Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
47 : Salah paham


__ADS_3

"Hah..hah...hah.." suara dari deru nafas itu terus menegur jantungnya untuk berhenti beraktivitas berat dulu.


Namun, kenyataan pahit harus pria ini terima.


"Katanya kau kuat, jangan bilang ototmu ini hanya sekedar pajangan."


"Berisik! Aku lelah, jangan bicara terus."


"Kau pikir aku tidak lelah?"


"Ha?"


"Ha, ha ha? Apa? Mana tenagamu yang besar itu? Coba perlihatkan kepadaku seberapa kuat kau bisa menuntaskan dirimu sebagai pria sejati? Hei, lebih cepat, aku kurang puas." Omel Ashera terhadap Arvin yang sedang berusaha keras untuk memuaskan keinginan Istrinya itu. "Terus, ayo. Jika kurang tinggi sedikit, maka kau harus melakukannya dari awal lagi. Buat aku puas." ucap Ashera, sambil tiduran dengan santai, dan menikmati pekerjaan Arvin sebagai seorang pria jantan.


"Aku sudah lelah, biarkan aku istirahat dulu." perintah Arvin.


"Tidak boleh dong, lagi pula kau kan belum memenuhi standar agar aku bisa puas sampai ke ujung puncak?" celetuk Ashera. Dia dengan santai minum susu kotak dan memakan permen marshmellow dengan lahap.


"'Puncak apaan?! Ini sudah lebih dari sepuluh menit, aku sangat lelah!" Protes Arvin, keringatnya sudah bercucuran dan bahkan sudah berhasil membasahi lantai sekitarnya.

__ADS_1


"Eleh, sepuluh menit ini ronde pertama, kau harus melakukan sepuluh menit lagi di ronde kedua." balas Ashera. "Ayo lagi, apa kau butuh semangat yang mentimulasi?" Tanya Ashera.


Semua kata-kata milik mereka berdua pun benar-benar berhasil disalahpahami oleh orang yang ada di luar pintu.


"Nyonya, sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat." Bisik Luna kepada Nyonya besar, yaitu nenek Tina.


Dia awalnya ingin mengunjungi kedua cucunya itu, namun karena Luna mendengar adanya kegaduhan yang tidak boleh di ganggu, dan Nenek Tina menganggap kalau kedua cucunya sedang bermain bersama, mereka berdua pun kembali pergi dari sana.


"Berarti pulang saja. Biarkan mereka berdua bersenang-senang. Mungkin saja dengan begitu aku bisa langsung menggendong cicit." Ucap Nenek Tina sambil tersenyum penuh harap.


"Iya, semoga harapan Nyonya terkabul." Luna pun mendoakan apa yang di harapkan oleh majikannya itu benar-benar terwujud.


__________


"Hah..hah..hah, aku sudah tidak kuat lagi bocah!"


BRUKK....


Dengan nafas yang tersengal-sengal, Arvin langsung ambruk dengan tubuh berkeringat banyak, lalu Arvin pun jadinya membiarkan beban berat di atas tubuhnya itu dengan kondisi yang sudah malas sekali untuk bergerak.

__ADS_1


"Kau sudah bekerja keras." ucap Ashera dengan nada yang cukup menggoda.


Dia membalikkan tubuhnya sendiri dengan posisi tengkurap, sehingga tubuhnya saat ini pun jadinya memeluk punggung tubuh Arvin yang baru saja Ashera gunakan sebagai tempat tiduran, di saat Arvin di berikan hukuman push up.


"Jangan berisik." Jawab Arvin dengan nada yang cukup malas.


"Padahal baru push up dua ratus, tapi sudah selelah ini. Jadi aku ingin tanya, jika olahraga ranjang, kira-kira kau bisa melakukannya sampai berapa jam?" Bisik Ashera di samping wajah Arvin yang sudah kelelahan itu.


Seperti dua orang yang tidak bisa di pisahkan, Ashera benar-benar menindih tubuh Arvin dari belakang, dan menganggap kalau apa yang menjadi alas tidurnya itu adalah kasur, bukan Arvin. Jadi dia pun sampai dengan sengaja menempatkan dagunya di atas kepala Arvin yang tidak bisa bergerak lagi saking lelahnya.


"Satu, atau dua jam? Atau, aku pikir yang terakhir kali kau lakukan kepadaku, sampai tiga jam. Kenapa di saat aku menyuruhmu push up malah hanya bertahan lima belas menit saja?"


"Berisik! Jangan mengatakan hal yang tidak berguna itu!" Pekik Arvin, dia tidak suka dengan kalimat yang di ulang-ulang dan rasanya sangat mengganggu.


"Padahal aku tanya baik-baik." Ketus Ashera, tanpa sungkan, tangannya yang cukup ringan itu langsung menampar pan*at nya Arvin dengan keras.


PLAK....


'Perempuan gila!' Arvin seketika menjerit dalam diam, lagi-lagi kalah oleh perempuan di atasnya ini.

__ADS_1


__ADS_2