Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
141 : Arvin Ikut Konser


__ADS_3

"Begitu, tapi kira-kira siapa perempuan yang kau bawa ini? Apakah dia kekasihmu?" tanya Bob, memperhatikan Ashera yang masih berdiri di belakang Arvin persis dengan mata terus melirik ke arah sekitarnya.


"Bisa dibilang begitu," jawabnya dengan singkat.


Karena sudah di perkenalkan oleh Arvin, Bob pun berinisiatif mengulurkan tangannya langsung ke depan Ashera.


"Dia mau apa?" Ashera yang tidak paham dengan maksud dari tujuan Bob itu, bertanya kepada Arvin.


"Dia ingin berjabat tangan denganmu, sebagai bentuk perkenalan. Jawab saja namamu,"


"Ashera," dengan canggung, Ashera menerima jabatan tangan daria orang jepang ini.


Bob sendiri yang merasa lucu melihat ekspresi Ashera yang begitu canggung, hanya tersenyum kecil, dan mengenalkan dirinya sendiri sebagai Bob.


"Aku Bob, terima sih kamu mau datang ke konser ini juga,"


Sebagai seorang penerjemah, Arvin yang benar-benar fasih dalam bahasa jepang juga, langsung memberikan terjemahan yang di katakan oleh Bob itu kepada Ashera.


"Dia berterima kasih padamu karena mau datang ke konser pertama mereka."


Ashera yang benar-benar polos dan sampai kehabisan kata-kata, hanya diam sambil menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Arvin yang benar-benar bodoh, bisa punya istri yang polos seperti itu, dalam diam dia ingin sekali menyentil jantung Ashera, saking gemesnya, karena semenjak kepribadian aslinya kembali, tidak ada satu pun yang bisa di kerjakan dengan benar, bahkan untuk melakukan ini dan itu, Arvin pun juga ikut di repotkan juga, berbanding terbalik dengan sisi Ashera yang satunya lagi.


"Nah, karena kau sudah disini, kau bisa ganti pakaiannya sekarang juga," Bob yang sebenarnya sudah punya kostumnya sendiri, dan seharusnya di gunakan untuk dirinya sendiri, dia pun jadinya memberikannya kepada Arvin.


Dan kostum yang harus digunakan oleh Arvin, justru adalah kostum koboi?!


"Eh sebentar, kelihatannya ini tidak cukup untukmu, aku akan panggilkan asistenku agar mencari kostum yang co-"


"Tidak perlu, aku bisa pakai ini langsung," tolak Arvin, dia menyela ucapan dari Bob, dan langsung menyambar jaket jeans tanpa lengan itu dengan cepat, sebelum di letakkan simpan lagi.


"Pegang itu," Arvin melempar kaos dan mantel coat miliknya ke Ashera persis.


Begitu sudah mendapatkannya, Arvin tanpa basa basi lagi langsung melepaskan pakaiannya, dan memilih untuk memakai jaket tanpa lengan itu tanpa menggunakan dalaman apapun.


Sontak, Arvin yang sebenarnya bertelanjang dada itu, langsung membuat Ashera jadi membatu.


Bagaimana tidak membatu, jika Arvin sekarang benar-benar tengah mengumbar pesona sekaligus fromonnya kepada semua orang.


"Whoaah, kau keren juga, padahal kau lebih muda dariku, tapi kau sudah punya tubuh sebagus ini, kau ingin pamer ya?" puji Bob dengan taburan sindiran yang begitu halus.


"Posisinya aku ini beda kelas, jadi aku jelas akan berkeringat lebih," sahut Arvin dengan cepat.


Yang di maksud Arvin kali ini adalah karena dia seorang drummer, dia akan jauh lebih banyak menggunakan tenaganya, ketimbang teman-teman Bob yang lain.


Bahkan, untuk sekedar berdiri di bawah lapu sorot saja, ia seperti sedang berjemur di bawah sinar matahari, jadi cukup masuk akal kalau dia yang tidak suka dengan rasa panas berlebih jika sudah berkeringat, memilih untuk memakai pakaian paling minim, dan dari kostum koboi yang di perlihatkan oleh Bob, Arvin hanya memilih bagian atasan yang seperti jaket, tapi tidak memiliki lengan.


"Ya, itu termasuk agar kau menggoda para perempuan di luar sana kan?" tanya Bob lagi, dia dengan mudahnya langsung menyentuh deretan roti sobek yang tertata rapi di perutnya Arvin.


