Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
39 : Di paksa


__ADS_3

'Dia buat ulah lagi. Memangnya apa yang dia lakukan di dalam kamar mandi? Apa-' Arvin langsung menebak dengan benar. Mengingat penampilan Ashera yang tadi itu benar-benar kotor, sudah jelas kalau Ashera mandi untuk membersihkan tubuhnya. 'Apa dia mau tambah sakit dan mencoba membuatku lebih kesulitan?'


BRAKK...


Arvin seketika menumbuk meja kerja milik Vani, hingga meja kayu itu langsung sedikit bergeser dan alat tulis yang ada di sana, ada yang jatuh, saking kuatnya Arvin dalam menggebrak meja itu.


'Dia ini memang tidak bisa aku biarkan. Ashera, kau ini benar-benar-' Arvin pun langsung berjalan dengan langkah lebar dan cepat, meninggalkan Daseon yang masih menjaga pelayan yang sudah terlihat terkejut setengah mati dengan kemarahan yang diperlihatkan oleh Arvin kepada mereka.


Tentu saja itu tidak hanya berlaku untuk pelayan dan Daseon saja, karena Vani pun sama-sama terkejut juga.


"Dimana anak itu?" Tanya Arvin dengan dingin, dia pun berjalan sembari menggulung kemeja hitam yang dia pakai itu sampai sebatas siku, sehingga Arvin pun memperlihatkan otot-otot kekar yang barhasil Arvin buat itu.


Bahkan beberapa perawat yang tidak sengaja berpapasan, langsung diam dan termangu dengan penampilan dari Arvin yang tidak pernah mereka lihat, karena baru pertama kalinya bagi mereka melihat Arvin di klinik tersebut.


"Dia ada di sana." Tepat di ujung lorong, Arvin harus berbelok ke arah kiri, dan disitulah ada jika di samping kanannya ada toilet umum, maka tidak dengan yang ada di sebelah kiri. Di sana ada ruang khusus yang diperuntukan untuk ruang istirahat para karyawan, sehingga di sana juga ada kamar mandi dengan set lengkap untuk mandi juga.


Dan di sanalah, Ashera mengurung diri di dalam kamar mandi itu untuk mandi, padahal tubuhnya sedang dalam kondisi demam.


Arvin pun menatap pintu kayu berwarna coklat itu dengan serius, betapa memalukannya berbuat seenaknya di tempat orang lain, apalagi di klinik dari Vani, mantan pacar Arvin sendiri. Mau di taruh mana mukanya, karena hanya dengan membawa satu orang yang sedang sakit, tapi efeknya ada masalah yang semakin besar saja.


Terdengar, di dalam ada suara aris mengalir dengan deras, menunjukkan kalau Ashera yang sedang mandi, adalah sesuatu yang tidak main-main.


"Ashera, buka pintu dan keluar sekarang.'' perintah Arvin dengan amarah yang sedang ia tahan. Tapi meskipun begitu, tangannya sama sekali tidak bisa di kontrol untuk tidak menggedor-gedor pintu dengan keras, seakan pintu itu adalah bahan pelampiasan dari Arvin sendiri.


Dan jika dibiarkan terlalu lama, Vani berpikir kalau tidak lama lagi, pintu itu akan hancur.


"Nanti," Jawab Ashera singkat, dia masih duduk sambil menggosok rambutnya yang panjang sebatas pinggang itu.


"Nanti-nanti, aku tidak butuh nanti, sekarang juga keluar atau aku dobrak!" Bentak Arvin.


"A-arvin, jangan marah seperti itu, di lihat banyak orang loh." Cemas Vani dengan cara Arvin bicara itu sama sekali tidak di kontrol.


"Kau tidak mengerti, kalau tidak di bentak, dia mana nurut." Di saat bicara dengan Vani, nada Arvin dalam bicara pun sedikit rendah, jadi terlihat jelas kalau Arvin memang begitu membedakan antara Ashera dengan Vani itu sendiri.


ZRASSHH....


