Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
167 : Hasutan


__ADS_3

“Hei, bagaimana keadaanmu? Wajah dan tubuhmu, tidak ada yang kurang kan? Setelah kejadian waktu itu?” 


“Apa yang kau lakukan di sini? Pakai sok kenal denganku, kau pikir kau ini siapa? Tiba-tiba menghampiriku?” ketus pria ini, dia adalah Enzo sepupu dari Arliana. 


Setelah insiden yang terjadi beberapa hari lalu, dengan wajah tampannya yang masih menyisakan lebam dari hasil adu jotos yang terjadi di malam itu, untuk menghilangkan kebosanannya, dia memang pergi ke bar. 


Tapi- siapa yang akan menduga, kalau anak dari pelayannya Arliana sekaligus adik dari Doni yang baru-baru ini kena hukuman skors, tiba-tiba saja datang kepadanya?


“Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh menyapa orang yang aku kenal, sekalipun kau tidak kenal denganku?” cetus Dini, duduk di sebelah persis Enzo yang sedang minum bir. 


Enzo yang merasa risih dengna Dini itu, hanya memasang muka wajah yang paling datar serta sudut matanya yang benar-benar menatap Dini dengan tatapan matanya yang cukup tajam itu. 


“Karena aku tidak suka perempuan sepertimu, cantik tidak, jelek tidak, separuh-separuh, aku jadi merinding ternyata dibalik tampilanmu itu kau rupanya punya sisi yang tidak terduga. 


Apalagi kau cukup tidak tahu diri juga, menghampiri orang sepertiku,” hina Enzo. Dia memang orang yang cukup pemilih, jadi begitunya ada perempuan yang mendekatinya, tapi perempuan itu sendiri tidak sesuai dengan seleranya, maka secara terang-terangan Enzo akan menghindarinya tanpa banyak kata lagi. 


‘Sabar-sabar, dia memang laki-laki yang seperti ini, tidak jauh berbeda dengan Arliana, karena mereka berdua saja sepupu. Tapi kalau bukan Enzo, siapa lagi yang bisa mengimbangi Arvin? Aku harus membujuknya agar dia ikut dengan rencanaku. Sekaligus, membuat dendam pada diri Enzo kepada Arvin semakin besar.’ pikir Dini, mencoba untuk memikirkan cara untuk menjinakkan harimau di depannya itu. 


Ya, jika Enzo di anggap seperti seekor Harimau, raja hutan, maka Arvin itu bagaikan singa, raja sabana yang mana Arvin ini kenyataannya memang punya banyak pasangan, layaknya Singa, jadi tidak heran kalau pasti ada banyak orang yang menganggapnya demikian. 


“Walaupun kau mau menghinaku, silahkan saja. Tapi Enzo, apa kau tidak pernah punya dendam kepada Arvin? Dialah orang yang bahkan menghasut geng itu untuk mengeroyokmu di tempat sepi, demi melindungi temannya.”


Walaupun sebenarnya Enzo cukup malas untuk bicara berdua dengan Dini, tapi diam-diam dia pun mendengarkan juga apa yang di katakan oleh Dini tadi. 


“Kau sedang menghasutku ya?” tanya Enzo selepas dia menyesap bir miliknya sampai habis, lalu tidak lama kemudian bartander itu pun menuangkan bir lagi ke dalam gelas kecil yang di gunakan oleh Enzo tersebut. 


“Terserah kau mau menganggapnya apa, tapi apa kau tidak punya keinginan sepertiku? Gara-gara Arvin dan Ashera juga, aku sampai di skors- dan kau- gara-gara Arvin, kau juga yang kena babak belur tanpa ada yang mau menolongmu, sudah seperti itu, apa kau bahkan tidak punya rasa ingin membalaskan apa yang kau dapatkan itu kepada Arvin?” tanya Dini lagi, mulai bicara ke poin masalahnya kepada Enzo itu sendiri.


