
"Arvin, kau yakin kondisi Ashera sudah lebih baik dari sebelumnya kan?" bisik Yuli terhadap Arvin.
Tanpa sepatah kata, Arvin beranjak dari ambang pintu dan berjalan menghampiri Ashera yang ada di tempat tidur sana.
TAP ... TAP... TAP...
Langkah demi langkah sukses membuat jarak diantara mereka berempat seketika langsung menghilang.
Tapi, begitu baru setengah jalan, kelopak mata Ashera yang semula terpejam, tiba-tiba saja secara perlahan membuka mata dan akhirnya menangkap keberadaan mereka bertiga yang sedang berusaha untuk tidak membuat keributan dari setiap langkah yang di ambil.
"Selamat datang," sapat Ashera dengan nada lembut.
Tentu saja lembut, tapi setidaknya ada yang berbeda dari sosok Ashera kali ini, yaitu dari segi sorotan matanya yang terlihat tajam dan seperti ingin bermain dengan seseorang.
"Ashera, apa ka-"
"Kenapa kau tiba-tiba pindah kamar?!" tekan Arvin, menimpali ucapannya Yuli.
Mulutnya sesaat terdiam. Bibirnya yang menutup rapat, memperlihatkan raut muka yang terheran.
Tapi, tidak lama setelah itu, sebuah senyuman kian mengembang, membuat sebagian besar eksistensi dari Ashera berubah seperti orang lain yang cukup asing.
__ADS_1
"Apakah aku akhirnya bisa membuatmu khawatir, Arvin?" tanya Ashera dengan kepala sedikit di miringkan ke samping kanan.
Di tambah dengan tatapan matanya yang jenaka, Yuli dan Vian pun sama-sama merasakan keanehan yang cukup mendalam.
Hanya saja, berbeda dari Vian dan Yuli yang terlihat bingung dengan respon yang di berikan oleh Ashera, Arvin justru langsung membuat wajah yang cukup serius, dengan dahi yang mengkerut.
"Kenapa kalian bertiga melihatku seperti itu? Sini, aku kangen kalian loh-" kata Ashera.
Ashera lantas memberikan kode dengan tepukan lembut dari jari tangan kanannya yang masih bisa dia gerakkan di atas pangkuannya sendiri, sebagai awal untuk mengajak mereka bertiga untuk berjalan menghampirinya.
"Maaf, penampilanku berantakan seperti ini, tapi aku senang, karena ternyata masih ada orang yang mau menemuiku di saat banyak cerita negatif soal aku," ucap Ashera, membuat sebagian pikiran Yuli dan Vian langsung tertuju pada rumor nyata yang menyatakan kalau Ashera keguguran.
Maka dalam artian, Ashera sudah membuat aib untuk sekolah mereka.
Tapi, Yuli dan Vian yang merasa tahu persis seperti apa Ashera itu, dan latar belakangnya juga, justru tidak memperdulikan soal itu dan menitik beratkan sebuah simpati yang cukup besar kepadanya .
Arvin pun sadar dengan maksud yang di ucapkan oleh Ashera ini, maka dari itu dia memilih untuk diam sejenak, untuk menata situasi yang harus dia tangani.
"Ashera, aku tdiak peduli soal rumor yang beredar, jika-" Yuli sedikit ragu untuk membahas masalah yang satu itu. Tapi untuk kelancaran dari hubungan mereka berdua, dia tetap bicara, "Memang benar, pasti karena ulah Dini yang menjebakmu itu kan?'
'Apakah aku harus bersyukur, karena Yuli ini malah menuduh Dini, karena menjebak Ashera sampai hamil?' entah kenapa di dalam benak hati Arvin, tersimpan rasa lega karena Yuli berpikiran seperti itu.
__ADS_1
Padahal fakta lain dari adanya insiden yang membuat terkuaknya Ashera ternyata hamil, karena kesalahan Arvin sendirilah.
'Kelihatannya dia cukup senang, perbuatan bejatnya tidak ketahuan sampai detik ini.' Ashera melirik ke arah Arvin dengan tatapan mata penuh tahu.
"Dia terus melakukan hal buruk dari awal sampai akhir, tapi aku tidak pernah percaya kalau Dini sampai melakukan hal bejat seperti itu kepada teman sekelasnya sendiri, sampai kau seperti ini.
"Tapi Ashera, kau sekarang sudah baik-baik saja kan? Maksudku- yah... Kau memang belum baikan, tapi kondisimu itu-"
"Tenanglah Yuli, aku sudah lebih mendingan ketimbang beberapa hari yang lalu, walaupun badanku serasa remuk semua," pungkas Ashera dengan tenang.
"Hanya saja, Ashera. Apa kau tahu siapa? Orang yang melakukannya padamu? Jika ketahuan, sudah jelas dia akan di masukkan ke penjara," sambung Vian, kini dia pula yang bicara.
"Tidak," jawab Ashera sambil melirik kembali Arvin yang sempat cemas dengan pernyataan Ashera, kalau-kalau akan mengungkapkan rahasia diantara mereka berdua.
'Bagus, walaupun kau sekarang jadi tanggung jawabku, tetap saja kau punya tanggung jawab juga sampai akhir untuk merahasiakan hubungan diantara kita.' tatap Arvin kepada Ashera.
Sambil adu tatap yang mewakili pikiran untuk di tunjukkan kepada mereka masing-masing, membuat Vian dan Yuli sempat kembali mendapatkan satu kecurigaan besar.
"Ashera, ada yang ingin aku tanyakan, apa hubunganmu dengan Arvin? Kalian terlihat lebih dekat dari pada sebelumnya. Bahkan ini sangat tidak terduga juga sih, kalian bisa dekat seperti ini, sampai-sampai Arvin ini sangat mnegkhawatirkanmu saat kau tidak ada di dalam kamar tadi," beber Yuli.
"Kalau aku bilang, aku pacarnya, gimana?"
__ADS_1
DEG...!