Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
11 : Setelah perjanjian


__ADS_3

Sore itu, setelah semua keluarganya beserta dengan anak buah dari Nenek nya Arvin pergi, juga selepas apartemen alias rumah milik Arvin kembali seperti sedia kala, Ashera pun akhirnya sudah tidak lagi tinggal di kediaman utama Ravarden.


Ashera saat ini, tentunya harus tinggal di tempat yang sama dengan Arvin.


Dan permasalahannya saat ini bagi Ashera sendiri adalah, dia harus menerima kenyataan yang lebih buruk. Di depan matanya saat ini sudah ada beberapa lembar kertas yang berisi sebuah kontrak, tentu saja adalah kontrak pernikahan.


Menentukan aturan dari pernikahan yang dijalani oleh mereka berdua.


"A-Arvin ap-"


"Kau selalu saja memanggilku Arvin, aku ini majikanmu juga. Jadi walaupun kau sekarang sudah bukan lagi menjadi pelayan di rumahnya nenekku, bukan berarti kau harus lepas dari status rendahanmu itu. Panggi aku Tuan muda. Apapun itu kau harus melakukan apa yang aku katakan, bahkan kontrak pernikahan yang sedang kau pegang itu, kau sama sekali tidak memiliki hak untuk protes.


Jadi tandatangani itu sekarang juga, agar prosesnya bisa cepat selesai." Ucap Arvin panjang lebar, sampai berhasil menyela ucapannya Ashera yang sudah ketebak lebih dulu oleh Arvin.


"Maaf~ Tuan ...muda," Ashera dengan gugup, akhirnya memanggil Arvin dengan sebutan Tuan muda. Meskipun rasanya enggan, sebab Tuan muda yang bisa membuat Ashera mampu memanggilnya dengan pantas adalah Tuan muda yang bermartabat.


Dan Nyonya besar, yaitu Nenenknya Arvin, adalah alasan kenapa Ashera begitu menghormati wanita tua itu, sebab nenek nya Arvin memiliki pesona yang selalu berhasil menyita perhatiannya.


Punya sifat tegas, disiplin, serta tahu mana yang benar dan salah. Itulah mengapa Ashera sebenarnya berat hati harus tinggal di tempat lain seperti ini.


Tapi mau bagaimana lagi? Ada seseorang yang harus dia layani, dan itu adalah Arvin.


"Tapi Tuan muda, kenapa aku merasa yang paling dirugikan adalah aku saja?" Kernyit Ashera, melihat dari deretan nomor yang mewakili setiap syarat kontrak yang berlaku, semuanya merujuk kepada Arvin harus dilayani.


"Diam, dengar, dan lakukan saja apa yang aku katakan." Cetus Arvin.

__ADS_1


'Ya, aku memang tidak memiliki hak untuk membantahnya, karena dia-' Untuk sesaat Ashera kembali melirik ke arah Arvin, dan benar saja wajah cuek dan dengan tempramen buruk serta sombong, tatap saja tidak memudarkan pesonanya, akan wajah yang cukup beracun itu. 'Suamiku,'


Satu kalimat terakhir yang harus ia ambil dengan berat hati, karena Ashera hanya menyukai wajahnya saja.


'Ya sudahlah, lagian..., takdirku juga sudah cukup buruk. Daripada aku berdebat dengannya terus, aku akan menurutinya.' Pasrah dengan kondisi yang ada, Ashera pun menandatangani surat kontrak pernikahan itu.


Pernikahan yang hanya berlangsung satu tahun saja?


Ashera yang sudah kehilangan harta berharganya pada orang yang bahkan tidak Ashera cintai, membuatnya tidak tahu apalagi yang harus dia lakukan, kecuali menurutinya seperti pelayannya.


Dasar dari pelayan adalah menuruti majikannya, dan di satu sisi lagi, seorang Istri juga harus menuruti kemauan suaminya.


Hanya itu yang terpatri dari gadis muda ini, karena ia sama sekali tidak tahu peran apa saja yang harus dia kenali untuk di turuti antara Istri maupun pelayan, sebab kedua hal itu terasa sama saja.


'Dia akhirnya mau menandatanganinya juga.' Di bali wajah yang terlihat dingin itu, dalam diam Arvin tersenyum sinis dengan keputusan yang di Ambil oleh Ashera adalah keputusan yang sangat tepat, bahkan tanpa banyak pikir. 'Dia benar-benar pasrah ya? Heh ..., stempel sebagai pelayan tetap saja ada di wajahnya, sekalipun dia sekarang jadi Istriku.' Gumam Arvin dalam hati.


"Nih-" Sedikit melempar dokumen tersebut ke atas meja, sehingga dokumen tersebut pun sempat terseret ke depan, dan berakhir ke depan Arvin secara langsung.


"Baiklah, walaupun kau cukup bodoh, tapi kau bisa memahami apa yang aku katakan, itu termasuk hitungan yang cukup bagus." Ucap Arvin sambil tersenyum puas dengan mata terus memandang deretan tulisan yang sudah Arvin buat sendiri.


