
BRAK...
Dalam sekejap mata, Ashera langsung menutup pintu kamar mandi dengan rapat dan langsung menguncinya.
Bagikan di nodai lagi karena seseorang, dan sama-sama di kaitkan dengan Arvin lagi, lagi dan lagi, Ashera langsung melepas semua bajunya dan mengguyur tubuhnya di bawah air shower.
"Ashera? Kau lagi demam! Apa yang kau lakukan?!" Tanya Vani sangat khawatir.
'Jelas tubuhku kan kotor! Ya harus di bersihkan kan? Bahkan jika kotorannya masih saja belum hilang, aku akan tetap mandi sampai menganggap tubuhku bersih. Ya, bersih! Semuanya harus bersih! Aku harus bersih, jangan kotor lagi. Jangan.' Berusaha untuk terus dalam akal sehatnya, karena masih tidak bisa melupakan bagaimana dirinya, tubuhnya itu menjadi kotor, baik itu karena Arvin di atas tempat tidur, maupun karena Arvin lagi, gara-gara dirinya muntah, semuanya, tubuhnya harus Ashera bersihkan sampai ia anggap bersih.
Tapi sampai seberapa bersih?
Dengan adanya botol sampo, sabun, dia menggunakan apapun yang ada di sana untuk membersihkan tubuhnya itu, agar kotorannya hilang.
Ya, setidaknya kotoran dari hasil muntahannya bisa ia bersihkan, walaupun pada akhirnya ia tidak mampu membersihkan kotoran yang sudah masuk dan bersemayam di dalam perutnya itu untuk beberapa hari ini.
Betapa menjijikan nya tubuhnya ini, semuanya selalu saja tidak bisa membuatnya dalam sebuah kedamaian yang Ashera impikan.
'Mungkin saja kehadiranku di sini memang mengganggu. Aku ini bagaikan parasit yang mengganggu, makannya tidak ada satu pun orang yang mengganggap aku ini sebagai manusia baik-baik, karena aku adalah parasit berwujud manusia.' Ashera pun terus meracau di dalam hati, dan terus menganggap kalau kehadirannya di dunia ini adalah sebuah kesalahan.
Karena semua kesalahan, terus saja di limpahkan kepadanya.
'Aku hanya ingin merasa bersih lagi, tapi kenapa aku merasa selalu saja kotor?! Kalau saja- kalau saja aku waktu itu tidak mau mengantarkan sarapan pagi dari Nyonya, aku mana mungkin akan ada di sini. Pastinya aku akan tidur di kamar sempitku sendirian tanpa ada banyak beban pikiran seperti ini.' Pikir Ashera lagi.
__ADS_1
Dan dia pun terus menggosok tubuhnya, semuanya dengan sedikit kasar, hingga kulitnya mulai memerah.
Sedangkan di luar pintu, Vani terus berusaha untuk menggedor pintu dan terus bicara untuk membujuk Ashera untuk keluar dari kamar mandi.
"Ashera, tubuhmu sedang demam, jangan lakukan ini atau demammu semakin parah."
"Tapi tubuh saya ini kotor! Saya harus tetap bersih, dan itu harus-" Ashera kehilangan kalimat terakhirnya, sampai Vani saja tidak mendengar kalimat terakhirnya itu karena saking lirihnya. "Tidak boleh kotor lagi." Gumam Ashera. Dia yang sudah tidak mampu untuk menangis lagi, hanya berharap hatinya bisa tenang setelah tubuhnya merasa bersih.
Maka dari itu, karena kedua kakinya tidak mampu untuk menopang tubuhnya lagi, Ashera pun duduk di lantai dan mencoba memegang spons mandi dengan benar, dan menggosok kulitnya secara menyeluruh.
_________
"Lepaskan!" Ronta pelayan ini, karena sekarang kedua tangannya berhasil di borgol oleh Daseon yang selalu saja siap sedia membawa hal yang ada di luar perkiraan dari Arvin sendiri.
"Karena dia, karena dialah Nona Vani jadi putus dengan Tuan Arvin, benar kan? Jadi sudah sepatutnya aku membuat ja*ang itu kena akibatnya." jelas wanita ini, begitu benci dengan Ashera, sebab karena Ashera, ia menganggap hubungan antara majikannya dengan kekasihnya lah yang menjadi hancur.
