-tiba saja berteriak, Arvin langsung menghentikan jarinya dalam mengetik. 


“Kau barusan mimpi apa?” melirik ke arah Ashera. 


Ashera yang dilanda kebingungan setelah tiba-tiba saja terbangun karena dia mengalami mimpi buruk, segera mengusap wajahnya dengan kasar, dan segera menoleh ke arah Arvin yang sedang bergelut dengan laptopnya. 


“Apa aku harus menceritakannya?” lirik Ashera, dan ternyata hari sudah menjelang sore, dilihat dari adanya matahari yang kian menyoroti kamar mereka berdua. Itu cukup silau, tapi bahkan Arvin justru seperti sedang menikmati punggungnya yang terus di soroti sinar matahari tersebut. 


“Tidak juga. Apa apa salahnya jika menceritakannya, ya kan? Aku bahkan sudah bicara jujur kalau aku pernah meniduri perempuan lain, tapi apa kau pernah bercerita soal dirimu itu kepadaku?” 


Seketika rasa kantuknya jadi hilang mendengar ocehannya Arvin. Ashera jelas malas dengan soal itu, apalagi dengan auranya yang nampak begitu sedang di landa kekhawatirannya sendiri, laki-laki yang ada di ujung kamar itu pun jadi nampak seperti seorang hakim yang ingin mengadili Ashera karena ketiduran. 


Tapi benar, kalau Arvin bahkan sudah mau bercerita soal dirinya sendiri dengan kejujuranya itu, kenapa dirinya tidak? 


“Memangnya aku harus bicara apa kepadamu? Aku bukan orang yang bisa becerita sepertimu,” sahut Ashera, sudut matanya melirik ke arah dimana aroma aneh mulai tercium, berkat sprei dari tempat tidur yang belum lama ini di gunakan sebagai arena pertandingan, masih belum di ganti, dan Ashera gunakan untuk tempat dia tiduri lagi. 


“Kau mungkin bisa menceritakan soal masa lalumu. Misalnya saja alasan kenapa waktu itu kau mengatakan kalau Ayahmu meninggal,” tapi Arvin dengan sengaja bahkan bertanya hal yang cukup sensitif kepada Ashera. 


“Itu- kenapa kau tanya itu?”


“Aku bertanya karena aku ingin tahu apa itu bahkan jadi masalah untukmu?” balas Arvin saat itu juga, dimana saat Arvin melihat layar dari laptopnya, dia pun melihat seorang gadis kecil yang sedang meraung memeluk tubuh dari seorang laki-laki yang kena tabrak oleh salah satu mobil. 


“Ayahku meninggal karena menolong Tuan besar, itu saja.” pada akhirnya Ashera pun menjawab pertanyaannya Arvin. Dan karena itu pula, Ashera pun jadi semakin terdiam di antara kecanggungan yang terjadi diantara mereka berdua. 


‘Jadi apakah karena alasan itulah, kenapa nenek mau-mau saja agar aku menikahinya?’ terka Arvin. ‘Tapi sepertinya masih ada yang janggal, itu Ibunya Ashera.’


TING….


Tiba-tiba saja mendapatkan email masuk, Arvin segera membuka pesan yang di kirimkan oleh Arin kepadanya itu, dan tidak lama setelah itu dia segera menghubunginya. 

__ADS_1


“Apalagi yang kau lakukan? Apa bahkan kau menjaanya saja tidak becus?” tanya Arvin dengan nada tegas. 


“....” Ashera yang terdiam mendengarkan Arvin bicara, Arvin pun segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari sana, meninggalkan Asherha. 


KLEK….


‘Apa ada sesuatu yang serius? Tapi ekspresi wajahnya tadi terlihat seperti kalau dia megalami masalah dengan temannya, semoga saja tidak ada apa-apa.’ tetap mencoba untuk berpikiran positif, Ashera yang hendak turun dari tempat tidurnya itu, tiba-tiba saja langsung di sela dengan kehadiran Arvin yang begitu tiba-tiba. 


KLEK…


“Ashera, kau harus bersiap sekarang. Kita akan segera pergi, dan besok sing baru kita akan pulang,” ucap Arvin kepada Ashera yang baru saja hendak turun dari tempat tidurnya. 


“Pulang? Besok? Kalau begitu kita nanti akan pergi kemana?”


“Kau akan tahu saat kita sampai di sana. Cepat mandi atau apalah, ganti baju saja juga tidak masalah, tidak akan ada yang akan mengomentarimu, karena hanya aku saja yang akan mengomentari penampilanmu dari pada orang lain.” jawab Arvin, bergegas berjalan masuk dan setelah itu Arvin tiba-tiba saja melepaskan pakaiannya dengan cukup sembarangan. 


“...!” Ashera yang merasa malu itu, langsung memutar tubuhnya ke belakang dengan wajah sudah tersipu malu. 


“T-tidak, tidak perlu, aku bisa sendiri.” jawab Ashera dengan gelagapan, dan segera pergi masuk kedalam kamar mandi. 


