
Sore itu, setelah banyak kegiatan yang di jalankan oleh Arvin, Arvin pun pulang juga.
Tapi, begitu dia memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah, dia malah tidak melihat adanya lampu rumah yang menyala.
Arvin pun memandangnya dengan tatapan tidak percaya. 'Kenapa rumahnya gelap? Tidak mungkin Ashera dengan sengaja tidak menyalakan lampunya.'
Tanpa pikir panjang, sebelum dirinya keluar dari mobil, Arvin segera menghubungi Ashera lebih dulu.
Dengan cepat di angkat panggilannya langsung di angkat oleh Ashera, Arvin pun segera bertanya, "Ashera, kenapa lampu rumahnya tidak kau nyalakan, apa kau sengaja melakukannya?"
-"Aku sudah pergi ke kamar hotel yang waktu itu kau sewakan ke wanita itu."- jawab Ashera dengan suara parau.
"Apa? Kenapa kau malah tidak memberitahuku dulu? Tapi bagaimana bisa kau pergi ke sana tanpa aku? Memangnya kau bisa pergi ke sana dengan siapa?" seperti yang di ketahui, kawasan dari Villa yang di huni mereka berdua adalah kawasan yang jarang sekali kendaraan yang lewat, bahkan taxi pun hanya lewat jika memang ada penumpang yang datang dari kota ke daerah tersebut, jadi Arvin pun penasaran bagaimana Ashera pergi, padahal gadis itu sama sekali tidak tahu bagaimana bicara dengan orang lain, karena perbedaan bahasa yang di gunakan.
-"A-aku datang ke.."- belum sempat bicara untuk menjawab pertanyaan dari Arvin tadi, Daseon tiba-tiba saja datang menyela.
-"Ini teh nya, lebih baik segera di minum sebelum menjadi dingin."-
Mendengar suara milik Daseon itu berada di ujung telepon yang sama dengan posisi Ashera berada saat ini, seketika Arvin langsung menggertakkan giginya. Ia tidak percaya kalau ternyata Daseon ternyata ada di sana.
-"Iya, terima kasih kak,"-
Arvin berharap kalau suara tadi adalah suara yang keluar dari khayalannya saja, tapi mendengar Ashera berterima kasih kepada Daseon, Arvin pun akhirnya di buat percaya.
"Ashera, katakan, apa kau pergi bersama dengan Daseon ke sana?"
-"Iya. Dari pada aku ada di rumah besar itu di pinggir laut sendirian hampir seharian, aku pilih untuk pergi ke kota, karena kondisi juga aku sedang tidak enak badan, tapi kau malah pergi."-
"Kita bicarakan saat aku ada di sana," sela Arvin sambil mencengkram stir mobilnya dengan sangat erat, lalu setelahnya pun dia langsung memutuskan panggilan tersebut.
__ADS_1
Daseon, lagi-lagi Daseon. Meskipun Daseon adalah pelayan pribadinya, tapi sebenarnya Arvin tidak begitu suka dengannya.
Dan mendengar suara dari Daseon yang ternyata sedang bersama dengan Ashera, Arvin pun akhirnya jadi kesal sendiri, sebab dia merasa tidak terima kalau diri mereka berdua ternyata di buntuti oleh butler nya sendiri sampai dimana satu minggu ini adalah minggu dimana dirinya bersama dengan Ashera berbulan madu, justru pada akhirnya harus terusik dengan keberadaan dari Daseon itu.
____________
Di dalam sebuah kamar dari hotel yang di tinggali Ashera, tempat mewah dengan deretan perabotan dan desain interior yang begitu indah menjadi tempat dimana Ashera istirahat, dimana kini dia sedang duduk di atas sebuah sofa seraya melihat pemandangan kota dari dalam kamarnya.
Sungguh, sore itu menjadi sore yang begitu indah.
Dengan sensasi pemandangan yang jauh berbeda di saat dirinya melihat sunset dari tepi pantai, melihat pemandangan matahari terbenam dari tempat yang tinggi, justru menjadi pemandangan yang tidak kalah jauh cantiknya dari saat dirinya berada di Villa Garden.
"Apa yang tadi menghubungimu itu Tuan muda?" akhirnya Daseon pun bertanya kepada Ashera yang dari tadi diam menyeruput teh buatannya.
"Iya, dia tanya kenapa lampu rumah mati sih, tapi ketika aku menjawab pindah tanpa memberitahunya lebih dulu, rasanya aku mendengar kalau dia sedang kesal. Padahal-" mulutnya langsung membisu, dia tidak jadi mengatakan yang ingin dia katakan, karena percuma.
