
30 Menit sebelumnya. Di saat di rumah sang Nenek Tina dan Luna sedang berkunjung ke rumah, membuat suasana tegang dan baru diantara mereka bertiga besama dengan Ashera tentunya, tiba-tiba saja Nenek Tina angkat bicara lagi setelah keheningan yang terjadi.
"Hera, apa kau mau ikut denganku ke Mall?" Tanya Nenek Tina.
'Ada apa ini? Kenapa kebetulan seperti ini? Aku kebetulan harus mencari baju baru karena yang sebelumnya sudah sangat kotor dan aku pikir sudah seharusnya ganti.' Dengan pemikiran seperti itu, Ashera pun mengiyakan tawaran itu. "Mau."
Dan begitulah, setelah Ashera memilih untuk ikut, karena ia memutuskan pulang sendiri nantinya, mereka bertiga memutuskan berpisah di keramaian di dalam Mall, sebab Ashera ingin belanja sendiri dengan lebih leluasa, berkat sudah mendapatkan kartu ATM gajian miliknya yang ia titipkan kepada kak Luna.
Alasan Ashera menitipkan kartu ATM alias tabungannya ke kak Luna sendiri, agar Ashera tidak begitu terlalu boros untuk memakainya, makannya itulah cara miliknya untuk menekan agar tidak jadi orang yang boros.
Tapi- entah kebetulan dari sebuah takdir, Ashera yang suka pergi jalan ke sana dan kesini jika sudah ada di Mall, dia tanpa sengaja melihat Arvin, justru sedang bersenang-senang dengan teman-temannya.
'Arvin-' Panggil Ashera di dalam benak hatinya. 'Bukannya pulang jika sudah pulang, kenapa malah pergi jalan-jalan dengan teman-temannya? Bukan itu, jika memang iya mau pergi setelah pulang sekolah, bukannya setidaknya dia memberitahuku dulu?' Ekspresi wajah Ashera pun jadi muram ketika ia harus di hadapi satu fakta lainnya, yaitu ketika ia harus melihat Arvin malah berbagi air minum dengan Marlina.
Tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, Ashera yang tadinya berdiri mematung menonton keterkejutan dari Arvin itu sendiri karena tidak menyangka akan dipertemukan di Mall, dia pun berjalan menghampiri mereka berenanm.
"Arvin." panggil Ashera. "Itu kan bekas air minum orang lain, kenapa kau malah minum dari botol yang sama?" Protes Ashera dan langsung menyambar botol air yang di pegang oleh Arvin dan di kembalikan kepada sang pemilik.
"Kau! Siapa kau? Berani sekali membuat masalah dengan Arvin di sini." Marlina langsung maju ketika bertemu Ashera untuk pertama kalinya.
"Iya tuh, tiba-tiba malah membuat keributan di sini." ucap temannya Marlina, langsung menatap Ashera dengan tatapan merendahkan. "Penampilan biasa saja, bahkan terlihat kampungan untuk ukuran orang miskin sepertimu. Jangan-jangan kau menyelinap masuk kesini ya?"
"Nah, ngaku loh, disini kan ada pembatasan orang yang masuk, bagaimana bisa orang biasa sepertimu bisa masuk kesini?" kata satu temannya Marlina yang lainnya.
Bahkan kedua pacar dari kedua teman-teman Marlina hanya tertawa cekikikan melihat keberadaan dari Ashera yang begitu menonjol sebagai orang yang terlalu biasa.
"Hahaha, pasti menyenangkan ya, bisa menyelinap masuk kesini dan mungkin saja tanganmu itu sudah mencuri salah satu barang di Mall ini."
"Pfft, pastinya dong. Dia pasti sudah mencuri barang yang tidak akan mungkin di sadari oleh pihak toko sendiri." papar Marlina, menghinanya lagi.
"Padahal Mall ini Mall yang mewah, kenapa ada orang udik kesini? Bukannya mengganggu pemandangan ya?" Hina laki-laki yang satunya lagi terhadap keberadaan Ashera yang bagi mereka berlima cukuplah mengganggu.
