
Dengan wajah polos dan mata yang terlihat sendu penuh dengan kesedihan, Ashera kembali menambahkan, "Tujuanku sekolah, ya... Tujuan awalku bisa sekolah di sekolah yang sama denganmu itu karena aku ingin masuk ke perguruan tinggi juga ke depannya.
T-tapi- di saat aku masih umur segini, a-aku, hiks.. Aku! Aku sudah rusak! Aku kotor, ini lebih kotor!" tiba-tiba berteriak histeris, Arvin yang tadinya bersikap tenang, seketika langsung berlari menghampiri Ashera.
"Ashera!"
Arvin mencoba untuk memeluknya. Niatnya untuk menenangkannya, tapi karena Ashera merasa dirinya sama sekali tidak pantas untuk mendapatkan simpati dan pelukan dari Arvin, Ashera langsung mendorong bahunya Arvin.
"A-arrggh! A-aku kotor, selain k-kau, selain kau ada orang lain yang menodaiku, tidak! Kau jangan sentuh aku! Minggir, kau jangan memelukku!" pekik Ashera, dia terus berusaha untuk mendorong Arvin dengan salah satu tangannya yang tidak terluka itu.
Tapi Arvin yang merasa cukup bertanggung jawab untuk apa yang dialami Ashera saat ini, terus bersikukuh untuk menenangkannya.
"Ashera, tenang dulu, ka-"
"Tidak! Minggir, aku tidak mau dipeluk! Katamu aku bukan tipemu, -tapi selain itu aku juga bukan orang suci lagi, aku sudah dinodai oleh laki-laki selainmu, aku tidak pantas lagi di sisimu, aku akan menarik semua kata-kataku waktu itu.
Kau bebas, aku, aku tid-"
"Ashera, dengar, hei, tenang dulu-"
Ashera yang histeris itu menangis sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Dia terus berusaha untuk mengabaikan apa yang akan di lakukan oleh Arvin kepadanya.
"A-Arvin, pergilah kalau mau pergi, aku tidak akan menahanmu, pergilah sesuka hatimu dan cari saja pe-"
"Ashera! Diam dulu! Dengarkan aku dulu" gara-gara muak melihat Ashera yang terus keras kepala dan tidak mau mendengar lebih dulu perkataannya, Arvin akhirnya membentaknya sambil sedikit mengguncang tubuh Ashera dengan mencengkram kedua bahunya itu.
Sontak saja, Ashera pun jadinya diam membisu dengan wajah yang sudah mulai pucat.
"Apapun yang mau kau katakan, dengarkan aku lebih dulu!" tegas Arvin, dia pada akhirnya mengeluarkan emosinya, karena memang sudah tidak tahan dengan Ashera yang histeris itu. "Aku-"
__ADS_1
Arvin mulai menegaskan setiap kata yang akan keluar dari mulutnya.
"Hiks," Ashera masih diam mematung dengan tangis yang masih sesenggukan juga.
"Jika yang kau takutkan itu laki-laki di dalam kamar itu, itu adalah aku! Bukan orang lain, tapi aku! Paham?!" tekan Arvin saat itu juga, membuat Ashera yang tadinya sudah takut setengah mati dengan sikap Arvin yang sedang marah, langsung membulatkan matanya dengan sempurna.
Malam yang dingin, di tambah masuk ke dalam ruangan gelap yang lebih dingin.
Tapi berkat aroma dari obat afrodisiak yang menyebar di dalam kamar, membuat suhu tubuhnya jadi naik dan tenaganya jadi lemas.
Disitulah, ketakutan yang Ashera miliki pun dia dapatkan karena ada laki-laki lain yang mendapatkan keuntungan di dalam kekhawatiran dan kecemasan yang tidak bisa di hitung jumlahnya.
Namun, apa yang barusan anak di depannya itu katakan?
'D-dia? Orang yang ada di dalam kamar itu dan menyeretku ke tempat tidur dengan paksa adalah dia?!' Ashera jelas sangat tidak begitu percaya dengan kata-katanya.
Namun, berkat itu juga, Ashera pun punya satu prasangka buruk yang membuatnya jadi menuding Arvin atas tindakan brutalnya malam itu.
