Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
Tidak Becus


__ADS_3

Cuaca yang tadinya begitu cerah, berubah menjadi mendung. Didukung dengan langit kelabu yang perlahan membawa ratusan juta kubik air di dalam awan kelabu itu, membuat sebagian besar dari kota mulai mendapatkan pasokan air yang sangat berlimpah.


Tapi, apakah hal itu juga harus terjadi kepada Ashera?


"Hiks, ini sakit sekali. Ahh~" Ashera terus merintih kesakitan dengan perutnya, seolah ada yang sedang mengoyaknya.


"Apa kalian tidak bisa membuatnya di suntik obat bius dulu?" tanya arvin.


"Arvin, jaga sikapmu."


"Jaga sikap bagaimana?! Dia kesak-" menyadari kepanikannya sendiri yang tiba-tiba datang tanpa bisa di kontrol, Arvin langsung meralat dan mencoba memperbaiki cara bicaranya. "Dia kesakitan, apa kau pikir dia tidak menderita?"


"Kenapa kau begitu panik sekali? Dokter yang akan mengurusnya dengan baik, mending kau bantu aku cari nomor orang tuanya," perintah Fajar.


Fajar dan Arvin kini sudah berada di rumah sakit, dan tengah mendorong brankar yang membawa Ashera untuk masuk ke ruang UGD.


"Aku sudah mengurusnya, karena Ashera sudah ada di sini, dan aku sudah memberitahukan orang tuanya, jadi mending kau saja balik ke sekolah," pungkas Arvin.


Adu debat pun kembali terjadi.


"Ini juga bagian dari tanggung jawabku, aku akan tetap di sini sampai kedua orang tuanya datang."


"Hah? Kedua orang tua? Ternyata kau bahkan tidak lebih baik dariku soal semua latar belakang anak-anak di sekolah ya? Dia sekarang hanya punya Ibu, dan aku yang akan bicara dengannya, jadi kau tidak perlu memusingkan hal ini.


Di sekolah pasti kacau, lebih baik kau kembali ke sana," penjelasan dari Arvin pun benar-benar tidak bisa diganggu gugat. Tidak ada yang salah dengan ucapannya itu, tapi entah kenapa Fajar memang tidak ingin pergi dari sana.


Dia ingin menunggunya, setidaknya sampai para dokter yang sedang menangani Ashera selesai.


"Kalian berdua, jangan buat keributan," tegur sang suster yang sedang membantu mendorong brankar masuk ke dalam ruang UGD. "Dan dilarang masuk." peringatnya, begitu melihat Arvin yang hendak mendahului langkah kaki si suster ini.


KLEK....


'Dia harus baik-baik saja, kalau tidak- nenek.' pikir Arvin.


Arvin sudah mulai terbayang dengan sikap sang neneknya, yang pasti sekarang ini sudah tahu soal informasi mengenai Ashera.


Namun, karena dia menyadari bahwa Fajar ternyata masih berada di belakangnya, Arvin pun menegurnya kembali, "Kenapa kau masih ada disini? Tugasmu itu lebih banyak dariku, tidak seharusnya kau berada di sini lagi, waktunya sangat tidak efisien Jika kau terus berada di sini,"

__ADS_1


Fajar yang tidak punya pilihan lain lagi, dia pun memilih untuk pergi dari sana.


____________


Di dalam ruang kerja dokter Chaose.


Arvin baru saja mendonor darahnya gara-gara Ashera kehilangan banyak darah, apalagi karena di bank darah sedang kehabisan stok golongan darah yang tepat, maka dari itu Arvin pun rela memberikan darahnya untuk Ashera.


Lalu, untungnya darah miliknya cocok dengan milik ashera, sehingga tidak perlu banyak waktu lagi Arvin pun mau mendonorkan darahnya sampai dua kantong darah sekaligus.


"Bagaimana kondisi sebenarnya si Ashera itu?" Arvin bertanya dengan nada ketus seraya memberi plester di permukaan kulit yang baru saja ditanam jarum yang cukup menyakitkan. 'siang Ini kartunya atau cukup menyakitkan dan sekarang juga cukup lemas gara-gara aku mendonorkan lebih banyak darah daripada yang seharusnya.' pikir Arvin.


Sejujurnya dia baru pertama kali mendonorkan darahnya, dan ternyata rasanya cukup menyakitkan juga membuat tubuhnya sekarang saja cukup lemas.


Lalu kembali ke situasi yang sebenarnya, dokter yang ditugaskan untuk menangani Ashera, yang sudah berhasil menyelesaikan urusannya untuk pengambilan darah milik Arvin lantas menjawab pertanyaannya Arvin.


"Hah~ Kondisi dari Nona Ashera, dia untungnya bisa diselamatkan tepat waktu, tapi sayangnya tidak dengan janin nya," 


DEG...


