Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
140 : Arvin Menjadi Peran Pengganti


__ADS_3

"Aku tidak bisa sekarang," kata Arvin dengan seseorang yang ada di ujung telepon, yaitu Vani, mantan pacar Arvin saat dirinya SMP dulu.


Entah gerangan apa yang terjadi pada perempuan bernama Vani Airlanggani tiba-tiba menghubunginya, setelah sekian lama ini mereka berdua tidak pernah bertukar sapa dalam segala kesempatan yang bisa saja mereka berdua lakukan, Arvin hanya bisa menjawab seadanya dan berusaha untuk segera menyelesaikan pembicaraan aneh itu.


Tapi tidak dapat di pungkiri, setelah sekian lama tidak saling menghubungi, mendengar suara Vani dari balik telepon, Arvin sejujurnya merasakan sensasi nostalgia yang cukup kuat, untuk mengulas kembali masa lalunya, di awal-awal dirinya justru menembak kakak kelasnya sendiri di depan banyak teman-temannya, dan sampai di situlah, hubungan yang semakin erat pun terjalin.


Namun, karena tidak adanya kesempatan untuk saling bicara satu sama lain ketika beberapa tahun lalu putus,karena Vani tiba-tiba pergi keluar negeri, saat itulah komunikasi mereka yang tidak begitu menjanjikan karena kesibukan masing-masing, membuat Arvin dan Vani putus hubungan.


Tapi sekarang?


Ketika dirinya sedang mencoba membuat liburan dengan Ashera atas dasar perintah dari sang nenek untuk melakukan bulan madu, di tengah-tengah dia justru harus di hadapi dengan Vani yang tiba-tiba saja ingin ketemuan.


Sebenarnya itu mudah, tapi sayangnya entah kenapa hatinya merasa terjerat dengan keberadaan Ashera itu.


-"Yah, kalau begitu bisanya kapan?"- tanya Vani, perempuan yang semalam memberi pesan singkat kepada Arvin, memberitahu soal pertemuan mereka berdua, karena kebetulan sedang sama-sama ada di korea.


Entah alasan macam apa lagi yang akan di buat kepada Arvin, karena ia sendiri tidak bisa menolak permintaan dari mantan pacarnya, Arvin pun mengiyakan pertemuan itu, dengan syarat.


"Besok malam. Intinya, jika besok, aku masih ada waktu untuk bertemu denganmu, tapi jika kau berharap hari ini, itu tidak bisa," jelas Arvin, ia dengan sengaja tetap memberi batasan paling jelas kalau diantara mereka berdua sudah tidak ada hubungan apapun, jadi Arvin pun mau berkata demikian agar Vani tidak begitu menuntutnya.


-"Apa itu ada hubungannya dengan Ashera itu?"- tanya Vani kepada Arvin lagi, mencoba untuk menebak alasannya, dan setiap kali Vani menebak, semuanya berakhir dengan benar.


Karena Arvin melihat Ashera sudah balik dari toilet, Arvin pun segera menyelesaikan pembicaraan diantara mereka berdua saat itu juga.


"Beritahu tempatnya lewat chat saja, aku mau pergi lagi," beritahu Arvin, dan Vani yang berada di ujung telepon itu pun mengiyakan permintaan itu sebelum akhirnya sambungan telepon mereka terputus juga.


"Aku sudah selesai, jadi sekarang kita mau pergi kemana lagi?" setelah merapikan dirinya lagi setelah muntah-muntah beberapa saat lalu, Ashera pun penasaran dengan tujuan selanjut yang sudah Arvin siapkan untuknya.


"Apa kau suka konser?" tanya Arvin dengan senyuman tipisnya yang cukup memanjakan mata perempuan yang tidak sengaja melintas.

__ADS_1


Tidak ada orang yang tidak terpesona, apalagi para perempuan, mereka pasti akan terjerumus masuk dalam godaan dari Iblis macam Arvin ini.


"Entahlah, aku belum pernah pergi lihat konser," jawab Ashera dengan polosnya. "Tapi jika itu maumu, aku sih tidak masalah ikut kemanapun yang kau pergi,"


"Heh, jangan menyesal ya, awas tambah naksir," kata Arvin, menyindir Ashera yang sebenarnya masih bingung dengan maksud dari ucapannya itu.


'Kenapa ada anak sepercaya diri seperti dia ya?' batin Ashera.


"Tapi sebelum itu, kita akan pergi ke restoran dulu," ajak Arvin, dia yang tahu kalau sekarang sudah waktunya jam makan siang, memilih untuk mengajak Ashera makan siang.


Namun, tanpa di sadari oleh Ashera sendiri, sebenarnya Arvin pun sedang mencoba untuk memperhatikan jadwal makan dari Ashera ini, karena dari setelah muntah-muntah tadi, Ashera bahkan sama sekali tidak minta untuk dibelikan makanan atau apapun itu, untuk mengisi kembali perut yang sudah kosong itu.


