
"Vani, Daseon, coba aku ingin dengar apa yang terjadi pada dia." Dengan raut wajah suram, Arvin menunjuk pada satu perempuan yang terus menempel di lengan kirinya.
"Saya juga tidak mengerti Tuan muda." Jawab Daseon.
"Iya, ini juga pertama kalinya untukku." Jawab Vani dengan jujur. "Tapi aku hanya bisa mengatakan kalau mala tadi dia sempat demam tinggi, kau tahu, demamnya sampai 41 derajat, itu sudah cukup bahaya, bahkan dia sampai kejang-kejang. Lalu tujuh jam setelah itu, dia jadi seperti orang lain, ya kan, dia jadi seperti itu, lihat, Ashera yang tadinya kelihatan sedih jadi terlihat bahagia seperti itu." Vani pun sempat merasa iri dengan Ashera yang hinggap seperti lebah ke permukaan bunga, dan Arvin bagaikan bunga itu sendiri.
'Ada juga yang kasusnya seperti ini?' Arvin menepuk dahinya sendiri untuk beberapa saat sebelum ia melirik tajam wajah Ashera yang ada di sampingnya persis itu.
"Apa kau akan pergi sekolah tanpaku?"
Bahkan Daseon sendiri jadi merasa geli hati melihat tingkah Ashera yang tidak seperti malam tadi.
Rasanya, Daisy tiba-tiba jadi seperti orang lain. Dan sekarang, buktinya Daisy seperti ingin di manja oleh Gavin.
Gavin yang sebenarnya masih lelah, jadi merasa terusik dengan kehadiran Ashera. Bukan karena tidak menyukainya, dia harus pinta-pintar dalam membagi antara urusan pribadinya yang berkaitan dengan batinnya, dengan akal sehatnya sebagai seorang pelajar.
Tentu, dia masih tahu soal batasan itu, tapi pagi-pagi seperti ini, Ashera malah sudah memancingnya.
Bahkan rok sekolah yang terakhir kali Arvin ingat, panjangnya seharusnya di bawah lutut, itulah yang biasanya Ashera pakai, kini justru cukup pendek dan rok itu benar-benar menggantung sampai lima centimeter di atas lutut.
Tentu saja, itu bukan seragamnya, melainkan seragam milik Vani ketika masih sekolah dulu, maka dari itu, Arvin pun merasakan samar-samar aroma pewangi pakaian yang di gunakan di seragam itu, sangat membuat Arvin merasakan nostalgia yang cukup kuat ketika dirinya masih berpacaran dengan Vani.
Baginya, usia bukanlah pembatas dari orang yang jatuh cinta, makannya ia pernah pacaran dengan Vani yang lebih tua dari nya.
"Kau disini saja, tidak usah ikut." Dengan tegas, Arvin menolak untuk membawa Ashera ikut dengannya, pergi ke sekolah, karena Daisy sendiri memang dalam masa skors. Jadi Ashera pun harus menunggu sampai masa skors itu habis.
Dengan wajah sedih, Ashera pun melepaskan pelukan di tangannya Arvin dan membiarkan Arvin pergi berangkat ke sekolah.
_________
Di sekolah.
"Apa kau dengar berita soal ada salah satu gedung yang tersambar petir?"
"Iya sih, tapi memangnya ada?" Pikir perempuan ini, mencoba mencari-cari berita itu, tapi sama sekali tidak ada di dalam berita harian yang biasanya ia lihat lewat online.
"Sebenarnya ada, karena ada yang melihat kejadian itu secara langsung. Mungkin saja, karena tidak mau ada penyebaran berita itu, ada pihak ketiga yang menghapus berita itu."
"Sampai begitunya? Memangnya gedung apa yang terkena sambaran petir?"
Satu kelas pun bertanya-tanya, karena tidak ada diantara mereka yang menemukan berita soal gedung yang tersambar petir.
"Sebuah gedung apartemen. Dan gedung apartemen itu adalah gedung di kawasan jalan xxx."
Sontak semua orang terkejut mendengarnya, karena gedung apartemen yang ada di jalan xxx adalah gedung mewah yang berdiri di kawasan elit, dan hanya diperuntukan untuk orang kaya saja.