Suara air shower yang masih begitu mengganggu itu langsung menarik perhatian Arvin lagi untuk lebih fokus pada satu orang yang tidak bisa di atur itu.


"Ashera! Aku hitung sampai tiga, kalau masih tidak mau keluar akan aku paksa kau keluar!" Bentak Arvin lagi.


Hingga semua orang yang sempat menonton apa yang sedang terjadi dengan Arvin dan atasan mereka, perlahan jadi berkumpul di depan pintu dari ruang istirahat tersebut.


Dan Daseon pula lah, yang mengurus para penonton tak di undang itu untuk pergi.


"Sebentar, sebentar lagi, saya masih belum selesai." Jawab Ashera, nadanya pun bergetar dan begitu lirih, sampai Arvin yang sudah kehilangan akalnya, memilih untuk membuka pintu itu dengan paksa.


Ya, dengan bantuan Daseon tadi yang sempat melemparkan sebuah kunci cadangan ke Arvin, maka Arvin pun tidak jadi mendobraknya.


KLEK...


Dan kabut putih yang memenuhi dari kamar mandi itu langsung keluar, seiring Arvin membuka pintunya dengan lebih lebar.


Berjalan tanpa adanya keraguan sedikitpun dalam memasuki area pribadi, Arvin akhirnya langsung menemukan sosok perempuan yang sedang duduk di lantai dengan sekujur tubuh basah dengan rambut masih sedang di cuci dengan sampo, dan busa itu kian terbuang karena air shower itu sendiri yang terus saja mengalir.

__ADS_1


"Apa kau tahu, air disini itu mahal, dan kau membuang-buangnya dengan begitu mudahnya." Beritahu Arvin, begitu dia melihat Ashera terus menyabuni rambutnya sendiri.


"Maaf, akan saya ganti biaya air dan perawatannya, tapi biarkan saya mandi lebih dulu." Jawab Ashera begitu lirih.


Padahal rahangnya sudah terus gemetar karena kedinginan, tapi tetap saja Ashera memaksakan diri untuk bicara, dan terus mandi.


Meskipun memakai air hangat sedikitpun, karena kondisi tubuhnya memang tidak mampu untuk di kontrol agar diam tidak gemetaran, maka Ashera pun hanya bisa melakukannya dengan pelan-pelan, membersihkan tubuhnya itu agar bisa sampai bersih.


Setidaknya, sampai Arvin sendiri jadi sempat melihat banyak rambut Ashera yang rontok dan tersaring di lubang pembuangan air itu sendiri.


'Apa dia menjambak rambutnya sendiri?' Tidak suka dengan situasi menyedihkan yang di buat oleh Ashera ini, Arvin langsung menarik tangan Ashera hingga Ashera yang masih mencoba untuk membilas rambutnya yang masih di penuhi dengan sabun, kena tarik dan berdiri. "Padahal aku baru saja memberitahumu untuk tidak merepotkan lebih banyak orang lagi, apa kau benar-benar menggunakan otakmu untuk berpikir?"


Dalam sekejap, tubuh Ashera pun jadi berdiri.


"Kalau begitu jangan pedulikan saya, jika memang merasa di repotkan." Jawab Ashera, dia sudah tidak begitu peduli lagi dengan penampilannya yang sudah telanjang di depan mata Arvin sendiri.


"Ashera! Kau perempuan susah di atur, hanya satu orang perempuan saja kenapa susah di atur seperti orang lain sih?!"


'Kenapa dia harus berteriak? Padahal aku hanya ingin mandi dan membersihkan tubuhku saja, tapi kenapa masalahnya jadi sebesar ini?' Batin Ashera, nyalinya sekarang ini benar-benar menciut, bahkan untuk menatap lawan bicaranya itu, Ashera merasa sudah tidak sanggup lagi.


Hanya karena Arvin, semua masalah seakan langsung di limpahkan kepadanya.


Betapa lelahnya, dirinya menahan semua caci makian yang tidak ada habisnya itu.


