
JDERR....
Langit malam berselimut dengan derasnya hujan yang terus mengguyur kota metropolitan.
Tidak ada banyak aktivitas yang ada, sebab mereka lebih memilih untuk mengurung diri dalam kehangatan yang bisa mereka dapatkan dengan caranya masing-masing,
Kehangatan?
'Apa aku pernah merasakan kehangatan itu?' Dengan duduk seraya bersandar ke pintu jendela, dimana satu kakinya sedikit di tekuk dan satu kaki lainnya dia selonjorkan, pria ini meletakkan tangan kanannya itu di atas lutut yang sudah dia tekuk, lalu mengamati betapa tenangnya malam hari yang dingin ini.
Tidak seperti biasanya, jika malam tiba, suhu yang dingin akan tetap terasa di kulitnya, dan sekalipun dia menyalakan alat pemanas, semua itu terkadang tidak akan mampu membuat seluruh tempat hangat sepenuhnya, dan salah satunya adalah Arvin sendiri.
Hanya kulit saja yang terasa hangat, tapi tidak dengan dirinya sendiri.
Maka hari ini, Arvin menyadari satu hal. Ketika saat ini dirinya tengah duduk di lantai, maka tidak sepenuhnya dia merasakan dingin dari lantai tersebut, karena ada satu orang yang tanpa tahu malunya, malah tidur dengan menggunakan kakinya Arvin, sebagai bantal.
'Kenapa aku bisa-bisanya duduk di lantai seperti ini? Kakiku keram, sebaiknya aku pergi dari sini.' Pikir Arvin, dia pun dengan perlahan memegang kepala Ashera dan meletakkan kepala itu di lantai secara pelan-pelan, dan setelah itu?
Arvin pun meninggalkannya.
__________
Jam 7 malam, hujan sama sekali tidak bisa di prediksi, sampai enam jam lamanya, hujan tidak ada tanda untuk berhenti, dan di samping itu semu, karena ada pemadaman listrik secara menyeluruh, listrik di gedung pun padam total.
Ashera, begitu dia di tinggalkan di lantai begitu saja oleh Arvin, Ashera yang awalnya tertidur itu, sekejap mata langsung bangun, ketika dentuman keras dari petir yang begitu dekat, langsung menjelma menjadi teriakan.
JDERR....
__ADS_1
"Akhhh....!" Ashera langsung meringkuk dengan kedua tangan mencoba untuk menutup telinganya. Kilatan demi kilatan yang tidak ada habisnya, berhasil menjadi cahaya ketakutannya.
Ashera mencoba untuk diam, tidak membuat suara dramatisnya. Tapi ketika dia menahan diri, keheningan yang berubah menjadi dentuman keras yang tidak terduga, selalu berhasil membuat tubuh Ashera menggigil ketakutan.
JDEERRR....
"Akkhh! Ibu! A-aku takut!" Teriak Ashera, dia mencoba untuk menjauh dari tempat yang suasananya terasa lebih mencekam itu, sebab ia tahu kalau di belakangnya itu adalah jendela yang memperlihatkan langsung kota mati dengan pemandangan mengerikan.
Dunia keras penuh dengan lika-liku cobaan yang tidak ada habisnya. Ashera, dia tidak ingin melihatnya, kegelapan yang di penuhi dengan rentetan petir yang menyerupai akar dengan keganasan yang luar biasa.
Yang mana, satu petir itu sendiri setara dengan energi untuk menghidupkan semua listrik di kota besar selama satu tahun penuh.
JDEEER....
'Ayah! Ibu! Aku takut! Aku takut! Dimana aku bisa bersembunyi!' Teriak Ashera di dalam hatinya.
Dia terus mencoba untuk mengingat ruangan mana yang lebih aman dengan tempat yang cukup kedap suara.
Ya, ketika di balik matanya yang terus terpejam, Ashera tetap melihat kilatan yang begitu dekat, membuat ekspresi wajahnya yang terkejut itu di susul dengan mata yang membulat lebar. Mulutnya mengatup dan Ashera pun kehilangan kata-katanya, sebab dia tahu apa yang akan terjadi dengan kilatan tadi adalah sebagai awal kondisi paling buruk yang pernah ada. Apalagi kalau bukan dentuman dari petir lagi.
