
Pagi di awali dengan sinar mentari pagi. Sinar yang kian menyelimuti bumi, menghangatkan hati yang dingin, sekaligus menyatukan orang yang berpisah karena jarak dengan cara mereka masing-masing.
Di dalam kamar yang semula gelap total karena tirai jendela yang tebal itu menutupi semua akses masuk sinar mentari, perlahan tirai itu terbuka dengan sendirinya, memberikan kesempatan pada mereka untuk membangunkan pangeran yang masih tertidur lelap.
DRRTT....DRRTT.....DRRTT.....
Sampai alarm pagi yang berasal dari handphone yang di letakkan di atas nakas, ikut membantu merayakan pagi yang baru ini untuk membangunkan pangeran tidur ini.
"Hmm..., silau." Gerutu Arvin, begitu cahaya yang menyilaukan itu, menerjang wajah tampannya.
Arvin lantas mengernyitkan matanya, betapa mengganggunya cahaya dan panas itu dalam proses hibernasi nya yang sudah Arvin lakukan semalaman di dalam kamarnya sendirian.
DRRTT....DRRTT....DRRTT.....
Alarm handphone yang masih saja belum di matikan itu pun sukses menyita perhatian Arvin untuk segera mematikan penyebab kegaduhan itu.
"Berisik, padahal aku masih ingin tidur." gerutunya lagi seraya tangannya merayap ke atas nakas, dan mencari-cari benda perusak ketenangannya itu.
DRRTT....DRRTT....DRRTT...
Tapi, selagi belum di matikan, dan selagi matanya belum terbuka, serta tangan yang belum juga menemukan handphone nya, alhasil Arvin jadi emosi sendiri.
"Dimana sih?! Padahal ada di meja, tapi kenapa tidak ada?!" Tekan Arvin, akhirnya ia pun membuka matanya dan mencari keberadaan dari handphone nya sendiri.
Yang nyatanya, handphone nya itu rupanya sudah ada di tangan seseorang yang sudah berdiri di samping tempat tidurnya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di kamarku sepagi ini? Mau tidur bareng lagi?" Ucap Arvin tanpa pandang bulu lagi, jika ucapannya itu menyinggung perasaan dari gadis itu atau tidak, yang penting ia harus mendapatkan handphone nya dan mematikan alarm itu.
Tanpa sepatah kata, Ashera yang saat ini sedang menggenggam handphone nya Arvin, Ashera langsung mematikan alarm yang terus mengganggu itu, melemparnya ke bawah, dan Ashera pun naik ke atas tempat tidurnya Arvin.
BRUK..
'Apa lagi yang di lakukan oleh anak ini? Kenapa malah tidur di sampingku?' Lirik Arvin terhadap satu perempuan yang baru saja mandi itu. "Kau, cepatlah mandi, aku akan menunggumu di sini."
"...?" kebingungan pun terjadi dalam diri Arvin yang masih separuh sadar itu. "Hah, kau yakin akhirnya mau melakukannya lagi denganku?"
Dengan ekspresi wajah yang malas, Ashera pun menoleh ke samping kanan dan melihat wajah tampan Arvin yang baru saja bangun tidur itu.
"Jangan salah sangka, aku hanya ingin tempat yang empuk, setidaknya kau mandi, sarapan, lalu kita berangkat sekolah bersama. Aku mau lanjut tidur dulu." Setelah bicara demikian, Ashera langsung memejamkan matanya, tapi tangan kanannya itu dia gunakan untuk mencubit kulit tangannya Arvin yang tidak masih saja belum beranjak pergi dari tempat tidurnya. "Pergi mandi."
"...." Dengan patuh, Arvin pun pergi meninggalkan si budak tidur itu di atas tempat tidurnya Arvin. 'Dia terus saja punya nyali yang besar. Tapi memangnya dia pikir aku mau berangkat bersama dengannya? Tidur saja yang puas, akan aku tinggalkan kau di rumah.
Lalu sesuai dengan rencana, setelah mandi dan melihat Ashera benar-benar tertidur pulas, dengan diam-diam, dia pun bersiap ke sekolah dengan cara mengendap-ngendap.
Tentu saja, rupanya sarapan sudah di sediakan, Arvin sarapan lebih dulu, dan barulah Arvin dengan sengaja keluar meninggalkan Ashera di rumah, dan yang lebih parahnya lagi, Arvin pun mengganti nomor sandi pintunya, sehingga Ashera terkurung di rumah.
'Rasakan, kalau kau mau mengendalikanku, kendalikan dulu sikapmu itu.' Dan Arvin pun akhirnya berangkat sekolah sendirian.
Setengah jam kemudian.
"Ehmm..., aku memang tidak percaya dia akan membangunkanku. Jam berapa sekarang?" Gumam Ashera setelah berhasil bangun setelah setengah jam tertidur pulas. 'Jam setengah tujuh. Kalau aku berangkat sekarang, maka aku masih sempat untuk sampai di sekolah.
__ADS_1
Karena aku sudah meminta bantuan kepada Nenek nya Arvin untuk menyelesaikan urusanku dengan cepat karena skors ku itu, aku harus berangkat.'
Ashera pun bangun dari tempat tidurnya, dan beranjak pergi dari kamar itu.
Tapi, baru juga mau turun ke lantai bawah, ia mendengar suara seseorang dari luar.
'Siapa? Dari suaranya, bukan Daseon, dia bukan orang yang akan bicara di depan pintu seperti itu, dan lagian, aku mendengar suara numerik dari alat kunci pintu yang di pencet berulang kali.
Sebentar, apa jangan-jangan ada yang mau masuk ke dalam rumah ini?
Yang benar saja! Kawasan elit seperti ini, tapi ada juga yang mau menerobos masuk?' Tidak mau ketahuan lebih dulu, Ashera pun diam-diam mulai bersembunyi.
Tentu saja, Ashera bersembunyi di salah satu ruangan kecil yang di gunakan untuk gudang penyimpanan alat pel, yang letaknya ada di bawah tangga persis.
KLEK...
Pintunya terbuka.
"Akhirnya kita berhasil masuk. Tahu kan, ini adalah satu-satunya tempat yang di huni di lantai ini. Dengan begitu, sudah jelas kalau rumah ini pasti orang yang cukup kaya." Gumam perempuan ini.
"Benar, tapi untuk masuk kedalam sini saja cukup susah, jelas dia bukan orang yang sembarangan." Jawab seorang pria, yang satu rekan dengan wanita di sebelahnya.
'Suara ini, aku tahu. Tapi apa alasan dia masuk ke rumah ini? Apa dia mau merampok? Tentu saja jelas, mau mencari barang berharga. Tapi, apa tidak masalah ya? Masih pagi tapi sudah ada pencuri masuk.
Kira-kira tanggapannya Arvin soal ini bagaimana ya?' pikir Ashera.
__ADS_1
"Coba cari sesuatu yang berharga. Tapi usahakan jangan perhiasan atau jam tangan, biasanya jama tangan itu jika di jual, yang ada kita berdualah yang akan tamat saat itu juga." beritahu perempuan ini kepada rekan kerjanya itu.