'Hiks...aku hanya ingin hidup damai, tapi kenapa jadi seperti ini?' Pikirnya. Dengan hati yang serasa sangat sakit bagaikan di tusuk dengan jarum, dalam diam Ashera pun menangis, menahan sakit hati yang begitu mendalam di hina oleh banyak orang dalam beberapa hari ini. 'Aku sudah tidak tahan lagi, lebih baik aku pergi ke desa saja, hidup di sana pasti tenang. Sudah pasti, ya kan? Apalagi jika aku tinggal di desa yang tidak mengenalku, aku tidak mungkin akan mendapatkan cacian seperti ini terus, sampai hinaan seperti ini adalah makanan keseharianku.'


Walaupun sudah banyak yang ia hadapi, hinaan seperti ini dan itu, tetap saja, batas ketahanan setiap orang berbeda, dan Ashera merasa batas kesabarannya sudah berakhir sampai di sini.


Arvin yang tidak begitu peduli dengan keterdiaman dari Ashera, langsung membantunya mencuci rambut Ashera sampai benar-benar bersih tidak ada sisa busa sedikitpun, dan setelahnya, dia pun langsung menarik handuk kimono yang yang tergantung tidak jauh dari tempatnya berdiri dan langsung membungkus tubuh telanjang itu dengan cukup cepat, sampai akhirnya Arvin menyeretnya keluar dari kamar mandi.


Tapi, walaupun tidak mandi, ujung-ujungnya Arvin juga akan memarahinya lagi, karena bau.


Tapi sekarang yang ia pikirkan sebenarnya bukan masalah mandi malam-malam, tapi kondisi tubuh Ashera yang sudah demam tinggi, dan apalagi neneknya adalah orang yang selalu datang tanpa di duga, khawatirnya ia akan menemui masalah baru lagi jika tidak segera membuat Ashera sembuh dari demamnya.


"Arvin, kau tidak usah menyeretnya seperti itu juga kan? Tangannya pasti sakit, lihat, kau mencengkram nya dengan kuat, kulitnya jadi memerah." Kata Vani, mencegah Arvin mencengkram tangan kanan Ashera lebih lama lagi.


Arvin yang tanpa sadar di selimuti kemarahannya untuk sesaat, langsung melepaskan cengkraman tangannya, begitu Vani mencoba bicara untuk melepaskannya.


"Tapi ujung-ujungnya, jika tidak aku seret, dia pasti tidak mau keluar." Balas Arvin, tidak mau kalah debat dengan Vani.


'Bahkan sekali bicara, dia langsung nurut, sebaiknya aku pergi saja dari sini dan pulang.' Pikirnya, melepaskan tangan Vani yang sempat memegang tangannya sesaat tadi.


Tapi belum juga Ashera pergi, kerah belakang dari handuk yang di pakai oleh Ashera, tiba-tiba saja langsung di cengkram oleh Arvin, mencegahnya pergi dari sana. "Kau mau kemana? Siapa yang mengizinkanmu pergi?'


"Pulang." jawab Ashera singkat.


"Pulang? Memangnya kau pikir punya tempat untuk pulang? Urus saja tubuhmu sampai sembuh, itu saja yang kau butuhkan, Vani, aku serahkan dia padamu, kalau dia mengacau lagi, urus dengan caramu sendiri." Selesai berbicara dengan Vani seperti itu, Arvin langsung menarik tubuh Ashera dan menegakkannya, berdiri di samping Vani.


Terlihat jelas, perbedaan dari dua orang perempuan ini, yang paling enak di pandang tentu saja Vani, dan Ashera sendiri? Dia seperti pengemis yang baru saja di ambil dari daerah kumuh.


"Baiklah, tapi-"


"Aku ingin pergi, jangan tanya lagi." Kata terakhir Arvin sebagai tanda perpisahan.

__ADS_1


BRAK....


____________


Ketika Ashera di tinggal, Arvin pun pergi ke tempat yang lebih menyenangkan.


Dan apalagi kalau bukan pergi ke bar. Disanalah tempat paling nyaman dirinya bisa bernaung dengan bebas bersama dengan teman-temannya.


