
"Yo, ayo..yo..yo.." Sambil mendengarkan musik lewat earphone bluetooth, Ahsera pun menikmati perjalanannya seorang diri. Dia pergi dengan tujuan ke Mall, dan demi mempersingkat waktu tempuh, dia pun melewati taman kota.
Di sanalah, Ashera meluncur dengan sepatu rodanya dengan begitu santi, tapi juga memperlihatkan kelihaiannya dalam menggunakan sepatu roda tersebut.
"Yeah, lagunya bagus nih untuk nge dance." Ucap Ashera dengan raut wajahnya yang begitu girang, karena ia merasa bebas melakukan apapun yang ingin ia lakukan sendirian.
Sampai beberapa orang yang sedang jalan-jalan di taman, juga memperhatikan Ashera yang begitu menarik perhatiannya, sebab Ashera berhasil membuat sebuah tontonan menarik untuk banyak mata yang memandang ke arahnya.
"Wah, dia anak sekolah, kelihatannya sedang asik sendiri tuh." ucap salah satu murid SMP yang sedang duduk bersama dengan dua orang temannya.
"Dia bisa pakai sepatu roda seperti itu, berapa lama dia sampai punya skill seperti itu."
"Kalau dia ikut lomba, pasti menang tuh."
Ashera yang tidak tahu apapun soal pembicaraan mereka yang berbisik tentangnya, hanya pergi mengikuti suasana hatinya itu.
Begitu dia berhasil melewati taman kota yang jaraknya sampai satu kilometer itu, Ashera pun berhasil sampai di belakang gedung Mall.
"Akhirnya, sampai juga. Sekarang tinggal ganti sepatu." Lirih Ashera. Dia pun pergi ke satu batu yang bisa ia jadikan sebagai tempat duduknya, dan langsung mengganti sepatu rodanya dengan sepatu sekolahnya.
Sampai, di titik yang sama pula, tiba-tiba saja sebuah bayangan langsung menutupi pencahayaan di depan Ashera.
"Ashera."
Dan itu adalah suaranya Fajar.
'Waduh, kenapa fajar malah ada di sini? Aku harus bilang apa jika dia tanya aku disini ngapain?' Ashera pun cemas. Padahal niat awalnya untuk pergi ke Mall adalah ingin mencari hadiah. Tapi, keberadaan dari orang yang akan ia beri hadiah, berhasil membuat Ashera kelabakan sendiri.
"Terima kasih, bayanganmu jadi tidak membuatku merasa silau." Ashera jadi melantur, walaupun kenyataannya dia bisa berteduh berkat keberadaan dari Fajar yang berdiri di depannya dan menghalangi sinar mataharinya.
Fajar awalnya terdiam, rupanya Ashera berterima kasih karena merasa terbantu. "Tapi, apa kau datang kesini sendirian?"
"Iya. Memangnya siapa orang yang bisa aku ajak untuk menemaniku pergi ke tempat tujuanku? Mereka kan kebanyakan tidak suka denganku karena aku adalah seorang pelayan rendahan yang kebetulan diberi perhatian majikanku sendiri untuk sekolah itu." jawab Ashera dengan begitu lugas, bahkan sampai membuat Fajar sedikit tersinggung, sebab semalam saja ia juga baru saja berbicara dengan sang Ibu, bahwa ia tidak akan menyukai seseorang yang punya status yang tidak setara dengannya.
Padahal, jauh di lubuk hatinya, sebenarnya Fajar menyukai Ashera.
Selesai mengganti sepatu, Ashera meletakkan sepatu rodanya di dalam tas sekolah miliknya, dan ia pun berdiri dari atas batu tempat ia duduk tadi.
"Kau mau apa di Mall? Apa ada janji kencan dengan kekasihmu?" Tanya Ashera dengan polosnya.
Membuat Fajar tersenyum simpul dan menjawab : "Aku ini masih single, jadi mana mungkin aku kencan dengan orang yang bahkan tidak tidak bisa aku gunakan sebagai kekasih untuk kencan."
__ADS_1
Ashera terdiam sejenak, lalu kembali berkata : "Padahal kau tinggi, tampan, dan punya jabatan yang lumayan, tapi bagaimana bisa kau tidak memiliki kekasih?"
DEG....
Dalam diam, Fajar langsung tersipu malu dengan pujian yang tiba-tiba saja keluar dari mulutnya Ashera.
"Karena aku menolak untuk punya kekasih. Makannya aku tidak punya pasangan." Jawab Fajar dengan jujur.
Ashera melirik ke arah Fajar. Raut wajahnya yang begitu datar, membuat kesan dari pria rupawan itu lebih mempesona.
"Kalau begitu, kau datang kesini, apakah karena kau ingin beli sesuatu?" Tanya Ashera, dia langsung mengubah topik pembicaraannya.
"Ya, kau pasti juga punya tujuan yang sama juga kan?" Toleh Fajar terhadap Ashera yang kini berjalan di sampingnya persis. "Apa kau mau kita pergi bersama?"
"Apa? Kenapa kau mengajakku pergi belanja bersama? Aku ini orangnya pemilih, lama, dan tidak bisa jadi partner belanja." jawab Ashera.
"Lagi pula waktuku juga luang banyak, tidak masalah jika kau bahkan lama memilih barang yang ingin kau beli." ucap Fajar detik itu juga.
'Kenapa dia tiba-tiba aktif mendekatiku?' Tatapan penuh dengan rasa penasaran pun menumpuk di dalam benaknya. "Terserahmu lah. Tapi saat aku sudah beli barang-barangku, aku tidak bisa menemanimu. Aku juga sibuk." Balas Ashera.