BRAKK…


‘Berarti ini benar-benar sudah jadi fakta, kalau hati memang membuat otakku yang cemerlang ini jadi bodoh. Bahkan ketika dia pergi dengan wajah panik seperti itu, aku malah menganggapnya imut. Tapi sayangnya besok harus pulang, gara-gara Arin dan Divin, mereka membuatku penasaran saja, kenapa mereka tidak bicara saja langsung di telepon?’ karena alasan pribadi yang menyangkut soal Divin dan Arin, kedua temannya itu, maka dari itu Arvin pun memutuskan untuk menyelesaikan acara bulan madu mereka berdua sampai besok pagi saja, karena siang harinya Arvin memilih untuk pulang untuk menemui kedua temannya itu. 


_____________


30 Menit kemudian. 


“Arvin, apa yang sebenarnya sedang kau lakukan? Ini panas!” protes Ashera. 


“Kau bisa diam tidak sih? Kalau matamu tertusuk, jangan salahkan aku,” sahut Arvin merasa sebal dengan sikap Ashera yang sedikit-sedikit mengeluh, protes, inilah dan itulah, dan Arvin yang tukang emosian itu pun jadi tidak bisa mengontrol mulutnya untuk bicara dengan lembut, karena kebiasaannya itu. 

__ADS_1


“Kau bahkan melakukan hal yang paling aku benci, aku tidak suka dengan aromanya, apa kau sedang menaruh aspal di wajahku?”


Mata Arvin yang tadinya terus tertuju pada matanya Ashera yang sedang terpejam karena sedang diberikan bulu mata oleh Arvinsendiri, seketika matanya jadi teralihkan dengan bibirnya Ashera yang nampak lembut bagai gulali itu. Bahkan karena Arvin sudah memberikan perona bibir yang membuat bibir itu nampak glosy berwarna merah muda, sontak Arvin jadi menelan salivanya sendiri. 


“Inilah yang aku benci juga, tidak bisa merawat diri, bahkan untuk merias diri saja kau tidak bisa, sebenarnya kau ini perempuan macam apa? Sampai bedak saja kau anggap sebagai aspal?” oceh Arvin, dia pun jadinya menyahut ucapannya Ashera dengan kalimat yang cukup kasar juga. 


“Aku kan suka dengan sederhana, apa bahkan yang seperti itu saja sangat mengganggumu?” tepat setelah bicara seperti itu, begitu Arvin selesai meletakkan sedikit bulu mata untuk Ashera, tepat di saat Ashera kemudian membuka kelopak matanya, sepasang mata berwarna hitam itu pun menatap mata Arvin dengan cukup intens. 


“Tentu saja, itu sangat menggangguku, kau ini apa, siapa, dan punya posisi apa, bahkan karena kau bisa di permak, apa kau sama sekali tidak ingin seperti perempuan lainnya?” balas Arvin, masih membalas tatapan mata Ashera yang kini jadi terlihat lebih besar dan tajam, karena Arvin dengan sengaja membuat Ashera memakai softlens. 


“Prsosesnya, aku tidak suka. Tapi bahkan karena kau sudah membuatku seperti ini, kau pasti punya alasan yang bagus kan?” tanya Ashera sekali lagi. 


Tidak seperti pada umumnya, dimana Ashera punya penampilan yang sederhana, kali ini justru Arvin dengan sengaja turun tagan untuk merubah penampilan dari Istrinya itu agar seperti orang lain. Tentu saja bukan hanya Ashera saja, karena Arvin sendiri juga melakukannya pada wajah dan tubuhnya juga. 


Ya, setidaknya dalam artian mereka berdua pun benar-benar sudah dalam sesi penyamaran yang sungguh sempurna untuk menjadi orang lain, agar tidak ada yang mengenali mereka berdua. 


Tapi karena perawakan Arvin yang cukup tinggi dengan badan bongsor, serta penampilan Arvin yang justru memakai setelan jas hitam dengan kaos berwarna coksu, dan rambut pirang berpadukan dengan iris mata Arvin yang berwarna biru, Arvin pun benar-benar seperti orang dari eropa. 


Tepatnya karena di tambah Arvin yang menggunakan kalung serta gelang juga jam tangan mewah, siapapun nakan mengerti kalau dia seperti ketua geng. 


‘Kenapa dari sekian banyak penampilan, dia suka memilih penampilan seperti orang bar-bar seperti itu?’ batin Ashera, dia sedang menata hatinya, karena untuk kali ini dia akhirnya punya nyali yang tinggi untuk menatap langsung mata Arvin, yang entah kenapa mau bagaimanapun kesan dari tatapan matanya yang begitu tajam seperti sedang menatap musuh bebuyutan. 


“Kau hanya perlu tahu, kau hanya pelru jadi ja*ang kecil untukku.” 


BLUSHH…


“Untuk apa? Kau kan bisa punya ******* lain yang bisa kau ambil dari jalanan?” Ashera yang sudah tahu dengan sifat Arvin dan beberapa kebiasan Arvin jika sudah turun ke jalan maka dia bisa menarik perhatian lawan jenisnya, Ashera pun tidak begitu mempermasalahkan apa yang baru saja dirinya katakan itu kepada Arvin ini. 


BRAKK…


Arvin yang sudah kehilangan kesabarannya dengan sikap Ashera yang sok banyak tanya itu, kedua tangannya pun refleks jadinya menggebrak meja yang ada

__ADS_1


__ADS_2