'Apa mulutnya tidak bisa diam? Kenapa lidahnya terus saja di asah sampai setajam itu? Sebenarnya dia itu punya hati atau tidak?' Gerutu Ashera di dalam hatinya, tentu saja sudah memiliki rasa jengkel dengan satu manusia ini.


Tetapi karena Arvin adalah orang yang tidak bisa ia singgung seenaknya, Ashera pun hanya diam sambil mendengarkan.


"Karena aku lelah, jadi tugasmu sekarang adalah membelikanku kopi rasa karamel yang ada di blok 4."

__ADS_1


"Tapi ini kan sudah jam 8, memangnya masih buka?"


"Ha?" Salah satu alisnya terangkat, lalu menjawab : "Buka atau tutup, bukankah kau akan tahu jika sudah ke sana dan melihatnya sendiri?" Kata Arvin dengan ekspresi wajah yang begitu datar.


Ashera yang sebenarnya sama-sama lelah, sebab dari pagi ia harus melakukan banyak ritual aneh yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya hanya untuk sekedar memakai gaun pengantin, soal jangan makan, agar gaunnya pas, serta belum lagi dirinya harus ikut lam resepsi yang melelahkan, mau tidak mau harus di tahan dulu karena suami tidak tercintanya itu sedang ngidam ingin minum kopi rasa karamel.


Ashera sebelumnya menghela nafas, lalu bertanya : "Nama tempatnya apa? Beli berapa? Jika kedainya tutup apa aku harus pergi ke tempat lain? Jika memang iya, apa ada cafe cadangan? Lalu berapa suhu yang harus aku jaga agar bisa Tuan muda minum? Dan berapa takaran gram gula yang kiranya ingin Tuan muda campurkan?"


Di hujani dengan deretan pertanyaan yang begitu rinci itu, Arvin langsung melotot. 'Apakah itu cara dia melayani nenekku?'


'Demi menghindari aku kena imbas jika aku salah beli, tentu saja semua pertanyaan itu pertanyaan standar dari orang dengan tipe pemilih. Walaupun aku tidak tahu apa dia adalah orang yang pilih-pilih, aku harus menghindari hal yang merugikanku.' Kata hati Ashera.


Sebagai seorang pelayan yang sudah melayani nenek nya Arvin selama lebih dari tujuh tahun, tentu saja Ashera memahami betul permintaan setiap orang berbeda.


Tidak seperti orang biasa yang tidak suka memilih-milih, sebab yang penting diminum serta bisa beli kopi rasa karamel bisa dibeli sesuai dengan standar dari kedai, seorang dari orang kaya, pasti punya sesuatu yang cukup merepotkan, yaitu syarat untuk di meminum apa yang akan masuk kedalam mulutnya.


'Padahal aku pikir, dia akan dengan bodohnya langsung beli kopi begitu saja tanpa banyak tanya seperti ini.' kurang puas hati dengan cara Ashera bertanya dengan pertanyaan lengkap tanpa ada celah, Arvin pun jadinya kehilangan rasa untuk mengerjainya. "Belikan saja, tidak usah banyak bac*t."


"..........!" Ashera jadi lebih jengkel dengan sikap Arvin ini. "Kalau begitu mana uangnya." Ashera mengulurkan tangannya ke arah Arvin untuk meminta uang.


"Bukankah kau punya uang, belilah dengan uangmu sendiri. Jangan karena aku sudah jadi suamimu, bukan berarti kau bisa seenaknya minta uang kepadaku. Lagian, nenekku pasti memberikanmu uang, ya kan? Dan lagi pula ya, kau kan sudah kerja bertahun-tahun, pasti uang tabunganmu banyak." Papar Arvin, tidak membuat jeda untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan kepada Ashera yang sudah berani meminta uang kepadanya.


"........." Ashera yang lagi-lagi mendapatkan sindiran yang cukup keras dari Arvin, uluran tangan itu pun hanya berakhir dengan kepalan tangan yang begitu kuat. Dan dalam dia, Ashera pun menggertakkan giginya, benar-benar tidak suka dengan sikap Arvin yang begitu semena-mena terhadapnya. "Tapi itu kan tanggung jawab Tuan untuk memberikanku uang, lagi pula, kan Tuan yang menginginkan kopi. Memangnya tidak malu, beli kopi dari orang sepertiku?"


"Pertama, kata-katamu tetap saja kurang sopan, masih saja mengatakan aku, bukan saya. Lalu kedua, apa pedulinya aku soal malu atau tidak. Perintah tetap saja perintah, beli saja sana dan tetap pakai uangmu! Kau kau sendiri yang membuatku harus menikah denganmu, jadi anggap saja kau sedang menebus hutangmu kepadaku." Dan setelah mengatakan itu, Arvin langsung melempar bantal sofa dengan keras kepada Ashera.

__ADS_1


__ADS_2