Percuma, sebab Daseon hanya jadi seorang pendengar saja, dan jika dia menceritakan yang ingin Ashera ceritakan padanya, bagi Ashera rasanya hal itu akan membuatnya terlihat lebih menyedihkan lagi.
"Berarti karena kau sudah memberitahunya, sepertinya kita harus bersiap menyambutnya." beritahu Daseon seraya melirik ke arah pintu kamar yang ada di ujung ruangan.
"Heh, maksudnya menyambut emosinya ya?" tanya Ashera dengan senyuman mencibir.
Karena sudah mulai terbiasa dengan sikap Arvin yang penuh dengan emosi, jadi dia pun sudah bisa menebak apa yang akan terjadi sekarang.
10 Menit kemudian, setelah Daseon dan Ashera terus menunggu di dalam kamar yang di tempati Ashera itu, pintu kayu berwarna putih itu pun langsung terbuka.
BRAK....
Sayangnya, pintu itu menjadi bahan pelampiasan Arvin yang baru saja sampai dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu marah?
__ADS_1
Ashera terdiam, melihat ekspresi wajah Arvin yang nampak memusuhi Daseon, karena begitu sepasang matanya itu melihat sosok Daseon yang sedang duduk seraya menyesap secangkir teh, Arvin langsung melihatnya dengan tatapan yang begitu tajam seperti elang yang baru saja menemukan mangsa untuk di bunuh.
Apa alasan dari Arvin terlihat begitu tidak menyukai Daseon, Ashera sendiri tidak begitu tahu.
Yang dia tahu kalau Daseon bekerja untuk Arvin selama bertahun-tahun. Bahkan semenjak kecil, dengan kata lain seharusnya Daseon memang sudah di anggap bagaikan seorang kakak, itu pun kalau Arvin memang tidak pernah merendahkannya.
"Daseon, apa yang sedang kau lakukan di sini? Apa aku memerintahmu untuk mengikutiku? Tidak kan? Atau jangan-jangan karena Nenek?" dengan langkah lebar dan tergesa-gesa, Arvin segera menghampiri Daseon yang nampak begitu tenang.
Inilah salah satu alasan dari Arvin yang tidak begitu menyukai Daseon, karena sikap dari Daseon ini, bagi Arvin di anggap terasa cukup mencurigakan.
KLAK...
Setelah menyesap air teh tadi, Daseon pun meletakkan cangkir tadi ke atas lemek dan melirik ke arah sang Tuan muda pemarah ini.
"Seperti yang sudah anda tebak, saya memang di sini karena Nyonya besar, atau apakah saya harus menjelaskannya lebih detail lagi agar Tuan tidak berprasangka buruk kepada saya?" sahut Daseon detik itu juga.
Di sini Daseon juga tidka terlihat adanya rasa takut kepada majikan yang di layani nya itu sedang marah.
"Sebenarnya kenapa kalian berdua jadi terlihat seperti dua orang yang bertengkar? Apa ini karena aku yang tiba-tiba pergi tanpa memberitahumu, Arvin?"
Pertanyaan dari Ashera pun membuat Arvin dan Daseon jadi terdiam, dan begitu siluet mata Arvin berwarna hitam itu tiba-tiba saja mendelik tajam ke arah Ashera, Arvin pun mengajukan pertanyaan.
"Kalau kau bilang in-" tapi ucapannya itu seketika menggantung ketika dia harus bertatap mata dengan Daseon lagi yang tidak pergi dari sana. "Daseon, apa kau berniat untuk menguping pembicaraan majikanmu sendiri?"
Dengan senyuman tipis yang terlihat sesaat, Daseon pun pergi dari sana, "Saya akan pergi, apa anda ingin di buatkan t-"
"Tidak, kau bawa saja semua mainanmu yang ada di meja ini," sela Arvin dengan cepat, sambil menunjuk cangkir teh, teko, termos, dan biskuit yang terlihat begitu merusak pemandangan itu.
"Teh milikmu saja yang kau bawa keluar saja, punyaku jangan," timpal Ashera, dia tidak ingin teh yang membuat perasaan dan apalagi perutnya merasa hangat itu di bawa pergi oleh Daseon.
__ADS_1
"Baik, akan aya bawa pergi," jawab Daseon, dia pun membawa cangkir tehnya sendiri, tidak dengan yang lainnya, karena yang sebenarnya sedang membutuhkan asupan agar perutnya terisi itu bukan dirinya, melainkan Ashera sendiri.