
"Hei! Aku baru pertama kali melihatmu, apa kau anak baru di sini?" Tanya Enzo kepada Arvin.
Mereka berdua kini ada di posisi memimpin, dan secara sengaja Enzo menyamakan kecepatannya dengan kecepatan motor milik Arvin, sehingga Enzo yang masih belum tahu siapa wajah dibalik helm yang sedari tadi tertutup rapat itu, dibuat untuk bertanya.
Sedangkan Arvin, dia hanya meliriknya sekilas, sebelum akhirnya Arvin yang begitu malas untuk menjawab pertanyaannya, langsung menaikkan kecepatan laju dari motornya.
“Eh? Dia ternyata tidak ingin mengungkapkan identitasnya ya?” Gumam Enzo, menyeringai senang karena ia akhirnya bisa menemukan lawan yang setara dengannya. “Lebih baik menyelesaikannya dengan cepat dan ambil hadiahnya. Dia pasti punya pikiran seperti itu.
Tapi, aku sama sekali tidak ingin pertandingan ini berakhir biasa saja. Awas saja, aku akan mengalahkanmu dan membuatmu membuka helmmu.”
Setelah berkata demikian sambil melihat keberadaan dari Arvin kian menjauh darinya, Enzo pun semakin menaikkan kecepatan laju motornya sampai di angka 110 dan terus naik. Dia mencoba untuk menyusul Arvin.
Arvin yang akhirnya melihat Enzo mulai datang mendekat, Arvin pun sama sekali tidak ingin membuat celah dengan membiarkan Arvin menyalipnya.
Di sebuah tikungan, tempat yang pas untuk di gunakan sebagai posisi menyalip, langsung Arvin halau keinginan Enzo yang ingin menyalipnya.
‘Hah! Anak ini, dia ternyata pintar juga ya, awas saja, aku akan membuatmu kalah dalam penyesalan.’ Enzo yang terprovokasi dengan Arvin, Enzo pun terus berusaha untuk menyamai posisinya dengan motor Arvin.
Setelah tepat berada di posisi sebelah kanan Arvin, Enzo pun melakukan kecurangan dengan cara menendang sisi motor Arvin.
‘Enzo, dia mau menendangku ya? Jangan harap kau bisa mengalahkanku.’ Seringai Arvin di balik helm berwarna hitam miliknya.
Tepat di saat sebentar lagi Enzo menendang sisi kanan motornya Arvin, Arvin tiba-tiba saja langsung mengerem.
SREETT…..
“Apa?!” Enzo langsung melirik ke arah kiri sedikit belakang, karena tiba-tiba saja saingannya itu memilih untuk menurunkan kecepatannya, sehingga niatnya untuk menendang motornya agar jatuh dan kalah darinya, jadi gagal total.
“........” Arvin memasang wajah serius, setelah menurunkan kecepatannya, dalam sekejap mata, Arvin pun langsung menarik gas motornya lagi sedalam-dalamnya, dan segera menyusul Enzo dan akhirnya dalam kurun waktu kurang dari sepuluh detik itu Arvin berhasil berada di sisi kanan Enzo.
Lalu seperti apa yang baru saja hendak Enzo lakukan terhadapnya, Arvin pun langsung memberikan balasan, dengan menendang motor Enzo.
Enzo yang panik karena keberadaan dari Arvin langsung berpindah tempat di sisi kanannya akhirnya mendapatkan tendangan dari Arvin dan karena Enzo tidak mampu menghindari serangannya, motor yang di kendarai oleh Enzo pun langsung oleng dan terjatuh.
BRUKK…..
‘Hahaha….., kau mau curang denganku? Aku curangi dulu kau Enzo!’ Pekik Arvin di dalam benaknya. Dan tanpa memperlambat kecepatannya, sebelum dirinya benar-benar berada di jarak jauh dengan Enzo yang baru saja terjatuh, Arvin pun melepaskan tangan kiri dari stir motornya dan mengulurkan tangan kiri ke samping kiri, sampai acungan jempol yang tadinya tegak ke atas, berubah jadi ke arah bawah.
