
Suara klakson yang cukup keras dari beberapa mobil yang ada di belakang mobil mereka itu, seketika langsung membuat Arvin memekik, "Kau perempuan gila! Di belakang kita mau di tabrak!" tegas Arvin.
Walaupun Arvin tipe orang yang terlihat tidak akan takut pada apapun, tapi yang namanya juga manusia, dia tetap saja punya ketakutan tersendiri, apalagi jika yang harus dia hadapi itu sampai mempertaruhkan nyawa, tapi dia sendiri mempertaruhkan nya kepada Ashera, yang menjadi dalang dari kegilaan yang terjadi malam ini.
"Woi, tenang dong, katanya kau percaya denganku, untuk menguasai mobilmu ini, jadi tidak usah panik begitu," jawab Ashera dengan ledekan nya itu.
Karena mobil Julio, Arliana, Arvin dan pemuda tadi ada di posisi depan mereka, maka dari itu, Ashera pun berani mengambil keputusan untuk menghentikan mobilnya secara mendadak agar mobil hitam tadi kena karmanya sendiri, walaupun dia hanya punya kurang dari lima detik sebelum mobil yang ada di belakangnya menyeruduk mobil nya Arvin.
Makannya, melihat Arvin tiba-tiba memasang wajah seram padahal itu adalah ekspresi wajah paniknya, Ashera pun jadi tersenyum puas, karena bisa melihat ekspresi konyol dari pria yang selalu seenaknya sendiri itu.
'Ternyata ada sisi seperti ini juga, lucu,' batin Ashera, dengan buru-buru tangan kanannya itu mengambil langkah perama untuk melepaskan rem cakram, menurunkan roda gigi ke nomor satu, Ashera pun kembali menginjak pedal gas cukup dalam, dan di detik ke tiga juga ke tujuh, dia langsung menaikkan roda gigi ke nomor yang lebih tinggi. 'Aku pikir dia orang yang tidak kenal takut dengan apapun.'
Selain untuk menghindari tabrakan yang terjadi dari belakang, dia pun harus menyusul kedua mobil yang sudah berada di depannya itu.
Hanya ada mobil putih, dan pink, termasuk mobil biru yang hendak menyusul mereka, itu adalah mobil milik dari pemuda yang hampir memberikan bogem mentah kepada Arvin karena masalahnya Arliana.
"Banyak sekali saingannya, tapi aku yakin aku bisa menang, asal mesin mobilnya mumpuni," gumam Ashera.
Dia semakin menaikkan kecepatan dari laju mobilnya, lalu dengan posisi dari mobilnya dengan mobil berwarna biru itu, Ashera pun jadi punya halangan lagi untuk mengalahkan anak itu.
"Hei! Arvin! Apa kau punya saran agar orang yang mau meninju wajah berhargamu itu bisa kena getahnya?!" tanya Ashera dengan nada sedikit keras, setelah dengan sengaja Ashera menurunkan jendela mobilnya, dan memperlihatkannya kepada sasaran selanjut milik mereka berdua.
"Buat dia tidka bisa memakai mobilnya lagi," jawab Arvin.
__ADS_1
Arvin awalnya mengerutkan keningnya, karena dia tidak tahu ulah apa lagi yang di buat oleh Ashera ini, karena tiba-tiba berteriak. Tapi setelah Arvin menoleh ke arah kiri, dia pun akhirnya sadar kalau mobil selanjutnya yang akan menjadi sasarannya adalah mobil dari pemuda yang membela Arliana beberapa waktu lalu itu.
"Hei bung, namamu siapa?! Biar aku kenal denganmu," tanya Ashera dengan begitu entengnya.
Padahal dia bukanlah orang yang akan menyapa orang dengan cara bicaranya yang seperti itu.
"Kau tidak perlu tahu namaku, tahu saja dengan posisimu, yang tidak lama lagi akan aku buat kau kalah dan tidak bisa menggunakan mobil selama-lamanya," jawab pemuda ini dengan begitu angkuhnya.
"Begitu ya? Aku pikir itu ucapan yang akan di gunakan untuk dirimu sendiri," jawab Arvin, menyela Ashera yang hendak menjawab itu.
