Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
192 : Hampir


__ADS_3

Malam harinya


Sesuai dengan kesepakatan yang sudah disepakati oleh Arvin, Arin, dan juga divin mereka bertiga pun melakukan pertemuan di tempat rahasia yang sudah ditentukan oleh Arin.


dan tempat rahasia mereka sekarang berada di rumah pohon. Rumah pohon itu sebenarnya tidak seberapa besar tapi cukup untuk dijadikan markas mereka bertiga.


Lantas yang jadi pertanyaannya di mana tempat rumah pohon ini? padahal rumah pohon ini dibuat oleh Arvin dan Divin?


Rumah pohon ini sebenarnya terletak di belakang rumahnya Arin karena kebetulan hari ini kedua orang tuanya sedang pergi bekerja di luar kota, maka dari itu Arin pun memutuskan untuk menjadikan rumah pohon di belakang rumahnya itu sebagai tempat pertemuan mereka bertiga.


"Jadi Divin, apa kau bisa menjelaskan apa maksud dari ini? Maksudnya kenapa pak tua ini yang sudah susah payah aku tangkap malah berada di sini ikut dengan kita? Seharusnya dia akan jadi objek penelitianku, gara-gara dia diam-diam menyelidiki ku dengan mempergunakan Marlina sebagai objek untuk mendekatiku?" tanya Arvin dengan panjang lebar sambil menatap pria sekitar usia 35 tahunan ini dengan tatapan yang sangat serius bahkan bisa dibilang dia mulai mencurigai sesuatu.


Sedangkan Divin, dia hanya terdiam melirik ke arah Paman tersebut.


"Ehem-ehem." tiba-tiba saja Arin datang dan membawa banyak cemilan di tas kain yang Arin bawa.


"Arin Memangnya pertemuan ini adalah piknik? Kenapa kau membawa banyak makanan begitu?" tanya Arvin dengan wajah seriusnya.


"Emangnya ini untukmu? Ini untukku loh. Aku kan banyak kerja, banyak pikir, maka banyak makan. lalu aku akan menjelaskan semua pertanyaan yang ada di kepalamu itu kenapa aku membawa Paman ini ke dalam bisnis rahasia kita."


Arvin mengernyitkan matanya, betapa absurdnya jika harus bicara dengan Arin ini.


"Bisnis apaan? Memangnya kita berkumpul untuk membuat bisnis jualan online?"


"Arvin mulutmu itu bisa diam tidak? Terus saja mengoceh, aku belum selesai bicara, kau selalu menyela ucapanku." lagi-lagi Arvin pun mendapatkan teguran dan kali ini dari Arin.


"Ah iya iya deh terserah cepat bicara jangan banyak ngomong kosong lagi." cibir Arvin dengan nada malasnya.


Divin yang hanya menyimak itu hanya bisa diam saja dan mendengarkan dua orang itu sedang bicara dengan begitu cepat.


"Padahal situ sendiri yang bicara omong kosong." cicit Arin.


"Apakah aku bisa meminta jajan yang sudah kebawa itu?" tiba-tiba saja Paman tersebut bicara dan malah meminta makanan kepada Arin.


"Nih makan saja semuanya kalau bisa sampai dengan sampah-sampahnya." melemparkan makanannya tepat ke wajah Paman tersebut.


BRUK


"Arin, Arin, Arin, kau tahu sendiri aku itu punya kesabaran tipis. Jangan membuatku menunggu lebih banyak dari ini atau aku akan menebang pohon ini sekarang juga." ancam Arvin. Karena Arvin lah yang membuatkan Arin rumah pohon bersama dengan Divin, maka dari itu, Arvin pun punya hak untuk mengancam Arin yang terus membual banyak bicara.


"Ih, jangan dong. Oke aku akan memberitahumu sekarang Paman yang ada di pojokan itu sebenarnya adalah pamanku dan untuk alasan kenapa Marlina dijadikan objek pertama dalam kasusmu itu karena Pamanku itu disuruh untuk memata-mataimu, tapi aku tidak tahu siapa yang menyuruhnya karena Paman masih bungkam."


"Arin, kalau bicara yang masuk akal kenapa?' Ketus Alvin. "Jika dia bungkam, lalu kenapa kau bisa tahu kalau pamanmu itu disuruh oleh seseorang untuk memata-mataiku?" satu poin utama itu pun langsung ditanyakan kepada Arin.


"Itu karena ini-" Arin pun memperlihatkan flashdisk kepada Arvin. "Ada sisa informasi yang bisa aku telusuri dan itu adalah transaksi yang cukup besar antara Pamanku dan juga dalang dibalik ini semua. lalu Sebagai tambahan, Pamanku ini, jika dia bicara siapa dalangnya dia akan segera mati.


