
"Ashera," panggil Daseon, dia berlari terburu-buru untuk masuk kedalam rumah, dan segera mencari keberadaan Ashera.
"Daseon?" sahut Ashera tepat setelah dia mendengar suara yang cukup Ashera kenal.
Daseon yang akhirnya mendengar sahutan dari Ashera, langsung menoleh ke arah kanan, dimana di atas sofa, Ashera tengah terbaring dalam posisi miring ke samping kanan, menghadap ke arahnya persis.
Beberapa waktu tadi terlihat gadis itu tengah tertidur, tapi sukses terbangun karena kedatangannya.
"Kenapa Kak Daseon yang datang? Aku kira, kakak tidak di sini," Ashera bertanya-tanya, apa alasan dari Daseon yang datang ke rumah, padahal dia sempat berpikir kalau Daseon tidak ikut ke Korea.
"Bukannya kau yang meneleponku?"
"Hah? Jelas-jelas aku menelepon kak Luna, kenapa-" Ashera langsung mengernyitkan matanya.
"Kalau tidak percaya, cek riwayat panggilan," pinta Daseon terhadap Ashera yang terlihat bingung.
Ashera yang mengecek handphone nya itu, dia akhirnya langsung membenamkan wajahnya di kursi sifa, saking malunya, karena dia baru sadar yang dia hubungi bukanlah kak Luna, melainkan Daseon sendiri.
"Maaf, aku salah orang," ucap Ashera, meminta maaf kepada Daseon.
"Tidak perlu di pikirkan, yang penting bagaimana dengan kondisimu? Tadi aku dengan kalau kau sempat mual-mual," Daseon pun berjalan sambil membawa kantong plastik berisi obat yang sempat Daseon beli di apotek, saat dalam perjalanan ke rumah besar dari Tuan muda.
Namun sebenarnya, di dalam kantong plastik itu, bukan hanya ada obat saja, tapi ada alat tes kehamilan, karena mungkin saja setelah hari dimana Tuan mudanya menghabiskan hari bersama dengan Ashera, ada kemungkinan terbesar atas insiden itu.
Sebenarnya dia membelinya untuk mengantisipasi.
Namun begitu dia sudah berada di depan Ashera, tiba-tiba dia merasa tidak tega jika harus memberikan alat tes kehamilan itu, karena dia tidak mau membuat gadis ini malah kembali di buat dalam tekanan.
"Iya, aku memang mual-mual, tapi sekarang sudah mulai reda, karena aku tidak jadi makan," sebuah jawaban yang sama sekali tidak bagus.
Ok, bagus karena mual-mualnya sudah menghilang, tapi yang jadi permasalahannya, masa karena tidak makan?
Itu akan jadi masalah yang lebih buruk dari pada makan terus muntah. Perut yang kosong harus tetap di isi, bagaimanapun caranya.
"Apa jika aku buatkan makanan, selera makanmu akan datang?" tanya Daseon.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, tapi maaf, jadi merepotkan, sampai jauh-jauh datang kesini." sahut Ashera.
"Jangan katakan lagi, ini sudah jadi tugasku untuk melayani Istri dari Tuan muda yang aku layani, jadi abaikan apapun atau alasan apapun yang membuatku datang kesini," tegas Daseon.
Sebenarnya tidak enak juga, karena harus memberikan batasan sedemikian rupa kepada Ashera. Tapi apa boleh buat? Ia tidak mau dirinya karena masalah perasaan yang di miliki Ashera kepadanya, membuat pekerjaannya sebagai buttler terkendala.
Mengabaikan Ashera yang terdiam, Daseon pun mengeluarkan obat yang dia beli dari dalam saku jas nya.
"Nanti setelah makan, makan obat ini. Atau mau pergi ke rumah sakit?"
Ashera hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mau, karena dia tidak ingin pergi dari sana, apalagi harus melintasi jalan yang cukup panjang untuk sampai ke rumah sakit, rasanya itu menyebalkan, apalagi mobil, dia tidak begitu suka naik mobil yang menjadi alasannya selalu saja mabuk perjalanan.