Ashera yang dari tadi terlihat diam itu, dengan jahilnya Arvin langsung menarik tangan kanannya Ashera untuk mencoba menyentuhnya juga.


"Hahaha, bagaimana? Kau pastinya adalah salah satu dari jutaan perempuan di dunia ini yang menyukai perut seperti ini." ucap Arvin dengan mempertahankan tangan Ashera untuk menyentuh perutnya yang sixpack itu.

__ADS_1


"L-lepaskan," pinta Ashera dengan wajah horornya, saking takut sekaligus terkejut dengan tindakan Arvin yang tidak terduga itu.


"Nikmati saja, mumpung hanya ada kita bertiga saja, kau bisa menyentuh lebih dulu," goda Arvin, merasa lebih gemas lagi melihat ekspresi wajah Ashera yang benar-benar lucu itu, karena di dalam ketakutannya itu, juga terdapat rasa malu yang tidak kalah luar biasa.


'Y-ya ampun, kenapa aku, sekarang aku justru menodai tanganku dengan menyentuh perutnya ini? Tapi ini memang benar-benar terasa keras sih, tapi juga hidup, ahh...apa yang sebenarnya aku pikirkan? Ashera, diam-tenang, jangan terpengaruh dengan godaan dari raja Iblis penggoda ini.' batin Ashera, tidak bisa mengungkapkan perasaan miliknya di campur aduk menjadi satu. "A-Arvin, lepaskan ini, atau nanti malam bisa-bisa aku tidak bisa tidur, jika tang-"


Ups, Ashera tanpa sengaja malah keceplosan. Padahal itu adalah kalimat yang tadinya berada di dalam pikirannya juga, tapi tanpa di sengaja, mulutnya tidak mendapatkan rem yang berkualitas untuk tidak bicara yang membuat Arvin salah salah paham.


Alhasil Bob dan Arvin pun jadinya sama-sama terkekeh dengan ekspresi enggan dari Ashera tapi tangannya justru bertolak belakang dengan ucapan yang baru saja di ungkapkan itu.


"Kekasih anda lucu juga ya?" tanya Bob, dia masih tidak bisa menahan tawanya, meskipun lengan kirinya saat ini masih terluka.


"Benarkah? Padahal dia sebenarnya bukan pacarku," jujur Arvin dengan tiba-tiba.


"Lah, tadi bukankah kau mengiyakan kalau dia adalah kekasihmu?" tanya Bob, dengan wajah bingungnya. Padahal sampai beberapa saat lalu saja, Arvin mengiyakan kalau Ashera adalah kekasihnya, tapi sekarang apa?


Anak muda yang terlihat lebih dewasa ini, justru menjawab jawaban lain dari pada jawaban yang pertama.


"Sebenarnya bukan, dia itu adalah Istri bodohku, yang bahkan tidak pintar pakai bahasa inggris," beber Arvin kepada Bob, tapi arah pandangannya justru melirik ke arah Ashera dengan senyuman simpulnya.


"Istri? Apa? Kau yang masih semuda ini sudah punya Istri? Dan itu adalah perempuan ini?!" terkejut Bob, rupanya yang di bawa oleh Arvin ini adalah perempuan yang sudah jadi Istrinya?


Padahal di negara jepang saja, yang namanya pernikahan saja sudah cukup jarang, karena mereka memilih kalau hidup sendiri jauh lebih baik ketimbang dengan orang lain, tapi berbanding terbalik dengan budaya jepang yang saat ini dalam krisis angka kelahiran yang sangat rendah, gara-gara pikiran semua orang di sana tidak ingin punya anak, justru tidak dengan Arvin ini.


"Ya..., biasa. Kau pasti tahu apa yang biasanya laki-laki mabuk lakukan tanpa dia sadari kan?" beber Arvin, sampai Bob yang langsung paham apa maksud dari ucapannya itu, langsung di buat melamun.


"Tapi kenapa kau memberitahu hubunganmu padaku? Jika aku di posisimu yang masih sekolah SMA, aku juga tidak mungkin akan memberitahu rahasia terbesarku pada siapapun," matanya yang meminta penjelasan singkat namun padat dari Arvin atas dasar apa Arvin mau memberitahu rahasia itu, Arvin pun hanya menjawabnya dengan satu kalimat yang tidak akan di mengerti oleh Ashera sedikitpun.