Tapi karena gedung itu letaknya sedikit tertutup dari area luar, dan punya penjagaan yang ketat, maka tidak ada yang bisa menjelaskan kronologi apapun, baik siapa yang kira-kira tinggal di sana, atau siapa pemilik gedung itu, bahkan siapa orang yang biasanya keluar masuk ke sana, semuanya terlalu ketat untuk mereka yang merupakan orang kaya recehan biasa.
"Kedengarannya kalian semua sedang membahas hal yang seru." Suara milik Arvin seketika membuat semua orang satu kelas jadi terdiam.
"Hihihi, aku jadi penasaran, kalian sedang bicara membahas apa." Tidak hanya Arvin saja, tapi ada tiga orang teman lainnya yang tiba-tiba saja datang ke kelas mereka.
Dan ketua kelas dari kelas 11-C langsung bertanya atas ketidaktahuannya. "Apa yang membawa kalian datang ke kelas ini?"
Arvin tidak menjawabnya, karena dia sedang sibuk untuk melihat ke sekelilingnya, jadi yang menjawabnya adalah teman-temannya Arvin.
__ADS_1
"Biasalah, masalah razia tentunya." Ejek Anggih, dia adalah rekan satu grup dengan Arvin sebagai seksi keamanan.
Dan semuanya hanya di dominasi laki-laki, jadi ada yang melihatnya dengan wajah tidak suka, ada juga yang sebaliknya, sebab kelompok dari geng yang di ketuai oleh Arvin ini seakan memilih anak buah berdasarkan wajah, maka dari itu, jika kebanyakan laki-laki menatapnya dengan penuh dengan kebencian, beda lagi dengan para perempuan yang sudah menganggap seksi keamanan adalah seorang idol untuk mereka semua.
"Razia? Memangnya sedang razia apa?"
"Yah~ mungkin ada sesuatu di balik tas berharga kalian itu. Apa itu kami tidak akan memberitahunya." Imbuhnya lagi.
"Keluarkan tas kalian, dan buka locker kalian juga." Perintah Arvin dengan tampan wajah yang cukup dingin, membuat seluruh orang di dalam kelas, merasakan aura Arvin yang cukup mengintimidasi.
Dia bukan marah karena pekerjaannya itu, tapi karena hal lain.
'Nenek, lagi-lagi dia ikut campur.' detik hatinya sambil menatap keluar jendela, yang mana di luar sana terlihat neneknya sudah datang. 'Tch..., sebenarnya ada apa lagi? Aku sudah cukup sibuk dengan urusanku, tapi bisa-bisanya aku harus berurusan dengan masalah internal yang berkaitan dengan nenek.' Gerutu Arvin di dalam hati.
"Sini, kunci-kunci, aku yang akan membuka locker kalian semua, jadi kalian hanya duduk manis saja di sini." Kata Anggih. "Kalian berdua, bantu aku." Anggih memanggil kedua temannya untuk membantu menyelesaikan pekerjaan mereka, agar lebih cepat.
Sedangkan Arliana, dia menatap Arvin yang ada di depan mejanya itu dengan begitu lekat.
"Apa ada yang ingin kau katakan?" Tanya Arvin, dia duduk di meja guru sambil membalas tatapan Arliana ini.
"Apa kau mau menerima ini?" Arliana membuka tas miliknya, dan menyerahkan satu kota kado ke Arvin.
"Apa itu?" Tanya Arvin, dia tidak begitu peduli dengan hadiah itu ataupun isinya, tapi setidaknya ia akan sedikit berbasa basi dengan nya. Apalagi sampai memberikan hadiah di depan banyak orang. 'Dia memang sengaja untuk terus menarik perhatian banyak orang.' Arvin terus menatapnya, entah isinya apa, apapun itu Arvin tidak akan menerima hadiah dari Arliana ini, karena perempuan ini sudah mempermalukan dirinya di malam itu.
"Kau kan belum lama ini ulang tahun, jadi aku ingin memberikanmu hadiah. Terima ya?" Dengan wajah sok memelas dan kalem, Arliana mungkin bisa membodohi banyak orang, tapi tidak dengan dirinya.
