
Begitu Ashera mendengar bahwa Arvin ternyata benar-benar mempermainkannya, Ashera pun akhirnya jadi kesal.
Ia kesal dengan kebodohannya sendiri dalam menanggapi permintaan dari Arvin ini dengan begitu percaya dirinya, sampai ia rela harus berdesakkan dan berdebat dengan orang lain, demi membawakan barang yang di pesan oleh Arvin kepadanya.
'Aku tahu, aku ini memang bodoh, sesuai dengan ucapannya aku memang cukup hanya punya rasa percaya diri kalau aku bisa menangani anak ini asal aku bisa menuruti kemauannya kali ini, karena kemarin aku memang membuat perkara dengan merusak mainannya.
Tapi, karena Arvin rupanya memperlakukanku dengan dalih memintaku untuk bertanggung jawab atas mainannya yang rusak sampai seperti ini, kedepannya aku tidak akan melakukan apa yang dia suruh.' Pikir Ashera.
"Karena tujuanku untuk membalasmu sudah tercapai, aku akan pulang. Dan kau pulang sendiri saja, sana." tutur Arvin. Dia menyimpan handphone nya, lalu dia pun berniat untuk pergi.
Dan sama hal nya dengan Arvin yang mau pergi, Ashera pun punya niat yang sama.
Tapi- belum sempat mengambil satu langkah untuk menyusul Arvin yang sudah mau berbalik, tiba-tiba saja kerumunan orang antara yang mau keluar dan orang yang mau masuk saling berpapasan, dan menyebabkan tempat kian sesak lalu saat itu juga tubuh Ashera dan Arvin pun jadi terdorong ke belakang.
"Ya ampun, kenapa sesak seperti ini?"
"Padahal aku pikir aku sudah berangkat lebih pagi, tapi bisa-bisanya aku tidak mendapatkan mainan yang aku mau."
"Ukh, apa mereka tidak menemukan toko lain selain toko di sini? Kenapa banyak sekali sih, orang yang datang?"
Satu persatu dari mereka pada protes dengan nasib mereka yang harus merelakan tubuhnya terhimpit dengan banyak orang.
Tidak hanya mereka saja yang mengeluh, bahkan Arvin yang sudah mau pergi saja, jadi langsung tertahan di tempatnya.
"Bagaimana aku bisa keluar jika sesak seperti ini? Sial, aku malah jadi terj-"
Hingga Arvin yang tadinya tengah menggerutu kesal, matanya tiba-tiba saja membulat sempurna, ketika sudut matanya tiba-tiba saja mendapatkan Ashera yang lebih memilih untuk memeluk barang mainan itu dari pada kena penyok karena tekanan dari banyak tubuh semua orang, terdorong ke belakang dan akhirnya karena kakinya sempat tersandung dengan kaki milik orang lain, tubuh Ashera pun langsung terjungkal melewati kaca pembatas.
"A-Ashera!" teriak Arvin dengan ekspresi wajah terkejutnya sambil mencoba mengulurkan tangannya ke bawah.
Namun, tangan yang awalnya ingin menggapai tangan dari perempuan itu, hanya berhasil menangkap angin kosong saja.
Dan di kala itu juga, Ashera pun menatap mata Arvin dengan wajah terkejutnya juga sambil mengucapkan kalimat yang tidak bisa Ashera ucapkan dengan lantang selain gerak bibir saja.
'T-tidak! Aku bukan berniat membawanya kesini agar dia jatuh dari sini.' benak hati Arvin.
Arvin yang terlihat putus asa melihat tangannya tidak sampai untuk menangkap tangan Ashera yang sudah terulur ke arahnya, justru melamun sambil mendengar teriakan beberapa orang yang menyadari peristiwa tersebut.
"Kyaa! Ada orang jatuh!"
__ADS_1
Sontak semua orang yang ada di lantai dua dan lantai satu, langsung mengalihkan perhatian mereka pada keberadaan Ashera yang terjatuh dari lantai tiga.
'Kenapa aku malah berakhir seperti ini?' Pikir Ashera, ketika tangannya tidak sampai untuk menggapai tangan Arvin yang terulur ke arahnya.
Dan karena tidak mencapai tangan yang hendak menolongnya itu, Ashera pun akhirnya terjun bebas dari lantai tiga.
'Tapi- dia benar-benar terkejut ya? Lihat saja ekspresi wajahnya yang terkejut itu. Dia pasti akan terlihat putus asa jika aku mati di sini, gara-gara aku baru saja dipermainkan olehnya.' Begitu Ashera memikirkan nasibnya yang tidak lama lagi akan berakhir mengenaskan, Ashera pun menyempatkan dirinya itu untuk tersenyum ke arah laki-laki itu, sebelum Ashera memilih untuk memejamkan matanya sesaat lalu kembali membuka kelopak matanya.
'Ashera.' Arvin yang tidak mau melihat kalau Ashera jatuh begitu saja, dengan nekat, Arvin langsung menaikkan salah satu kakinya ke atas kaca pembatas itu.
Begitu banyak orang yang melihat Arvin hendak melompat, sontak Arvin pun langsung di cegat.
"Jangan lakukan itu!"
"Iya, kau mau mati?"
"Itu berbahaya!"
Para perempuan yang ada di belakang Arvin persis itu pun benar-benar menghalangi Arvin yang ingin melompat.
Lalu Arvin, begitu ia terus di tahan oleh tangan-tangan yang terus mengganggu niatnya untuk menyusul Ashera, Arvin langsung membentak. "Singkirkan tangan kotor kalian! Jika kalian menghalangiku, aku akan menuntut kalian semua yang ada di sini ke polisi karena mendorong dia sampai jatuh!"
