Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
143 : Banpo Bridge


__ADS_3

Setelah berhasil melewati keramaian dari banyaknya para penonton, sekarang mereka akhirnya bisa menikmati kedamaian yang cukup menenangkan.


Seandainya Ashera belum tidur, dia seharusnya bisa melihat jembatan paling terkenal di kota seoul yaitu Banpo Bridge.


Banpo Bridge adalah jembatan yang dimana jika malam hari datang, banyak sekali pompa air yang terpasang di seluruh tepi jembatan, untuk menyemprotkan air yang berhasil tersedot itu kembali ke laut.


Dengan dipadukan lampu LED warna warni, siapa yang tidak akan termanjakan dengan akrobatik dari air yang menghiasi jembatan tersebut?



Tapi karena seseorang tidak bisa di ganggu untuk di bangunkan, Arvin pun hanya mampir untuk istirahat sebentar dan menikmati keindahan dari lampu warna-warni yang di padukan dengan air mancur itu sendirian.


Sebenarnya bagi dirinya, pemandangan seperti cukup bagus, tapi tidak mengartikan kalau dia sangat kagum, karena dirinya sudah beberapa kali datang ke tempat tersebut, jadi bagi Arvin pemandangan seperti itu sudah bisa di bilang cukup biasa.


Tapi, mungkin seandainya Ashera bangun, dia akan kegirangan dengan mulut terbuka lebar.


"Ahhh, rasanya aku seperti jalan-jalan sendirian," ucap Arvin sambil mengantongi kedua tangannya ke dalam saku dari mantel coat yang dia pakai. "Apa aku bangunkan saja?" lirik Arvin kepada satu orang yang masih terlelap di dalam mobilnya.


Terlihat kalau Ashera yang kini tertidur di kursi depan dengan posisi sandaran kursi sudah di turunkan ke belakang. Dengan keadaan seperti itu, Ashera pun bisa tidur dengan posisi tubuh yang lurus, yang mana kini gadis itu sedang memperbaiki selimut yang yang menutup tubuhnya dan akhirnya menyembunyikan wajahnya di dalam selimut tersebut, seolah Arvin tidak boleh mengintip orang yang sedang tidur.


"Hahhah...," membayangkan hal itu saja, Arvin refleks di buat tertawa, sebelum akhirnya dia pun kembali menatap ke depan.


Benar, sambil duduk depan kap mobil, Arvin pun menikmati bir kaleng yang sempat dia beli di Vending machine yang dia dapatkan di pinggir jalan.


Betapa nikmatnya, saat semua masalah yang sempat dia miliki selama lebih dari setengah bulan yang dia dapatkan setelah hari dimana dirinya berhasil menodai Ashera, dan pada akhirnya di paksa untuk menjadikannya Istri, yang membuat Arvin terus dalam kemarahan yang tidak bisa dia bendung, seakan semuanya adalah salah Ashera, Ashera, dan Ashera, seolah terbawa angin yang sempat datang begitu saja.


Maka dari itu, keheningan yang terjadi di pinggir laut itu, sukses membuat Arvin berhasil menikmati waktu istirahatnya.

__ADS_1


Walaupun hanya berlaku sejenak saja, baginya itu tidak dipermasalahkan.


Jangan di buat stress terus, karena kau sudah mau tanggung jawab padaku.


Itulah yang pernah di katakan oleh Ashera saat Ashera di kepribadian satunya lagi.


TING....


//Arvin, alangkah baiknya kalau kau bisa menikmati bulan madumu baik-baik dengan Ashera, tanpa membuat masalah. Jaga diri kalian, jangan terus bertengkar.// satu pesan singkat dari neneknya itu, sontak membuat Arvin terhenyak.


Dia sebenarnya merasa aneh saja, kenapa neneknya begitu memperhatikan Ashera yang awalnya adalah pelayan rendahan.


Padahal tidak ada apapun yang istimewa pada gadis dalam artian Istri yang sedang tertidur di dalam mobilnya itu.


Arvin awalnya ingin membalas pesan dari neneknya dengan sebuah pertanyaan. Tapi sepertinya itu tidak perlu, karena yang ia inginkan sekarang bukan membahas soal pernikahan atau apapun itu yang berhubungan dengan latar belakang mereka berdua yang bertolak belakang.