Tapi, karena sudah mau memberikan hadiah itu kepadanya, setidaknya ia harus tahu apa isinya.
Arvin pun mengambilnya, dan membukanya sedikit, setelah tahu apa isinya, Arvin langsung melemparnya ke Anggih.
Mendengar namanya di panggil, tanpa menoleh ke samping, Anggih langsung menangkap kotak kecil yang berisi parfum.
"Ambil itu, hadiah dariku."
"Whoahh, kau memang pengertian, akan aku ambil." Dengan begitu senangnya, Anggih pun mengambil parfum mahal itu ke dalam saku, dan langsung membuang kotak pembungkus yang di bungkus dengan cantik itu kedalam tong sampah.
"K-kenapa?! Padahal aku memberikannya sebagai hadiah untukmu." Arliana yang merasa terhina pun jadi menuntut penjelasan.
"Ya, aku bahkan tidak pernah memintamu untuk memberikanku hadiah. Tapi karena kau sudah repot-repot membuat hadiah untukku, jadi ak-"
"Tapi kenapa kau malah memberikannya ke orang lain? Itu kan untukmu!" Marah Arliana, karena parfum yang Arliana beli untuk Arvin ini adalah edisi terbatas, dan untuk mendapatkannya pun sangat susah.
Arvin menyeringai, baru kali ini ada perempuan yang secara terang-terangan mengatakan bicara seperti itu. Sungguh berani, padahal hak setelah menerima hadiah tentu saja sudah berubah menjadi milik Arvin sendiri, jadi ia pun bebas akan memberikannya kepada siapapun, karena itulah balasan yang Arvin lakukan atas apa yang terjadi pada malam itu.
"Ha..., ternyata kau tidak ingat soal itu ya? Ya sudah, lagi pula apapun yang sudah ada di tanganku, berarti sudah menjadi milikku, dan terserah aku mau melakukan apa dengan barang itu, kau sudah tidak punya hak lagi untuk menggugatnya lagi, apa hal sepele seperti itu masih ingin kau tuntut? Jika memang tidak rela, seharusnya kau tidak usah memberikannya kepadaku." Papar Arvin begitu jelas dan tidak bisa membuat Arliana bisa berkata sepatah katapun. "Kau kan orang kaya, seharusnya sih, parfum itu seperti uang jajan harianmu." Sindir Arvin.
"Benar juga sih, apa yang di katakan oleh Arvin itu."
"Dia kan sudah memberikannya sebagai hadiah, jadi mau Arvin lakukan dengan hadiahnya, kan jadinya terserah dia."
"'Wah, apa Arliana memang seperti itu? Perhitungan sekali dia, kalau iya perhitungan seperti itu, bukannya lebih baik tidak usah memberikannya kepada Arvin."
"Khihihi, niatnya pasti ingin berbuat baik di depannya, tapi karena harga parfum nya saja sampai 20 jutaan, pasti dia tidak rela parfum itu ada di tangan orang lain."
"Rencananya gagal tota tuh."
__ADS_1
"Kasihan sekali dia."
'Tadi, apa yang di maksud oleh Arvin?' Batin Arliana, dia masih bingung dengan maksud dari ucapan Arvin 'Ingat soal itu?'
Selagi Arliana menahan amarahnya karena sikap Arvin tadi sama saja dengan menolak perasaannya, dan apalagi hadiah mahal yang ia berikan malah jadi di berikan kepada orang lain, Arliana sebenarnya lebih fokus terhadap cara Arvin menatap ke arahnya, itu bagaikan ada sebuah dendam yang terkubur terhadapnya.
'Apa sih? Aku jadi bingung, kenapa dia terlihat marah kepadaku? Padahal aku selama ini tidak begitu mengusiknya, ini juga baru pertama kalinya, tapi seolah, perbuatan dia sekarang, seolah sedang membalas dendam kepadaku, untuk mempermalukaku.' Pikirnya. Arliana benar-benar tidak tahu kalau Rider yang mana di tiga hari yang lalu ikut lomba dan memenangkan juara pertama, tapi malah di permalukan di depan banyak orang, adalah Arvin sendiri.