"Bosan," satu kalimat yang cukup padat. Tapi jika ingin mendengarkan alasan jelasnya, Arvin pun angkat bicara lagi "Tiba-tiba hanya bosan saja, menyembunyikan rahasia ini terus dari semua orang. Tapi bukan berarti aku akan membeberkan rahasiaku kepada semua orang, aku hanya ingin setidaknya ada satu dua orang saja yang tahu rahasiaku, itu saja sih, tidak lebih,"


"Arvin, lepaskan, ini tidak baik untuk jantungku,"


"Aku tidak peduli itu, yang aku pedulikan saat ini, aku ingin ada yang mengusap perutku," jawabnya, tidak bisa membiarkan tangan Ashera yang sudah dia cengkram itu lepas dari tangannya.


____________


Hari ini Fajar dengan bahagianya, akhirnya bisa mengajak Alfian dan Yuli pergi ke salah satu konser yang di adakan di salah satu stadion di kota Seoul.


Mereka berdua sebenarnya tidak mengerti kenapa mereka berdua malah di ajak pergi ke tempat yang dipenuhi dengan keramaian seperti itu.


Tapi karena di sini Fajarlah yang memegang kendali atas tour dari mereka berdua, Alfian dan Yuli pun tidak mempermasalahkannya.


"Fajar, memangnya ini konser apaan?" tanya Alfian penasaran.


"Konser dari grup band asal jepang," Fajar menjawab tanpa bisa mengalihkan pandangannya ke panggung besar yang ada di depannya persis.


"Jepang? Pantas saja, kau yang bahkan sudah segede ini, masih saja suka anime, aku jadi memaklumimu, yang suka jepang ketimbang korea," ledek Yuli, dia sangat tahu kebiasaan dan kesukaan Fajar ini, yang masih suka menonton anime di sela-sela waktunya menjadi wakil ketua Osis dan seorang pelajar.


"Apa itu masalah? Lagi pula kan mumpung kita ada di sini," sela Fajar detik itu juga.


"Tidak juga sih, hanya saja merasa gokil saja, kau yang terlihat terpelajar ini, ternyata punya sederet hobi yang cukup bertolak belakang dengan karaktermu itu," balas Yuli.


"Hei sudah-sudah, jangan memancing keributan, aku sendiri tidak mempermasalahkan kita ada di sini, yang penting kau bisa menikmati liburan kali ini, ketimbang kau ada di rumah terus," pungkas Alfian dengan kalimat lain dari apa yang di katakan oleh Yuli.

__ADS_1


"Kau memang yang terbaik," ucap Fajar dengan lirih kepada Alfian.


Alfian yang tiba-tiba saja merasa Fajar ini sedang berekspresi menggoda, dia buru-buru menarik Yuli agar berada di tengah mereka berdua, membuat batasan agar Fajar tidak dekat-dekat dengannya (Alfian), alih-alih melindungi Yuli dari pada berhimpitan dengan orang asing.


"A-ada apa?" Yuli yang tidak tahu kenapa tiba-tiba saja Alfian menyeretnya kesamping Fajar, langsung menatap Alfian heran.


"Melindungimu dong, apa lagi?" sahut Alfian sambil memeluk lengan Yuli dengan manja.


Sok mesra di depan Fajar, Fajar pun benar-benar sadar kalau dirinya saat ini seperti sebuah obat nyamuk.


"Ih, sok-sokan jadi pahlawan," ketus Yuli. Tapi karena suasana di sekitar di mereka cukuplah ramai sekaligus meriah, Yuli pun perlahan terbawa suasana juga.


"Eleh, terserah aku dong, me-" Alfian yang belum selesai bicara itu, ucapannya itu tiba-tiba saja langsung di sela dengan semua lampu sorot yang tadinya terus menyala dengan semua warna yang memanjakan mata mereka, sekarang lampu-lampu itu sudah padam, dan membuat suasana di stadion itu seketika langsung menjadi gelap selain lampu stick yang mereka pegang.


"Hei, kayanya sudah mau di mulai,"


"Iya, aku jadi penasaran, konser dari band macam apa yang akan kita tonton ini,"


"Sesuai rekomendasi dari pemandu kita, yaitu Fajar, pasti akan memuaskan juga, ya kan Alfi?" tutur Yuli kepada kekasihnya itu.


"Hmmm," dehem Alfian, dia pun sudah memegang dua lampu stick berwarna ungu. Sebenarnya tidak hanya dirinya saja yang memegang lampu stick itu, karena semua orang yang menjadi penonton itu rata-rata memang sudah di bagikan masing-masing lampu stick oleh pihak penyelenggara.


Dan tidak perlu waktu yang begitu lama, suara milik seorang wanita yang diiringi dengan suara dari nada tuts piano pun akhirnya di mulai.


