
"Bagaimana keadaan di luar?" tanya seorang perempuan dengan pakaian pasien.
Dia duduk sendirian di dalam kegelapan yang tidak dapat dia singkirkan.
Tidak lama kemudian, dari balik kegelapan, tiba-tiba muncul seorang perempuan.
Dia memakai pakaian yang sama persis dengan apa yang di pakai oleh perempuan yang sedang duduk di kursi itu.
"Kenapa kau sangat penasaran?" tanyanya.
Bahkan suaranya pun sama. Sampai ketika perempuan tersebut berhenti tepat di depan perempuan yang tengah duduk, mereka berdua akhirnya saling bertukar pandang satu sama lain.
Wajah mereka berdua benar-benar sama.
Tidak hanya wajah, tepatnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, mereka berdua benar-benar kembar.
Bagaimana itu bisa terjadi?
Itu karena, sosok perempuan yang sedang berdiri itu, adalah kepribadian dari sosok orang yang menjadi lawan bicaranya itu.
"Ashera,"
Tatapan matanya semakin jatuh dalam kegelapan, ketika mulutnya mengatakan nama dari kepribadian dirinya yang lain itu.
Ashera tidak mengerti, kenapa dia bisa memiliki satu kepribadian lainnya yang sangat bertolak belakang dengannya.
"Aku kan ada disini, dan tidak bisa melihat keluar," jawab Ashera dengan wajah tenang.
"Jika kau memang penasaran, sudah seharusnya kau yang mengendalikan hidupmu sendiri, bukan aku,"
Ashera menghela nafas sejenak, begitu dia sudah menyiapkan hatinya, lantas mulutnya pun kembali bicara, "Aku tahu. Tapi- aku sedang tidak ingin berurusan dengan dunia luar dulu. Apakah aku bisa mempercayaimu? Aku akan memberikanmu waktu sampai batas yang belum aku tentukan. Aku ingin istirahat, lalu kau bisa bersenang-senang di luar.
Aku tahu, kau sudah lama menantikannya, ya kan, Hera?"
Nama yang keluar dari mulut Ashera, sontak membuat Hera langsung menyunggingkan senyuman licik.
"Kau ternyata begitu peka ya?" Hera cukup lega, karena setidaknya Ashera bisa tahu situasi dan kondisi dirinya sendiri.
Mentalnya, mungkin bisa di bilang sedang kacau, karena Ashera yang lemah dan suka dengan kelembutan, terus saja di perlakukan kasar oleh banyak orang yang tidak menyukainya, apalagi setelah bertemu dengan Arvin.
Itu adalah pertemuan yang menguras segala kehidupan pribadinya.
__ADS_1
Dari mental, waktu, tenaga, pikiran, bahkan sampai kesucian.
Ya, setidaknya sekarang mereka berdua bukan lagi perempuan suci yang di bangga-banggakan oleh kaum hawa yang menjunjung tinggi martabatnya.
Namun, hanya karena sebuah keberuntungan, karena orang yang melakukannya mau bertanggung jawab, bukan berarti kehidupan mereka berdua hanya puas sampai disitu saja.
Sebab, masih ada jalan yang cukup panjang untuk melewati semua rintangan yang ada.
Salah satunya adalah pencemaran nama baik mereka berdua, lalu masalah Arvin itu sendiri.
"Kau bisa mempercayaiku, aku bisa mengurus dunia luar dengan mudah. Meskipun tidak menggunakan cara lembut sepertimu, tapi demi bisa membereskan masalah yang di buat oleh Arvin kepadamu, aku akan menjalani kehidupanmu." jawab Hera, menambahkan.
Ashera terdiam, dia sebenarnya masih tidak begitu percaya, bahwa Hera ini adalah kepribadiannya yang lain, parahnya dia adalah sosok dari orang yang punya rasa percaya diri yang tinggi.
"Dan, aku akan sesekali memberitahu keadaan di luar untukmu.
Tapi- apakah kau tidak masalah sendirian di sini?" tanya Hera, dia melirik ke sekitarnya, dan hanya ada kegelapan di sekitar mereka berdua.
Ashera menunduk, dia sebenarnya tidak mau. Tapi mau bagaimanapun, dia cukup nyaman, untuk mendapatkan waktu untuk menenangkan dirinya dari realita di luar sana.
"Aku baik-baik saja, asal disini tidak ada hantu," Ashera langsung diam setelah mengatakan hantu, setelah itu dia mengangkat kedua kakinya ke kursi dan duduk meringkuk sendirian.
