
"Tch..., kenapa dia punya sifat yang semenyabalkan seperti itu?" Rutuk Ashera, belum sehari tapi dirinya sudah di buat untuk menderita.
Dan salah satunya adalah, di malam yang dingin seperti ini, dirinya harus pergi membeli kopi.
Dan masalah lainnya adalah, sebab dirinya sekarang tinggal di kawasan gedung apetemen, maka di sana sama sekali tidak ada kendaraan umum.
'Arvin, dia benar-benar berbeda sekali saat kecil. Dia justru terlihat seperti punya geng preman jalanan. Sebenarnya apa yang dia jalani setelah pindah tinggal ke apartment?' Pikir Ashera.
____________
DRRTT....
DRRTT.....
Arvin yang baru saja menyelesaikan ritual malam nya, tepat setelah keluar dari kamar mandi dengan tubuh masih basah kuyup, Arvin langsung melirik ke arah nakas, dimana handphone miliknya tiba-tiba saja bedering.
Arvin mengangkatnya. "Ada apa kau meneleponku?"
-"Mau tanya tapi malah balik tanya lebih dulu. Bukannya kau sudah janji kalau malam ini kau ikut balapan motor?"- Jawab seseorang yang berada di ujung telepon.
Mendengar hal tersebut, Arvin menatap langit-langit plafon rumahnya dan menjawab : "Oh iya, sekarang malam minggu ya?"
-"Tumben sekali kau lupa kaya jadi pikun saja."-
"Tutup mulutmu itu. Aku akan segera datang, jadi jangan ganggu aku lagi." Cetus Arvin terhadap teman sepermainannya itu.
TUT...
Arvin pun memutuskan panggilan secara sepihak, meletakkan kembali handphone nya, dia pergi ke walk in closet yang tidak seberapa besar itu dan memiliki pakaiannya untuk melakukan dinas malam bersama teman-temannya.
Setelah selesai berpakaian, pemuda ini pun pergi keluar begitu aja tanpa meninggalkan pesan untuk Ashera.
'Aku tidak yakin dia akan pulang dengan cepat, jadi lebih baik cepat selesaikan balapanku, menangkan hadiahnya dan langsung pulang.' pikir Arvin seraya keluar dari rumah dan langsung memakai jaket kulit berwarna hitam.
Arvin berjalan dengan langkah cepat, menuruni lantai dengan lift sampai ke tempat parkir bawah tanah, dan setelahnya ia pun naik ke motor sport berwarna hitam.
BRRMM.....BRRMM.........
__ADS_1
Tanpa membuang waktu lagi, Arvin pun langsung melesat pergi menuju tujuannya yang harus ia tempuh selama lebih dari sepuluh menit.
___________
"Kak, aku pesan kopi rasa karamel, isi ini sampai penuh." Pinta Ashera sambil memberikan termos yang ia bawa untuk menjaga isinya tetap panas.
"Baik."
Ya, setidaknya dirinya tidak jadi pelayan yang bodoh-bodoh amat, karena membeli minuman panas di tempat yang sedikit jauh namun sudah memiliki persiapan yang sudah pasti.
'Kalau seperti ini kan aku jadi tidak perlu khawatir kalau minumanku tumpah hanya karena tidak sengaja jatuh atau apapun itu. Aku pintar kan?' Pikir Ashera sambil melihat-lihat cafe yang ia kunjungi ternyata sedang ramai-ramainya. Sehingga untuk mendapatkan apa yang Ashera mau, dirinya mau tidak mau harus menunggu sampai dua puluh menit lebih. 'Dan semoga saja aku beli, tidak jadi hal yang sia-sia karena anak itu tidur dan tidak mau meminum kopi ini.'
"Ini," Selesai mengisi termos dengan kopi, pegawai kasir ini pun langsung memberikan termos tersebut kepada Ashera dan Ashera langsung membayarnya dengan uang seratus ribuan. "Ini kembaliannya, terima kasih."