Kenapa? Karena di dalam jantungnya tertanam sebuah alat kendali jarak jauh. Dan jika pamanku melanggar peraturannya Pamanku akan meninggal.


Itulah yang aku maksud lenapa Pamanku bungkam siapa dalang dibalik ini semua. Lagi pula aku juga tidak mau paman yang baru aku temui ini harus meninggal karena Paman ini adalah adik dari ayahku yang sudah lama menghilang. Sangat kebetulan kan pasti ini akan jadi sesuatu yang menarik." Arin memang tidak tahu ternyata Ayahnya punya adik, dan rupanya adiknya adalah orang yang sudah lama menghilang.

__ADS_1


Maka dari itu, Arin pun dengan sengaja membiarkan pamannya tinggal di rumahnya lebih dulu.


Setelah Arin menjelaskannya dengan panjang lebar, Arvin pun terdiam. Dia memikirkan segala cara bagaimana caranya dia untuk menemukan dalang dibalik ini semua.


"Lalu Divin kenapa kau diam saja bicara dong jangan diam saja." pinta Arvin.


"Memangnya aku harus bicara apa? Aku kan di sini hanya mengikuti aturan kalau ada pertemuan aku ikut." sungguh, itu adalah jawaban yang sangat logis juga.


Jawaban dari Devin pun membuat Arin jadinya menepuk dahinya sendiri, betapa aneh temannya ini.


__________


Setelah acara pertemuan yang diiringi dengan sedikit pesta kecil-kecilan, karena Arin memiliki banyak makanan yang bisa dimakan oleh Arvin karena Arvin sendiri juga suka makan, di akhirnya bisa pulang dengan perut kenyang.


"Arvin, benar kan kau Arvin?"


Karena kebetulan sekarang Arvin menggunakan sepeda motor berwarna hitam maka mobil yang dikendarai oleh Arliana pun mengimbangi kecepatan laju motornya Arvin, dan tanpa basa-basi Arliana lagi-lagi menyapanya seakan perempuan ini tidak pernah kapok apa yang sudah terjadi kepadanya sebelum sebelum ini.


"Kenapa kau tidak jalan terus mengganggu saja."


"Namanya juga ada kenalan, kenapa tidak menyapanya sekalian?" balas arliana. "Ngomong-ngomong apa kau mau mampir ke bar bersamaku?"


"Hah mimpi saja sana kenapa aku harus pergi kesana? Padahal aku bisa pergi ke tempat lain tanpa harus bersama denganmu." Arvin langsung menolaknya, karena dia sama sekali tidak ingin berurusan dengan Arliana.


Hanya saja di tengah-tengah perbincangan mereka berdua, jalan yang mereka lalui ternyata dikuasai oleh banyak anak muda yang akan melakukan tawuran.


"Apa kau mau menerobosnya?" tanya Arliana


Tapi dengan polosnya, Arliana langsung membalas, "Apa maksudmu aku akan dilempari batu?"


dan baru juga berbicara seperti itu, tawuran yang ada di depan mereka Langsung menjadi lebih besar. Ratusan batu dalam berbagai ukuran tiba-tiba melayang dan mengarah ke arah mereka.


"Gawat Aku tidak mau mobilku lecet!" Arliana yang tidak memiliki waktu untuk berputar arah lebih memilih untuk melajukan mobilnya dalam kondisi mundur ke belakang dengan kecepatan tinggi sedangkan Arvin dia langsung memutar motornya dan melajukan motornya mengikuti kemana perginya Arliana.


"Wah ada yang kabur kejar mereka mereka juga pasti komplotan yang sama!" teriak salah satu orang memprovokasi teman-temannya agar mereka bisa segera mengejar dua kendaraan itu secepat mungkin dan mencegahnya pergi dari jangkauan mereka.


Beberapa motor pun langsung mengejar Arvin dan Arliana.


"Waduh kenapa mereka malah mengejar kita?" tanya Arilana dengan nada berteriak.


Arvin yang tidak mau menanggapi perkataannya Arliana memilih untuk lebih mengebut.


Apa alasan mereka mengejar aku dan Arliana? Bodoh, apa mereka akan selalu menganggap orang yang kabur adalah komplotannya?' Arvin pun dibuat berpikir di sela-sela dia harus berkonsentrasi dalam menyetir.


DHUAR…


Tapi sesuatu yang tidak terduga terjadi sebuah ledakan dari salah satu ban mobil milik Arilana membuat mobil yang dikendarai oleh Arliana hampir saja menabrak pohon.