"Apa aku masuk angin ya?" tanya Ashera dengan gumaman.
Tidak mendengar sahutan apapun dari Daseon, Ashera pun kembali menoleh ke arah kiri, dan ternyata pria itu sudah ada di dapur.
Memakai celmek, menggulung lengan dari kemeja putih, Daseon pun akhirnya mulai berperang di dalam dapur.
'Kak Daseon, dia pintar sekali memasak, kalah dengan Arvin yang sukanya mengomel. Tapi Arvin kemana ya? Karena sudah aku cari seisi rumah, tapi dia tidak ada, berarti dia pergi. Mobilnya juga tidak ada sih, tapi pergi kemana? Kalau iya pergi, kenapa tidak memberitahuku? Yah, setidaknya tinggalkan memo di kulkas atau dimana, tapi ini tidak. Yah, sudah jadi ciri khas nya.' ngedumel Ashera dalam hati.
Banyak sekali pertanyaan kemana, sedang apa, dimana, dan kenapa dirinya di tinggal atau tidak diberitahu pergi kemana.
Tapi, perbedaan antara nyali dengan keinginannya itulah, yang menjadi batasan yang sedang Ashera miliki.
'Aku tidak berani meneleponnya, takut mengganggu.' satu pikiran itu pun akhirnya membuat Ashera langsung melempar handphone nya sampai emndarat di pojokan sofa, dan kembali memeamkan matanya, karena saking tubuhnya tidak enak sekali, hawanya ingin terus tidur, ingin makan, tapi tidak ada makanan yang bisa dia makan, karena perutnya terus menolak untuk di isi.
Kemungkinan, ia harus mendapatkan makanan sesuai keinginannya.
Keinginan kecil yang tidak bisa dia buat sendiri karena kondisi tubuhnya tidak mendukung, yaitu : 'Aku ingin sup bening yang asin, banyak wortel, tomat, brokoli, sayur caisim, tahu, ada daging ayam juga sapi.' ucap Ashera dalam hatinya. "Ah, lebih baik tidur sajalah, dari pada mengharapkan hal yang tidak mungkin." lirih Ashera.
Dan dia pun perlahan kembali tertidur dalam posisi tengkurap, sampai dalam beberapa waktu saja, sudut bibir Ashera langsung mengeluarkan air liur.
Padahal baru 10 menit berlalu, tapi dia sudah meneteskan air liur kelaparan.
"Ashera," panggil Daseon sambil menepuk punggung Ashera agar gadis yang sudah terlelap tidur dengan air liur yang mulai membasahi tempat duduk dari sofa itu bisa terbangun. "Ashera. Makannya sudah matang, makan dulu,"
__ADS_1
"Hah?!" Ashera yang terkejut dengan perasaan dari sudut bibirnya yang terasa basah, sontak dia langsung bangun dengan kelabakan. 'Aduh, aku sampai ngiler seperti ini.'
malu setengah mati, karena langsung ketiduran dan tanpa sadar hingga air liurnya mengalir keluar dari mulutnya, dia pun buru-buru menyeka pipinya yang tak luput dari bau jigong nya sendiri.
"A-ada apa? Makanan apa?" tanya Ashera dengan buru-buru, walaupun perasaan malunya masih tersimpan banyak dalam pikirannya. 'Aku benar-benar sampai ngiler seperti ini di depannya, kira-kira dia menganggapku seperti apa ya?'
Namun tidak seperti yang di harapkan kalau Daseon akan menertawainya karena sikap yang tidak pantas tadi, gara-gara tidur sampai ngiler di depannya, Daseon hanya bersikap biasa saja, dan langsung kembali berdiri sambil menunjuk ke arah meja makan yang terlihat sudah ada beberapa makanan yang berhasil Daseon masak dengan baik.