“.............!” Perempatan siku di dahi Enzo pun langsung muncul. ‘Sialan, dia malah mengejekku.’ Pikir Enzo, tidak puas hati dengan apa yang Enzo dapatkan.
BRRMMM…BRRMM…..
WUSHH……..
Beberapa motor yang sempat Enzo salip, kini di salip balik oleh mereka. Dan tentu saja tidak ada satu pun diantara mereka yang memperdulikan apa alasan dibalik Enzo yang sudah terjatuh itu.
“Heh, tapi karena yang menyeleggarakan ini adalah Arlina, aku pikir jika orang tadi menang juara satu, lebih baik dia yang mendapatkan gadis dekil itu.” Ucap Enzo.
Maka dari itu, Enzo yang jelas sudah kalah itu, langsung menelepon Arlina untuk merubah urutan hadiah yang akan di dapatkannya.
_________________
“Itukan salahmu sendiri.” Ucap Arliana, kini sedang menerima panggilan dari Enzo yang Arlina sendiri tidak tahu dimana Enzo sekarang ini.
-”Arliana, aku pikir jika orang yang ada di sebelah kananku tadi juara pertama, berikan dia perempuan yang kau bawa itu. Hadiahnya satu juta saja dan di tambah dengan perempuan itu, sedangkan yang mendapatkan juara dua dan tiga, berikan mereka sepuluh dan lima juta.”- Saran Enzo kepada Arlina.
“Huh? Kau mau aku mencoreng wajahku sendiri ha?” Protes Arlina dengan saran Enzo yang membuat diri Arlina bisa jatuh, jika tiba-tiba merubah keputusan.
__ADS_1
-”Halah, kan kau tinggal memberitahu kalau orang misterius ini melakukan kecurangan, jadi meskipun dia menang di peringkat pertama, dia hanya mendapatkan hadiah sesuai dengan apa yang aku sebutkan tadi.”- Bujuk Enzo lagi. “Dia menendangku, dan aku akan menyuap salah satu orang dari peserta ini untuk menjadi saksi mata, mudah kan? Pokoknya kau harus menuruti perintahku, atau aku akan memberitahu ayahmu soal ini.”
Arliana seketika pun jadi merasa terancam dengan ancaman yang dikatakan oleh Enzo ini.
“Baiklah, kau urus bagian saksi, aku akan melakukan apa yang kau katakan.” Jawab Arlina dengan terpaksa.
Setelah berbicara dengan Enzo, Arlina pun memutuskan panggilan itu secara sepihak.
‘Ada-ada saja. Beginilah jika aku harus punya sepupu seperti dia.’ Keluh Arlina. Dia berkacak pinggang sambil melirik ke arah Ashera yang sedang duduk sambil bermain handphone.
“Arlina, kenapa wajahmu cemberut seperti itu?” Tanya Doni kepada majikannya itu.
“Biasa, Enzo.” Jawab Arlina singkat.
Doni yang tidak mengerti kenapa dengan Enzo sehingga membuat Arlina menjadi bete seperti itu, hanya diam sambil memperhatikan Ashera yang diam dan lebih fokus ke handphone nya sendiri.
“Arlina, apa kau yakin mau buat dia jadi bahan taruhan juga?” Bisik Doni, akhirnya angkat bicara, karena beberapa waktu lalu dirinya memang sempat mendengar apa yang dikatakan oleh Arlina kepada salah satu orang kepercayaannya itu.
“Tentu saja. Dia naik dan ikut datang kesini kan tidak gratis.” Ejek Arlina. Dirinya malam ini akan sangat puas, karena melihat Ashera yang merupakan seorang pelayan, tidak bisa memenuhi kewajibannya untuk bekerja dengan baik, karena Arlina dengan sengaja membawanya pergi.
Tapi dari pada itu, dibalik dirinya membawa Ashera pergi bersamanya, tentu saja ada sebuah bayaran.
