Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
154 : Tuntutan khawatirnya


__ADS_3

Setelah melakukan ritual mandi yang dia lakukan malam hari itu, Arvin pun keluar dari kamar mandi, dan sudah mendapati Ashera yang sudah tidak ada lagi di atas tempat tidur.


"Pergi kemana lagi dia?" tanya Arvin dalam gumaman yang cukup lirih seraya mengusap rambutnya yang basah itu dengan handuk kecil.


Namun, setelah di telusuri lebih detail lagi, Arvin akhirnya melihat adanya selimut yang menutupi hampir seluruh area dari sofa besar itu, rupanya Ashera lagi-lagi tertidur di atas sofa.


Itu kesekian kalinya bagi Arvin terus melihat Ashera tertidur di atas sofa.


Penasaran dengan raut muka Ashera yang sedang tertidur itu, langkah kakinya pun menarik diri Arvin untuk berjalan mendekati Ashera.


"Kalau tertidur seperti ini, dia terlihat seperti anak kecil saja. Tapi walaupun sayangnya tidak menutupi wajah jeleknya itu, aku tidak bisa untuk tidak menyukainya sih." gumam Arvin sambil memperhatikan wajah Ashera dengan begitu lekat itu.


'Maksudnya apalagi itu? Menyukaiku?' Ashera yang sebenarnya terbangun dengan ucapannya Arvin tadi, hanya terus diam sambil mendengarkan.


"Eh, tapi tetap saja, kenapa aku terus saja kepikiran dengan uangku yang hangus gara-gara itu?" merasa frustasi dengan kejadian yang terakhir kali menimpa dirinya karena kesalahannya sendiri di kejadian pertandingan balap mobil yang terjadi beberapa hari lalu, Arvin langsung berdiri dan mengusung ekspresi wajahnya yang begitu kesal.


'Uang? Hangus? Itu apa lagi? Apa dia punya masalah keuangan?' tidak bisa untuk diam saja mendengar keluhan yang terjadi pada Arvin untuk masalah uang, Ashera pun perlahan membuka kelopak matanya dan segera memposisikan tubuhnya untuk duduk sambil bertanya : "Apa kau punya masalah keuangan?" tanya Ashera dengan polos.


Menyadari Ashera yang tiba-tiba saja terbangun itu, Arvin pun langsung memberikan gadis itu sebuah lirikan yang cukup tajam.


'Bahkan masalah yang terjadi terakhir kali, dia tidak ingat ya?' pikir Arvin, tidak menyangka kalau kepribadian Ashera yang satunya lagi, bisa menyegel semua ingatan yang terjadi selama kepribadian ganda nya Ashera aktif itu. "Tidak, padahal kemarin saja aku sudah dapat banyak uang dari perempuan itu, jadi kenapa aku bisa punya masalah keuangan?"


'Benar juga sih? Tapi kan, kebiasaan dari anak orang kaya itu sendiri adalah bisa menghabiskan banyak uang dalam beberapa menit saja.


Tapi, kelihatannya Arvin ini bukanlah orang yang akan menghabiskan uang dengan membeli barang atau apapun yang menurutnya kurang berguna.


Kalau begitu, apa yang di maksud dengan ucapannya tadi?' pikir Ashera.

__ADS_1


Sedangkan Arvin, dia yang sangat mengerti dengan maksud dari tatapan serta ekspresi wajahnya Ashera ini, Arvin pun menjawab : "Kau tidak perlu memikirkan masalahku, tidur saja sana, sudah minum obat, kan?"


Arvin berjalan menuju meja dan mengambil air minum.


"Belum,"


Mendengar jawaban dari Ashera yang mengatakan belum minum obat, Arvin segera memutar tubuhnya ke belakang dengan kedua alis yang sudah bertautan. "Apa kau bahkan tidak di belikan oleh baj*ngan itu?" yang di maksud oleh Arvin itu menunjuk ke arah Daseon.


"Sebenarnya aku sudah di berikan obat oleh kak Daseon, tapi aku harus menunggu obat maag yang belum lama ini aku minum.


"Kau kan bisa minum keduanya sekaligus, kalau besok belum sembuh juga bagaimana? Kau mau di rumah ini terus?" peringat Arvin kepada Ashera.


"Aku kan tidak tahu nanti kalau aku minum keduanya, efek sampingnya apa, kalau kau mau Istirahat, istirahat saja, tidak perlu memikirkanku, lagi pula ini tub-" salah dalam berbicara karena sampai meluapkan emosinya kepada Arvin, tanpa bicara lebih panjang lagi, Ashera pun langsung menutup mulutnya, dan kemabli berbaring di bawah selimut, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut besar nan tebal itu untuk menciptakan kehangatan yang sedang Ashera inginkan, karena tubuhnya merasa menggigil merasa dingin.