"Hahh~" Hera yang agak cemas jika melihat Ashera malah lebih takut lagi di dalam ruangan gelap itu, Hera pun mengacak rambutnya frustasi. "Jika aku membiarkanmu disini, begitu aku mengembalikan kehidupanmu, yang ada justru kau akan lebih dari sekedar patung yang tidak bisa bicara dan di bawah ketakutan."
Hera lantas menjentikan kedua jarinya, dan suasana di sekitarnya, seketika berubah menjadi tempat yang terang serta cukup indah?
Ya, ....
"Ini dimana lagi?" tanya Ashera bingung.
"Berada di alam bawah sadar, sama artinya dengan mimpi. Jika kau mengharapkan hal indah, kau bisa merubah tempat ini menjadi tempat yang kau impikan.
Hanya sekedar itu saja, jadi jangan pernah berpikir kalau aku ini selama ini hidup di dalam kegelapan seperti tadi.
Inilah caraku hidup di saat aku dapat melihatmu hidup di bawah derita anak bodoh itu." jelas Hera dengan terus terang.
"Ah~ Berarti aku bi-"
"Ini bukan surga, jadi tetap ada batasan untukmu untuk mengubah tempat ini menjadi sesuai keinginanmu. Kau tidak bisa membuat alam mimpi yang membuatmu bertemu dengan Ayah," sela Hera dengan cepat, membuat Ashera akhirnya terpaksa harus mengubur keinginannya tadi.
"Aku tahu,"
__ADS_1
"Apa tidak ada lagi yang ingin kau katakan kepadaku sebelum aku pergi?"
"Kau kan belum menjawabku,"
'Oh iya, aku belum menjawab pertanyaannya.' baru sadar dengan kesalahan kecilnya, Hera pun akhirnya menjawab pertanyaannya Ashera, "Aku sudah memberi tahu soal aku kepada Fajar.. Jadi tidak akan ada kesalahpahaman lagi diantara dia denganmu.
Lalu, aku juga berjanji, aku tidak akan menggunakan tubuhmu untuk membuat anak itu sesuka hati menyentuh tubuhmu.
Dan satu lagi, aku akan mengajarkan Arvin sesuai dengan misi yang aku punya dari neneknya itu.
Oh ya, aku punya satu pertanyaan kepadamu."
"Pertanyaan apa?" tanya Ashera, dia berjalan untuk merasakan rumput yang entah kenapa jadi terasa nyata.
"Apa kau benar-benar ingin mempertahankan baj*ingan seperti Arvin untuk jadi suamimu? Dia orang yang cukup kasar, lebih baik dengan Fajar saja,"
"Entahlah. Tapi bukannya tidak ba-"
"Jika pada akhirnya dia selalu membuatmu terluka, apakah kau akan bahagia? Titik dari kehidupan itu, adalah bisa bahagia tanpa di paksakan,"
Namun, melihat Ashera diam saja, Hera pun akhirnya tahu kalau Ashera masih dalam dilema, karena mana bisa, masih muda tapi harus menanggung tanggung jawab menjalin hubungan dengan pria sampai seumur hidup.
'Padahal dia saja belum siap menjadi Istri, tapi bisa-bisanya dia berteriak agar mendapatkan pertanggungjawaban langsung dari Arvin.
Hah~ Arvin, dia itu memang anak nakal.' karena Hera merasa sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, Hera pun menutup matanya.
WHUSH~
Angin yang lembut tiba-tiba datang, dan sebagain besar, membuat semua yang di terjang oleh angin, membuat semuanya bergerak-gerak, tanpa terkecuali.
"Kau bisa istirahat dengan tenang, biarkan aku yang akan menjalani tugasmu mulai sekarang. Itu kan, yang kau mau, Ashera?" tanya balik.
"Iya." jawabnya dengan sebuah gumaman kecil.
"Baiklah, kau tinggallah disini, sampai urusan di luar selesai," jawab Hera.
"Iya,"
Mengintip di balik matanya yang Hera tutup dengan sengaja, dia melihat wajah Ashera yang dipenuhi dengan kesedihan.
Meskipun ada senyuman, tapi itu adalah senyuman lemah yang bahkan tampak cukup di paksakan.
__ADS_1
'Huh, hidup jadi Ashera. Ini akan jadi awal hari yang menyenangkan, ya kan, Arvin?' pikir Hera.