_____________
‘Oh iya, aku bahkan sama sekali belum tahu nomornya Arvin. Bagaimana aku harus pulang? Aku takutnya Arlina dengan teman-temannya itu meninggalkanku. Biasanya orang jahat seperti dia kan selalu melakukan hal seenaknya, jadi untuk jaga-jaga, aku harus punya persiapan sendiri.
Tapi- kopi ini. Arvin pasti sudah menunggu lama sekali. Apa sebaiknya aku pulang saja sekarang ya? Lagi pula Arlina juga bukan temanku, dan semua orang terlihat sibuk dengan urusan mereka, lebih baik aku menyelinap pergi.’ Ashera pun memasukkan lagi handphone nya ke dalam saku blazer nya, lalu ia pun berdiri.
“Kau mau pergi kemana?” Hingga tiba-tiba saja ada laki-laki yang mendatangi Ashera dan bertanya demikian.
"Aku mau pulang." Jawabnya.
"Tapi- kenapa? Kenapa ada aturan seperti itu segala? Aku hanya ingin pulang, kenapa tidak boleh sih?" Ucap Ashera dengan nada menuntut.
Pria ini pun dengan wajah yang begitu datar, terus menatap Ashera tanpa menjawabnya sama sekali, sehingga Ashera yang mendapatkan tatapan yang begitu tajam oleh orang ini, perlahan nyalinya jadi menciut.
'Kenapa dia menatapku sampai seperti itu sih? Huh ..., masa pulang saja tidak boleh. Memangnya ini sekolah, aku tidak boleh pulang jika jam pelajaran belum selesai?' Pikir Ashera, merasa dirinya seperti sedang di tahan.
Padahal kenyataannya memang seperti itu.
'Kenapa menatapi seperti itu! Aku kan jadi takut.' Gugup sendiri sampai mau salting dengan tatapan tajam dari orang tak di kenal ini, Ashera pun akhirnya mengurungkan niatnya itu, dan kembali duduk manis.
"Bagus, jangan sekali-kalinya pergi. Tapi jika memang ingin pergi, kau harus membayar denda sebanyak tiga ratus ribu."
".............!" Ashera yang sudah tahu pilihannya apa, hanya bisa diam dan menerima untuk tidak pergi kemanapun, sebab dirinya sama sekali tidak mampu untuk membayar uang sebanyak itu, karena ia tidak membawa uang banyak, selain seratus ribu tadi yang sudah ia gunakan untuk membelikan kopi pesanan Arvin. 'Masa bayar. Ini tidak adil.' Rungut Ashera.
BRRMM....BRMM........
"Wow, siapa yang akan menang ya?!"
Semua orang yang tadinya hanya duduk ataupun berdiri di sembarang tempat, langsung berkumpul lagi untuk melihat lebih jelas orang yang akan mendapatkan kemenangan itu.
"Hei ayo, ayo. Kita lihat siapa yang akan menang." Banyak yang begitu bersemangat untuk menonton, tapi tidak dengan Ashera yang tidak begitu tertarik dengan balapan motor itu selian rasa cemas yang dari tadi menyelimuti tubuhnya.
"Lihat-lihat, dia yang kelihatannya akan menang."
"Halah, aku yakin yang menang itu anak baru itu."
__ADS_1
Mereka mencoba menebak-nebak siapa yang akan menang, sampai di dua puluh meter sebelum garis finish, Arlina pun sudah berdiri di samping garis tersebut dan akan melihat siapa yang akan menjadi pemenangnya kali ini.
Dan akhirnya yang menang, sesuai dengan harapan, yang menang adalah Arvin.
WHUSS...
Arvin mendapatkan posisi pertama, kedua di ambil oleh motor berwarna merah, serta posisi ketiga di ambil oleh peserta dengan motor berwarna biru muda.
PROK....PROK....PROK.....
Suara sorak sorai dengan tepuk tangan yang begitu meriah, langsung kembali mengisi kompetisi tersebut.
Setelah itu, kekalahan di dapatkan oleh sebelas orang tersisa.
Arlina yang melihat bahwa pertandingan tersebut akhirnya selesai, Arlina pun berjalan ke tengah jalan.