"Ayo buka, buka tas kalian. Aku ingin lihat kalian sedang menyembunyikan apa di dalam tas kalian." Oceh Anggih, merasa mendapatkan hadiah lotre, karena bisa memiliki parfum mahal pemberian Arvin, Anggih pun jadi lebih semangat untuk menggeledah semua isi tas semua orang di kelas itu, untuk menemukan barang-barang yang seharusnya tidak di bawa.
"Apa kalian bisa cepat sedikit? Ada banyak kelas yang harus aku gledah." Perintah Arvin dengan aura kepemimpinannya.
"Makannya, Bos bantuin juga dong."
"Hei, aku ini Bos kalian, ya seharusnya anak buahku yang melakukan pekerjaannya. Makannya, jangan lelet." Tukas Arvin saat itu juga, membuat mereka semua tidak ada yang berani berkutik, karena aura Arvin yang mengintimidasi itu cukuplah kuat.
"Enaknya jadi Bos." Gerutu Anggih, menggeledah satu persatu tas, dan juga locker.
Dan mereka pun mendapatkan adanya rokok di beberapa tempat, ada juga yang membawa pisau?
"What? Kau membawa pisau? Apa kau mau masak ha?" Anggih mengangkat tinggi-tinggi pisau lipat itu.
"I-itu pemberian dari Ayahku."
"Hohoho, maaf saja, ini akan kami sita juga." Dengan tatapan jenaka, Anggih mengantongi banyak barang yang tidak seharusnya di bawa, dan diantaranya. "Hei, kau. Kotak apa yang kau pegang?" Tanya Anggih saat rekan nya itu malah memegang barang paling pribadi.
"Siapapun tahu lah, ini alat kontrasepsi."
Banyak yang mencoba menahan tawa, karena rupanya ada salah satu teman sekelasnya, yang membawa alat kontrasepsi.
"Kenapa pakai di bicarakan keras-keras sih?" Gerutu lak-laki remaja ini, merasa malu karena jadi ketahuan kalau dirinya membawa barang seperti itu.
"Ha~ Makannya, jangan bawa barang seperti ini. Ini kan sekolah, kalau mau ***--*** ya mending tidak usah sekolah di sini, mending ke sana, tempat yang cocok."
"T-tapi itu bukan punyaku." Terus membuat alasan, karena barang itu memang bukan miliknya.
"Ya, ya~ Banyak yang akan menyangkalnya kalau itu bukan punyaku dan punyaku." Anggih jadi membebel sendiri sembari menyimpan sekotak alat kontrasepsi kedalam kantong sampah yang dia bawa.
"Tapi aku bicara sungguh-sungguh! Itu punya pesanan kakak iparku." Papar laki-laki ini. Sebenarnya tidak ada kebohongan, karena barang itu memang bukan miliknya, melainkan pesanan dari kakak iparnya.
Dan setelah pulang sekolah, ia harus memberikannya kepada kakaknya itu.
"Kalau memang iya, itu pesanan kakak Iparmu, seharusnya kau beli saat pulang sekolah."
Mulutnya pun langsung terdiam dengan saran yang di berikan oleh Arvin kepadanya. "A-aku pelupa."
"Huh~ kalau memang pelupa, kenapa tidak minta saja pihak toko untuk mengirimkannya ke alamat rumah kakak iparmu."
Nyalinya untuk bericara pun semakin menciut, karena semua yang di katakan oleh Arvin ini, selalu saja masih bisa di nalar.
"Hahah, walaupun kau pintar untuk memberikan saran kepadanya-" Anggi melirik ke arah Arvin yang enak duduk sambil memberikan perintah. "Tapi siapa juga yang akan memikirkannya sampai sejauh itu?" Imbuh Anggih.
Tidak suka dengan cara bicara anggih yang seolah sedang membanding-bandingkan dirinya dengan anak ingusan yang duduk di belakang sana, Arvin yang sudah merasa sumpek di dalam kelas dengan segala aroma parfum yang cukup menyengat, Arvin langsung pergi begitu saja.
"Kau urus saja kelas ini sampai selesai, aku di kelas sebelah." Pungkas Arvin, dan pergi dari sana.
__ADS_1