
“Ashera-”
“Apa aku akan dimarahi karena aku pergi lebih dulu tanpa memberitahumu lebih dulu?” sela Ashera, dia cukup berani untuk bertanya, karena rasa cemburu yang tiba-tiba muncul. ‘Haduh mulutku ini, aku jadi tidak bisa mengontrol kalau aku seharusnya memilih untuk diam saja. Kedengarannya kan aku jadi terlihat benar-benar sedang ngambek.’
Merasa terjerat dengan ucapannya sendiri yang terdengar cukup memalukan, ketika Arvin saja belum mengatakan apapun selain memanggil namanya lebih dulu, Ashera pun mencoba untuk memakan biskuit.
“Apa kau lebih nyaman di sini?” pertanyaan dari Arvin dengan tampang wajah yang begitu serius, membuat Ashera pun jadi buru-buru menjawabnya.
“Mungkin. Tapi disini akses untuk pergi ke kota, akan lebih cepat daripada di sana, dan aku juga jadi bisa melihat pemandangan juga sih,” gerutu Ashera seraya mengalihkan pandangannya ke arah kanannya, dimana pemandangan luar biasa dari kota yang kian menunjukkan cahaya malamnya.
Walaupun permasalahannya bukan itu saja, melainkah hal yang lain, yang menyangkut hatinya.
‘Mungkin, seandainya kau tidak pergi tanpa pamit seperti itu, aku tidak mungkin tidak akan merasa nyaman disana.’ Ashera. Seandainya Arvin tidak pergi, tapi sayangnya sekalinya pergi Arvin bahkan tidak memberitahu apapun kepadanya, Ashera tidak mungkin bisa tenang-tenang saja sendirian di rumah sebesar itu, apalagi di tempat yang cukup terisolasi, Ashera benar-benar bermasalah di bagian itu, mengingat kalau dirinya sekarang benar-benar merasa butuh bantuan dari orang lain.
Tapi, bahkan orang yang diharapkannya tidak ada untuknya, Ashera jadi cukup kesepian, seperti orang yang di telantarkan.
“Apa karena sebab kau tidak enak badan, makannya kau datang kesini?” tanya Arvin dengan mata memicing.
Ashera sedang menghindari tatapan matanya.
Walaupun Ashera memang biasa bertingkah seperti itu, tapi kali ini jelas ada yang berbeda, dimana Ashera punya alasan lain untuk menghindari tatapan matanya.
Bahkan jika mengingat apa yang belum lama ini Ashera tanyakan soal marah atau tidak, artinya Ashera memang punya sesuatu yang di sembunyikan darinya.
Ashera terdiam dengan ucapan Arvin yang satu tadi.
“Jika kau memang tidak enak badan, seharusnya kau menghubungiku, bukan menghubungi orang itu.”
“Tapi kan, aku takut mengganggumu. Kali saja selain sibuk belanja, kau kan bisa sibuk dengan urusanmu yang lain,” Ashera yang memang sudah mulai kenal dengan Arvin, kalau Arvin pasti punya segudang alasan untuk menyalahkan nya lagi dan lagi, jadi Ashera pun sama sekali tidak bicara lebih lanjut, dari yang diucapkan Ashera barusan.
Arvin pun jadinya semakin mengernyitkan matanya. ‘Apa dia tahu kemana aku pergi? Tapi memangnya dia sakit apa?’
Tidak tahan dengan rasa pensarannya yang muncul di benak hatinya itu, Arvin pun berjalan menghampiri Ashera yang terus saja mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
__ADS_1
“Apa pemandangan itu lebih menarik ketimbang aku?”
“Iya, tapi kita bahkan sudah bertemu setiap hari, jadi menurutku ya biasa saja sih,”
“Dasar pembohong kecil,” tatap Arvin, begitu sudah berada di depan persis dimana Ashera duduk, Arvin pun membungkukkan tubuhnya ke arah gadis itu dan mengulurkan salah satu tangannya itu untuk memeriksa dahinya Ashera.
Tapi, bahkan sebelum Arvin dapat menyentuh dahinya Ashera, Ashera refleks langsung menjauhkan kepalanya dari jangkauan tangannya Arvin tadi.
“Sini, aku periksa,” ketus Arvin, tidak suka jika objek yang ingin Arvin sentuh itu malah pergi menjauh. ‘Lumayan hangat, jadi apa itu alasannya tiba-tiba sering tidur? Tapi kenapa jika memang tidak enak badan, tidak memberitahuku waku pagi? Apa gejalanya baru di rasa tadi?’
Arvin yang tiba-tiba saja sadar dengan apa yang barusan dia pikirkan itu, benar-benar menyatakan kalau dirinya cukup khawatir kepada gadis ini, Arvin pun jadinya memejamkan kelopak matanya sebentar.
Setelah cukup puas untuk sekedar menata hati dan pikirannya itu, Arvin pun bertanya : “Apa ada alasan lain selain kau tiba-tiba mau pindah kesini? Selain yang kau katakan tadi? Ashera?” tanya Arvin dengan nada lirih yang cukup menggelitik salah satu telinganya.
Ashera yang begitu terkejut dengan jarak diantara mereka berdua yang benar-benar sangat dekat itu, sontak menutup kedua telinganya seraya menjauhkan tubuhnya dari Arvin.