"Woi, tumben nongol, aku pikir kau sudah mulai puasa pergi ke tempat seperti ini." Sapa salah satu teman Arvin, dia berada di sekolah yang berbeda dengan Arvin, jadi jarang bertemu selain di bar ataupun pertemuan lainnya yang harus di buat dalam sebuah janji.


"Puasa apanya?" Menepis tangan yang hampir merangkul bahunya. "Aku hanya baru ada waktu datang kesini." Sebuah alasan yang tidak bisa Arvin bicarakan secara rinci.


Arvin yang baru saja nongol masuk kedalam bar, langsung di sambut oleh pacarnya juga, dan sekarang sudah menempel di lengannya.


Sebenarnya bukan pacar sungguhan, tapi karena hubungan mereka berdua hanya untuk sekedar saling memuaskan, Arvin pun ok saja menjadikan perempuan berambut hitam yang di cat pirang di bagian bawahnya, sebagai pacar.


'Wajah cantiknya, membuat mataku merasa kembali segar. Tidak seperti yang satu itu.' pikir Arvin, mengusap pipi mulus pacarnya itu, yaitu Marlina.


"Oh, lihat-lihat ini, apa kau sedang marah?" Dengan wajah sok imut, kedua tangannya menyentuh kedua pipi Arvin dan sedikit menariknya. "Siapa yang berani membuatmu marah seperti ini hm?"


"Ucapanmu benar juga tuh, apa kau baru saja marah-marah pada seseorang? Urat otot di kepalamu ini terlihat dengan jelas." Menunjuk pada pelipis wajahnya sendiri sebagai cerminan kalau wajah Arvin.


"Kalian ini, dimlah, jangan membuatku teringat dengan orang yang baru saja aku marahi." Pinta Arvin, menyambar gelas berisi vodka yang baru saja disuguhkan kepadanya.


"Ohh, jadi itu alasanmu datang kesini, mau menghilangkan stres?" Tanya Marlina, dia duduk di pangkuannya Arvin.


Arvin menenggak sekali tegukan cairan berwarna keemasan itu sampai habis, dan barulah dia menjawab. "Kau benar, makannya jangan ganggu aku dengan topik yang membuatku teringat dengan orang itu." Alkohol yang kuat, langsung menyapu wajah cantik Marlina, sehingga Marlina pun langsung bersandar ke tubuh Arvin sambil berbisik sesuatu kepadanya.


"Oi, apa yang kau bisikkan kepada Arvin, baru juga sampai, tapi kau sudah mau menggodanya."


"Bweeh, biarin lah, dia kan pacar aku." Balas Marlina sambil menjulurkan lidah pada temannya itu.


"Kau mau itu?" Bisikan kecil yang tidak bisa di dengar oleh temannya Arvin itu langsung Marlina jawab dengan anggukan. "Ya, itu bukan ide yang buruk." Arvin pun tersenyum-senyum sendiri dengan pemikirannya itu, bahwa bermain dengan Marlina saat ini adalah sesuatu yang bisa membuat stresnya menghilang. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."


Arvin beranjak dari tempat duduknya, menepuk bahu temannya itu sebelum Arvin membawa Marlina pergi ke suatu tempat.


'Padahal juga bertemu, tapi aku sudah di tinggal sendirian di sini. Tega sekali mereka, mau bersenang-senang berdua.' Pikir pria ini, sudah mulai separuh mabuk.


"Apa anda ingin minum lagi?" seorang bartender perempuan, mulai menuangkan alkohol lagi kedalam gelas.


"Boleh, lagi pula kau akan sudah menuangkannya untukku." Senyuman bodohnya pun menjalar ke beberapa orang di sekitarnya. "Apa kau sudah punya pacar?"


"Belum."


"Mau pacaran denganku?"


"Maaf tidak." Dengan jawaban yang begitu singkat tapi juga padat.


"Kenapa tidak," raut mukannya pun sedih jadi sedih.


"Karena saya sudah punya suami."


"Hahaha, jadi aku telat nih?" Gerutu laki-laki ini dengan tawa mencibirnya.

__ADS_1


_________


__ADS_2