Ucapan dari Arvin itu pun seketika sukses membuat banyak orang di sana langsung menghentikan aksi mereka untuk bergerak berjalan terus.
"Dia ternyata gila."
"Wah, demi menyelamatkannya, sampai ikut melompat?"
"Ini sangat menegangkan."
Arvin yang saat ini pergi menyusul Ashera, langsung mengulurkan tangan kanannya untuk meraih tangannya Ashera. "Ashera!" pekik Arvin agar Ashera mendengarnya.
Tapi di saat yang sama itu, Ashera yang baru saja membuka matanya, segera membelalakkan matanya, karena Arvin yang ternyata ikut melompat.
'A-apa? Kenapa dia malah melompat?' Karena Ashera menyadari jarak antara dirinya yang sedang terjun bebas menuju lantai dua itu hanya tinggal sedikit lagi, Ashera pun langsung menolak tangannya di gapai oleh tangannya Arvin. 'Apa dia pikir aku ini mati begitu saja?' Pikirnya lagi.
'Anak ini malah kenapa menolak tanganku?!' Arvin yang begitu jengkel karena akhirnya jarak antara tubuhnya dengan lantai dua sudah habis, dia pun mendaratkan kedua kakinya dengan cukup sempurna di atas lantai dua, dan langsung berbalik untuk mencoba menangkap tangannya Ashera lagi.
Tapi, belum baru saja ia berbalik, Arvin langsung dikejutkan dengan Ashera yang sudah melewati area lantai dua, sehingga dengan wajah paniknya, Arvin pun segera melihat ke arah bawah.
__ADS_1
PRAK....
Suara dari barang mainan yang jatuh itu sukses membuat semua orang sama-sama terkejut, dan di samping itu juga, mereka melihat Ashera sudah bergelantung di tepi lantai dari pagar pembatas itu.
"Kyaaa!" suara teriakan milik semua orang yang sama-sama tegang langsung mengisi kehebohan di dalam mall tersebut.
Dan Arvin?
"Ashera! Raih tanganku!" Arvin sudah membungkukkan tubuhnya ke bawah, dan mencoba untuk meraih tangannya Ashera.
"Akh..." Ashera merintih kesakitan karena kedua tangannya harus menahan beban dari berat tubuhnya sendiri. "Tidak usah repot-repot, lagian kau juga memang tidak ingin aku ada di sampingmu."
Seperti sebuah kalimat terakhir sebelum kematian mendatanginya, Arvin tiba-tiba langsung jadi tersinggung.
Semua orang yang mendengarnya, segera terhipnotis dengan situasi dari dua orang yang terlihat antara putus asa juga merasa cemas.
Tapi, karena Arvin tidak mau peduli dengan apa yang di ucapkan oleh Ashera ini kepadanya, Arvin pun kembali menaiki pagar kaca itu dan bertahan di luar pagar kaca tersebut agar dia bisa meraih tangannya Ashera.
"Aku tidak peduli kau mau bicara apa, raih tanganku!" Perintah Arvin dengan ekspresi wajah yang bercampur aduk antara cemas, tegang, juga marah.
'Ternyata dia peduli juga. Ya, jika aku mati, kenyataannya dia pasti akan ken imbasnya juga. Bukan soal kehilanganku, tapi karena dia akan dimarahi gara-gara tidak becus jadi laki-laki untuk menjagaku.' Suara hatinya yang sedang mencibir dirinya sendiri itu, di susul dengan sebuah senyuman simpul.
Ia tidak tahu kalau ternyata Arvin, pria yang terlihat seperti seorang berandalan yang tidak akan pernah tahu apa artinya khawatir pada orang, karena setiap harinya pekerjaan dari laki-laki itu terus memunculkan kata-kata kasar yang selalu saja memancing emosi, sekarang malah berekspresi khawatir kepadanya.
Dengan berusaha keras, sekalipun Arvin saat ini terkendala karena jaraknya yang tidak bisa melampaui antara cengkraman untuk menahan beban tubuhnya dari plat besi dari pagar kaca dengan jarak tangannya Ashera yang harus Arvin raih, Ashera pun hanya membalas respon itu dengan senyuman lemah.
Sungguh, pria keras kepala ini, tiba-tiba sangat perhatian dan sangat khawatir kepadanya.
Padahal, bagi Ashera sendiri, kekhawatiran dari Arvin ini jelas cukup sia-sia.
"Tidak usah, aku bisa mengatasi masalahku sendiri. Jika kau terluka, bisa berabeh coba." Jawab Ashera atas ucapan nya Arvin beberapa waktu tadi.
Hingga di saat ujung jari Arvin yang sebentar lagi dapat meraih pergelangan tangannya Ashera, tiba-tiba saja Ashera justru melepaskan cengkraman tangannya itu dari tepi lantai dua tersebut, sehingga di saat Arvin merasa bisa berhasil untuk menyelamatkan Ashera dari bahaya itu, langsung kandas.
Dan suara teriakan yang berisi ketakutan dari semua pengunjung yang ada, terus mengisi ketegangan itu semua.
Arvin begitu membulatkan matanya dengan cukup sempurna, melihat Ashera akhirnya kembali terjatuh.
Beberapa orang scurity yang terlihat hendak bersatu untuk menjadikan tangan mereka sebagai alat untuk penangkap tubuh Ashera, semua itu langsung sia-sia, karena langsung terhalang dengan adanya air mancur yang ada di hadapan mereka.
__ADS_1
Sehingga, saat mereka semua terpaksa untuk masuk ke dalam kolam, kecepatan Ashera untuk berada di lantai satu pun lebih cepat daripada mereka semua yang berlari, dan akhirnya Ashera pun mendarat di dalam kolam itu sampai air di dalam kolam tersebut langsung meluap.
BYURR...