Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
195 : Hadiah


__ADS_3

“Eh lihat itu, rasanya ada yang berbeda dengan Ashera.”


“Oh iya, benar. Dia sepertinya jauh lebih bersih.”


“Hmm,...apa ini perasaanku saja atau memang benar ya?” 


Karena sekarang Dini masih dalam posisi di skors oleh pihak sekolah, maka di hari pertama mereka sekolah, dan bahkan masuk kedalam kelas, di dalam ada tidak adanya keributan atau apapun itu. 


Tidak hanya perempuan saja yang terus menaruh perhatiannya kepada Ashera yang sedang mencoba untuk diam sambil mendengarkan musik, dan menganggap tidak ada orang di sana, Ashera pun menatap ke arah keluar jendela. 


Bahkan para laki-laki yang satu kelas pun, sama-sama menaruh perhatian mereka pada gadis yang sedang duduk di barisannya sendirian itu. 


“Kau lihat tidak? Dia sepertinya jadi lebih cantik. Aku tidak mungkin buta, kulitnya bahkan terlihat lebih putih dan bersih.”


“Cie, apa kau akhirnya naksir pada Ashera?” tanya salah satu temannya tersebut. 


Tapi dia tetap diam, dan sudut matanya tidak bisa di alihkan untuk tidak menatap ke arah Ashera terus. 


“Kira-kira dia melakukan perawatan kulit sampai berapa juta tuh?”


“Hah, dia kan hanya seorang pelayan yang di sekolahkan di sini, pasti gajinya juga biasa saja, bahkan jika di hitung dari uang saku kita, uang saku kita justru lebih besar ketimbang dia.” cibir salah satu perempuan yang merasa iri. 


Ya, sebenarnya merasa iri, karena penampilannya Ashera jadi jauh lebih menarik, bahkan rambut yang di ikat satu iut saja, nampak begitu lembut, padahal hanya di lihat saja. Bukannya sangat menyebalkan? Karena pada akhirnya di dalam kelasnya ada orang lain yang bisa menarik perhatian semua laki-laki, padahal selama ini saja Ashera selalu di cuekkan oleh mereka. 


‘Aku sudah mendengarkan lagi, tapi kenapa masih saja bisa mendengar apa yang mereka bicarakan soal aku sih?’ pikir Ashera. 


Merasa sumuk di dalam kelas terus, Ashera pun pergi keluar dari sana. 


Tidak ada satu teman pun di dalam kelasnya sendiri, maka dari itu, meskipun Ashera tiba-tiba berjalan keluar, tidak ada satupun yang mencegatnya ataupun menegur mau pergi kemana. 


Dia berjalan sendirian, melewati puluhan murid yang berlalu lalang di koridor sekolah. 


Sampai ketika dia melewati ruang kelas dengan kaca jendela itu memantulkan wajahnya, Ashera pun langsung berhenti dan menatap wajahnya sendiri. 

__ADS_1


‘Satu minggu melakuan perawatan kulit seperti yang di sarankan oleh Arvin kepadaku, hasilnya aku memang jauh lebih cantik? Memangnya aku terlihat cantik ya?’ Ashera yang masih saja penasaran dengan wajahnya sendiri yang memiliki kulit wajah yang semakin bersih dan putih mulus, dia pun jadinya secara refleks lebih mendekati kaca jendela kelas yang tertutup tirai itu. ‘Memangnya begitu ya? Tapi bagiku terlihat biasa saja atau entahlah.’ terjerat dengan penampilannya sendiri, Ashera pun mencoba untuk memejamkan matanya sejenak. 


Hanya saja, ketika dia membuka matanya, ternyata tirai jendela di dalam kelas tiba-tiba saja sudah terbuka, dan memperlihatkan sosok dari wakil ketua Osis, yaitu Fajar. 


‘Fajar!’ Ashera yang terkejut itu langsung mundur satu langkah ke belakang. 


Fajar yang sebenarnya sama-sama terkejut dengan kehadiran dari Ashera yang justru sedang bercermin di depan jendela kelasnya, langsung pergi dari sana untuk menghampiri Ashera. 


“Ashera-” Fajar memanggilnya. 


‘L-loh..loh, kenapa dia malah keluar dari kelas, dan dia malah pergi ke arahku?’ Ashera yang panik kenapa anak itu malah pergi menghampirinya, Ashera pun jadi gugup sendiri. Dia tahu, dia tidak boleh pergi, karena kali saja Fajar ada urusan dengannya. “M-maaf, aku tidak sopan.” Ashera langsung meminta maaf dengan serta merta tanpa diminta oleh Fajar. 


“Ashera, kenapa kau malah minta maaf? Itu kan tidak di sengaja, dan aku juga tidak sengaja malah menatapmu seperti itu.” kata Fajar, tiba-tiba jadi panik sendiri, karena setelah hampir setengah bulan tidak bertemu dengan Ashera, justru pertemuan mereka berdua malah di waktu aneh mereka berdua. 


“Tapi akulah yang malah berermin sembarangan, jadi akulah yang seharusnya min-”


“Ashera.” Fajar pun jadinya memanggil nama Ashera dengan lebih tegas lagi. Dan hal tersebut pun sukses membuat Ashera berhenti bicara. “Tidak perlu minta maaf.”


Ashera jadi bingung, harus bicara apa lagi. 


“Permintaan apa?”  tanya Ashera dengan polosnya. 


