Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
116 : Taruhan 2


__ADS_3

Bagaimana jadinya, ketika orang yang biasanya sering dia remehkan, karena penampilannya yang terlihat kampungan, udik, dan bahkan seperti seorang perempuan bar-bar dari kampung, tiba-tiba jadi seorang yang berbanding terbalik sebanyak seratus delapan puluh derajat?


Ashera, demi membuatnya benar-benar seperti orang lain, dia memilih untuk menyamar jadi seorang pria.


Namun, dari banyaknya penampilan yang bisa dia pakai, dia justru memilih untuk berpenampilan seperti seorang pria sejati.


"Hei, apa kau tidak bisa menggunakan penampilan lain selain itu?" tanya Arvin sambil mendelik ke arah Ashera yang baru saja memperbaiki posisi dari perban yang melilit dadanya sendiri, lalu memakai kemeja pendek berwarna hitam yang di padukan dengan blazer berwarna Navy.


Memakai aksesoris berupa kalung berwarna silver, lalu cincin nikah miliknya yang dia pakai di jari manisnya, serta cincin lain yang sengaja di pakai di jari telunjuknya, tidak lupa dengan menggunakan softlens yang membuat iris matanya menjadi berwarna biru. Tidak lupa dengan penampilan bagian bawah yang hanya memakai celana jeans dan di padukan dengan sepatu boots bewarna hitam, serta bagian paling penting dari penyamarannya itu adalah rambut palsu berwarna coklat, secara drastis, Istrinya Arvin pun benar-benar menjadi seorang laki-laki.


"Hm? Pilihanmu kan membuatku jadi drivermu? Berarti aku bebas memilih penampilanku sendiri dong, bagaimana? Apa aku terlihat seperti laki-laki?" tanya Ashera dengan senyuman licik yang terlihat seperti seorang Iblis yang baru saja menemukan akal bulus di dalam otak kecilnya itu.


'Jangan-jangan yang aku nikahi ini sebenarnya laki-laki?' detik hati Arvin, melihat penampilan Ashera benar-benar sudah cukup mirip.


"Ei, aku tanya kenapa tidak di jawab?" tanya Ashera, dia yang tidak puas hati dengan Arvin yang terus diam dengan matanya yang terus saja menatapnya tanpa ada jawaban apapun dari mulut manis itu, Ashera pun dengan sengaja membungkukkan tubuhnya itu ke depan Arvin, dan menatapnya dengan lebih dekat.


Sorotan matanya yang cukup tajam itu sontak membuat Arvin mengira kalau perempuan di hadapannya itu punya mata liar yang baru saja menangkap sosok mangsa yang baru saja terlihat.


Tentu saja, karena efek dari make up yang di gunakan Ashera di area matanya benar-benar memperlihatkan sudut mata yang terkesan tajam, Arvin pun sesaat terasa seperti di hadapi seorang predator.


"Hei, Arvin?" panggil Ashera, sampai dia harus repot-repot melambaikan tangannya di depan wajah Arvin yang nampak tengah melamun itu. "Jangan-jangan kau terpesona padaku ya?"

__ADS_1


Sontak satu pertanyaan yang cukup mengejutkan itu, sukses membuat Arvin tersadar dari lamunannya dan segera menjawab : "Apa maksudmu terpesona dalam artian iri denganmu? Itu tidak mungkin, bercerminlah sendiri, kau seperti topeng monyet, kenapa pakai make up segala?" ucapnya seraya memberikan singgungan yang membuat Ashera jadi mulai jengkel dengan mulut Arvin yang sama sekali tidak bisa di filter.


Tapi, Ashera yang tidak menyerah dengan kepercayaan dirinya yang cukup tinggi itu, dia tetap mau merespon ucapannya Arvin : "Apa yang seperti itu saja harus aku jelaskan? Kalau mau membuatku menyamar, harus totalitas sekalian dong, dan pinjam parfummu,"


Ashera yang tahu kalau Arvin membawa parfum di saku celananya, sebab bentuknya memang di khususkan untuk bisa di simpan di dalam saku, Ashera pun jadi sengaja memintanya.


"Padahal kau punya parfum sendiri,"


"Aku sudah pernah bilang, aku tidak pernah memakai parfum, jadi apalagi punya? Kau tanya hal yang salah terus sih? Apa kau akhirnya bisa jadi bodoh karena terpesona deng-mph..!"


