
“Tuan, dimana Nona?” Tanya Daseon kepada satu-satunya orang yang masih ada di sana.
Tapi jawaban dari Arvin sendiri adalah sebuah gelengan kepala selain sebuah pakaian yang masih tergantung di luar balkon rumah apartemen milik Arvin.
JDEERR….
“Apa anda tidak mau mencarinya?”
Mendengar kata mencari, entah datang dari mana, ia jadi merasa geram sendiri, karena tepat di tengah teriakan sesaat tadi, kejadian langsung berlalu dengan cepat di mana peristiwa petir yang menyambar dinding gedung, langsung membuat semua lantai jadi kacau balau, dai listrik, lift, bahkan jendela serta peralatan rumah tangga lainnya, banyak yang pecah akibat sambaran itu.
Dan ketika Arvin pergi keluar dari kamar, ia sudah tidak melihat keberadaan dari Ashera itu sendiri.
“Entahlah, kau saja yang cari. Itu kan tugasmu.” Kata Arvin, memberikan titah kepada Daseon seorang, sedangkan Daseon hanya diam dan mengiyakan perintah itu dengan langsung mencari keberadaan dari Ashera.
‘Dia mungkin masih selamat. Iya, aku yakin itu.’ Dan pikiran itu terus tertuju pada deretan pakaian milik Ashera yang tidak Gavin bantu selamatkan, sehingga pakaiannya itu sudah sepenuhnya basah.
JDERR…..
“Tuan, sebaiknya anda jangan ada di dekat jendela.” Ucap Daseon mengingatkan Tuan nya itu.
Arvin pun mundur beberapa langkah ke belakang, dan menonton Daseon yang sedang mencari-cari keberadaan dari satu orang lagi yang masih belum di temukan itu.
“Apa masih belum ketemu?” Tanya Arvin, penasaran.
“Kalau saja anda membantu saya mencarinya, pasti waktu pencariannya bisa lebih cepat sedikit.” Sahut Daseon.
“Kau banyak oceh juga.” Celetuk Arvin, dia pun akhirnya mencoba mencari keberadaan dari Istrinya?
Kalimat itu masih saja mengganggu di dalam kepalanya.
Sampailah, ketika ada satu ruangan yang masih belum Arvind an Daseon selidiki, Daseon akhirnya membuka pintu gudang yang letaknya ada di bawah tangga persis.
Dan betapa mengejutkannya, ketika melihat ada satu orang perempuan meringkuk di lantai dengan posisi begitu saja, tidak membuat tangannya jadi bantal, ataupun duduk bersandar di dinding, melainkan berbaring meringkuk seakan tubuhnya kedinginan?
Ketika Daseon memeriksanya, dia merasakan suhu tubuh Ashera yang cukup tinggi, seperti air mendidih.
“Tuan, dia demam.” Kata Daseon dengan wajah menyesal, karena hanya memberikannya obat saja, padahal- selain kondisi tubuhnya yang tidak baik-baik saja, pastinya, sudah tentu pikiran dan mentalnya juga terganggu karena dalam kurun waktu beberapa hari saja, gadis di depannya itu sudah mendapatkan banyak kejadian yang belum bisa diterima dalam waktu sesingkat itu.
Tapi apa boleh buat? Takdir selalu berkehendak lain.
Ashera, sekarang ini memang terlihat cukup menyedihkan dengan apapun yang menimpanya selama ini, tapi pasti di balik semua kejadian ini akan ada hikmah yang tersembunyi.
Entah apa itu, Daseon mengira kalau hikmah yang didapatkan oleh Ashera ini, adalah …
__ADS_1
“Minggir,” Perintah Arvin, dengan wajah serius, Arvin berjongkok dan mencoba memeriksa kondisi Ashera dengan meletakkan telapak tangannya di dahi Ashera. ‘Kenapa aku tidak sadar kalau dia demam setinggi ini?’
Tatapan matanya yang tajam pun terus melihat wajah Ashera yang terlihat tidur lelap itu.