"Ashera, kau belum selesai bicara, jangan buat aku penasaran," tuntut Arvin, tidak suka jika dia mendengar orang bicara tapi separuh-separuh, itu yang paling Arvin benci, karena selama ini dia sering mendapatkannya dari Alfian, termasuk nya.


"Ashera, hei, kau dengar aku kan?"


Tapi Ashera terus terdiam dengan posisinya yang seperti trenggiling.


'Kenapa semua orang suka sekali bicara setengah-setengah sih?' dumel Arvin dalam hatinya.


'Dia tidak akan memindahkanku ke tempat tidurnya kan?' pikir Ashera, dia sangat khawatir jika Arvin kembali memindahkan tubuhnya ke tempat tidur, karena Ashera sendiri masih cukup trauma dengan insiden terakhir kali, jadi ia berusaha untuk tidak tidur berdua di r anjang yang sama dengan Arvin.


'Bahkan jika kau memakai selimut dari tempat tidurku, bukan berarti aku tidak bisa memakai selimut itu.' serasa ingin balas dendam karena Ashera yang bicara separuh-separuh, Arvin pun dengan sengaja langsung menyembunyikan tubuh separuh telanjangnya itu id dalam selimut yang di gunakan oleh Ashera.


BRUKK

__ADS_1


"Hah?!" Ashera yang terkejut dengan tindakan yang di lakukan oleh Arvin itu, dengan cepat, Ashera pun langsung bangun. "Kenapa kau tidur di sini? Di sana kan tempatnya lebih besar?" menunjuk ke arah tempat tidur ukuran besar, yang sebenarnya bahkan mampu memuat orang sampai sepuluh orang sekaligus.


"Selimutnya saja ada di sini, jadi kenapa aku harus tidur di sana tanpa selimutku?" sahut Arvin, dengan sengaja, dia pun membuat sebuah alasan yang cukup masuk akal lagi?


Iya, lagi. Sampai Ashera kenapa Arvin yang sebenarnya punya sifat yang cukup buruk itu, malah punya isi kepala yang cukup mumpuni, berbanding terbalik dengan Ashera sendiri yang mengakui dirinya selalu memenuhi kewajibannya untuk terus disiplin, tapi tidak dengan isi kepalanya yang tidak sebagus mana yang di miliki oleh Arvin itu.


"Kalau begitu ini, aku kembalikan selimutmu, jadi tidur saja di tempat tidur," jawab Ashera seraya menarik semua sisi selimut yang kemudian, langsung dia berikan kepada Arvin.


Arvin yang tadinya sedang berpura-pura memejamkan matanya, langsung melirik Ashera dengan cukup tajam juga.


"Kenapa aku harus pindah di posisiku yang sudah cukup nyaman ini?" tanya Arvin detik itu juga, lalu dengan sengaja, Arvin pun bangun dan melempar sisi selimut ke arah depan sampai akhirnya selimut itu berkibar dengan cukup baik, di sana.


Padahal jika tidak gengsi, Arvin sebenarnya dengan sengaja tidur di sampingnya Ashera tadi, adalah karena dia ingin mengerjai Ashera.


Kalau saja dia tidak punya rasa gengsi yang cukup besar, Arvin sebenarnya sudah bicara langsung kepada Ashera, kalau dia sedang merindukan aroma tubuh Ashera itu.


"Berarti, akulah yang akan pergi dari sini," jawab Ashera detik itu juga, setelah dia berhasil melirik ke arah Gavin serta jam dinding secara bergantian.


"Siapa yang menyuruhmu pergi dari sini?" tanya Arvin sambil menarik tubuh Ashera agar kembali tiduran di situ.


"Aku sendiri, kenapa?" tanya balik Ashera dengan ekspresi wajah datarnya, karena menyebalkan sekali mendengar ucapan Arvin yang seolah sedang mencegatnya pergi?


Bukannya laki-laki seperti Arvin ini adalah orang yang tidak suka dengan perempuan jelek seperti dirinya?


Lantas kenapa sikap dari Arvin ini bisa jadi seperti itu?


Banyak sekali yang sebenarnya ingin di tanyakan oleh Ashera saat itu juga, tapi sayangnya kondisi tidak bisa membuatnya untuk bicara lebih banyak dengan anak ini.

__ADS_1


Sebisa mungkin, dia harus pergi dari sana, karena pikirannya mulai kacau, setelah melihat betapa menggodanya anak di depannya itu dalam berekspresi serta penampilannya yang sangat menghasut kaum hawa seperti dirinya itu.


__ADS_2