CKIITTT….

__ADS_1


"hah...hah...hah..., kenapa mereka malah mengejarku? Apa aku akan menjadi bulan-bulanan mereka? Aku bahkan tidak tahu apa-apa. Malam ini kenapa nasibku sial sekali sih pakai acara ban meletus segala." Arliana mendengus kesal. Untung saja dirinya tidak terlihat kecelakaan yang begitu serius.


Kumpulan pemotor liar mulai menghampiri mobil Arliana yang sudah berhenti tepat di depan pohon persis.


Melihat hal tersebut Arvin pun langsung balik arah untuk menyelamatkan Arliana.


"Woi kalian jangan pergi!" teriak salah satu dari geng motor liar itu.


"Wah! Kenapa kita tidak boleh pergi?" cicit Arliana dia langsung keluar dari mobil dan berlari untuk menyelamatkan diri. Tapi ternyata karena Arvin berbalik arah dan menawarkan untuk memboncengnya, maka dia pun langsung naik.


"Waduh mereka kabur apa kita harus mengejarnya?!"


"Kau bodoh ya? Dia dan kita punya spesifikasi kecepatan yang berbeda jadi walaupun kita bisa mengejarnya tapi akan membutuhkan waktu, apalagi dia sudah ngebut sejauh itu! Jadi percuma jika kita mengejarnya, yang ada kita bisa celaka." Peringat salah satu temannya, memberitahu untuk tidak perlu lagi mengejar Arvin dan Arliana.


"Kalau begitu mobil ini?"


Mereka berhenti, dan melihat ke arah mobil mewah yang di tinggal oleh Arliana.


"Kita cari barang berharganya saja." timpal temannya yang lain.


Mereka mengangguk setuju. Namun belum apa-apa, bahkan belum juga menyentuh body mobil milik Ariana itu tiba-tiba saja ada satu geng motor yang datang dari arah berlawanan menghampiri mereka dan itu dipimpin oleh Julio.


Cekrek


"Ah ketahuan nih, kalian pasti mau mencuri kan? Oke tidak masalah aku sudah mengirimnya ke kakakku. Nanti kalian hanya tinggal ditangkap doang." tawa keras dari salah satu temannya Julio membuat para tersangka yang tadi mengajak Arvin dan Arliana untuk jadi korban tawuran, langsung beringsut dengan wajah marahnya.


Tanpa basa-basi lagi mereka berenam turun dari motor, batu celurit dan bahkan ada juga bisa yang mereka bawa mereka keluarkan dan ingin menyerang geng motornya Julio.


Julio yang dari tadi diam menaikan kaca helmnya ke atas, tanpa bicara apapun dia pun langsung mengeluarkan pistol mainannya yang sama-sama berwarna hitam dan terlihat sangat nyata .


KLEK...


Tidak hanya Julio tapi teman-temannya pun sama dan mengangkatnya secara serentak ke arah lawan mereka.


"Apa kalian masih ingin mencoba menantang kami?" tanya Julio dengan sorotan matanya yang cukup tajam.


"Hei hei mereka membawa senjata, bisa-bisa kita habisi oleh mereka. Lebih baik kita kabur saja dari sini daripada melawan mereka jumlah kita tidak sebanding." ungkap salah satu dari mereka, untuk segera mundur.


Mendengar saran dari salah satu teman mereka, mereka pun memutuskan untuk mundur tanpa adanya perlawanan apapun dengan kelompok gengnya Julio.


"Muhahahahaha" suara tawa yang begitu menggelegar keluar dari mulut pemilik dari motor sport berwarna merah. "Padahal kita hanya menodongnya dengan pistol mainan tapi mereka Langsung pergi terburu-buru seperti itu." ucapnya lalu disusul dengan tawa dari teman-temannya juga.


"Oh ya mobil ini kayaknya sangat familiar warnanya pink mencolok dan sangat blink-blink."


"Itu mobilnya Arliana." jawab Julio


"Arliana si cewek cantik dari sekolah yang sama dengan Arvin kan? Lalu kalau mobilnya ada di sini orangnya ada di mana?"


"Aku pikir dia kabur dengan seseorang yang membawa motor. Lagi pula dia kan orang kaya dia tidak akan memperdulikan mobilnya selain nyawanya."

__ADS_1


Mereka pun mengangguk setuju dengan kesimpulan dari ketua mereka.


'Sudah lebih dari 4 hari aku tidak menemukan perempuan itu lagi, jika ada Arvin, biasanya ada gadis itu juga. Kira-kira sekarang dia ada dimana ya?' pikir Julio.


__ADS_2