Belum juga selesai bicara, mulutnya Ashera langsung di tutup dengan botol parfum yang baru saja Arvin keluarkan.


"Jangan banyak bicara lagi, ada yang baru saja mengetuk mobil," timpal Arvin, memberikan peringatan kepada Ashera untuk segera bersikap seperti yang seharusnya.


"Turunkan jendelanya," ucap seorang perempuan di luar mobil, selepas mengetuk kaca mobil.


"Dia mau apa?" Ashera benar-benar tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh orang di luar mobilnya.


"Dia pasti ingin tanya kita mau ikut atau tidak, jadi buka kacanya dan berikan uang ini," sahut Arvin, masih bicara berhadapan dengan Ashera dengan jarak yang di bilang cukup dekat.


Dan Arvin pun benar-benar memperlihatkan satu amplop coklat yang baginya cukup tebal.

__ADS_1


"Kau membuang-buang uang,"


"Jangan menganggapnya seperti itu,. Yang namanya investasi itu bisa dikerjakan dalam banyak situasi. Karena itu, agar modalku sebanyak lima juta ini kembali, kau harus menang," tuntut Arvin kepada Ashera.


"..." Ashera lantas terdiam, sebab ucapan Arvin lagi-lagi cukup masuk akal.


Walaupun Ashera ingin mengatakan kalau apa yang di lakukan oleh Arvin sebenarnya taruhan uang, layaknya judi, pada akhirnya ujung-ujungnya di sebut sebagai investasi.


'Aku jadi kehabisan kata-kata, dasar bukannya di tabung tapi malah di mau di jadikan taruhan. Apa dia sinting? Tapi, jika aku kalah, pada akhirnya aku juga yang akan di tuntut oleh dia, karena aku yang menghamburkan uangnya. Arvin, kau menjebakku lagi?' memikirkan hal itu, Ashera jadi menggertakkan giginya, sebab dirinya baru sadar kalau dia baru saja di permainkan oleh Arvin secara tidak langsung.


Alih-alih dari hasil taruhan yang di buat Ashera sebelumnya kepada Arvin sore tadi, gara-gara dirinya kalah sebab Julio mencegatnya di tengah jalan, sekarang dia harus menuruti perintah dari si pemenang, yaitu Arvin untuk membantunya dalam mendapatkan uang tambahan, dan nahasnya, Ashera harus ikut balapan mobil.


Lalu, jika dirinya kalah, maka jelas sudah, kalau nantinya Arvin akan menuntut diri Ashera yang sudah menghamburkan uangnya.


'Licik,' lirik Ashera dengan tajam.


Dan Arvin, dalam diam dia sudah merekahkan senyuman penuh dengan kemenangan, karena ujung-ujungnya dirinya berhasil membuat Ashera kena akal bulusnya dari hasil tipu muslihatnya yang dia buat untuk Ashera.


'Hahaha, kau pasti baru sadar dengan tujuanku.' pikir Arvin.


"Kau pasti sedang menertawakanku, ya kan?" bisik Ashera kepada Arvin. Meskipun diam, tapi Ashera yakin dengan tatapan mata Arvin yang terus tertuju kepadanya itu adalah pernyataan kalau Arvin sedang membicarakannya dari dalam hatinya.

__ADS_1


"Kenapa kau berpikir aku menertawakanmu?" ledek Arvin, dia begitu ingin mengerjai gadis ini secara terus menerus. Tapi sayangnya ia tahu batasan, karena perempuan yang ia hadapi ini bukanlah yang ia kenal, selain orang lain yang sedang menggunakan tubuhnya itu.


"Ya, kan. Dari matamu yang tajam bagaikan mata Elang, mulut terdiam bagaikan mulut buaya yang sedang diam untuk menunggu menerkam mangsanya, serta pikiran yang tidak bisa di tebak selain menerka-nerka sendiri kalau kau sedang mengincar lawan pikiranmu, kau sudah terlihat jelas sedang menertawaiku soal aku yang baru saja tersadar, kalau aku sedang di manfaatkan dengan sangat baik, kau pasti senang kan dengan deritaku?" papar Ashera.


__ADS_2