Hal tersebut pun membuat suasana di sana jadi semakin meriah, saat suara dari drum yang begitu keras langsung terdengar sampai ke segala penjuru.


Ya, suara drum yang begitu cepat, keras, serta cukup harmonis dengan nyanyian milik dari seorang wanita, membuat lampu sorot yang tadinya mati, seketika langsung menyala semua, tepat di kecepatan dari drummer itu ada pada titik paling tinggi.


"Yeahh! Baru juga intro, tapi bahkan ini sudah terdengar sangat bersemangat!" teriak Yuli detik itu juga, karena saking semangatnya dengan intro dari drummer yang begitu hebat dalam memukul alat drum nya.


Sampai Fajar, Alfian, dan juga Yuli, mereka bertiga yang tadinya sudah cukup menikmati suara dari pukulan seorang drummer yang begitu cepat, seketika ekspresi mereka bertiga langsung berubah seperti baru saja melihat hantu.


Mata mereka seolah mau lepas dari tempatnya, ketika apa yang mereka bertiga lihat di atas panggung itu, justru ada satu orang yang sangat mereka kenal, siapa lagi kalau bukan Arvin.


"F-Fajar! A-aku tidak salah lihat kan? I-itu Arvin!" jerit Alfian kepada Fajar. Sampai Alfian yang merasa cukup geregetan dengan sosok maskulin Arvin yang ada di atas panggung itu, membuat tangan Alfian pun terus mengguncang-guncang tubuh Fajar dengan kuat. "Itu Arvin, bagaimana anak itu bisa ada di sana ha?! Apa dia kurang tenar, sampai mau naik ke atas panggung dengan penampilannya yang seperti itu?!" teriak Alfian.


"Y-ya ampun, Arvin, ketua geng sekolah kita, kenapa dia malah ada di sana? Tapi ini hebat! Alfian! Ayo terus lompat-lompat!" Yuli yang kegirangan dengan sosok Arvin yang begitu hebat sekaligus cukup menggoda, terus menawari Alfian untuk ikutan melompat-lompat seperti kelinci yang melompat di tempat. "Yeahh! Mantap! Fajar, kalau seperti ini, bagaimana jika acara perpisahan yang akan di lakukan oleh kelas 12, kita adakan konser juga seperti ini? Pasti akan semakin meriah!" jerit Yuli, tiba-tiba saja dia pun menemukan ide yang tidak pernah di pikirkan oleh wakil ketua Osis yang ada di sampingnya itu.


"Ya ampun, dia siapa? Dia jelas bukan Bob, tapi lihat ototnya, kyaa! Dia keren juga. Walaupun dia memakai topeng di wajahnya, sudah jelas dia pasti punya wajah tampan!" jerit salah satu penonton perempuan, di seberang pagar pembatas dari tempat Alfian, Fajar dan Yuli berdiri.


"Alah, jangan pikirkan itu, nikmati saja apa yang ada, dan rekam semuanya!" sela teman dari perempuan tersebut, agar lebih baik menonton dan menikmati konser tersebut dengan penuh semangat.


"Ok! Aku buat live streaming nya sekalian!"


Arvin yang menjadi sosok baru dan tidak terduga di dalam konser tersebut, dan menempati sebagai seorang drummer paling keren, akhirnya membuat sebagian besar penoton pun sama-sama terhanyut dalam pesona yang bahkan wajah Arvin pun sama sekali tidak di perlihatkan di depan mereka.


Lantas apa yang membuat Fajar, Alfian dan Yuli bisa kenal kalau yang duduk di belakang alat drum itu Arvin?


Itu karena kebiasaan dari Arvin saat menjadi drummer, dia akan memakai seutas pita hitam yang di ikat di lengan kanannya yang cukup kekar itu.


Tentu itu adalah ciri khas milik Arvin, karena mereka semua tahu kalau Arvin bukan sekedar sebagai ketua geng di sekolah saja, tapi dia juga punya banyak bakat yang sudah di akui oleh semua orang di sekolah.


Biola, drummer, piano, bernyanyi, gitar, bela diri, menjadi seorang provokasi, balapan mobil, motor, dan banyak bakat lainnya yang beberapa diantaranya tidak di ketahui oleh semua orang di sekolah, Arvin adalah orang yang menjadi nomor satu, walaupun sikapnya cukup seperti seorang berandalan.

__ADS_1


Itulah alasan kenapa mereka bertiga seketika langsung tahu siapa orang di balik topeng dengan bentuk wajah burung hantu itu.


__ADS_2