Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
Kamar 3089


__ADS_3

"Apa Ashera menghilang?" tanya Yuli pada dirinya sendiri.


Mendengar kata menghilang, Arvin jadi marah sendiri. "Jangan mengatakan hal yang tidak mungkin. Dia bahkan tidak bisa bergerak sejengkal pun dari tempat tidurnya,"


"Kau mengatakan sesuatu yang terdengar ambigu," cicit Vian, karena perkataan Arvin memang seperti mengarah ke hal lain.


"Ambigu apanya, kau saja yang pikirannya kotor," balas Arvin.


"Vian," tegur Yuli, dia jadi kesal juga saat mendengar perkataan Arvin itu.


"Yuli, itu salah paham. Aku tidak berpikiran kotor,"


"Hanya mulut, tapi tidak dengan pikiranmu yang pasti sangat jujur pada dirimu sendiri," bebel Yuli, merasa malas untuk berdebat lebih banyak lagi dengan Vian.


'Aku harus tanya dokter, hanya dia yang tahu, pasti.' tidak kehilangan akal, Arvin langsung menghubungi dokter yang merawat Ashera kali hari ini.


-"Halo? Tuan?"-


"Dimana Ashera sekarang?" tanya Arvin dengan tegas.


-"Memangnya Nona tidak ada di tempat?"- tanya balik dokter tersebut.

__ADS_1


"Kalau aku tahu, aku mana mungkin tanya padamu. Jangan membuatku membuang banyak waktu lebih banyak, katakan saja apa yang kau tahu, jika memang tahu!"


"Apa dia tidak bisa mengendalikan emosinya? Kenapa hobinya selalu saja marah-marah?" bisik Yuli kepada Vian.


-"Maaf, tapi saya sendiri juga tidak tahu. Saya akan mencoba untuk menca-"- belum selesai bicara, seorang suster tiba-tiba saja datang ke ruang kerja dari dokter tersebut, dan memberikan informasi kepada dokter tersebut yang secara tidak langsung memberitahu kepada Arvin juga.


-"Maaf mengganggu, Nona Ashera baru saja meminta saya untuk pindah kamar, sekarang beliau di lantai tiga,"-


-"Apa?! Kenapa kau tidak bilang dulu?!"- marah dokter ini kepada suster tersebut.


-"Tapi saya sekarang sudah memberitahu anda, ya kan?"-


-"Iya sih, tapi kan tetap saja! Seharusnya beritahu aku dulu, jangan asal pindah!"-


"Lantai 3, kamar nomor berapa?" tanya Arvin, menyela pertengkaran dari dua orang yang ada di ujung telepon.


-"3089,"- jawab suster tersebut dari ujung panggilan atas pertanyaan Arvin barusan.


"Jangan berbohong," tekan Arvin


-"Saya tidak berbohong,"- jawab suster tersebut.

__ADS_1


"Ya sudah, awas saja kalau dia ternyata tidak ada di sana lagi, aku akan mengejar kalian berdua," balas Arvin dengan nada yang tegas.


Setelah bicara seperti itu, Arvin akhirnya memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Itulah, kesempatan bagi Yuli untuk bertanya.


"Arvin, gimana?" tanya Yuli kepada Arvin yang sudah mulai terbawa emosinya sendiri.


Sama hal nya dengan Yuli, Vian pun sama-sama memperlihatkan raut muka penuh dengan harapan juga.


"Dia ada di kamar lain. Dia memerintahkan salah satu orang untuk pindah kamar tanpa memberitahuku lebih dulu atau dokter yang merawatnya, dan dia sekarang ada di lantai tiga," jawab Arvin. Dia dengan berat hati pun menunjukkan sisi frustasinya sebagai orang yang memang benar-benar cukup bertanggung jawab atas kondisi Ashera.


"Kalau begitu ayo, tunggu apa lagi. Aku sudah lama tidak bertemu dengan Ashera," pinta Yuli, dia sudah tidak sabaran lagi, apalagi karena barang-barang yang dia bawa, maka dari itu Yuli ingin cepat-cepat memberikannya kepada orangnya langsung.


"Hmm, ayo pergi,"


Pada akhirnya Arvin, Vian dan Yuli pun pergi dan harus turun lantai dengan menggunakan lift.


TINGG...


Tapi, di saat yang sama juga, ketika pintu lift yang mengantarkan mereka bertiga baru saja di tutup, sesaat Fajar yang kembali ke rumah sakit, sudut matanya sempat melihat mereka bertiga.

__ADS_1


"Kenapa mereka pergi dengan cepat?" gumam Fajar.


__ADS_2