
"Leluconnya boleh juga tuh, dari pada bentak-bentak, ya kan teman-teman,"
Mereka semua pun mengangguk setuju.
"Tapi kalau kau memang mau berkencan dengan kami semua, kami mau-mau saja, semakin ramai akan semakin bagus, benar kan Julio?"
"Ya, itu boleh juga," jawab Julio tanpa mengalihkan pandangannya terhadap Ashera yang sedang menatap ke arahnya, lalu tatapan mata itu pun teralihkan ke arah Dika yang ada di sebelah Julio persis.
"Kalau aku jawab bahwa dia sedang melakukan pertemuan rahasia dengan ketua kami, memangnya kenapa? Apa kau mau menghalangi mereka berdua bertemu?" tanya Dika, dia akhirnya membuka helm nya, sehingga dia pun akhirnya memperlihatkan wajahnya itu.
Namun, Arvin yang tidak mau mendengar segala omongan dari orang lain itu, hanya terus menatap satu orang yang paling pasti untuk Arvin tatap, siapa lagi kalau bukan istrinya itu, yang kini justru benar-benar sedang di kelilingi oleh banyak laki-laki.
"Kau sungguh hebat ya? Aku berikan pilihan, kau mau bersama dengan mereka, atau denganku?" tanya Arvin, meskipun dia berkata demikian, namun Ashera pun paham maksud dari ucapannya tersebut, sehingga Ashera yang tadinya dilanda kebingungan, jika dirinya sendirian, karena tidak punya alasan yang cukup bagus, dia pun jadi terbantu dengan kedatangannya Arvin.
"Tentu saja kau," jawab Ashera dengan cepat.
Dan sontak saja, semua teman-teman drai Julio langsung melotot, dan membuka kaca helm mereka semua, sehingga mereka pun sama-sama memperlihatkan sorotan matanya yang begitu tajam.
"Kau mau menduakan ketua kami secara terang-ter-"
"Jangan seenaknya bicara, dia bukan kekasihku." Jawab Ashera kepada si penutur tadi, lalu kemudian dia pun beralih untuk menatap ke samping kanannya, dimana Julio berada, : "Dan Julio, kau seharusnya beritahu anak buahmu kenapa?"
"Itu kan terserahku," jawabnya, "Lagi pula mereka ingin punya imajinasi mereka sendiri, jadi aku tidak akan menghalangi mereka ingin menganggap aku ini sedang mengejarmu atau bukan, aku tidak begitu peduli. Yang aku pedulikan itu hanya satu, yaitu bisa membawamu bersamaku, atau aku akan beritahu omah, kalau kau tidak mau ikut denganku," kata Julio memberikan ancaman dengan sudah memperlihatkan handphone yang sudah dia pegang.
Dan Ashera yang hendak berbalik itu, dia pun akhirnya menghentikan lebih dulu langkah dari kakinya yang hendak meluncur itu dan berkata : "Mengancam ya? Silahkan saja, aku akan menurutinya jika keputusan dari Nyonya adalah sesuai dengan kemauanmu,"
__ADS_1
Walaupun Ashera berkata demikian, tapi sebenarnya tidak dengan hatinya yang sangat berharap kalau Julio tidak usah menelepon nenek Tina, karena ia tidka ingin pergi kerumah itu lagi, jika urusannya hanya untuk memasak untuk kakaknya Julio.
Dirinya itu sudah punya pekerjaan lain, jadi mana mungkin dia harus pergi dan membuatkan makanan untuk orang yang bahkan Ashera sendiri tidak kenal mereka siapa.
'Ashera-' Arvin jadi terdiam, dia pun segera turun dari motornya, dan berjalan ke arah Ashera.
"Hei-hei, apa yang mau kau lakukan hm? Mau menerobos kami?" salah satu dari ke tujuh rider itu maju ke depan, menghalangi Arvin untuk menggapai Ashera untuk dia bawa pulang.
"Minggir-" tekan Arvin, dia pun akhirnya melepaskan helmnya juga, dan begitu di buka, nampaklah wajah dari Arvin yang malam itu berhasil mencegat mereka membuat kerusuhan dengan saran yang cukup gila, karena merelakan Enzo untuk di keroyok di tempat lain.