Daseon, ketika melihat wajah Tuan muda nya terlihat begitu datar dengan mata tajam penuh dengan perhitungan, ia sadar kalau seketika ia tahu kalau takdir dari kecelakaan yang terjadi diantara Tuan muda dan Ashera adalah jalan masa depan yang membuat mereka berdua memang harus saling bersama satu sama lain.
Perbedaan status, perbedaan sifat, tidak menjadi pemisah diantara dua orang yang perlahan akan menumbuhkan cinta.
Sekarang memang, Arvin terlihat tidak begitu menyukai Ashera, tapi karena melihat adanya satu titik rasa kepedulian yang tidak di sadari oleh Arvin sendiri, maka Daseon yakin, ada masa depan untuk dua orang ini.
‘Takdir memang tidak bisa ketebak. Aku lebih suka dengan wajahnya yang terlihat tegas itu, dia jadi terlihat lebih dewasa dari umurnya.’ Namun, sebagai fakta nyata Daseon sendiri, remaja tetaplah masa remaja.
Akan ada kesalahan dalam menjadlani hidup yang sudah di eksepektasikan, dan salah satunya adalah saat ini.
“Daseon, keluarkan mobil di garasi, kita pergi kerumah Vani.” tutur Arvin, kembali memberikan perintah yang behrasil membuat Daseon terkesiap.
Vani adalah mantan pacar pertama Arvin. Ya.., cukup menggelikan karena mantan pacar Arvin ini adalah wanita yang sedikit lebih tua tiga tahun dari Arvin. Namun, alasan kenapa Arvin memilih untuk meminta Daseon membawanya pergi ke rumah Vani, sebab Vani ini membuka sebuah klinik.
Dan kenapa harus ke klinik ketimbang rumah sakit? Karena Arvin tidak ingin terlibat dalam adu mulut lagi dengan neneknya, jika neneknya Arvin tahu, kalau Ashera sakit, maka ujung-ujungnya yang di salahkan adalah Arvin sendiri. Maka dari itu, dengan pergi ke klinik, maka tidak akan ada catatan pengobatan Ashera, maka dari itu, pilihan satu-satunya adalah dengan pergi ke sana lebih dulu.
“Baik Tuan.” Jawab Daseon, begitu patuh untuk melayani Tuan muda majikannya ini.
Dengan demikian, Arvin pun membawa pergi Ashera dari sana, dan membiarkan semua kekacauan itu di urus oleh penanggung jawab dari pengelola gedung apertemen itu.
Di rumah Vani, tepat di sebelah rumah berukuran sedang namun masih memiliki tampilan rumah yang berkesan mewah, berdiri sebuah gedung bertingkat dua, yang mana gedung sebelah adalah klinik pribadi milik Vani ini.
“Kakak, kakak cantik ya?” Puji anak perempuan berumur enam tahun ini, ketika luka di kakinya sedang di rawat oleh seorang wanita berambut panjang lurus, tapi di ikat satu ke belakang.
“Pfft, terima kasih sudah memuji kakak cantik. Yang memuji kakak sendiri juga tidak kalah cantiknya, bahkan hebat juga, karena tidak menangis.” Senyuman cantik milik perempuan ini langsung meenyihir anak kecil di depannya yang sedang di obati luka di lututnya.
“Heheh, kakak baik.” Senyum anak ini dengan wajah yang begitu polos dan sangat menggemaskan.
Melihat anak kecil di depannya begitu senang di rawat olehnya, maka Ibu dari anak ini pun sama-sama senang, karena tangisan rewel karena lututnya yang luka itu, bisa menghilang setelah bertemu dengan dokter Vani.
“Umur kakak berapa?” Tanya nya dengan berani.
“21 Tahun. Memangnya kenapa?” Vani serius menempelkan perban ke atas luka, kemudian dia lilit dengan pelan-pelan.
“Kebetulan sekali kakakku umurnya 25 tahun, dia juga tampan, jadi kakaku pasi cocok dengan kakak. Apa kakak mau jadi kakak iparku?”