"Iya." Terbesit rasa senang ketika dirinya benar-benar di layani dengan baik oleh pelayan kasir tadi, seolah dia tidak tahu kalau dirinya juga merupakan seorang pelayan. 'Jadi seperti ini ya, jika aku dilayani. Pelayan melayani pelayan, ah~ Nyonya besar, padahal masih ingin sekali tinggal di sana. Tapi karena kejadian tempo hari, sekarang aku harus menerima resiko yang kemarin Arvin lakukan.'
Dengan langkah yang begitu malas, Ashera pun pergi keluar dari cafe tersebut dan memutuskan langsung pulang, walaupun untuk pertama kalinya, dirinya bisa menikmati kehidupan kota di malam hari, tapi karena ada seseorang yang sedang menunggunya, Ashera pun tetap pada komitmen nya untuk segera pulang.
Untuk pulang, ia perlu melewati jalan sepanjang 3 Km.
Sampai di tengah jalan, tiba-tiba saja ada mobil yang menepi dan berjalan lambat.
Ashera awalnya hanya diam saja dan terus menggerakkan kakinya untuk terus meluncur, sebab ia memakai sepatu roda agar dia bisa lebih cepat sampai. Namun karena mobil di sampingnya terus saja mengikutinya, akhirnya Ashera pun berhenti.
Dan saat itulah kaca jendela mobil langsung diturunkan dan akhirnya memperlihatkan satu orang wanita yang sudah seumuran dengannya langsung tertawa dan bicara kepadanya : "Hahaha...ternyata kau benar Ashera. Aku sama sekali tidak pernah melihatmu keluar malam-malam. Ada gerangan apa kau bisa ada di tengah kota seperti ini?"
"Aku hanya disuruh membeli kopi." Jawab Ashera dengan ekspresi tidak suka. 'Kenapa Arliana ada di sini? Apalagi sampai ketemuan seperti ini. Aku sangat tidak suka dengannya, tapi mau bagaimanapun, dia ini selalu saja seenaknya denganku.
Apalagi dia adalah bunga sekolah, dan menyukai Arvin secara terang-terangan. Jika dia tahu aku ada hubungan dengan Arvin, mungkin akan jadi satu masalah besar yang tidak bisa aku tangani.' pikir Ashera, merasa cemas dengan keberadaan dari wanita bernama Arliana ini, sebab di sekolah Arliana adalah wanita cantik yang menjadi kebanggaan banyak orang disana karena kecantikannya, tentunya, makannya bisa jadi bunga sekolah.
Menjadi bunga sekolah bukan berarti adalah seseorang yang sempurna, namun karena Arliana sendiri adalah orang yang mempunyai latar belakang yang cukup sepadan dengan Arvin, jadi Ashera pun sama sekali tidak bisa leluasa dengan keberadaannya itu.
"Apa kau mau aku antar pulang?" Seringai wanita ini dengan senyuman penuh makna.
'Mengantarkan aku pulang hanyalah omong kosong belakang. Dia punya maksud lain dan itu, dia ingin membawaku pergi bersamanya.' Benak hati Ashera, tetap saja menaruh curiga besar terhadap Arliana ini. "Tidak, terima kasih. Tapi aku bisa pulang sendiri." Tolak Ashera dengan serta merta, lalu tanpa sungkan lagi Ashera pun pamit. "Kalau begitu aku pergi dulu."
"He~ siapa yang mengatakan kau boleh pergi?" Tanya Arliana.
__ADS_1
"Aku sendiri." Tatap Ashera terhadap Arliana untuk sesaat.
Arliana pun merespon ucapannya Ashera dengan senyuman remeh. "Walaupun kau menjadi pelayan, bukankah setidaknya ada jam untuk istirahat? Apa majikanmu itu tidak tahu aturan soal pekerjaan dari pelayan ya?"