"Selamat kepada kalian yang masuk ke tiga besar." Ucap Arlina dengan senyuman meremehkan. "Dan seperti yang kalian lihat, orang ini adalah pemenang di pertandingan kali ini." Arlina pun mengarahkan tangan kanannya ke arah Arvin.
'Yes, aku menang. Akhirnya, malam ini aku bisa mendapatkan uang tambahan secara instan.' Itulah yang dipikirkan oleh Arvin saat Arlina menunjukkan tangannya ke arahnya.
Arvin pun sudah mulai berdebar karena bisa memenangkan perlombaan yang di adakan dalam satu kali sesi, tapi langsung membuatnya bisa mendapatkan hadiah tersebut secara instan.
"Jadi apa kau boleh melepaskan helm mu agar aku bisa melihat wajahmu?" Tanya Arlina, meminta kepada Arvin untuk melepaskan helm nya.
Tapi Arvin menggelengkan kepalanya.
Arlina yang hanya mendapatkan penolakan itu, hanya bisa bersabar. 'Ternyata dia tidak mau membuka helm nya. Padahal aku ingin lihat siapa orang yang berani menendang sepupuku sampai jatuh. Ya sudahlah, lagian tidak penting juga, toh dia tidak mendapatkan hadiah utamanya. Dan kalau dipikir-pikir, dia memang cocok dengan Aresha yang bodoh itu.'
"Wah, dia tidak mau melepas helm nya tuh. Pasti mau jadi sosok misterius."
"Ih, tapi aku penasaran kira-kira wajahnya seperti apa."
"Apa kau tidak mau menunjukkan wajahmu kepada kami?"
"Itu licik, jika kau tidak membuka helm nya."
"Sudah-sudah, mungkin saja dia malu." Ledek Arlina sambil melirik ke arah Arvin yang masih tidak mau memperlihatkan wajahnya ke orang lain.
'Arlina, ternyata dia memang wanita nakal seperti ini ya? Pantas saja dia sama sekali tidak takut kepada guru di sekolah, bahkan kepada orang lain. Di balik seragamnya saja dia punya wajah licik seperti ini.' Pikir Arvin, menemukan kesan mendalam milik Arlina yang bagi Arvin sangatlah kurang cocok. 'Untung aku tidak langsung terkecoh dengan penampilan polos di sekolah.'
"Arlina, jadi apa hadiah untuk juara kedua dan ketiganya?" Tanya salah satu diantara mereka.
"Hehhe.... Kalian ternyata sudah tidak sabaran ya?" Sindir Arlina.
"Ya iya lah, dan kau bilang tadi ada hadiah spesial juga, jadi apa? Kami semua sudah penasaran tahu." salah satu diantara merek pun jadinya angkat bicara lagi.
"Sebentar, tapi sebelumnya aku umumkan dulu untuk aturan yang berhasil menang ya. Karena si misterius ini melakukan kecurangan kepada Enzo, jadi meskipun dia ada di peringkat pertama, dia hanya mendapatkan uang satu juta dan-" Arlina menoleh ke belakang, ada Doni yang sudah menyeret Ashera ke depan mereka. "Perempuan ini."
"Ha? Apa? Ternyata ada gadis di dalam taruhan ini?"
"Whoa, pantas saja kau menyebutnya istimewa."
"Darimana kau bisa dapat perempuan ini, Arlina?"
Satu persatu dari mereka langsung penasaran dengan sosok Ashera yang masih di tahan oleh tangan Doni dengan ekspresi wajah takut.
"Untuk juara kedua lah yang mendapatkan hadiah yang 10 juta, yang kedua 5 juta, dan sisanya yang kalah, aku ucapkan terima kasih. Kesempatan yang akan datang pasti akan memihak pada kalian yang mau bersikap jujur." Ucap Arlina panjang lebar.
__ADS_1
Tapi tidak seperti mereka yang hanya tertawa ataupun berbisik sesuatu yang entah apa yang mereka semua bicarakan, Arvin dan Ashera sama-sama saling pandang satu sama lain dengan wajah terkejut mereka.