"Hahh~ Masalah seorang wanita memang membuat semua orang kena imbasnya." Desah Daseon setelah mendengar pernyataan dari pelayannya Vani ini. "Anda sudah dengar kan? Alasan kenapa Nona jadi berpenampilan berantakan seperti itu?" Tanya Daseon kepada Arvin yang sedang duduk di kursi singgasana milik Vani.
Arvin yang masih belum bisa melupakan masa lalunya dengan sebuah cincin yang sedang Arvin pegang itu, hanya melirik si tersangka yang membuat pembicaraan antara dirinya (Arvin) dengan Vani jadi terganggu.
Tentu saja. Jika bukan karena pelayan itu mengganggu Ashera yang tadinya sedang beristirahat, mana mungkin Ashera datang dan membuat Ashera menyela pembicaraannya dengan Vani beberapa saat tadi.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau berpikiran kalau perempuan itu adalah orang yang membuat hubunganku dengan Vani terganggu?" Tanya Arvin secara tiba-tiba.
__ADS_1
Dengan amarah yang masih menghiasi wajah nya itu, pelayan ini pun menjawabnya tanpa sungkan lagi : "Bukankah sudah jelas? Anda sampai membawa wanita itu kesini, artinya dia adalah wanita yang berhasil membuat anda tergoda untuk memilih dengannya, dan memutuskan untuk berpisah dengan Nonaku?"
'Mulutnya ini, kenapa berani juga dengan Tuan muda? Tapi ini menandakan kalau ternyata rahasia Tuan muda seorang ahli waris dari keluarga Ravarden memang terjaga dengan baik. Bahkan sampai mantan pacarnya sendiri saja sampai tidak mau dekat dengan Tuan muda lagi, dan bisa menjaga rahasianya juga, Tuan ini, memang termasuk cukup hebat.' Pikir Daseon.
Selama ini mereka berdua berhasil membuat semua orang tidak tahu identitas asli dari Arvin itu siapa, maka dari itu mereka yang tidak tahu siapa Arvin ini, bersikap biasa-biasa saja dan bahkan tidak ada ketakutan di matanya.
Tapi memang itulah tujuan dari Arvin sendiri, dia secara harfiah tidak ingin begitu mengandalkan nama keluarganya, maka dari itu bersama dengan Daseon, mereka berdua mengurus masalah yang harus mereka hadapi sendiri, tanpa perlu membawa nama-nama Ravarden di belakang kasus yang ingin Arvin selesaikan.
"Heh..." Arvin tiba-tiba saja tersenyum, dan itu adalah senyuman miring yang mampu membuat orang yang melihatnya, langsung berpikir dua kali, kalau Arvin baru saja memikirkan hal lain yang lebih menarik ketimbang apa yang baru saja di dengarnya. "Rasanya kau butuh asupan untuk menutrisi otakmu." Hina Arvin, lalu dia menempatkan kedua sikunya di atas meja dan menggandeng kedua tangannya untuk menyangga wajahnya, menatap malas pelayan yang ada di depannya itu, sebab lebih jelek ketimbang Ashera.
"A-apa?"
"Otakmu perlu di poles pelayan rendahan, apa kau sama sekali tidak mengerti, kalau apapun yang kau pikirkan saat ini antara hubunganku Vani itu salah besar."
"Salah besar kenapa? Padahal jelas sekali, dia yang jel-"
"Hei, jaga mulut busukmu itu, apa kau mau mengatakan dia jelek? Padahal kau harus ngaca sendiri, wajahmu itu lebih jelek darinya, jadi jangan ungkit dia dengan mulut baumu itu. Daseon, bawa dia dari ha-" Dan tanpa di duga, pintu yang dari tadi di tutup, Arvin langsung di teriaki oleh suara Vani yang berteriak.
BRAK!
"Arvin!" Pintu itu langsung terbuka dengan kasar setelah Vani, si pelaku, mendorongnya begitu saja tanpa ada perasaan apapun, selain suara yang di susul dengan teriakan.
Arvin yang terkejut dengan ekspresi wajah Vani yang terlihat panik itu, langsung berdiri dari tempat duduknya. "Ada apa? Kenapa kau berteriak seperti orang kesetanan?"
__ADS_1
"B-bantu aku, dia ada di dalam kamar mandi dan tidak mau keluar!" Ucap Vani memberitahu Arvin, bahwa orang yang ia maksud adalah Ashera.