"Walah, kenapa tiba-tiba saja diam? Apa kau akhirnya malu, karena ketahuan ya? Ketahuan menyelinap, dan ketahuan mencuri?" kata Marlina lagi, sampai secara kebetulan suut matanya melihat ada satu cincin emas putih yang melingkar di jari tengah. "Oh, itu kan cincin yang cukup mahal, apa itu salah satu hasil curianmu?"
"Bukanya seharusnya di laporkan ya?"
"Iya tuh, sebelum kabur sebaiknya cepat di laporkan."
Ashera yang tidak begitu menggubris semua ucapan itu, sekalipun saat ini banyak orang yang sedang memandang ke arahnya, hanya diam dan menatap Arvin sampai akhirnya ia angkat bicara : "Arvin, apakah kau berteman dengan manusia seperti mereka?"
'M-manusia?!'Sontak mereka semua langsung tersinggung dengan penuturan Ashera.
__ADS_1
"Kau, jangan asal bicara ya? Dia itu pacarku." Marlina yang tidak mau di sindir seperti itu, langsung mengadu. Marlina segera memeluk lengannya Arvin dan memperlihatkan kedekatan diantara mereka berdua.
'Marlina, dia malah kehilangan kendali lagi. Kalau seperti ini- dia jelas-' Arvin seketika langsung maju untuk bicara lebih dul, "Memangnya ap-"
Belum sempat bicara, Ashera mencuri perkataannya Arvin : "Arvin, aku tidak butuh omong kosong dari para monyet yang bahkan tidak tahu mana rumahnya sendiri. Aku butuh kau, setidaknya aku lebih baik dari pada mereka berlima."
'Monyet?' mereka semua langsung tersinggung detik itu juga, sampai kedua teman Marlina, seketika langsung maju.
"Kelihatannya kau perlu diberi pelajaran, siapa yang sebenarnya ada monyet kesasar."
"Hah, awas saja, aku tidak akan membiarkanmu!"
Kedua perempuan itu pun berjalan menghampiri Ashera. Ashera yang menyadari kehadiran dari temannya Marlina itu mau membuat lebih banyak keributan, secara, Ashera segera bicara dengan keras.
"Sat-mphh..!" dan giliran Ashera hendak berteriak keras untuk memanggil penjaga yang kebetulan ada di depan sana, mulutnya tiba-tiba saja langsung di bungkam.
Marlina yang tadinya sedang memeluk lengan Arvin, dalam seketika objek untuk ia peluk, sudah kabur dari tubuhnya dan sudah berpindah di depannya Ashera yang hampir berteriak itu.
"Arvin!" Panggil Marlina, kesal melihat Arvin malah menggunakan tangannya itu untuk menutup mulut dari perempuan lain.
"Diam." ucap Arvin lirih, memerintahkan Ashera yang mau berteriak memanggil pertolongan, untuk diam saja.
Tatapan mata yang nampak seperti sebuah telepati itu, berhasil di respon oleh Arvin juga.
"Itu kan salahmu sendiri, kenapa kau datang ke tempat seperti ini hanya dengan menggunakan pakaian yang terlihat kampungan seperti itu." balas Arvin saat itu juga dengan tatapan mata yang sama-sama menyiratkan banyak ucapan yang di sampaikan untuk Ashera.
Semakin jengkel dengan sikap Arvin yang mau membatasi hak nya untuk bersuara, membela diri, Ashera memilih untuk segera menggigit tangan yang di gunakan untuk membekap mulutnya itu.
GERRT.
"Akh.." Rintih Arvin.
"Satpam! Di sini ada orang yang asing yang seharusnya tidak boleh masuk, tapi berhasil masuk dan mencuri!" Teriak Marlina detik itu juga.
"Bagus Marlina, dia seharusnya di bereskan oleh orang yang tepat, setidaknya tangan kira jadi tidak perlu jadi kotor karena menyentuhnya."
"Hah....mampus kau, kau pasti akan di usir dari sini."