JDEERR...
_______________
DRAP....DRAP.....DRAP.....
Dengan nafas memburu, pria dengan pakaian jas serba hitam ini, terus melangkahkan kedua kakinya dengan langkah yang begitu cepat, membuat sebuah kondisi untuk berlari menaiki satu persatu anak tangga.
__ADS_1
"Hahh...hh...hah...." Semua itu demi mencapai satu lantai di atasnya persis, lantai khusus yang di huni oleh kedua majikannya.
Benar, Daseon, sebagai satu-satunya orang yang di tugaskan secara khusus untuk merawat dan menjaga majikan muda nya, dia berlari untuk mengunjungi rumah alias apartemen milik sang Tuan muda.
'Semoga mereka berdua tidak kenapa-kenapa' Rasa khawatir bercampur dengan rasa terkejut, menyelimuti diri Daseon sendiri.
Dia mencoba untuk mencari tahu kondisi yang terjadi pada Arvin dan Ashera, karena sengaja Daseon tidak campur tangan urusan rumah tangga mereka berdua, sebab itu adalah urusan mereka.
Tapi kali ini, ia tidak bisa lepas tangan dulu, karena kekacauan paling besar baru saja terjadi, dimana petir tadi berhasil menyambar salah satu sisi dinding dari gedung ini, dan menghancurkan semua kaca jendela dari lantai satu sampai lantai tertinggi, yaitu 45.
Sesampainya di depan pintu, Daseon mencoba memasukkan nomor sandi dan akhirnya dia bisa masuk kedalam rumah dari kediaman pribadi milik Arvin sendiri.
KLEK...
"Tuan?! Apa anda baik-baik saja?" Tanya Daseon, mencoba mencari tahu keadaan dari Tuan muda nya.
Hingga langkah kakinya Daseon, berhenti tepat di samping dapur persis, karena di dalam kegelapan yang sepenuhnya menyelimuti rumah tersebut, seluruh angin, dan hujan yang begitu deras, langsung masuk begitu saja, sebab tidak ada yang tersisa dari kaca jendela yang secara keseluruhan, pecah semua.
Namun, dari pada itu semua, di dalam kegelapan yang cukup dingin itu, Daseon hanya melihat satu orang bertubuh tinggi yang sedang berdiri di ambang pintu balkon. Orang ini menatap keluar pintu, dan terlihat adanya tali jemuran beserta jemuran yang masih menggantung di besi pembatas balkon dengan kondisi sudah basah dan terus di terjang angin liar.
"Tuan?" Akhirnya Daseon memanggil majikannya yang sedang berdiri bagaikan patung itu.
Dan si empu langsung menoleh ke arah Daseon. Bermodalkan cahaya lampu dari LED flash handphone nya Daseon, Daseon akhirnya dapat melihat ekspresi wajah Arvin yang, entah, Daseon sendiri malah tidak mampu membaca perasaan dari pria ini, karena cukup bercampur aduk, seperti ekspresi seolah tidak peduli, tapi juga tersirat khawatir serta terkejut.
"Tuan? Dimana dia? Nona Ashera?" Daseon akhirnya menyadarinya, alasan di balik ekspresi wajah Arvin yang begitu susah di tebak itu, sudah jelas tertuju pada satu orang yang tidak bisa Daseon lihat di manapun.
Tapi, respon yang Arvin perlihatkan hanyalah keterdiaman, membuat Daseon jadi ikut khawatir dengan apa yang terjadi pada gadis yang baru empat hari tinggal itu.
__ADS_1
"Tuan, tidak mungkin kan-" Daseon tiba-tiba saja kehilangan kata-katanya saat memikirkan kemungkinan terburuk dari apa yang terjadi pada Ashera.
"Aku tidak tahu." jawab Arvin singkat, berhasil membuat Daseon yang biasanya bersikap tenang, jadi terlihat cemas juga.