"Jadi kau-"
"Wah, siapa ini ya? Bukannya ini ketua dari sekolah yang ada disana?" salah satu dari mereka ada seorang perempuan, dan dengan seringaian tipisnya, dia memandang Arvin dari atas sampai bawah dengan tatapan penuh dengan minat.
"Dia kan ketua geng Wolfonar, tepatnya sebagai ketua tim keamanan sekolah, jadi tidak ada yang tidak tahu tentangnya, makannya aku cukup terkejut saat ternyata orang inilah yang datang menyela perbincangan kita semua dengan Ashera." jawab Sofia kepada rekannya itu.
"Ho, pantas saja, anak ini hanya berdiri saja kelihatan seperti berandalan sekolah, ternyata punya tugas berat seperti itu ya?" ledeknya.
"Berat apanya, dia bahkan punya teman-teman yang lumayan juga, dia itu benar-benar pintar memilih anak buah loh," imbuh Sofia.
'Hoh ternyata anak ini punya nama geng nya sendiri. Aku sampai baru tahu.' batin Ashera sambil melirik ke arah Arvin yang sedang memandangnya dengan tatapan dingin.
Benar, bahkan hanya berdiri saja, aura hitam pekat milik Arvin pun langsung mencolek-colek tubuhnya agar segera pergi dari situ, karena urusan diantara mereka berdua saja sebenarnya masih belum selesai.
"Apa kalian semua sudah selesai bicara? Kalau mau puji, puji aku lebih keras lagi, itu baru bagus," ucap Arvin dengan seringaian miliknya yang cukup mengancam.
__ADS_1
"Anak ini, sikapnya benar-benar deh, ingin sekali aku tampol itu mulut," ucap salah satu teman Julio.
"Kalian semua diamlah, aku sedang menelepon omah," sela Julio detik itu juga, membuat mereka langsung terdiam, karena tidak berani untuk melawan ucapannya Julio, yang berada di posisi sebagai pemimpin mereka semua.
-"Halo Julio ada apa?"- tanya sang nenek Tina kepada Julio.
'Hah? Ini kan suara Nenek?' terkejut Arvin begitu mendengar suara yang cukup familiar untuknya. 'Julio, dia punya hubungan dengan nenekku? Bagaimana bisa? Apa hubungan diantara mereka berdua?'
Arvin, sebenarnya dia tahu siapa itu Julio, tapi yang tidak pernah dia pikirkan adalah ternyata Julio bahkan punya hubungan dengan sang Nenek.
Arvin sama sekali tidak tahu soal itu, bahkan jika bukan karena Julio yang tiba-tiba menelepon neneknya, dia pasti tidak akan pernah tahu sampai sekarang.
"Ashera, dia sudah aku temukan. Tapi masalahnya dia tidak mau pergi denganku, jadi kira-kira aku harus bagaimana?" kata Julio dengan begitu terus terang, seraya menatap datar Ashera yang sedang diam memperhatikannya.
-"Ashera, apa kau bisa membantu cucu dari teman nenek? Cep-"-
Hanya saja, agar Ashera tidak pergi dengan perintah dari Neneknya, Arvin pun dengan sengaja menyela ucapan neneknya itu.
"Ashera harus ikut aku pulang, apa itu juga tidak dibolehkan oleh anda?" ucap Arvin, dengan sengaja dia berbicara dengan sedikit formal, agar identitasnya sebagai cucu dari Nenek Tina ini tidak boleh ketahuan.
'A-arvin? Apa dia benar-benar tidak mau aku pergi? Sampai mau mencengkram tanganku dan bicara menyela neneknya sendiri, dia ini-' pikiran Ashera pun langsung terhenti saat Arvin kembali menatap ke arahnya dengan penuh makna.
"Jangan pergi, kau mau pergi dengan dia? Kalau begitu mending kau tidak usah pulang ke rumahku." itulah makna di dalam tatapan mata Arvin kepadanya, membuat Ashera pun jadinya langsung menutup mulutnya sendiri.
'Jangan-jangan dia cemburu ya? Jika aku pulang dengan laki-laki lain?' pikir Ashera.
__ADS_1