Fajar yang tidak mau ada orang lain yang mendengar ucapannya, lantas dia pun membungkukkan tubuhnya ke arah Ashera dan menjawab : “Aku kan memintamu untuk memilih hadiah apa yang kau suka, mumpung aku berada di korea waktu itu, tapi kau malah menjawab tidak.” 


“Tapi- aku memang tidak perlu kan? Lagian kau dan aku ada hubungan apa sampai kau memintaku membelikan hadiah yang aku suka?” tanya balik Ashera. 


“Aku kan ingin berterima kasih karena kau memberikanku hadiah yang sangat bagus, jadi aku ingin membalasnya juga.”


“Itu kan hadiah ulang tahunmu, jaid ya kau tidak perlu membalas hadiahku juga.” jawab Ashera lagi. 


Fajar terdiam, lalu tiba-tiba saja dia pun menyunggingkan senyuman simpulnya. “Kau ada benarnya juga. Kalau begitu aku harus apakan ini?” 


Fajar malah dengan senang hati, tiba-tiba saja mengeluarkan sebuah jepit rambut dari saku blazer nya, dan segera memberikannya kepada Ashera. 

__ADS_1


“Ini- jepit rambut? Kenapa kau memberikan ini kepadaku? Berikan saja pada pacarmu.” 


“Haih, masa kau tidak tahu, aku itu tidak punya pacar, jadi aku bisa memberikan ini kepadamu saja. Kenang-kenangan, apa jepit rambut seperti ini saja kau mau menolaknya? Aku juga memberikannya kepada Yuli juga, lagi pula kau sudah membantu kasus soal Dini. 


Tahu kan kenapa Dini sekarang bisa di skors, itu karena kau mau jadi saksi dan bahkan karena hal ini, kami jadi punya bukti untuk menghukum dia untuk tidak sekolah di sini selama satu bulan.”


‘Aku tidak tahu apa yang dia bicarakan, tapi Dini ini memang tidak masuk sekolah sih. Apa aku harus menerima jepit rambut ini? Lagian juga hadiah kecil dan cukup cantik. Kalau aku menolaknya, sama saja tidak menghargai kebaikan hatinya,’ setelah berpikir panjang, dan lagipula dia tidak enak untuk menolak pemberian itu dari Fajar, Ashera pun akhirnya mau menerimanya juga. “Baiklah, aku akan menerimanya. Terima kasih. Tapi sebaiknya jangan lagi ya, nanti fans mu malah membullyku bagaimana?” 


“Pfftt…, kalau ada yang membully mu, kau kan tinggal lapor saja kepadaku. Tugasku memangnya hanya menduduki jawab wakil Osis saja?” balas Fajar. Dan di dalam hatinya pun dia merasa cukup senang, karena akhirnya hadiah yang dibeli dengan harga yang mahal, tapi karena barangnya cukup sederhana, Ashera pun jadi mau menerimanya. 


Walaupun seperti sedang menipu, karena memanipulasi produk jepit rambut itu, karena menganggap Ashera adalah orang yang tidak tahu apa-apa, maka dari itu Fajar jadinya memanfaatkan ketidaktahuan itu dengan cara seperti ini. 


Dengan begitu Fajar pun jadinya merasa lega sekaligus senang, karena Ashera bisa mau menerima pemberiannya. 


"Benar juga ya? Wah, betapa bodohnya aku ini." gerutu Ashera.


"Bodoh apanya Ashera? Kau bahkan menduduki peringkat dua puluh besar. Itu bukan bodoh, tapi kau termasuk pintar."


Sepersekian detik itu juga, Ashera di buat mangap, karena Fajar justru menyebutnya pintar, di saat Arvin saja selalu saja menganggap sebagai perempuan yang bodoh.


"Kenapa kau sangat baik sekali kepadaku? Kau sangat bertolak belakang dengan Arvin."


"Sifat manusia kan beda, aku baik kepada semua orang kok." jawab Fajar. Sebenarnya dalam benak hatinya, dia sendiri merasa tersanjung dengan pujian yang di berikan Ashera kepadanya.


"Kau sama sekali tidak bodoh. Jika ada orang lain yang menyebutmu bodoh, justru itulah orang yang paling bodoh. Karena tidak tahu nilai setiap orang itu pasti berbeda. Tentu saja ini berlaku untuk semua orang." penjelasan dari Fajar pun langsung mengenai sasaran.


'Kenapa aku merasa ada yang sedang membicarakanku ya?' Arvin yang baru saja membeli minuman di vending machine, lantas menoleh ke belakang, dan akhirnya melihat ada dua orang yang dia kenal sedang asik bicara.


Dan hal itu pula, jadi satu masalah yang akan dihadapi oleh Ashera saat di rumah, sebab tanpa di sengaja perbincangan antara Fajar dan Ashera, dilihat oleh Arvin. 


'Hah, jadi kalian berdua malah asik membicarakanku dari belakang ya?' pikirnya.


"Arvin, ayo main basket." Alfian yang baru saja lewat itu, langsung merangkul belakang lehernya Arvin dan menyeret anak itu pergi dari sana, sehingga Arvin pun hanya bisa melihat Fajar dan Ashera sesaat saja.

__ADS_1


'Ashera, kau harus menjelaskannya di rumah.' batinnya.


Dan saat itu juga, tiba-tiba saja Ashera merasa kalau bulu kuduknya jadi meremang. 'Kenapa aku jadi merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi kepadaku?'


__ADS_2