"Seperti yang diharapkan dari seseorang yang sedang mual tapi inginnya sup, aku sudah membuat sup kesuakaanmu, dan ada juga jus jeruk, itu biasanya kalau orang mual, rasa asam dan manis serta asin yang kuat, lebih dominan untuk meredakan ketidakinginanmu untuk makan,"
'D-dari mana dia tahu aku suka yang seperti itu?' Ashera pun memandangi Daseon yang rupanya tahu kebiasaanya yang dia suka tanpa Ashera beritahu kepadanya. "Apa kakak paranormal?"
"Jangan mengatakan yang aneh," timpal Daseon dengan ekspresi wajahnya yang datar. "Makan dan segera minum obat," setelah mengatakan itu, Daseon kembali merapikan pakaiannya, dan memakai jas nya lagi.
"Kakak mau kemana?"
Melihat mata dari gadis itu menatapnya dengan tatapan polosnya, Daseon pun tidak bisa untuk tidak menjawab : "Aku tidak akan pergi kemanapun sampai Tuan muda kembali, jadi lakukan apa yang kau mau, aku akan pergi ke kamar Tuan muda lebih dulu,"
Sebuah jawaban yang tidak kurang juga tidak lebih, Daseon pun sudah menghilang dari pandangannya begitu saja.
"Memangnya ada apa dengan kamarnya Arvin?" lirih Ashera.
Karena pada dasarnya dirinya sebelum ini sangat jarang atau bahkan hampir tidak pernah bertemu dengan Arvin, dalam artian untuk saling bicara atau salam sapa, mulutnya pun hanya terbiasa dengan memanggil namanya tanpa sebutan Tuan muda, dan kata dari orang yang bersangkutan itu sendiri malah memang memintanya sendiri untuk memanggil namanya saja, karena Arvin tidak mau di anggap Tuan muda di muka umum, sebab identitasnya yang tidak boleh ketahuan kalau Arvin itu adalah tuan muda dari Ravarden.
Maka dari itu, tidak ada diantara mereka, yaitu teman-temannya Arvin yang kenal Arvin dengan benar, dan membuat mereka dengan santai memanggil namanya.
Iya, nama yang begitu pantas untuk sosoknya yang terus saja pergi berkeliaran entah kemana seperti kucing liar yang terus berkelana ke segala tempat mencari tujuan yang terlihat tidak jelas.
"Arvin, apa aku kirim pesan saja?" Ashera yang tidak bisa untuk tidak penasaran itu, buru-buru meraih handphone nya yang sempat dia buang ke sudut sofa, dan karena tidak ingin mengganggu urusan dari laki-laki itu, Ashera pun hanya memberikannya pesan singkat. 'Nah, kalau seperti ini kan jadinya serasa lebih lega.' senyum Ashera, karena bisa memberikannya teks pesan singkat kepada Arvin.
Walaupun dirinya berharap kalau Arvin akan membalasnya, tapi Ashera pun tahu, kalau laki-laki seperti Arvin itu tidak mungkin akan membalasnya dengan cepat, atau bahkan mengabaikannya, bagi Ashera, dia tidak mempermasalahkannya, karena dia tahu posisinya yang terkadang akan di anggap juga tidak di anggap oleh Arvin.
"Tapi ini, kenapa kak Daseon pintar sekali memasak ya? Bahkan sampai tahu kesukaanku, aku tidak yakin dia itu manusia." tidak mau membahas masalah soal Daseon atau Arvin lagi, Ashera pun menarik kursi, duduk di sana dengan segera, Ashera pun segera mencicipi makanan yang di buatkan Daseon untuknya. 'Bahkan rasanya lebih baik dari pada aku. Kenapa rasanya jadi membuatku punya nostalgia dengan Ayah? Kalau saja Ayah masih hidup, pasti kita bisa makan bersama dengan Ibu.'
Haru dalam suasana sepi, Ashera pun tersenyum kecut melihat dirinya yang terus saja makan sendirian di meja makan yang bisa menampung sampai sepuluh orang.
__ADS_1
'Aku seperti hidup tidak ada bedanya saat sebelum aku menikah dengan Arvin.' batin Ashera, dia pun menyeruput satu sendok air sup kedalam mulutnya, dan seketika itu juga, Ashera pun bisa merasakan segala isian yang ada di dalam sup itu menjadi satu.