“Terserahku dong, kenapa kau ngatur-ngatur aku?” ketus Enzo, dia memang punya dendam sendiri kepada Arvin, tapi masalahnya apa urusannya dengan Dini, yang bahkan bukan selevel dengannya? ‘Jika dia bahkan bisa kena skors gara-gara Ashera dan Arvin, berarti kan dia yang bodoh sendiri? Apa kau menganggap aku ini orang bodoh yang bisa di manfaatkan oleh perempuan sepertinya? Huh, hanya anak dari pelayan saja, kenapa sok mau mengaturku? Dasar, sama sekali tidak tahu diri. 


Jika iya aku mengatakan kalau aku punya dendam kepada Arvin juga, pasti dia ingin mengajakku untuk bekerja sama. 


Huh, kerja sama dengan dia? Bagiku tidak mungkin, kau mau mengancamku? Aku bisa membuatmu menghilang dari dunia ini tanpa di ketahui oleh orang lain, Dini. 


Jangan menganggapku remeh hanya karena aku kena babak belur gara-gara anak breng*s*ek itu. Aku itu tidak sepertimu, hanya pelayan rendahan saja- kenapa Arliana masih saja membuatnya jadi pelayan pribadinya? Pekerjaannya pasti tidak dikerjakan dengan baik.’ pikir Enzo panjang lebar.


‘Dia ini, langsung waspada sekali denganku.’ pikir Dini. 

__ADS_1


Sedangkan di balik dua orang yang ada di bawah sana sedang ada perbincangan yang cukup menarik, Julio yang sedang asik bermain Bliiard dengan teman-temannya, sekilas langsung melirik ke bawah. 


‘Enzo, dia ada di sini juga ya? Apa dia masih belum kapok juga dengan kejadian malam itu? Tapi yang ada di sebelahnya itu, siapa?’ pikir Juilo. 


“Hei Julio, kau duluan. Tuh, bolanya sudah siap semua,” beritahu temannya Julio kepada si Julio agar fokus pada permainannya. 


Julio yang merasa di panggil itu pun langsung menarik pandangannya ke arah kumpulan bola yang sudah tertata rapi di atas meja billard. 


Karena sekarang tinggal gilirannya untuk bermain pertama kali, Enzo pun langsung mempersiapkan tongkatnya, meletakkanyya di atas meja, dan tubuhnya seketika langsung membungkuk. 


‘Arvin, kira-kira kau ada di mana? Bahkan selama beberapa hari ini aku sama sekali tidak melihat batang hidungnya. Biasanya juga nongkrong di bawah sana dengan temannya, tapi rasanya akhir-akhir ini dia semakin jarang kesini. 


Walaupun aku bukan temannya, bukan berarti aku tidak kenal anak itu. Cucu dari keluarga Ravarden, Arvin Akhtair Bagaskara. Kira-kira sebenarnya dia punya hubungan apa dengan Ashera?’ begitu sudah memikirkan hal tersebut, Julio pun sudah mengunci jarak semua bola ketika dia sentak, maka dari itu, tanpa basa-basi lagi Julio pun langsung menyentak bola putih itu ke arah dua belas bola biliard dengan sedikit keras. 


CTAKK….


Seketika seluruh bola itu langsung kena sundulan dari bola lain, dan saling menggelinding serta bertarbrakan dengan sisi meja billard, hingga akhirnya belum sampai empat tiga puluh detik, bola itu masuk semua, dan membuat sebagian besar dari teman-teman Julio langsung melongo. 


‘Dalam sekali percobaan, dia bisa membuat semua bolanya masuk semua?’ detik hati salah satu teman Julio yang satu ini, dia bahkan tidak hanya dirinya saja sih, tapi semua orang yang melihatnya pun benar-benar merasa kagum dengan kepiawaian Julio dalam bermain. Padahal Julio bermain dengan cukup santai, tapi buktinya semua bola itu malah masuk semua. 


Itu adalah hal paling gila yang pernah mereka lihat, karena bisa melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri. 


“Kau hebat! Padahal aku sendiri tadi tidak yakin kalau kau bisa melakukan hal itu.”


“Ihh! Bagaimana kau bisa melakukannya?! Ajarin aku~”


“Hahaha, ketua kami memang hebat! Ayo pesta lagi!” salah satu dari temna Julio pun memprovokasi teman-temannya sendiri untuk mengangkat tubuh Julio seakan Julio adalah pahlawan mereka. 