Rasa sungkan yang begitu besar, Ashera adalah satu-satunya perempuan yang bahkan tidak minta ini dan itu kepadanya, padahal jelas kalau di sini orang paling kaya itu siapa.


Namun, Arvin memang tidak melihat adanya niat tersembunyi dari wajah Ashera ini, karena biasanya para perempuan suka menyimpan topeng asli mereka untuk di gunakan sebagai modal mereka untuk mengelabui mangsanya.


Dia banyak teman perempuan, tapi tidak ada satupun diantara mereka yang bisa Arvin ajak serius.


Bahkan sekalipun itu cinta pertamanya, hal itu tidak membuat Arvin tergerus dalam emosi untuk bisa lebih serius, karena berawal dari cinta pertamanya ini lah yang membuat Arvin pun jadi punya segudang rahasia di balik kehidupannya juga.


Ya, gara-gara Vani pergi keluar negeri tanpa pamit dan berakhirnya hubungan mereka, membuat Arvin menjadi yang seperti sekarang.


___________


Banyak yang beranggapan kalau menonton konser adalah pekerjaan untuk membuang-buang uang juga waktu, dan diantara mereka yang memendam lebih banyak rasa pada idola mereka, akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan tiket kelas VIP.


Tapi, apa jadinya jika orang yang bahkan tidak memiliki tiket apapun, justru dipersilahkan masuk untuk menilik ke belakang panggung dari konser terbesar dari band AliA yang berasal dari jepang itu?


"Ha? Ha?" Ashera yang tidak tahu apapun tentang acara tersebut, langsung melongo, dan melihat betapa banyaknya orang yang mengantri untuk masuk kedalam stadion.

__ADS_1


"Pegang tanganku, atau kau nanti tersesat seperti kucing kecil di pinggir jalan," peringat Arvin kepada Ashera yang benar-benar sangat terheran dengan tujuannya sekarang.


"Arvin, kita mau apa, sampai masuk kedalam area tenda staf dan artist?" tanya Ashera, dia sangat penasaran dengan tujuannya kali ini.


"Aku sengaja datang kesini karena aku akan menggantikan seseorang," balas Arvin, dia terus berjalan seraya mencengkram pergelangan tangan kanannya Ashera untuk terus berjalan mengikutinya, dan kalau bisa jangan sampai kejadian yang ada di bandara terulang di sini.


Karena jumlah orang yang ada di stadion melampaui jumlah pengunjung bandara setiap bulan.


'Apa sih yang dia katakan? Kenapa tidak langsung menjawab ke poin intinya saja?' tapi meskipun begitu, Ashera pun tetap berjalan mengimbangi kecepatan Arvin dalam berjalan itu. 'Dia ini sebenarnya mau gantiin siapa? Kenapa aku malah jadi tambah penasaran pada orang yang sudah mengambil kesucianku seenak hati ini? Bukannya aku terlalu bo doh untuk mendengarkan apapun yang dia katakan, ya kan?'


Terlihat, banyak orang korea dengan orang jepang, berkumpul jadi satu. Sekali lihat saja, Ashera sebenarnya tidak bisa membedakan mana orang jepang mana orang korea.


Namun itu tidak perlu di pikirkan, karena yang paling penting di sini adalah kenapa Arvin tiba-tiba saja masuk kedalam tenda?!


"Tunggu! Arvin, apa kau bisa jelaskan tujuanmu datang kesini dengan alasan yang bisa aku pahami dengan singkat?"


Arvin yang kebetulan memang sudah masuk ke dalam tenda sebagai ruang ganti, Ashera pun langsung terkejut dengan satu orang laki-laki yang tengah duduk di kursi itu, salah satu tangannya sedang di perban.


"Dia siapa?" suaranya yang sempat tinggi itu, langsung jadi rendah, karena tidak mau pertanyaannya itu terdengar oleh orang tersebut.


"Dia Bob, drummer dari band AliA,"


Ashera yang langsung melongo begitu melihat orang yang ada di depannya itu adalah Bob? Dia adalah seorang drummer dari anggota band AliA, yang cukup terkenal di jepang, dan kali ini ada tour ke beberapa negara asia, dan salah satu negara yang paling dekat sebagai start tour pertama mereka adalah Korea.


"Arvin, kau menepati janjimu, aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu di sini, apa kau tidak masalah di perjalananmu ke sini?" tanya pria berambut sebahu ini kepada Arvin yang baru saja muncul.


"Tidak ada, lancar saja, bagaimana dengan tanganmu?" tanya Arvin balik, melihat kondisi dari tangan Bob sebelah kiri, yang kondisinya benar-benar di perban penuh.


Sampai Ashera sendiri yang bahkan tidak tahu apa yang sedang di bicarakan oleh mereka berdua, sudah menebak kalau tangan itu sedang terluka, dan dengan melihatnya saja, Ashera pun langsung paham kalau Arvin bisa datang kesini karena hendak mengganti posisi Bob sebagai Drummer?

__ADS_1


__ADS_2