"Tidak masalah, aku juga belum pernah menemani perempuan belanja, itung-itung ku belajar sabar, rasanya itu seperti apa." Jawab Fajar dengan santai, seolah itu bukan masalah besar.
_______________
Belanja di Mall selalu ada kesenangannya sendiri, walaupun semua barang di sana naik jadi dua bahkan tiga kali lipat dari harga pasaran yang di jual Mall.
Tapi, karena ada alasan khusus kalau ia akan membuat hadiah yang baik, dia harus memperhatikan sendiri barang yang harus ia beli.
Sampai, kejadian tidak terduga tiba-tiba saja terjadi.
'A-Arvin?! Kenapa dia juga ada di sini? Jangan-jangan dia mengikutiku? Tapi tunggu, kalau dia tahu aku jalan dengan Fajar, meskipun Fajar hanya beralasan untuk menemaniku belanja, pasti saat pulang, dia akan berdebat lagi denganku.' pikir Ashera, begitu ia tidak sengaja melihat Arvin sedang melihat-lihat ke arah etalase toko yang memperlihatkan sebuah gaun pengantin bersama dengan setelah jas tuxedo. 'Tapi apa yang dia lakukan sampai menatap etalase butik itu?'
'Arvin, dia di sini juga? Kenapa rasanya selalu sering berpapasan seperti ini?' Dan Fajar yang tahu soal keberadaan dari Arvin, dengan segera ia langsung menarik pergelangan tangannya Ashera dan membawanya masuk kedalam toko perlengkapan alat tulis.
Dan ketika Fajar dan Ashera pergi masuk kedalam toko, Arvin pun akhirnya memutar tubuhnya dan menatap ke arah tempat terakhir mereka berdua ada di sana.
'Jadi begitu ya? Kau tidak langsung pulang karena ingin kencan dengan Fajar?' Pikir Arvin.
Arvin pun merasa ia telah di bohongi. Padahal beberapa saat tadi, ia merasa jiwanya tertarik dengan set gaun dan jas pernikahan itu, karena itu membuat dia teringat dengan hari milik mereka berdua.
Tapi, semua khayalan itu jadi langsung hancur saat Ashera berjalan berdua dengan Fajar.
__ADS_1
_______________
TAP...TAP.....TAP.....
Langkah dari sepatu itu terus menggema di koridor apartemen lantai dua puluh. Ashera yang berhasil belanja kebutuhannya, sampai ia punya beberapa tas belanja yang cukup besar, membuat ia sedikit kesusahan untuk berjalan.
Tapi usahanya untuk membawa semua barang belanjaannya sendiri, tidak sia-sia karena ia berhasil pulang.
Akan tetapi, saat Ashera hendak memasukkan nomor sandi, tiba-tiba saja pintu nya terbuka dari dalam.
KLEK...
Dua orang itu pun berpapasan. Ashera yang memandang penampilan Arvin yang cukup rapi, serta Arvin yang memandang semua tas belanja yang sedikit banyak.
Mereka seketika punya persepsi masing-masing mengenai apa yang mereka berdua lihat dengan mata kepala mereka sendiri itu.
'Jadi dia akhirnya belanja bersama dengan Fajar, dan itu barang belanjaannya?' tatap Arvin pada semua tas belanja tersebut.
'Dia sudah rapi dan wangi seperti ini, apa dia mau pergi keluar? Padahal sebentar lagi petang, dan dia mau pergi?' Pikir Ashera juga.
"Kau mau perg-"
"Bukan urusanmu." Sela Arvin detik itu juga, dan langsung menyerobot keluar dari rumah melewati Ashera.
"Sebentar, kau mau pergi kemana? Ini sudah hampir malam. Lalu kau belum makan, kan?" Cegat Ashera, berhasil mencengkram tangan kirinya Arvin.
Tapi dengan cueknya, Arvin menjawab : "Aku kan bisa beli, aku harus pergi ke ulang temanku yang lain. Jangan mencegatku pergi juga." Lalu dengan kasar, Arvin menepis tangannya Ashera.
"Tapi kau akan pulang jam berapa?"
"Pikir saja sendiri. Aku sudah terlambat, sana masuk saja, tidak usah menungguku."
Tapi, Ashera yang ingin tahu setidaknya Arvin mau pulang jam berapa, lagi-lagi langsung kembali mencengkram tangannya Arvin agar menjawabnya lebih dulu. "Tapi jawab dulu, kau mau pulang jam berapa?" Tegas Ashera.
"Jam sembilan!" Arvin yang kesal karena soal Ashera yang pergi dengan Fajar, dan di tambah Ashera terus saja mulai membatasi ruang kebebasannya, dengan tangan yang langsung menepis tangan Ashera dengan cukup kasar, Arvin tanpa sengaja jadi membuat tubuh Ashera terdorong ke belakang dan...
PRANG....
Tas belanja yang di bawa di lengan kanannya Ashera, tiba-tiba tas itu sobek, dan menghancurkan belanjaan yang ternyata mudah pecah itu.
'Aku tidak sengaja. Tapi apa gunanya? Pasti itu barang belanja pemberian anak itu. Sudahlah, dari pada di sini terus aku jadi salah tingkah sendiri gara-gara dia, mending aku pergi.' Dengan begitu cueknya, Arvin pun pergi dari sana dan meninggalkan Ashera yang sedang terkejut karena belanjaannya pecah.
__ADS_1