“H-hei, jangan angkat aku,” pinta Julio merasa risih. 


Tapi, tidak di anggap oleh mereka, mereka pun hanya mencari kesenangannya sendiri dengan mengangkat tubuh Julio ke atas secara bersama-sama, dan dengan sengaja mereka malah mencoba melempar-lempar tubuh Julio mereka dengan tawa riangnya. 


“Hore! Kalau ada kau seperti ini, bagaimana jika kau ikutan lomba Billiard juga! Lumayan!”


“Hore! Hore! Kau hebat bocah!” 


“Hebat, bisa ada teman sepertinya di antara kita! Kita rayakan ini sekarang dengan karoke!” 

__ADS_1


“Ayo! Bawa ke ruangan! Dan eksekusi sekarang!” 


“T-tunggu! Aku tidak bisa nyanyi-” Julio meminta agar di turunkan. 


“Kau bisa lipcying bro dengan suaraku, nanti kita upload raja kita ke medsos kita!”


“Hore! Lio! Lio! Lio!” 


Dari sepuluh orang, enam orang mengangkat tubuh Julio pergi ke ruang karoke, ke empat lainnya pun hanya terkekeh sambil merekam pimpinannya itu agar bisa lebih terkenal dari anak berandal yang beberapa kali mereka lihat, ya…, siapa lagi kalau bukan Arvin. 


Lagi?


Benar, dia adalah orang yang bahkan lebih terkenal dari artis, makannya banyak yang menjadikan Arvin sebagai saingan orang-orang, apalagi seperti mereka. 


“Kau harus lebih di kenal! Biarkan banyak gadis menggerumutimu seperti madu Lio!”


“Lio! Lio! Lio!” 


Suara keras yang terus menyerukan kalimat dukungan kepada Julio sempat terdengar oleh Enzo dan Dini. 


‘Mereka orang-orang aneh.’


“Mereka selalu saja berisik,” decih Enzo, tidak suka dengan keberadaan dari Julio yang terus di jadikan sorotan perhatian oleh rekan-rekannya sendiri, meskipun di posisi ini Enzo sebenarnya tidak pernah tahu yang sedang membuat suara keributan itu sebenarnya adalah anak-anak yang pernah adu jotos dengan Enzo sendiri. 


“Kau yakin tidak mau bekerja sama denganku? Lebih banyak tmean, maka lebih mudah untuk menggulingkan anak itu,” ungkap Dini lagi, kembali menyerukan hasutan setan miliknya kepada anak orang kaya seperti Enzo itu. 


“Tidak perlu repot-repot membujukku, jawabanku hanya satu saja, pergilah-” usir Enzo, kini sorotan matanya yang begitu tajam itu, seketika menyeret Dini dalam ketakutannnya sendiri yang sedang dia coba dia tahan dengan senyuman simpul yang pada akhirnya kian memudar. 


‘Dasar Enzo ini. Aku pikir dia mau, karena kita sama-sama punya tujuan yang jelas, pasti sama. Tapi kalau seperti ini, apa aku terpaksa bergerak sendiri?’ karena tidak punya apapun yang ia bicarakan lagi, Dini pun langsung menyerobot mengambil gelas bir yang hendak Enzo minum itu, dan langsung menenggaknya sampai habis. 


TAK….


“Terima kasih,” ketus Dini, selepas meletakkan gelas bir yang sudah kosong itu ke atas meja depan Enzo secara langsung, dan setelah itu pun Dini pergi dari sana. 


Melihat gelasnya sudah di pakai oleh Dini, Enzo pun menyuruh bartender itu untuk menggantinya dengan yang baru.


“Ganti atau buang ini dengan yang baru,” perintahnya. 

__ADS_1


“Baik Tuan,” jawab bartender ini, dan segera mengeluarkan gelas serta sekaligus menuangkan bir yang baru untuk di sajikan kembali kepada Enzo. 


‘Pfft, dia menyerah juga. Bahkan tidak selevel denganku, jadi pergi saja jauh-jauh.’ pikir Enzo, dan dia pun kembali meminum air bir itu sampai habis, dan dia segera melakukannya berulang kali sampai satu botol bir itu sendiir habis. 


__ADS_2