'Itu sudah jelas, mengingat dia bahkan jatuh dari tangga, pasti dia mengalami keguguran. Tapi- apa dia memang benar-benar menyembunyikannya dariku atau dia sebenarnya tidak tahu? Aku harus bertanya saat dia sadar.' pikir Arvin, dia langsung mencoba mengoreksi semua inti dari kehidupan mereka yang bahkan dari awal saja Arvin sudah tahu, kalau Ashera seharusnya tidak mungkin hamil, tapi rupanya takdir selalu di luar konteks.


"Ada beberapa sendi yang terkilir, dan tulang lengan yang retak, tapi tidak begitu parah. Untung saja tidak terjadi apa-apa dengan kepalanya, jadi dia bisa sembuh paling tidak satu bulan.


Kalau kepalanya terbentur keras, kemungkinan besar Nona Ashera akan mengalami hilang Ingatan atau yang jauh lebih parah adalah adanya pembuluh darah yang pecah di otaknya.


Untungnya anda bergerak cepat untuk menolong kepala Nona." 


Padahal pujian itu seharusnya bukan untuk anak maka dari itu Arvin memilih untuk diam saja.


"Tapi itu hanya kesembuhan untuk fisik saja, karena pasien ini hamil muda, itu mempengaruhi soal mentalnya nanti, jadi saya pikir ini harus dikonsultasikan kepada kedua orang tuanya juga," penjelasan dari dokter pun jadi memperjelas apa yang akan terjadi kedepannya.


Termasuk soal nasib dari Arvin sendiri yang kemungkinan besar akan berhadapan dengan sang nenek.


Merasa terjerat dengan situasinya sendiri, Arvin pun memejamkan matanya sejenak dia mencoba untuk bersikap santai.


'Aku harus berhadapan dengan nenek, apa dia akan membunuhku karena aku tidak bisa menjaga Ashera dengan benar, padahal aku satu sekolah dengannya?' batin Arvin, dia pun harus mempersiapkan dirinya ke depannya, untuk menghadapi neneknya sendiri.

__ADS_1


__________


PLAKK.....


Lalu, itu betulan terjadi!


Suara tamparan yang begitu keras, langsung mendarat di permukaan pipinya Arvin.


"Dasar, kau memang cucu tidak tahu diri. Padahal kau kan satu sekolah dengannya? Apa kau bahkan tidak bisa menjaganya sedikitpun?" geram nenek Tina terhadap cucu satu-satunya yang menurutnya benar-benar tidak guna itu.


Untuk mendapatkan informasi tentangnya, baik itu pribadi maupun keseharian, bagi nenek Tina, itu adalah hal yang sangat mudah.


Tapi informasi kali ini sungguh mencengangkan!


"Ingat Arvin, walaupun bukan kau yang mencelakainya, tapi ketika Ashera kenapa-kenapa, itu sama saja dengan kau yang mencelakainya secara tidak langsung karena ketidakmampuanmu dalam menjaganya!"


Arvin yang terkena tamparan kuat yang diwakilkan oleh Luna, langsung menyeka sudut bibirnya yang pecah dan kembali berdarah, karena luka lebam di wajahnya akibat dari pertengkarannya dengan Enzo semalam, masih terlihat baru dan belum ada tanda-tanda membaik.


"Walaupun aku punya alasan yang ingin dikatakan, juga tidak akan didengarkan juga kan?" sahut Arvin.


Nenek Tina menatap sengit wajah Arvin yang lebam itu. Dia tidak peduli soal wajah dari cucunya yang lebam, karena memang itulah kebiasaannya.


Tapi yang membuatnya peduli, dan bahkan jadi semakin marah karena saking pedulinya, adalah ketika mengetahui kalau rupanya ketika dia hampir mendapatkan cucu, tapi semuanya harus kandas akibat dari ulah dua orang ini juga.


"Aku harus bagaimana? Ashera bahkan masih belum sadar," ringkih nenek Tina, dia mera tidak becus untuk membuat Ashera tidak menderita.


Padahal ketika Ashera bekerja sebagai pelayan di rumah utama, dan melayaninya secara langsung, Ashera justru menjadi orang yang begitu baik yang pintar untuk mengatur segalanya.


Tapi ini? Ashera bahkan terus berada di bawah penderitaan dari Arvin sendiri yang notabene nya adalah suami sahnya Ashera.


"Nyonya, anda sudah selesai marah-marah kan? Lebih baik duduk dan istirahat lebih dulu. Bagaimanapun anda tidak boleh membuat tensi darah anda naik lagi." peringat Luna, menuntun nenek Tina untuk duduk kembali ke sofa.


Sekarang mereka bertiga ada di ruang  kamar inap yang digunakan oleh Ashera, akan tetapi disitulah ada dua orang lainnya yang sedang saling berpegangan tangan.


"Ashera, kau dengar suara Ibu kan?" suara milik ibunya Ashera pun terdengar lirih, dan menyiratkan kesedihan yang amat mendalam.


Sebuah tatapan sendu menatap satu-satunya anaknya itu.

__ADS_1


__ADS_2