Tapi, apakah Ashera mampu untuk menjauhkan bahkan wajahnya dari depan wajah Arvin, di saat kedua tangannya Arvin berhasil memenjarakan tubuh Ashera di antara kedua tangan dan tubuhnya?
Ups, mulutnya kembali nyerocos tanpa rem, kalau ucapannya itu berhasil memicu diri Ashera untuk mengungkapkan perasaan sebenarnya itu dari anak di depannya itu.
Kesal dengan tingkah Ashera yang terkesan seperti mengulur-ngulur waktunya, Arvin tiba-tiba mencnegkram rahang Ashera dan bertanya memberikannya pilihan lebih tegas lagi. “Jawab atau tidak? Katakan atau mau diam membisu? Jika kau tidak mau mengatakannya, aku yakin dalam beberapa detik kedepan mulutmu itu sudah habis aku makan,” ancam Arvin tanpa sungkan, bahkan tanpa memperdulikan apakah Ashera akan lebih takut kepadanya atau tidak, yang paling penting sekarang adalah dirinya yang bisa menemukan jawaban yang terus ingin Arvin dapatkan dari gadis di depannya itu.
“K-kenapa kau memaksa sekali sih?” Ashera pun jadi takut, benar-benar takut dengan ekspresi wajah Arvin yang begitu serius, seolah diirnya adalah musuhnya juga.
“Karena aku ingin mendapatkan jawabannya dengan segera. Kau tahu sifatku ini, jangan buat aku menunggu, katakan apa yang kau sembunyikan dariku, kalau bisa sampai ke akar-akarnya.”
Perasaan takut penuh dengan ancaman dari Arvin. Ashera pun perlahan langsung semakin tertekan dengan sosok dari laki-laki yang ada di depannya itu karena auranya yang cukup mengintimidasinya.
“Aku-” mulutnya jadi gemetar karena ketakutan.
Sungguh, jarak yang cukup dekat itu, sebenarnya membuat Ashera samar-sama merasakan aroma parfum milik dari seorang wanita lain.
‘Tidak boleh- aku tidak boleh terganggu dengan perasaan ini. Dia hanya anak dari cucu majikanku saja, dan aku tidak seharusnya peduli dia mau dekat dengan siapa, karena hubungan ini karena pernikahan paksa saja. Tahan, jangan buat dia seolah aku ini punya perasaan dengannya.’ deretan kalimat yang muncul di dalam pikirannya itu terus berteriak untuk mengabaikan perasaannya sendiri.
__ADS_1
Seharusnya begitu-
“Ashera, apa kau tidak dengar dengan apa yang aku katakan?” tatapan matanya Arvin yang begitu lekat untuk menatap ke arahnya, justru perlahan membuat Ashera jadi semakin merinding.
Itu adalah akibat dari tubuhnya yang tiba-tiba saja jadi teringat dengan kejadian yang terakhir kali itu.
“A-aku…, aku dengar,”
“Kalau dengar kenapa tidak langsung jawab? Kau mau membuang waktuku untuk menunggu jawabanmu?” tanya Arvin tanpa ragi.
Semakin ditanyai, semakin membuat tubuhnya semakin tidak bisa dikontrol itu, Ashera refleks jadi menundukkan kepalanya ke bawah.
“I-itu, setidaknya..setidaknya jauhkan dulu….wajahmu dari hadapanku,” pinta Ashera dengan sangat gugup.
“Tidak, aku ingin terus seperti ini sampai kau mau menjawab pertanyaanku tadi dengan jelas. Sejelas-jelasnya,” timpal Arvin, menolak permintaan Ashera.
GLUK…
Ashera yang seolah seperti berada di ambang kematiannya jika tidak segera menjawab pertanyaannya Arvin, Ashera pun menjawabnya dengan pelan “Aku- aku hanya c-cemburu,”
Dengan perasaannya yang sungguh diguncang dengan tekanan serta rasa gugup yang tidak ada bandingannya, tanpa sadar air matanya pun menetes keluar dari pelupuk matanya.
“M-maaf,” satu patah kalimat yang bisa dia katakan setelah mengungkapkan rahasia kecil yang ingin di pendam dalam diam, karena tidak ingin di katai oleh Arvin itu.
Entah itu ejekan, sindiran, ataupun alasan yang membuat lidah yang tajam itu terus membebel ke arah Ashera, Ashera benar-benar ingin menghindari mendengar kata-kata buruk yang biasanya keluar dari mulutnya Arvin itu.
“Hanya itu?”
Enggan untuk bicara kepada Arvin yang berhasil menyudutkannya sampai terlihat menyedihkan seperti itu, Ashera pun langsung melipat kedua kakinya dan segera membenamkan wajahnya di atas tumpukan kedua tangannya.
“Apa artinya kau sudah tahu apa yang aku lakukan saat pergi keluar?” tanya Arvin, mengkonfirmasi tebakannya itu kepada Ashera langsung.
“Ya, aku tidak sengaja melihatnya di medsos, jadi aku harap…jangan bully aku, karena aku cemburu,” terus terang Ashera, semakin memeluk memendam wajahnya untuk bersembunyi dari bali tatapan Arvin yang sudah benar-benar terkejut.
__ADS_1