Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
31 : Beef Bourguignon


__ADS_3

"Apa masih lama? Perutku sudah mulai keroncongan," Ucap Arvin tanpa mengalihkan perhatiannya dari televisi yang sedang mempertontonkan sebuah kasus dari berita yang menyajikan tawuran antar sekolah.


"Memangnya anda saja yang kelaparan?" balas Ashera. 


Entah ada angin lalu apa, Arvin yang biasanya judes dengan segala perintah dan omongan yang begitu menyakitkan hati, tiba-tiba saja bersikap sedikit kalem, sampai tidak ada bentakan lagi di dalam rumah itu, Ashera hanya bisa bersikap seperti biasa. 


Walaupun agak tidak bisa menerima bahwa laki-laki yang sedang asik menonton tv itu adalah orang yang berhasil merebut kesuciannya. 


‘Bagaimana dia masih saja bisa setenang itu? Aku benci ini, tapi harus bagaimana lagi?  Mulutku terus menuntut agar dia bertanggung jawab kepadaku, tapi giliran dia sudah mau bersedia menikahiku, aku malah jadi merasa menyesal. Pasti Nyonya besar dan Nyonya, menganggapku sebagai seseorang yang tidak tahu diri, karena aku terlihat memanfaatkan anak serta cucu beliau. 


Padahal akulah yang menjadi korban ini, tapi kenapa aku jadi merasa bersalah seperti ini?’ Pikir Ashera di tenga-tengah dirinya saat ini sedang memasak. 


Tidak lama setelah Arvin bertanya sudah selesai atau belum, Ashera pun akhirnya selesai memasak, dan menyajikannya di atas meja makan. 


"Saya sudah selesai masak, Tuan.” Beritahu Ashera, merasa sedikit kurang nyaman karena memanggil anak muda seumuran dengannya dengan kata Tuan muda, sebab selama ini dirinya hanya melayani majikannya yaitu neneknya Arvin saja. 


“Kau lelet juga, memangnya apa sih yang kau masak ha? Aku harap kau bisa masak lebih baik ketimbang masakan warteg.” Cibir Arvin, tanpa memperdulikan perasaan Ashera yang sudah merasa terhina. 


Padahal masakannya tentu saja justru tidak akan kalah dengan restoran bintang lima. 


“Kalau begitu, apakah Beef Bourguignon adalah makanan yang setara dengan makanan warteg?” Ucap Ashera, seraya membersihkan peralatan masaknya. 



Arvin yang baru saja menghampiri meja makan, matanya terbuka lebar ketika dia di hidangkan makanan dari perancis. ‘Ini- tampilannya kenapa sama dengan apa yang pernah aku makan di restoran milik nenek ku?’ Pikir Arvin, melihat sarapan paginya sudah begitu berat. Yah, bagi Arvin dia tidak mempermasalahkan hal itu selama perutnya bisa di isi penuh, tapi yang jadi pertanyaannya, saat Arvin sedikit mencuil sedikit daging itu, baginya itu terlalu enak. “Apa kau menambahkan opium juga ke sini?” tuding Arvin tanpa pandang bulu. 

__ADS_1


“Apa?” Terkejut Ashera dengan tuduhan tidak berdasar itu. “Memangnya saya punya keberanian meletakkan barang haram itu ke makanan anda?” Ashera merasa tidak terima dengan tuduhan itu. 


“Kan aku hanya tanya, kenapa ekpsresimu langsung seperti nenek lampir? Kau itu sudah jelek, tapi jangan sampai berekspresi seperti itu juga.” Sarkas Arvin, menambah beban hinaan Arvin kepada Istrinya sendiri. 


“........” Ashera yang sadar diri dengan posisinya itu memang tidak akan pernah di anggap baik-baik, memilih diam saja, karena mau menanggapinya dengan ucapan apapun itu, ujung-ujungnya mulut Arvin itu akan mengeluarkan bisa kepadanya. 


Ashera mana mau terus menerus membahas masalah ini dan itu, dan di ujungnya persis, pada akhirnya Ashera terus saja di kaitkan dengan topik pembicaraan itu sendiri. 


‘Apa dia tidak ada kata lebih pedas lagi?’ Ashera hanya diam sambil mencuci piring, mangkuk, wajan, pisau, dan yang lainnya. 