"Biasanya seorang majikan juga seenaknya sendiri pada pelayan sepertiku. Jadi ...., aku tidak masalah soal itu." Karena mengingat statusnya saat ini selain Istri juga sebagai pelayan seutuhnya dari Arvin, mengingat dirinya benar-benar berperan jadi pelayan pribadinya, raut wajah Ashera pun jadi sedikit murung.
Sekarang dirinya memiliki dua peran itu. Dua peran tak kasat mata yang cukup mengganggu juga, karena dirinya sungguh seperti tidak memiliki tempat yang sebenarnya.
Sebab kembali lagi pada posisinya, dirinya mendapatkan dua hal itu karena kejadian tempo hari.
"Kau terlalu pasrah sekali pada nasibmu, ikut aku, aku akan memperlihatkanmu dunia dari anak seusia kita." Kata Arliana, membuat Ashera benar-benar merasa semakin enggan, karena Arliana bukanlah perempuan baik-baik, dalam hal Arliana adalah tipe orang yang begitu bebas.
"Tidak, jika aku tidak segera mengantarkan ini, majikanku pasti akan memarahiku." Lagi-lagi Ashera pun menolaknya. Dia enggan pergi bersama orang yang memiliki kehidupan yang tidak benar seperti Arliana ini.
"Halah, sekali saja, lagian ya..., kau itu sesekali harus refreshing. Mumpung aku sedang baik hati loh, ikut saja." Bujuk Arliana lagi dan lagi.
Sayangnya Ashera yang baru saja merasa trauma dengan dirinya sendiri yang belum lama ini diperkosa oleh Arvin, membuat hatinya jadi merasa takut. Maka dari itu Ashera pun menggeleng-gelengkan kepalanya dan hendak pergi dari sana.
Tetapi Arliana yang sebenarnya tidak sendirian, langsung menyuruh kedua temannya yang duduk di kursi belakang untuk keluar dan membawa Ashera masuk ke dalam mobil. "Bawa dia masuk."
"Ok, kebetulan kita kekurangan penumpang, ya kan?" Ucap laki-laki ini kepada saudarinya yang merupakan seorang perempuan.
"Kau benar, aku butuh teman di samping tempat dudukku agar jadi lebih hangat." Sahut perempuan ini kepada saudaranya itu.
Lalu tanpa basa-basi lagi ketika Ashera sudah berlalu pergi dengan sedikit cepat karena menggunakan sepatu roda, Arliana pun melajukan mobilnya dan langsung berhenti di depan Ashera persis, sehingga Ashera pun jadinya langsung mengerem.
"Ayo Ashera, Arliana sedang berbaik hati loh." Kata laki-laki muda ini setelah turun dari mobil.
"Kalian urus saja urusan kalian, jangan ganggu aku. Aku benar-benar harus pulang." Ucap Ashera.
Namun ucapannya itu sama sekali tidak di dengar oleh mereka berdua, sehingga di saat itu juga satu melawan dua, Ashera yang sendirian itu, kedua tangannya pun akhirnya langsung di tahan oleh kedua saudara kembar itu dan membawa paksa Ashera untuk masuk ke dalam mobil.
"Kalian, lepaskan! Ini namanya pemaksaan!" Ronta Ashera.
"Diam, nanti saat kita sampai kau juga akan terpesona." Tutur Arliana, menyela ucapannya Ashera. "Jaga dia, kita jalan." Imbuh Arliana, dia pun kembali menyetir mobilnya dan membawa mobil yang mereka berlima naiki pergi ke suatu tempat yang menurut Arliana akan jadi tempat paling bagus, karena tempat itu akan jadi tempat arena sebuah balapan motor.
'Bagaimana ini? Kalau Arvin tahu aku tidak pulang-pulang dan membuatnya menunggu lama, dia pasti akan memarahiku.' Khawatir Ashera terhadap dirinya yang akan kena marah oleh Arvin yang Ashera pikir masih menunggunya di rumah.
__ADS_1