“Fiza~” Panggil sang Ibunda kepada Fiza, karena bericara di luar alur anak kecil yang seharusnya tidak mengatakan perjodohan seperti itu.
“Begitukah? Tapi kakak ini bukan tipe orang yang hanya suka dengan wajah tampan saja loh.” Jawab Vani, mencoba melayani topik pembicaraan dari anak di depannya itu.
__ADS_1
Fiza pun jadi terkejut. “Apa kakak sudah punya tipe ideal lainnya?”
“Tentu saja dong, hatinya harus baik, sopan sama perempuan juga, lalu yang penting, jangan hanya memandang orang dari luar saja, seperti harus setia pada satu orang saja.”
“Ta-”
“Tapi maaf sekali Fiza, kakak sedang tidak ingin punya hubungan apapun, kalau teman, mungkin kakak bisa pertimbangkan, bagaimana?”
“Yah~ Nanti aku coba bicara sama kakakku.” Rungut Fiza.
“Nah, ini sudah selesai. Bagaimana? Tidak semenakutkan yang Fiza pikirkan, ya kan?” Tanya Vani, selesai mengobati luka Fiza.
“Mhh…masih sakit sih, tapi tidak kelihatan buruk dari yang tadi. Besok Fiza boleh datang kesini lagi?”
“Boleh sayang.” Jawab Vani dengan ramah, sambil mengusap ujung kepala Fiza, lalu memberikannya hadiah berupa pulpen berkarakter. “Dan, ini hadiah untuk Fiza! Bagaimana? Apa Fiza suka Doraemon?”
“Woaahh! Kakak hebat, bagaimana kakak tahu Fiza suka Doraemon?!” Terpukau dengan hadiah yang ia dapatkan dari Vani.
“Rahasia dong.” Jawab Vani seraya memberikan isyarat jari telunjuk di depan bibirnya. “Semangat belajarnya ya?”
Fiza pun mengangguk, lalu ia turun dari kursi dan pergi menuju Ibu nya yang sudah berdiri untuk bicara.
“Ma, Fiza dapat hadiah.” Memberitahu Ibu nya.
“Kalau begitu hadiah punya Fiza ini, harus Fiza jaga dengan baik.” Kata Ibu nya Fiza. Setelah itu dia pun memberikan rasa terima kasih kepada Vani. “Terima kasih ya dok, sudah mengobati anakku.”
“Iya, sama-sama. Dan Fiza, jangan keluyuran seperti berlari-lari di sembarang tempat ya.”
“Hmm!”
Dan satu pasien terakhir di malam itu pun pergi.
Vani yang hendak duduk di kursi singgasana miliknya, tiba-tiba saja dia mendengar kembali langkah kaki seseorang yang kian mendekat.
Helaan nafas miliknya pun langsung Vani terik kembali dan ia ganti untuk menyambut pasien baru nya.
KLEK…
“Selamat datang.” Vani yang sudah berdiri dan memberikan salam selamatt datang dengan sedikit membungkuk, seketika matanya terbuka lebar, ketika salam itu ternyata bukan di tunjukkan untuk orang lain yang tidak Vani kenal, melainkan orang yang pernah mengisi hiudpnya satu tahun yang lalu.
“Terima kasih atas sambutannya. Apa saya, boleh membaringkannya di sana?” Daseon menjawab salam sapa Vani sebagai perwakilan dari mulut Arvin yang terdiam.
“O-oh, silahkan. Letakkan saja di sana.” Berusaha untuk bersikap profesional, Vani langsung berjalan menghampiri gadis yang di bawa oleh pelayan Daseon. ‘Kenapa dia tiba-tiba datang kesini?’ Pikir Vani.
__ADS_1
Dan Vani sendiri, dia tidak tahu soal Daseon, maka dari itu, Vani mengira Arvin datang sendiri dengan alasannya sendiri, dan pasien yang sebenarnya adalah perempuan yang di bawa oleh Daseon itu sendiri.