‘Tidak seru, punya pembantu tapi langsung ngambekan begitu.’ benak hati Arvin. Tapi kembali lagi dirinya melihat ke arah makanan perancis itu. Karena tampilannya menarik, selai Ashera sedang sibuk mencuci, Arvin pun sempat memposisikan alat makan dan makanannya di posisi yang tepat, lalu untuk sesaat Arvin langsung memotretnya, dan mempostingnya di IG serta beberapa medsos lainnya, untuk sekedar pamer. ‘Lumayan juga, tanpa perlu ke restoran, aku bisa makan makanan ini tanpa perlu mereservasi. Rasanya juga sama, jadi aku pikir dia memang sedang dalam posisi paling berguna.’ 


Dengan rencana tersembunyi miliknya, Arvin pun dalam diam tersenyum senyum sendiri, dan buru-buru menyimpan handphone nya di dalam blazer sekolahnya. 


“Kau tidak sekolah kan?”


Arvin sudah tahu, karena masalah yang kemarin, Ashera pun mendapatkan hukuman skors saja, tanpa anda tambahan apapun. Walaupun terlihat wajah Ashera yang begitu sedih karena tidak bisa sekolah, Arvin hanya beranggapan kalau Ashera pasti menyesal karena sudah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya Ashera lakukan. 


Bukan mencuri, tapi soal penyerangan, sampai berkelahi di kelas, itu sama saja mencoreng nama baik keluarga dari Ravarden, karena Ashera bisa masuk kedalam sekolah yang sama dengan sekolah yang Arvin tempati, semua itu karena sang nenek. 


Makannya, Arvin pun dengan sengaja menyuruh guru BK untuk membuat anak di depan nya itu dijatuhi hukuman skors saja selama beberapa hari kedepan, dan lebih dari seminggu juga. Agar Arvin juga memberikan hukuman Ashera yang memang pantas untuk di lakukan, setelah membuat kesempatan yang di berikan neneknya itu adalah sesuatu yang harus di pikirkan lebih dulu. 


“Apa kau akhirnya menyesalinya?”


“Tentang apa?”

__ADS_1


“Mencuri, mungkin?” Sambil melahap satu potongan daging sapi. ‘Gila, ini empuk. Aku rasa dia memang harus membuat semua makanan untukku,’


Lalu tiba-tiba saja kilatan dari memorinya pun malah justru di hubungan dengan ke empukan yang di rasakan tangannya ketika menyentuh sepasang aset milik Ashera yang terperangkap di dalam kaos putih itu, kaos putih bersih yang malah justru menampakkan pakaian da lam berwarna biru yang sedang di gunakan oleh Ashera.


‘Apa dia tidak mikir, seharusnya dia memakai tanktop, jika memang tidak punya warna yang pas dengan kaos nya itu. Atau jangan-jangan dia memang sengaja berpakaian seperti itu untuk menggodaku?’  Tapi Arvin hanya mengatakannya dalam diam saja, karena dia lebih memilih untuk menikmati segala suapan makanan yang masuk kedalam mulutnya itu.


Dengan cepat, Arvin melahap satu, dua, tiga suap daging miliknya dengan begitu lahap. 


"Ya, saya sadar, kalau mencuri itu tidak baik."


"Apa hanya itu yang kau pahami?"


"Memangnya apa lagi yang harus saya pahami?"


"Kau kan melakukan kekerasan juga pada mereka." setelah berkata demikian, Ashera tanpa sengaja, menjatuhkan piringnya.


PRANG...


"Ashera, itu piring mahal, apa kau bisa menggantinya?" Satu suapan yang tidak jadi Arvin masukkan kedalam mulutnya pun berbuah sebuah peringatan kepada Ashera yang baru saja melakukan kesalahan dengan mengotori lantai, dengan pecahan piring yang mahal itu.


"Maaf."


Suaranya yang begitu lirih, sebenarnya membuat Arvin jengkel, karena Ashera yang begitu penakut dan selalu saja membuat kesalahan. "Harganya 600 ribu, ganti itu." Imbuh Arvin.


'Bahkan dia pun tidak percaya ya? Ya, orang kaya mana mungkin percaya dengan orang miskin sepertiku. Mau mulut aku sampai lepas pun, tidak ada gunanya menjelaskannya lagi.

__ADS_1


Tapi- sebenarnya kenapa kepalaku pusing? Padahal aku sudah makan obat, tapi ini menyebalkan, padahal tidak lama lagi akan ada ulangan, aku belum belajar, dan kepalaku terus pusing dari kemarin. Kenapa hidupku tidak bisa damai sedikit sih? Sebenarnya aku salah apa?'


__ADS_2