Dan tidak lama kemudian ada dua orang satpam yang akhirnya berlari menghampiri mereka.
"Siapa yang berteriak tadi?" Tanya satpam pertama.
__ADS_1
"Aku. Usir dia dari sini, dan sebelum itu interogasi dia, karena dia pasti diam-diam mencuri, apalagi perhiasan." Perintah Marlina kepada kedua satpam tersebut.
"Kalau begitu akan kami ber-"
"Pak satpam, apa kalian menganggap kalau aku ini seorang pencuri tanpa sebuah bukti, padahal bukti paling jelas adalah fitnah yang di lontarkan dari mulut monyet itu?" Sela Ashera dengan raut wajah yang begitu datar.
Dia sudah tidak tahan ingin membawa Arvin pergi dengannya, namun dengan alasan karena Arvin sendiri tidak ingin terlihat menonjol dalam bentuk sebenarnya dimana mereka berdua justru adalah pemilik dari hubungan paling jauh dari sekedar pacaran, dengan sedikit kesabaran ia melakukan sedikit cara untuk membereskan semuanya.
Termasuk pacar Arvin, dan keempat teman-temannya yang tidak bisa di anggap sebagai teman, karena punya sifat yang cukup buruk.
'Anak ini, kenapa menyebalkan sekali sih!' Marlina yang sudah gatal ingin menjambak rambutnya Ashera, jadinya mengepalkan tangannya.
"Apa kalian berdua yakin ingin membawa orang yang seharusnya tidak di bawa, kecuali mereka berlima ini?"
"Apa?! Kau memang tidak sadar dengan tempatmu sendiri ya? Aku akan telepon bokapku, dan membuatmu menyesal!"
"Aku yakin, besok tidak akan ada hari yang indah untukmu itu!"
"Satpam, tangkap dia, dia sudah merusak suasana di sini." Marlina sudah jengkel, karena kedua satpam itu malah diam.
Namun, begitu mendengar ucapan Marlina yang sudah begitu kesal itu untuk membuat diri Ashera di usir dari Mall ini, Ashera justru menyunggingkan senyuman tipisnya. "Kalian berdua dengar kan? Tangkap orang yang sudah merusak suasana di sini. Ketimbang aku yang bicara sendirian di sini, mereka berlima yang terlalu banyak bicara, bukannya lebih bagus untuk di bereskan karena merusak suasana?"
"Apa?!" All. Mereka semua pun terkejut.
"B-baik, kami akan mengusirnya." kedua orang satpam ini pun mengangguk. 'Maafkan kami, kami tidak berani menolak perintah dari pelayan nyonya besar.' Batin mereka berdua secara serentak.
"Hah?!" Sontak mereka berlima langsung tercengang.
"Mari, pergi sebelum kami mengusir kalian dengan kasar." Ucap sang satpam.
"'Apa? Tidak! Yang seharusnya kalian berdua usir itu dia, bukan kami!" Pekik salah satu temannya Marlina.
"Iya pak! Seharusnya dia yang di tangkap, bukan kami!" Pacarnya pun mendukungnya.
"Arvin!" panggil Marlina, begitu melihat Arvin malah diam saja di sana berdua dengan Ashera. "Arvin! Bantu aku! Mereka berdua jelas-jelas salah sasaran. Bukannya kami, tapi dia!" Teriak Marlina, tidak puas hati dengan nasibnya sendiri itu.
Hanya saja, sampai ketika ada dua orang satpam lainnya datang dan membantu untuk mengusir mereka berlima, Arvin tetap diam dan memandang terus Ashera yang benar-benar gila, sebab menggunakan statusnya secara tidak langsung kepada kedua satpam tadi.
"Apa kau puas?" Tanya Arvin detik itu juga. "Sudah membuat mereka yang seharusnya bersenang-senang di sini, malah di usir olehmu. Padahal kau sendiri hanyalah pelayan."
"Apa kau lebih mementingkan teman yang bahkan tidak tahu cara untuk bicara dengan benar kepada orang lain?" Tanya balik Ashera.
__ADS_1