Tapi karena dirinya malam ini menyetir, maka dia pun hanya minum satu kaleng saja.


Rasanya jelas berbeda dengan bir kualitas tinggi yang harganya bisa mencapai puluhan juta atau ratusan juta, tapi sebagai pecinta bir, dia tidak mempermasalahkannya, asal bisa membuat waktu yang ia miliki saat ini bisa dia gunakan dengan baik dengan ditemani satu kaleng bir.


Dan sekarang, persoalan soal perempuan yang pernah mengisi hatinya untuk pertama kalinya, Vani.


Arvin terus melihat pesan singkat terakhir yang di kirim oleh vani kepadanya, kalau pertemuan mereka berdua tempatnya ada di salah satu cafe di dekat danau.


Apa alasan dari Vani ingin pergi menemuinya, menjadi satu pertanyaan terbesar di benak hati Arvin.


"Vani, padahal selama ini dia sama sekali tidak menghubungiku, tapi semenjak aku membawa Ashera ke kliniknya, aku pikir ini pertama kalinya dia mengirimku pesan setelah hari dimana aku dan dia putus.

__ADS_1


Ya, orang tua yang tidak mengizinkanku berhubungan dengannya, dan dia yang tiba-tiba pergi keluar negeri.


Itu sudah cukup jadi masa lalu pertamaku mendapatkan putus cinta dengannya." ucap Arvin, seraya membuka layar handphone nya yang sempat terkunci.


Dan sayangnya, ketika mulut dan logikanya terus berbicara untuk tidak lagi berhubungan dengan Vani, tapi itu semua hanyalah bisikan hantu yang tidak bisa memadamkan hati yang ternyata masih tersisa sedikit rasa di dalamnya.


Rasa kepada Vani?


Ya, itu tertera pada wallpaper yang Arvin gunakan. Wallpaper utama di saat dirinya sekarang sendirian seperti ini, dia justru memandangi wallpaper handphone nya yang memperlihatkan foto antara dirinya dengan Vani saat mereka berdua masih sekolah, dan bahkan di saat mereka berdua memakai seragam yang sama.


Tapi itu adalah tatapan masa lalu yang tidak berlangsung lama.


Tentu saja, karena ia jadi merasa terjerat dalam masa lalunya, Arvin pun segera mengetuk layar lima kali, dan seketika itu wallpaper nya langsung berubah menjadi wallpaper dari potret dirinya yang sedang memakai mobil.


"Vani, aku tunggu kau, apa niatmu sebenarnya, sampai tiba-tiba ingin bertemu denganku yang sedang bulan madu dengan Ashera." gerutu Arvin, lalu dia pun kembali menenggak bir kaleng sampai habis.


Karena cuacanya cukup cerah, dia pun tetap berada di sana sampai sepuluh menit lamanya, karena mau bagaimanapun, bisa main drum sampai stau jam lamanya, itu cukup melelahkan, di tambah harus menyetir, dia pun perlu yang namanya istirahat.


"Owen, putar musik," ucap Arvin.


"Memutar musik," jawab sistem jarvis pada mobil tersebut. Dan tidak perlu menunggu waktu yang lama, mobil miliknya itu pun langsung memutar musik kesukaannya.


Sehingga dengan begitu, dia pun tidak merasa kesepian lagi, karena lagu itu terasa sudah cukup untuk menemani waktu istirahatnya.


"Ashera, apa kau tidak mau bangun? Ada banyak air mancur loh," ucap Arvin dengan sedikit keras. Dia melakukannya dengan sengaja, karena ingin tahu apakah Ashera akan merespon ucapannya?


Tapi yang terjadi, tentu saja sudah di tebak dengan benar, kalau Ashera yang terlalu lelah itu, bahkan sama sekali tidak mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Sayang sekali, padahal aku membawamu kesini, karen aku pikir kau akan langsung bangun jika aku memperlihatkan jembatan yang terkenal ini. Jarang-jarang loh~" ucap Arvin pada dirinya sendiri.


__ADS_2