"Itu jawaban yang menarik, bung~" kata Ashera, entah kenapa bisa merasa senang dengan ucapan yang keluar dari mulut berlidah tajam itu. "Terus apa lagi? Aku ingin mendengar deretan kalimatmu yang setajam pisau itu," imbuhnya lagi.
Rasanya itu terlalu pas dan sesuai untuk di ucapkan untuk anak tersebut, karena terlalu sombong untuk mengatakan hal kejam.
Padahal beberapa waktu ini, Ashera bahkan tidak membuat orang yang akan menyelakai diri Ashera dan Arvin mendapatkan kecelakaan fatal, tapi dari mata dan apalagi ekspresi wajah dari pemuda tersebut, Ashera justru seperti melihat kalau pemuda itu seakan punya dendam lebih dari pada yang seharusnya.
"Terserah mau bicara apa, riwayat kalian berdua hanya sampai di sini saja." jawab pemuda tersebut.
Berbeda dari pada keempat mobil tadi yang menginginkan kemenangan, pemilik dari mobil berwarna biru itu, terlihat seperti akan menggunakan anak buahnya untuk menghancurkan posisi mereka untuk meraih kemenangan yang bisa saja Ashera dapatkan secara singkat, jika tidak ada halangan seperti ini.
Begitu Ashera melirik ke arah spion mobil, dia akhirnya melihat ada tiga mobil lainnya yang terlihat sedang mengejar mobilnya.
"Benar-benar deh, aku jadi tidak yakin bisa selamat, jika kita di keroyok seperti ini," gumam Ashera dengan senyuman simpul dan tatapan mata yang sendu.
__ADS_1
Ashera pun melirik ke arah Arvin, dan melihat tatapan Arvin yang tidak mau tahu, harus menang ya tetap harus mendapatkan kemenangan untuk mereka berdua.
'Kenapa dia menatapku seperti itu? Benar-benar menuntut sekali laki-laki ini.' pikir Ashera.
Sebuah tatapan tajam, sengit dan terlihat sangat menuntut. Bahkan Ashera pun mengerti maksud dari tataan mata Arvin dengan mulut yang memilih untuk terus diam itu. "Kalau tidak menang, tidak ada uang makan."
"Kau itu orang kaya, tidak mungkin membiarkanmu kelaparan." kata Ashera lewat tatapan matanya yang terlihat seperti melakukan telepati.
"Aku tidak mau tahu, jika ada aku, maka disitulah harus ada kemenangan. Bahkan sekalipun di atas ranjang, bukannya aku terus mendapatkan kemenanganku?" kata Arvin, dengan tatapan matanya lagi.
"Kau ini, benar-benar maniak sekali ingin melakukan itu ya?"
"Terserah aku, mulut-mulut aku, aku juga ingin melakukan hal yang aku inginkan, jadi apa yang harus di permasalahkan?"
"Yang di permasalahkan itu, kau terlalu dini untuk mengerti kebiasaan orang dewasa. Kau ini benar-benar sudah terkena kenakalan remaja."
"Hei, jangan mengatakan seolah aku ini sudah terjerumus kenakalan remaja, karena kau sendiri juga sudah tertular kenakalan remaja dariku. Salah satunya kau sudah tidur denganku, bukannya artinya kau sudah tertular juga? Aku tidak akan mempermasalahkan jika waktu itu kau kelihatan kurang puas, jika kau mau lagi, aku akan melakukannya dengan sepenuh hati, bagaimana?"
Ashera yang seketika itu tersinggung sendiri dengan ucapan vulgar yang keluar dari mulutnya Arvin, tanpa basa-basi lagi, sebelum ketiga mobil di belakangnya itu menghampirinya, Ashera pun langsung menaikkan gigi roda ke lima dan menginjak pedal lebih dalam lagi sampai ke titik angka 185 Km/jam.
Karena jalanya sedang dalam posisi lurus, tentu saja itu cukup menguntungkan untuk mendapatkan kecepatan tertingginya.
'Padahal baru juga aku provokasi dengan kalimat itu, dia langsung terpicu. Pfft, dia kalau sedang tersinggung, berubah jadi seserius itu.' benak hati Arvin, melihat wajah serius milik Ashera yang ternyata cukup bagus. Bahkan jika di lihat dengan tatapan yang lebih mendalam lagi, dia seperti baru saja melihat seorang pembunuh.
__ADS_1