Malam yang membuatnya trauma.
Dan karena jawaban Arvin yang satu itu pula, hal tersebut pun menambah keyakinan akan sudut pandang yang Ashera terima.
"J-jangan-jangan, i-itu ka-kau, kau lah yang merencanakan untuk me-menjebakku dengan Dini?! Itu kan maksudnya?!" sebuah kesalahpahaman pun terjadi, membuat Arvin tidak habis pikir, kalau Ashera punya sudut pandang yang berbeda dari dirinya.
"Kau salah, aku sama sekali tidak merencanakan apapun dengan berang-berang betina itu!
Jika itu aku, aku tidak akan bekerja sama dengan orang lain, melainkan aku sendirilah yang akan turun tangan langsung untuk mengerjaimu!" beber Arvin dengan panjang lebar membuat pernyataan sendiri di depan Ashera.
"'Bohong! Apapun yang keluar dari mulutmu itu pasti hanyalah keboh-mphh~!" mulutnya seketika dibungkam.
Kata-kata yang ingin dia katakan dengan sederet kutukan kepada Arvin, hanya berakhir dengan lenguhan dan tarikan nafas yang cukup kasar.
__ADS_1
"Mph!" ronta Ashera.
"Jika kau diam, aku tidak akan membungkammu dengan paksa seperti ini, paham?" akhirnya Arvin pun melepaskan ciuman itu dengan sederet penjelasan yang berhasil menyudutkan posisi Ashera untuk tidak bertindak brutal lagi dengannya.
"Ak-mph!"
Matanya terpejam, sensasi lembut bercampur dengan kehangatan, menjadi kesatuan yang tidak dapat dia lupakan.
Sungguh, Ashera ingin bicara lagi, ingin mengatakan banyak hal lagi dengan sederet rasa protes kepada Arvin.
Tapi berkat kepiawaian Arvin dalam meluluhkan mangsanya untuk masuk dalam jebakan dari teknis akan pesona miliknya, Ashera yang tadinya cukup keras kepala untuk bicara baik-baik, berakhir dengan tautan yang tampaknya tidak bisa di pisahkan dengan banyak kata.
_____
Sedangkan di saat yang sama juga, ketika deretan adu mulut yang terjadi di dalam kamar inap yang dihuni oleh Ashera sudah tenang, Fajar secara tidak sengaja melihat sekaligus mendengar semua perbincangan penuh emosi milik mereka.
Menyatakan kebenaran dari semua tebakan yang Fajar miliki, Fajar sungguh merasa terpukul.
'Jadi itu, alasan Arvin bersikeras untuk mengusirku kemarin? Dia ada hubungan yang melampaui kata sepasang kekasih.
Bagaimana aku tidak bisa menyadari kalau mereka punya hubungan khusus seperti itu?' pikir Fajar.
Parsel dan buket bunga yang sempat dia siapkan pun, pada akhirnya dia tinggal diatasi kursi tunggu dan Fajar yang masih cukup terkejut dengan fakta dari kebenaran atas hubungan Arvin dan juga Ashera, membuatnya memutuskan untuk pergi dari sana.
'Orang seperti Arvin, dia memang jagonya untuk menyembunyikan rahasia besarnya.
Tapi kira-kira kau akan sampai kapan merahasiakan hubungan itu?' pikir Fajar.
Dia yang tengah berjalan sendirian menyusuri koridor rumah sakit, hanya bisa pasrah dengan situasi yang ada.
"Ternyata aku telat untuk mendapatkannya. Hahh~ Selalunya begini," keluh Fajar sambil mengacak rambutnya sendiri.
__ADS_1
Dia berlalu pergi dengan senyuman getir menghiasi bibirnya, menyatakan kekecewaan mendalam yang baru pertama kali dia raih untuk soal hubungan dengan seorang perempuan.
Agak menjengkelkan, tapi apa daya, dia bukanlah orang yang akan merebut seseorang yang sudah ditakdirkan untuk hidup bersama, maka dari itu Fajar pun hanya bisa pasrah dan berharap kalau hubungan dari duda orang yang ada di dalam kamar tadi, terus berlanjut.